MMY 10

1287 Words
“Mas semangat!” seru Maminya membuat Zhafif terkekeh. “Mami masuk dulu ya,” katanya sebelum meninggalkan Zhafif di depan pintu kamar hotelnya. Remaja lelaki itu menarik nafasnya, lalu berusaha tersenyum walau di kepalanya kini tengah membayangkan keadaan Petra dan Kanya. Hari ini benar-benar menyedihkan untuknya, ia mungkin akan kehilangan sahabat terbaiknya, dua sekaligus. Walau begitu, ia harus tetap nampak baik-baik saja. Ia tidak mungkin membawa masalahnya ke Pernikahan mereka. Mbak Zakiya hanya tahu bahwa ia baik-baik saja. Clek! Zhafif tersenyum lebar ke arah Zakiya yang sedang berada di atas kasur. Wanita itu menatapnya dengan dahi mengerut lalu kembali fokus dengan laptopnya. Sedangkan Zakiya berdecak kesal di dalam hatinya. Pasti laki-laki itu kini tengah bergembira, lihatlah senyum lebarnya. Entah apa yang mereka lakukan, Zakiya tidak peduli. “Mbak udah mandi?” tanya Zhafif karena wanita itu sudah menanggalkan gaun pernikahannya dan mengganti dengan sesuatu yang lebih santai. “Ada yang ingin saya pertegas sama kamu,” katanya membuat Zhafif mengangguk lalu duduk di kursi yang tak jauh dari Zakiya. Banyak yang harus mereka perjelas disini. “Kamu tahukan alasan saya menikah dengan kamu?” tanyanya. “Saya menikahi kamu karena ingin lebih mengabdi ke perusahaan, bukan karena ingin menjadi isteri kamu.” “Ngabdi kok sama perusahaan, sih, Mbak,” sahut Zhafif sedikit terkekeh karena kondisi sekarang nampak mencekam. Namun, Zakiya tetap mempertahankan wajah datarnya. “Saya tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan,” ujar Zakiya sambil menutup laptopnya. “Apa mereka tahu kamu bekerja sebagai ojek online?” tanya Zakiya membuat senyum dibibir Zhafif luntur. Mereka yang dimaksud wanita itu pasti Zaila dan Raka. Zhafif menggeleng membuat senyuman kecil timbul di bibir Zakiya. “Saya tidak akan memberi tahu mereka, asalkan kamu tidak mencampuri hidup saya.” “Oh, iya, kamu tidak perlu bekerja keras untuk menafkahi saya. Bahkan jika kamu tidak memberikan pun, tidak apa,” katanya membuat ego Zhafif terpancing. Namun, lelaki itu langsung memejamkan matanya dan berusaha tesenyum. “Saya akan tetap menafkahi, Mbak,” putusnya membuat Zakiya memutar bola matanya. “Kamu tahu dari pernikahan ini saya mendapat jabatan yang sangat inginkan.” Ia kemudian memandang ke arah Zhafif. “Enggak adil sih sebenarnya untuk kamu yang tidak dapat apa-apa, karana memang dari awal ini perjanjian saya dan Mami kamu,” lanjutnya. “Oh, iya! Kamu boleh menikmati tubuh saya,” seru Zakiya seolah ia baru saja mengatakan hal yang mudah. Sedangkan Zhafif terdiam ketika mendengar perkataan itu. Zakiya kemudian melepas gaun dari atas tubuhnya hingga hanya tersisa bra, namun bagian bawahnya masih berada di dalam gaun. “Come here, naughty boy.” Wanita itu merebahkan tubuhnya diatas badcover dan bersikap pasrah. Detak jantung wanita itu tiba-tiba berdetak kencang ketika Zhafif sudah ada didepannya. Lalu lelaki itu tiba tiba mendekatkan tubuhnya ke arah Zakiya sehingga wajah mereka begitu dekat dan sekarang berada dalam kunkungan kedua tangannya. Kedua tangan wanita itu tiba-tiba saja ditarik Zhafif ke atas. “Wah, kamu bertipe masokis ya,” komentar Zakiya. “Jangan keras-keras atau sampai berbekas!”Namun tiba-tiba Zhafif memundurkan tubuhnya dan menarik badcover dari arah kiri untuk menutupi tubuh Zakiya. “Hey, apa kamu punya fetish aneh? Turn on dengan wanita berselimut?” seru Zakiya. “Saya gerah Mbak. jadi saya mandi deluan,” kata Zhafif tiba-tiba. Ia kemudian mendorong tubuh Zakiya hingga berguling ke arah kanan, membuatnya menjadi sushi. “Zhafif sialan! Lepaskan saya!” karena tangannya yang berada diatas, wanita itu tidak bisa melepaskan dirinya sendiri. “Hey! Saya yang mandi deluan.” “Dadah mbakk!” “Zhafif lepaskan saya!” “Zhafif saya kepanasan!” —— “Kita mau kemana?” tanya Zakiya pada Zhafif yang sedang mengendarai mobil. Zakiya yang sedang enak tidur tiba-tiba dibangunkan oleh Zalia dan menyuruhnya untuk segera bergegas mandi. Tak ada lagi Zhafif di kamar itu kala ia bangun. “Enggak tahu, Mami cuman nyuruh ikutin aja Mbak,” kata Zhafif. “Oh, iya, ini Mbak makan. Belum sarapan kan,” ujae Zhafif memberikan sebuah papperbag berisi roti dan air mineral. “Zhafif,” panggil Zakiya sambil membuka air mineral itu. “Iya, Mbak?” tanya Zhafif, lelaki itu tiba-tiba terkekeh dalam hatinya. Ia jadi seperti sedang bersama mengobrol dengan penumpang ojek onlinenya. “Kamu tidak risih dengan tingkah Mami kamu?” tanya Zakiya yang memang dari awal sangat penasaran. “Risih gimana?” tanya Zhafif. “Kamu itu ABG yang lagi panas-panasnya, biasanya seusia kamu ini hobinya keluyuran, main sama temen, pulang malam atau sampai enggak pulang, nge- club,” ujar Zakiya. Dia sendiri merasa tersendir dengan apa yang ia ucapkan, karena saat usianya sedang panas-panasnya ia tak melakukan itu. Namun kebanyakan anak muda sekarang akan melakukan itu, katanya nakal dulu nanti baru sukses. Ckck, iya kalo benar-benar sukses. Kalo tidak bagaimana? “Saya pernah kok, Mbak, enggak pulang dari rumah,” ujar Zhafif membuat Zakiya sedikit terkejut. “Really?” tanyanya tak percaya. Zakiya jadi penasaran berapa kali Zalia menelponi dan mengirimi pesan pada Zhafif untuk segera pulang. “Iya waktu nginap rumah Petra,” ujarnya merasa tak bersalah. “Seterah kamu,” ujar Zakiya yang sudah tak mood. Zhafif memperlambat laju mobilnya ketika mereka memasuki perumahan. “Tunggu jangan bilang kita bakal tinggal disini?!” protes Zakiya kaget. Zhafif yang mempunyai pemikiran yang sama dengan Zakiya ikut meringgis. “Iya, kayaknya Mbak.” “Mami kamu ituuu...” gemasnya. “Kenapa enggak sekalian tinggal bareng aja?!” “Awalnya sih Mami mau gitu, tapi saya tolak karena enggak enak sama Mbak. Kata orang-orang menantu perempuan itu musuhnya mertua perempuan.” “ASTAGAAA!”  Zakiya tak ingin banyak bicara lagi. Kali ini ia harus menolak, jarak dari kantor ke rumah ini mungkin menghabiskan waktu setengah jam.  “Saya enggak mau,” putusnya. Mobil mereka kemudian berhenti di salah satu rumah yang cukup besar dan bertingkat dua. Halamannya sudah sudah dipenuhi dengan tumbuhan hijau yang menyegarkan mata. “Gimana? Mas suka sama rumahnya?” tanya Zaila tersenyum lebar ketika keluar dari mobil. “Mami nampaknya saya dan Zhafif tidak bisa tinggal disini,” ujar Zakiya langsung. “Kenapa Zakiya?” tanya Raka. “Apa rumah ini kurang besar?” tanya pria itu membuat Zakiya menoleh. Ck, ini sangat besar. Batinnya. “Jarak yang terlalu jauh dari kantor yang menjadi kendala, Pak Raka.” “Tidak apa, saya akan memaklumi jika kamu terlmbat,” kata Raka sambil memeluk pinggang isterinya. Ck, posesif. “Tapi, saya merasa tidak enak dengan karyawan yang lain, Pak.” “Ckk, kamu merasa tidak kompeten tapi ditawari jabatan langsung mau. Apa itu?” ketus Zaila membuat Zakiya diam membisu. “Mamii,” panggil Zhafif. “Ikut mas lihat rumahnya, Yuk?” ajaknya sambil menggandeng ibunya. “Ayoo!” Zalia dengan semangat menggandeng tangan Zhafif menuju rumah bertingkat dua itu. Mereka mengeliling berbagai sudut ruangan dengan Zalia yang tak berhenti tersenyum. “Oh, iya, mobil punya Mas nanti dibawa kesini sama sopir aja ya?” Memang mobil yang dikendarai Zhafif tadi adalah milik Zalia.  “Mas ambil motor aja, deh, Mi,” ujarnya, motor yang Zhafif maksud adalah motor pemberian dari Neneknya yang ada tinggal di Bandung. “Nanti sopir yang bawain,” tegas Zaila tak mau dibantah. “Oh, iya, sama uang jajan Mas nanti Mami tambahin,” kata Zalia yang kali ini membuat Zhafif tak setuju. “Tapi, Mi, sekarang Mas sudah menikah,” kata Zhafif. “No!” tolaknya. “Mami yang minta Mas Zhafif menikah dan ketika Mas setuju Mami sangat bahagia jadi karena itu Mami yang akan tanggung semuanya, termasuk uang jajan yang akan terus dari Mami.” Sampai kapan? Sampai kapan ia berpangku tangan pada Maminya.  Zhafif merasa menjadi lelaki yang tak berguna. Padahal ia sudah menjadi lelaki dewasa dan sudah memiliki seorang isteri. Namun, masih terus berpangku tangan pada Maminya. Sampai kapan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD