MMY 7

1391 Words
Lala rasanya tidak bisa bernafas dengan baik ketika melihat Zakiya nampak tenang mengerjakan laporannya ketika jam menunjukan pukul tiga sore. Gadis itu kembali teringat ketika Bosnya itu memberikan sebuah undangan ketika ia baru saja datang. “Lala, ini undangan untuk kamu. Datang ya,” kata Zakiya sambil memberikan sebuah undangan yang simple namun terlihat mahal. Ia yang saat itu sedang memakan pisang goreng kembali mengeluarkannya. Wedding Invitation  Zakiya & Zhafif Save the date Wednesday, 4 February “Mbak mau nikah? Terus si Zhafif ini siapa? Manusia Mbak?” tanya Lala buruntun sambil mendekatk ke arah Zakiya. Wajahnya benar-benar sama sekali tidak menujukan kesantaian. “Iya, manusia,” jawab Zakiya yang sudah kembali sibuk dengan temannya. Berkas. “Astaga saya kira Mbak bakal nikah sama curva penjualan atau laporan bulanan,” katanya tak percaya. “Duh, gimana ini, Mbak?!” tanyanya histeris membuat Zakiya terganggu. “Saya belum siapin apa-apa. Omo! Omoo!”  “Dan, nikahnya hari ini kan? Mbak Zakiya ngapain masuk kantor?” tanya Lala memandang Zakiya yang tak bersalah membuka berkasnya dengan sangat tenang. “Nikahnya itu nanti malam Lala, bukan pagi ini,” jawab Zakiya singkat. “Tapi, tapi Mbak..” Tidak salah sebenarnya apa yang dikatakan Zakiya, tapi astaga bagaimana cara Lala mengatakannya?! “Ya udah, deh, Mbak.” Gadis itu akhirnya kembali ke bangkunya dengan lemas. Ia nanti mungkin akan memberikan piala penghargaan untuk Zakiya sebagai katogori Pengantin Perempuan tersantai. Lala menghembuskan nafasnya ketika mengingat itu. Dan, sekarang ketika jam menujukan pukul tiga sore, Zakiya masih berada di kursi ternyamannya dan tidak ada tanda-tanda ingin beranjak dari sana. Ingin sekali Lala berteriak. “MBAK ZAKIYA MAU NIKAH LO TAPI KOK MASIH DISINI!” Namun mengingat ia yang menjadi bawahan wanita itu membuat Lala hanya bisa menahannya. “Mbak belum mau pergi?” tanya Lala. Zakiya menghembuskan nafas jengkel, memutar bola matanya. “Sudah ke sepuluh kalinya kamu bertanya seperti itu Lala,” katanya. “Enggak mau siap-siap? Atau menenangkan diri dulu Mbak?” “Untuk apa?” “Ini tinggal hitung jam lagi lho Mbak jadi milik orang lain.” Zakiya yang mendengarnya tiba-tiba kesal, milik orang lain? Ia tidak akan pernah menjadi milik siapapun. Ia milik dirinya sendiri. Tidak ada yang berhak melarang, mengatur termasuk suaminya nanti. “Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Jadi saya tak perlu repot-repot.” Zalia yang mengatakan itu, wanita itu hanya meminta dirinya untuk tidak datang terlambat.  Tenang saja, Zakiya bahkan berencana akan datang 30 menit sebelum acara. Lala menggaruk kepalanya tak gatal. Mbak Zakiya yang menikah tapi kenapa ia yang panik seperti ini. Ia kira wanita yang menjadi bosnya itu akan menikah ketika sudah berkepla tiga seperti bos-bos wanita di divisi lain atau paling parah tak akan menikah. Namun, siapa sangka bahwa Zakiya akan menikah secepat ini. Pernikahan yang digelar malam itu juga tak banyak dihadiri orang-orang karena Zakiya mengatakan hanya Lala yang diundang dari divisinya. “Mbak harus pergi sekarang.” “Kenapa kamu sibuk sekali, sih?!” “Mbak boleh enggak peduliin perasaan orang lain. Tapi setidaknya hargain pasangan Mbak. Pikiran dia yang saat ini menunggu calon isterinya.” Zakiya terdiam, perkataan Lala membuatnya mulai memikirikan tentang lelaki sial mana yang akan menikahinya.  “Baik, saya pergi.” “Saya juga pergi, Mbak.” “Kemana?” tanya Zakiya. “Siap-siap dong, Mbak. Saya yakin nanti banyak orang penting di nikahan Mbak.” Gadis itu mengedipkan matanya. “Kalo ada yang kosong nanti saya gas, Mbak.” “Seterah kamu, La.” Zakiya sebenarnya sudah mengejarkan laporannya sedari tadi, mungkin sudah selesai ketika pukul sembilan pagi. Namun, kerena tidak tahu apa yang harus ia lakukan Zakiya memilih untuk mengerjakan pekerjaan lain. Apapun yang ia bisa ia kerjakan. Sebenarnya ia sangat penasaran siapa yang akan menjadi suaminya. Namun, rasa penasaran itu terlambat datang membuatnya ragu untuk bertanya pada Zalia sebab pernikahannya tinggal menunggu jam lagi. Ia hanya tahu bahwa lelaki itu bernama Zhafif. Dan bodohnya otaknya langsung tertuju pada lelaki muda yang menjadi sopir ojek online itu. Tidak mungkin anak seorang pemilik perusahaan terbesar mau melakukan itu. Zakiya menghela nafasnya ketika sudah berada di dalam mobilnya. Ia memutuskan untuk menuju hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya pernikahannya. Mungkin ia akan beristirahat sejenak sebelum malam yang panjang akan menantinya. ——- “Mas istirahat ke kamar aja dulu, biar nanti malamnya segar,” kata Zalia sambil mengusap lembut wajah anaknya. Saat ini ia berada di ballroom hotel bintang lima milik Zalia yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan anaknya. “Papi juga ada di kamar,” ujarnya membuat Zhafif yang awalnya hendak ke kamar hotel menjadi ragu. “Maksud Mami kamar sebelahnya, Mas,” kata Zalia yang mengerti dengan raut wajah anaknya. Zhafif kemudian mengangguk dan meninggalkan Maminya yang begitu semangat membantu merombak ballroom hotel menjadi tempat dimana nanti Zakiya dan Zhafif berdiri menjadi pasangan di hadapan banyak orang. Ia sudah menemani dan ikut membantu Maminya sejak pagi tadi. Remaja laki-laki itu keluar dari lift sambil memegang sebuah undangan yang tertulis namanya dan nama seseorang yang akan menjadi isterinya. Zhafif sudah memutuskan untuk benar-benar serius menjalankan pernikahan ini walau tidak diawali dengan rasa cinta. Ia akan berusaha menerima pasangan sebaik mungkin dan menjaganya. Ia akan—- “MESUMMM!”  Zhafif memelotokan matanya ketika membuka pintu kamar hotel yang Maminya bilang. Buru-buru ia kembali masuk dan menutup pintu itu kembali. “Sialan! kanapa kamu masuk?!” seru Zakiya yang saat ini hanya mengenakan short pants dan tank top. “Kamuu!” seru Zakiya ketika menyadari siapa lelaki yang masuk ke dalam kamarnya. “Mbak Kiya?” “Mbak jangan salah paham,” ujar Zhafif cepat. “Apa?! Kamu mau bilang mau ngantar paket sesuai titik?! Hah?!” “Enggak kok mbak, saya enggak lagi ngojek.” “Mami saya bilang istirahat disini,” jelas Zhafif. “Mami?!” tanya Zakiya kaget.p “Tunggu, kamu anaknya Bu Zaila dan Pak Raka?” tanyanya. “Iya, Mbak.” “Jadi kamu yang menjadi calon suami saya?” Sekarang Zhafif yang menjadi terkejut, ia kemudian mengangkat undanganya dan membaca nama yang ada disamping namanya. “Jadi Zakiya yang ada diundangan ini, Mbak Zakiya tho?” “Iya, kenapa? Saya enggak sesuai ekspetasi kamu?!” sembur wanita itu membuat Zhafif menggeleng. “Enggak kok, Mbak.” “Oke, kalo gitu ayo kita bikin kesepakatan.” “Ayo!” ajak Zhafif juga. “Tapi, mbak pake baju dulu.” “Sialan kamu m***m! —— Zakiya berjalan mondar mandir didepan kasur sambil mempehatikan Zhafif yang terduduk di atas kasur. “Ayo kita bikin kesepakatan,” ujar wanita itu. “Kamu pasti cukup pintar untuk merasa ada yang aneh dengan pernikahan kita,” kata wanita itu berhenti di depan Zhafif. Zhafif tak ragu mengangguk, ia tahu ada yang tak beres dengan ini. Zhafif awalnya menolak pernikahan ini karena mereka tidak kenal dan ia belum memiliki penghasilan. Namun Zalia mengatakan bahwa ia tak perlu memikirkan hal ini. “Saya menikahi kamu karena jabatan,” jawab Zakiya jujur. Zhafif teringat dengan perkataan Zakiya saat berada diatas motor. “Jabatan yang kosong itu, Mbak?” “Yaps, benar. Dan, Mami kamu juga mengajukan syarat. Saya enggak bisa memberi tahu kamu jelasnya, intinya Mami kamu enggak mau pisah sama kamu.” “Lupakan masalah Mami kamu dan Saya. Intinya kita berdua bikin kesepakatan,” putus Zakiya sambil menghempaskan tubuhnya disamping Zhafif. “Kamu tidak boleh mengganggu hidup saya dan saya tidak akan mengurusi hidup kamu. Deal?” tanya Zakiya menoleh ke arah Zhafif yang memandanginya. Zhafif menggeleng. “Saya enggak mau Mbak.” “Kenapa?! Oke, fine. Kamu boleh pacaran sama siapapun, asal jangan ada yang tahu. Citra saya akan rusak!” kata Zakiya. Menyebalkan. Ia kira Zhafif akan langsung setuju dengan tawarannnya. “Kamu tahu bahwa saya tidak pernah peduli dengan namanya pernikahan. Impian saya terlalu banyak Zhafif.” “Kalo begitu kenapa Mbak mau nikah dengan saya? Saya yakin tanpa menikah pun, Mbak bisa mendapatkan jabatan itu,” balas Zhafif membuat Zakiya terdiam. “Saya tidak suka disudutkan seperti ini,” protesnya. “Saya enggak bisa. Saya tetap akan menjadi suami untuk Mbak. Saya mungkin akan bisa ngasih uang bulanan yang banyak tapi itu benar-benar dari hasil keringat saya sendiri. Mbak juga boleh minta bantuan apapun sama saya.” Zakiya mendengus. Betapa naifnya lelaki ini. “Baikah seterah kamu. Lalu dengan masalah ranjang gimana?” “Saya mau—-“ Tok! Tok! “Mas Zhafifffff...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD