“Mbak mau saya bantuin?” tanya Zhafif yang tengah berdiri di teras rumah memperhatikan Zakiya yang nampak tidak meyakinkan untuk mengangkat barang-barangnya.
“Saya bisa sendiri!” seru Zakiya mengangkat kardus dari bagasi mobilnya. Gadis itu menghembuskan nafansya pendek ketika merasa tak sanggup untuk mengangkatnya, entah apa isi dari kardus ini dan kenapa berat sekali?!
“Hah...hah.” Zakiya ngos-ngosan, baru saja dua langkah membawa kardus itu dari mobil tapi rasanya ia sudah seperti memutari stadion GBK. Padahal ia adalah orang yang rajin berolahraga, ia paling sula berjalan kaki, contohnya ia sering memutari ruangannya.
“Dasar lelaki tak sejati!” seru Zakiya sambil menatap bengis ke arah Zhafif yang menyandarkan tubuhnya di tiang teras. Lelaki itu sempat menutup mulutnya karena rasa kantuk. “Harusnya kamu itu kalo lihat wanita kesusahan, dibantu!” serunya lagi.
“Lah tadi Mbak yang enggak mau? Cewek itu emang plin-plan ya, Mbak,” balas Zhafif yang tak mau kalah.
“Laki-laki yang enggak ngerti, mereka itu selalu salah,” maki Zakiya balik.
“Saya bantuin, asalkan Mbak ngakuin kalo Mbak wanita plin-plan,” kata Zhafif sambil menaik-turunkan alisnya.
“Tunggu saja sampai kamat! Tidak mungkin. Seorang Zakiya tidak akan pernah menarik ucapannya.”
Wanita itu kembali mengangkat kardus itu sambil terus menyumpahi kenapa berat sekali?! Zhafif yang tak tega melihat itu akhirnya berjalan mendekati Zakiya dan mengangkatnya.
“Sini saya bantu, Mbak.” Lelaki itu mengambil alih kardus itu dari tangan Zakiya.
“Padahal saya bisa,” katanya sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang terasa kotor.
“Iya, Mbak Zakiya hebat. Ototnya kekar!”
“Hhmhh.”
Zakiya tergelak bukan main ketika melihat raut wajah Zhafif yang menyedihkan ketika mengangkat itu. Raut wajah lelaki itu seperti sedang menahan buang air besar yang sudah diujung. Sama dengannya namun berbeda lima langkah, Zhafif kembali meletakan barangnya.
“Ini Mbak bawa apa? Dosa?” tanyanya meneguk ludah karena ini terlalu berat. Ia menoleh ke arah Zakiya yang tersenyum pongah dengan nafas tak beraturan.
“Ini kayaknya buku bacaan saya,” ujar Zakiya mengingat-ingat.
“Ini semua karena kamu yang nolak pake jasa pindahan!” seru Zakiya lagi sambil menunjuk Zhafif yang masih mengatur nafasnya.
Setelah Zalia dan Raka pulang, Zakiya mengajak Zhafif untuk memindahkan barang dari rumah lamanya kesini. Awalnya mereka ingin menggunakan jasa pindahan. Namun Zhafif menolak karena merasa ia sanggup.
Tapi, dipertangahan jalan, mereka berdua tiba-tiba terlibat pertikaian membuat Zakiya emosi dan mengatakan bisa mengangkat barangnya sendiri.
“Pokoknya ini semua salah kamu Zhafif!”
“Saya kira barang-barang Mbak Zakiya cuman dikit enggak kayak cewek kebanyakan, tapi ternyata sama aja,” keluh remaja lelaki itu sambil bangkit.
“Ayo angkat berdua, Mbak,” ajak Zhafif. “Nanti saya traktir mie ayam, deh.”
“Kamu pikir saya mau disogok seperti itu, gerobaknya pun bisa saya beli kalo mau!”
“Oke, deh. Salah saya, Mbak.”
“Karena saya baik ya. Saya bantu.”
“Mbak Zakiya terbaik lopyuuu!”
“Apa tadi kamu bilang?” tanya Zakiya.
“Lopyu Mbak, baper ya Mbak? Duh, maaf.”
Zakiya tertawa mengerikan. “Jidat kamu baper!”
“Ayo, Mbak kapan bantuin saya,” rengek Zhafif. Cuaca di luar rumah memang saat ini sedang tengah terik-teriknya.
“Kamu yang ngajak ribut, sih.”
Mereka kemudian mengangat kardus itu berdua, Zhafif benar-benar mengeluarkan tenaganya agar tidak memberatkan Zakiya. “Mm-mbak deluan yang masuk,” ujar Zhafif menahan berat ketika mereka sudah sampai di pintu.
“Hah, akhirnya selesai juga.” Zhafif melepaskan kaosnya yang basah akan keringat membuat Zakiya yang baru kembali untuk mengambil kardus kecil, masuk dengan terkejut dan berteriak. “YAKKK! MESUMM!”
Tubuh Zhafif memang tidak kotak-kotak, namun juga tak buncit. Kulitnya putih bersih tanpa luka. Buru-buru lelaki itu mengenakan bajunya.
“Apa kamu punya penyakit yang ingin naked disembrangan tempat dong!” seru wanita itu.
“Maaf, Mbak.” Zhafif tidak memiliki tenaga lagi untuk beradu bacot dengan Zakiya.
“Udah selesai? Ayo kita makan mie ayam,” ajak Zhafif sambil mengambil kunci motor yang tergantung.
“Saya mau kuahnya dipisah, enggak pake ceker,” ujar Zakiya sambil meletakan kardus kecil tadi yang ia bawa.
“Oh, Mbak bungkus ya? Saya mau makan disana, Mbak tunggu agak lama ya.”
Zakiya mengerutkan dahinya dan mendesah. Ia sudah sangat kelaparan karena menghabiskan banyak energi mengangkat barang-barang itu dan ia harus menunggu Zhafif kembali. Mana di rumah ini tidak ada makanan, karena mereka belum mengisinya. “Oke saya ikut.”
“Call!” seru Zhafif sambil memutar-mutar gantungan kunci motornya.
“Naik motor?” tanya Zakiya.
“Warung Mie Ayamnya dekat sini kok, Mbak. Tapi jalan kesananya sempit. Kalo mau make mobil harus mutar dulu.”
“Iya naik motor aja.”
“Kamu enggak pake helm?” tanya Zakiya ketika sedang memasang helm.
“Dekat kok, Mbak.”
“Pake atau saya yang bawa motornya!” ancamnya.
“Oke, oke, Mbak. Takut banget saya jatuh ya?” tanya Zhafif sambil terkekeh.
Sedangan Zakiya memutar bola matanya. Jika ia tidak takut dengan ancaman Zaila, tidak peduli dia dengan remaja lelaki itu. Bahkan jika perlu ia akan menjadi Zhafif sebagai babunya.
Wanita itu kemudian duduk di belakang motor. “Sesuai titik ya, Mbak?” canda Zhafif namun tak membuat Zakiya tertawa.
“Cepat jalan saya lapar!”
————
Mereka kemudian sampai di salah satu tempat makan mie ayam gerobak namun sudah memiliki sebuah ruko tempat dimana para pelanggan bisa makan di tempat.
Ponsel milik Zhafif tiba-tiba berbunyi membuat lelaki itu merogoh saku celana sambil mencari bangku. Nama Petra tertara di ponselnya membuat ia sedikit lega karena mungkin kesalahpahaman kemarin sudah selesai.
“Halo, Pet?” sapa Zhafif.
“Lo dimana?” tanya Petra datar.
“Di mie ayam Pakde.”
Tut.
Lelaki itu mengerutkan dahinya, apa lelaki itu masib marah padanya? Zhafif menghendikan bahunya, ia kemudian meletakan ponselnya kembali dan melihat ke arah Zakiya yang menatapnya.
“Kenapa, Mbak?” tanya Zhafif.
“Enggak ada,” ujarnya sambil mengelap keringatnya yang banjir.
“Mie ayamnya enak, Mbak,” kata Zhafif ketika pesanan mereka sampai.
“Kepanasan ya, Mbak?” tanya remaja lelaki itu kala melihat Zakiya mengipas-ngipas wajahnya.
“Pakde, kipasnya rusak?” tanya Zhafif pada penjualnya. Ia memang sudah menjadi langganan disini bersama teman-temannya. Dan, kipasnya akan selalu hidup jika ia kemari.
“Hidup kok, Fif. Coba aja,” kata Pakde yang sedang melayani pelanggan.
Ketika kipas itu menyala dan meniupkan angin padanya, Zakiya akhirnya dapat bernafas lega, walau masih terasa panas tapi setidaknya lebih baik dari tadi. Ah, apa tadi simulasi neraka?
“Kenapa tidak dari tadi?!” sewot Zakiya.
“Hehe, Mbak bilang dong kalo kepanasan.”
“Enak Mbak?” tanya Zhafif ketika melihat Zakiya menggigit mie ayamnya.
Zakiya mengangguk sambil menjiliti bibirnya membuat Zhafif tiba-tiba meneguk ludahnya. Bola matanya terus menatap ke arah wanita di depannya yang cukup bersemangat memakan mie ayamnya. Rambut wanita itu yang terurai bahkan tak menganggunya.
“Mau kerupuk pangsit lagi?” tanya Zhafif setelah berhasil mengalihkan pandangannya.
Zakiya menggeleng dan terus memakan mienya.
Lelaki itu kemudian mengambil teko dan gelas, lalu mengisinya dan memberikanya pada Zakiya.
“Nur, ada ikat rambut?” tanya Zhafif pada anak Pakde yang lewat sambil membawa telor rebus.
“Ada, Kak Zhafif. Bentar ya,” katanya.
“Ini,” ujar Nur sambil memberikan ikat rambut. “Makasih ya, Nur.”
“Ikat dulu rambutnya, Mbak,” ujar Zhafif.
“Mmhh.” Zhafif sedikit melotot ketika melihat pipi Zakiya yang menggembung karena berisi mie. Terlihat sangat imut dan berbeda dari wajahnya yang biasa sangat sangar.
“Ikatin,” katanya.
“Hah?”
“Ikatin rambut saya Zhafif,” kata Zakiya seperti tak ingin diganggu acara makannya. Remaja lelaki itu tergagap dan akhirnya menganguk.
Sambil deg-degan Zhafif mengambil anak rambut Zakiya dan mengikatnya menjadi satu.
“Aduh, jangan kuat-kuat, sakit!”
“Eh, gimana, Mbak?” tanya Zhafif.
Wanita itu kembali menarik ikat rambut itu membuat rambut panjang tergerai. Barulah kembali wanita itu mengikatnya.
“Sudah kamu makan sana,” ujar Zakiya pada Zhafif yang masih berada di belakangnya.
Remaja lelaki itu kemudian kembali bangkit dari bangkunya, baru saja hendak mulai makan. Zhafif terkejut ketika melihat Petra tiba-tiba masuk ke warung ini dengan tergesa.
Bugh!
Tanpa mengatakan apa-apa, Petra melayangkan pukulan pada pipi Zhafif membuat lelaki itu jatuh dari kursinya. Keadaan meja pun menjadi berantakan termasuk mangkok mie ayam Zakiya yang tumpah.
“s**t, mie ayam saya,” kesalnya.
“Awhhh, panas!” kaget Zakiya ketika tumpahan kuah itu jatuh dari meja dan mengenai kakinya.
“Lo apa-apan, sih, Pet?!”
“Lo kenapa nolak Kanya, hah?!” seru Petra.
Zhafif memegangi pipinya yang terasa perih. Ia sedikit melirik ke arah Zakiya, kemudian menarik Petra keluar dari sini. Lelaki itu awalnya tak mau menurut, namun ketika Zhafif tiba-tiba menatapnya tajam dengan rahang wajah mengeras membuat nyali Petra kemudian menciut. Barulah ia mau keluar.
“Maaf ya, Pakde,” kata Zhafif pada Pakde yang dibalas ucapan tidak apa-apa. “Pakde pesan satu lagi ya, antar ke Mbak itu.”
—————
“Lo kenapa nolak Kanya?!”
“Gue enggak suka sama dia, Pet.”
“Sepuluh tahun lo sama dia enggak mungkin enggak suka,” ujar Petra tak percaya membuat Zhafid berdecak. Keras kepala seorang Petra memang perlu diadu dengan beton. “Lo enggak usab mikirin gue, Fif.”
“Kalo gue bisa suka sama dia, mungkin gue udah jadian sama dia dari dulu. Sebelum ada lo, Pet,” jelas Zhafif sambil memegangi bibirnya yang terasa perih.
“Bukan karena gue?” tanyanya.
“Bukan,” jawab Zhafif. “Ngapain juga mikir lo?” balasnya membuat Petra terdiam. “Lo aja enggak mikir gue.”
Petra kemudian terdiam sambil memandangi Zhafif. Seketika ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan. Sangat menyesal, apalagi ketika melihat bibir lelaki itu berdarah karenanya.
Lelaki itu baru menyadari bahwa sosok Zhafif itu sangat penting dalam hidupnya. Beberapa kali pria itu membantu dan menolangnya dengan Attar. Jika bisa dihitung, cintanya pada Kanya bukan apa-apa dibanding dengan persahabatannya.
Ia memang kecewa ketika mendengar Kanya menyukai Zhafif, tapi Petra lebih marah karena Zhafif menolak Kanya demi dirinya. Ia tidak pantas dan berhak hingga sampai menghalangi kebahagian keduanya.
“Fif, maafin gue. Gue khilaf. Gue orangnya memang gini, Fif,” mohon Petra. “Gue sujud, nih, biar lo maafin.”
“Ck, iya gue maafin. Lo mah orang emang gini. Ada anak kelas lain yang ngeledek gue anak Mami aja besoknya mereka jalannya udah beda, kepalanya udah pada diperban.”
“Heehe, maafin ya, Fif.”