“Lo benar-benar gila, Fif.”
“Ngasih undangan pagi tadi terus malamnya udah jadi laki orang,” seloroh Petra sambil merangkul Zhafif yang baru saja turun dari panggung.
Resepsi pernikahan Zhafif dan Zakiya bertema privata dan simple, namun itu menurut Zalia. Pesta pernikahan keduanya benar-benar nampak megah dan mewah. Hanya mengundang 100 orang tamu yang kebanyakan dihadiri oleh golongan pemimpin perusahaan dan ibu-ibu sosialita yang tentu saja adalah tamu Mami dan Papinya. Zhafif sendiri hanya mengundang teman-teman akrabnya.
Sedangkan Zakiya, lelaki itu tidak tahu berapa orang yang ia undang. Sesungguhnya banyak sekali yang ingin Zhafif tanyakan pada wanita yang tujuh tahun lebih tua darinya. Namun, sang Mami yang tiba-tiba muncul membuatnya menahan dan menyimpannya.
“Wah daebak! Lo ganteng banget, Fif,” seru Lita sambil menatap berbinar ke arah Zhafif yang mengenakan jas hitam. Walau terlihat simple dan sederhana namun dapat membuat auranya keluar sehingga menjadi pria yang paling bersinar disini.
“Ehem,” dehem Attar membuat Lita menoleh kembali ke arah lelakinya sambil terkekeh dan memeluk lengan Attar. “Heheh jangan marah dong, beb,” ujarnya mendayu.
“Congrats ya, Fif,” kata Kanya tersenyum kecil.
“Thanks banget kalian udah datang,” ujar Zhafif merasa tak enakan pada teman-tamannya.
“Gue sama yang lain awalnya enggak mau datang, tapi karena Kanya belain lo, kita akhirnya datang, emang gimana sih lo bisa nikah tanpa ngabari gue sama yang lain?” tanya Attar meminta penjelasan. Mereka semua terkejut ketika Zhafif memberikan undangan lewat kurir pagi tadi.
Zhafif yang mendengarnya menjadi meringgis, jangankan teman-tamannya. Ia juga terkejut dengan pernikahan yang mendadak seperti ini.
“Lo dijodohin ya, Fif?” tanya Lita sambil memandang sedih ke arah remaja lelaki itu.
Zhafif hanya bisa mengangguk karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Isteri lo mana, Fif?” tanya Kanya.
“Hah?” tanya Zhafif bingung. Ketika sadar bahwa sekarang ia sudah memiliki isteri, lelaki itu kembali meringgis. Ia masih belum terbiasa dengan panggilana itu. “Disana, lagi sama Papi dan temen kerjanya.”
Teman-teman Zhafif mengikuti arah pandangan laki-laki itu yang menujuk ke arah segerombolan orang. Benar saja. Zakiya sedang berbincang dengan para orang dewasa yang nampaknya adalah orang-orang penting.
“Isteri lo umurnya berapaan?” tanya Petra.
“Mbak Zakiya 25,” ujar Zhafif masih memandang ke arah Zakiya yang nampak cantik dan seksi dengan gaun putih panjang yang menampakan belahan dan leluk tubuhnya.
“Mantap banget, Fif. Asik belah duren,” komentar Petra yang mendapat tabokan dari Attar.
“Mbak?” tanya Lita terkekeh. “Bedanya jauh juga, tapi enggak papa. Kalo jodoh mah, enggak mandang umur.”
“Eh, pada datang ya semua teman Mas Afif,” seru Zalia datang dan menyapa teman-teman Zhafif. Keempatnya pun kompak mengangguk sambil tersenyum. Meraka semua pasti setuju jika ditanya apakah Zalia ikut nampak memukau hari ini?
“Udah pada makan belum?” tanya Zalia lagi sambil tersenyum lembut.
“Belum, Tante Mami,” seru Petra paling semangat.
Zalia terkekeh. “Makan dulu gih. Zhafif ajak Zakiya makan dulu,” suruh Zalia membuat sang anak terkejut.
“Iya, Mi,” jawabnya. Zhafif memandang ke arah dimana Zakiya berada lalu melirik kembali ke arah teman-temannya.
Saat ini, Zhafif tengahkebingungan bagaimana bisa mengajak Zakiya untuk makan. Tidak mau banyak berpikir dan berakhir menunggu terlalu lama, Ia memutuskan untuk mengujungi wanita itu. Zhafif yakin saat ini Zakiya sudah kelaparan.
“Wah, ini dia pemeran utamanya,” seru seorang pria paruh baya yang menyambut kedatangan Zhafif. Remaja lelaki itu bernafas lega karena dia tak perlu memulai pembicaraan.
“Mbak ayo makan,” ajak Zhafif setelah sedikit bangak mengobrol dengan para orang tua.
Tiba-tiba obrolan para orang dewasa itu menjadi terhenti karena perkataan Zhafif. “Ah, apa sayang?” tanya Zakiya sambil menatap Zhafif dengan senyuman yang manis..
“Jangan panggil saya Mbak, panggil sayang,” bisiknya penuh penekanan.
“Mmb—- sayang, ayo makan,” ajak Zhafif sedikit ragu-ragu.
“Saya permisi dulu ya,” pamit Zakiya sambil menggandeng tangan suaminya atau lebih tepatnya menarik kasar.
Zakiya membawa Zhafif menuju salah satu sudut ballroom yang lumayan ramai agar mereka tidak terlalu mencolok. Ia langsung menghentakan tangan ramaja itu membuatnya terkejut.
“Kamu sengaja mempermalukan saya di depan mereka?!” tanya Zakiya sambil menatap tajam ke arah Zhafif. “Biar mereka bilang saya beruntung menikahi lelaki mudah seperti kamu!?” ujarnya pedas.
Zhafif mengerjapkan matanya ketika mendengar pertanyaan menusuk Zakiya. Lelaki itu menggeleng pelan. “Enggak kok, Mbak.”
“Jangan panggil saya Mbak ketika ada orang lain,” tekannya masih dengan menatap tajam pada remaja laki-laki yang ada di hadapannya.
“Terus kenapa kamu mengajak saya makan? Ck, kamu sudah jatuh cinta dengan saya?” tanya Zakiya percaya diri.
Zakiya menghela nafasnya, ia kemudian meninggalkan Zhafif seorang diri ketika tak mendapat balasan dari pria itu yang masih terdiam.
Sedangan remaja lelaki itu masih terus membisu ketika menatap punggung Zakiya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Zhafif menghembuskan nafasnya, bertambah satu orang lagi yang membencinya. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah sang Papi yang sekarang tengah berada bersama teman-temannya.
Setelah pertanyaan bernada dingin yang dilontarkannya ketika Zhafif pulang malam kala itu, mereka sama sekali tidak terlibat kembali pembicaraan. Bahkan Raka sama sekali tak memberikan ucapan selamat atau biasanya nasehat rumah tangga padanya.
“Dimana Zhafif?” tanya Zalia pada Zakiya yang tengah berada di stand minuman.
“Oh, Mas Zhafif sedang bersama taman-temannya, Mi,” ujar Zakiya sambil tersenyum manis.
“Tidak usah berpura-pura menjadi kelinci, kalo sebenarnya kamu ular berbisa,” kata Zalia sadis ikut mengambil minuman. “Saya baru saja mengantarkan teman-teman Zhafif makan. Dan, saya yang menyuruh Zhafif untuk mengajak kamu makan.”
Jadi, bukan Zhafif yang mengajaknya makan? Astaga, percaya diri sekali ia.
“Saya melihat apa yang kamu lakukan dengan Zhafif,” ucap Zalia memandang ke arah wanita di depannya dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
Wanita itu terdiam ketika mendengar perkataan dari mertuanya. Zalia yang saat ini menatapnya tanpa ekspresi lebih mengerikan daripada menatapnya tajam. Karena ia tidak tahu apa yang akan diberikan wanita itu, memberi madu atau racun?
“Saya tidak peduli apa yang akan kamu lakukan pada diri kamu sendiri Zakiya Amalia. Sesuai perjanjian kita, kamu hanya menikahi Zhafif dan tapi tidak berhak dengannya. Jangan membuatnya terluka atau kamu yang saya buat berdarah.”
“Dan sekali lagi saya ingatkan, saya yang meninggikan kamu. Maka saya juga bisa menjatuhkan bahkan membuat kamu jatuh terkubur dan tak ada yang menyadari kepergian kamu.”
Zakiya tidak pernah takut dengan orang, namun kali ini ia merasakan bahwa ucapan dari Zalia Arfhadia tak hanya guraian semata. Wanita itu yang memang mengangkatnya namun itu berarti ia juga bisa dijatuhkan dengan mudah. Bahkan ditiadakan.
Ia pernah mendengar bahwa kedua pasangan suami isteri itu benar-benar mengerikan aslinya. Raka Arfhadia bahkan pernah menghancurkan perusahaan sahabatnya karena Zalia. Jadi, seorang Raka Arfhadia pasti akan menuruti kemauan isteri tercintanya.
“Mas Zhafif kemana aja? Mami tungguin kok enggak balik-balik,” sahut Zalia tersenyum lebar ke arah Zhafif yang berjalan mendekat.
“Barusana dari toilet, Mi,” ujar Zhafif berbohong yang tentu saja Zalia tahu kebenarannya.
“Mas Zhafif makan dulu sana,” suruh Zalia perhatian. “Mami udah makan?” tanya Zhafif balik.
“Udah, tadi sama Papi,” jawabnya sambil membenarkan jas anaknya yang sedikit tak rapi.
“Mbak Zakiya udah makan?” tanya Zhafif menoleh ke arah sang isteri kemudian meringgis karena kembali menyebut wanita itu dengan sebutan Mbak ketika ada orang lain.
“Tidak ada apa kalo kamu nyaman dengan panggilan itu,” kata Zakiya sedikit lembut.
Setelah selesai makan, Zhafif dan Zakiya kemudian menonton penampilan penyanyi yang terkenal di jaman Mami dan Papinya. Banyak pasangan dewasa yang berdansa membuat Zhafif merasa ini bukan seperti pesta pernikahan melainkan pesta reuni.
“Enggak dansa lo, Fif?” tanya Petra ketika ada Zakiya disamping Zhafif.
Zhafif terkekeh, ia kemudian menoleh ke arah Zakiya. Ia sebenarnya ingin mengajak namun tak berani, presentase ia ditolak lebih tinggi daripada diterima. Ia tidak bisa memaksa Zakiya untuk menurut dengannya. Ia juga tidak bisa membuat Zakiya menjadi isteri seutuh untuknya. Karena ia sendiri tidak bisa menjadi yang suami yang sempurna untuknya.
“Kamu mau berdansa?” tanya Zakiya tiba-tiba.
“Apa, Mbak?” tanya Zhafif. Ia mungkin salah dengan atau berhalusinasi mendengar ajakan Zakiya.
“Kamu mau dansa sama saya?” tanyanya lebih keras lagi. Zakiya menunggu jawaban dari Zhafif. Jujur, Zakiya tidak melakukan ini karena ingin mencari muka. Entah dari mana perasaan itu, ia tiba-tiba menjadi merasa bersalah dengan Zhafif.
“Saya mbak?” celetuk Petra.
“Zhafif dodol, bukan lo!” seru Attar menoyor kepala Petra.
Lita ikut-ikutan menyoraki Petra yang memiliki tingkat kepercayaan yang begitu tinggi. Hanya Kanya yang diam sambil memandingi Zakiya dan Zhafif.
“Ayo, Mbak.”
Zakiya menjulurkan tangannya ke arah Zhafif yang disambut lelaki itu langsung dan erat. Bertepatan ketika mereka melangkah menuju ke tengah-tengah. Tiba-tiba semua pasangan yang tadi berdansa mundur dan membuat halaman tengah ballroom itu hanya diisi oleh Zhafif dan Zakiya.
“Mbak,” ujar Zhafif sedikit ketakutan.
“Jangan takut, kamu disini sama saya,” katanya lalu meletakan kedua tangannya di bahu Zhafif. Spontan tangan lelaki itu kemudian berada dipinggang isterinya.
Lagu romantis pun diputar, lampu ballroom tiba-tiba redup dan sebuah lampu sorot tiba-tiba mencul menerangi langkah mereka.
Zakiya memejamkan matanya ketika mendengar musik itu. Sebenarnya ia tidak tahu dan sadar apa yang ia lakukan sekarang. Dia berusaha untuk terus berpikir bahwa semua ini benar.
Dia tahu bahwa ia sudah terlalu jauh melangkah, menarik masuk seseorang ke dalam hidupannya demi sebuah jabatan.
Zhafif sama sekali tidak bisa mengedipkan matanya ketika memandang wajah Zakiya yang begitu dekat dengannya.
“Zhafif, apakah kamu akan menjaga saya?”
Zhafif tak langsung menjawab. Ia terdiam sebentar lalu mengerjap. “Saya hanya bisa beladiri kareta, Mbak. Tapi, saya bakal menjaga Mbak seperti saya menjaga diri saya sendiri.”
Bola mata itu kemudian terbuka dengan pandangan sayu. Zakiya memandang wajah Zhafif yang begitu dekat dengannya. Wajah lelaki itu memang tampan dengan kulit putih bersih. Bibirnya merah serta alisnya sedikit tebal. Zhafif itu tampan.
Wajah keduanya semakin merapat. Semakin dekat. Dekat. Sampai-sampai Petra yang berada diujung sana gregetan dan panas sendiri.
“AYO KITA LANJUTKAN LAGI YA! AYO KITA KEMBALI BERDANSA.”
“s**t,” umpat Zakiya memutar bola matanya ketika mendengar teriakan dari mic yang suaranya sangat ia hapal. Siapa lagi jika bukan nyonya Zaila terhormat!
Pesta berlansung dengan meriah. Teman-taman Zhafif sudah undur diri. Kecuali Kanya yang masih berada di salah satu meja dengan gelas minuman di tangannya.
“Lo belum pulang, Nya?”
“Ada yang mau gue omongin sama lo. Ayo, Fif.”