“Sakit?” tanya Zakiya melihat saja ke arah Zhafif yang sedang mengobati pipinya dengan kapas dan obat merah.
Zhafif mengangguk sambil meringgis.
“Si cowo tadi suka sama cewe yang ngungkapin perasaannya sama kamu di hotel itu?” tanya sang wanita sambil menggigit kerupuk pangsit yang ia beli dari warung mie ayam Pakde dengan santainya.
Zhafif mengangguk saja, karena saat bicara bibirnya akan terasa sakit karena Petra tepat meninjunya di ujung bibir. Remaja lelaki itu kemudian tersentak ketika baru mencerna perkataan Zakiya. Dari mana wanita itu tahu? Apa jangan-jangan Zakiya juga melihat Kanya menciumnya?
“Saya enggak ada apa-apa kok, Mbak.”
“Kamu juga ada apa-apa, saya enggak peduli. Pokoknya jangan sampai luka itu kelihatan sama Mami kamu.” Zakiya mengambil dua bungkus lainnya yang telah kosong dan membuangnya di tempat sampah.
“Sebelum tidur. Lihat dulu pintu sama jendela,” pesannya sebelum meninggalkan Zhafif.
“Iya, Mbak.”
——
Zhafif terbangun dengan badan meriang dan kepala sedikit pusing. Lelaki itu tahu apa yang menyebabkan ia menjadi seperti ini. Sejak sore kemarin ia belum sama sekali menyentuh makanan dan langsung tidur setelah membersihkan lukanya.
Lelaki itu buru-buru keluar dari kamarnya ketika melihat jam di kamar munujukan pukul delapan pagi. Suasana di luar kamarnya terasa sangat begitu sepi. Zhafif kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Zakiya yang berada di sebelahnya.
Sudah tidak perlu kaget lagi jika mereka berdua tidur berpisah. Baik Zakiya maupun dirinya setuju dengan ide ini. Mereka butuh waktu untuk mengerti dan terbiasa dengan keadaan ini.
“Mbakk... Mbakk!” panggil Zhafif sambil mengetuk pintu.
“Udah sarapan? Yuk, beli bubur di luar!”
Zhafif akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah untuk mengambil minum sambil menunggu Zakiya keluar dari kamarnya. Namun dipertengahan anak tangga ia memikirkan apakah Zakiya sudah kembali bekerja?
Sesampainya di dapur, perhatian Zhafif kemudian tertuju ke arah sticky note bewarna biru yang tertempel di kulkas ketika hendak membuka lemari pendingin itu.
Saya sudah berangkat dan kayaknya pulang malam. Zakiya.
Lelaki mendesah nafasnya lalu kembali melanjutkan membuka pintu kulkas dan mengambil minum. Ternyata benar pemikirannya, bahwa Zakiya sudah kembali bekerja.
Tubuh Zhafif makin terasa dingin ketika air dari kulkas itu mengalir ditenggorakannya. Jika Zalia melihat ini pasti Maminya itu akan langsung memarahi dan menarik dirinya untuk ke dokter.
Zhafif jadi rindu Maminya jika seperti ini. Namun, sekarang ia sudah seorang suami dan memiliki seorang isteri. Memiliki kehidupan sendiri. Tidak baik jika ia terus bergantung pada Raka dan Zaila. Mulai sekarang ia harus belajar mandiri.
Lelaki itu kemudian buru-buru mandi dan segera mengganti pakaian. Tubuhnya yang meriang berusaha ia abaikan. Zakiya saja sudah kembali bekerja, kenapa dirinya harus bermalas-malasan jika gelarnya sekarang adalah kepala rumah tangga?
Zhafif langsung mengaktifkan ponselnya untuk kembali mengojek. Ia kira tidak akan mendapat pelanggan untuk lima menit ke depan, namun baru saja ia hendak ke tempat salah satu tukang bubur, ia mendapatkan notifikasi bahwa ada seorang pelanggan yang meminta diantar.
Lelaki itu memutuskan untuk mengambil orderan lebih dahulu. Zhafif merasa baik-baik saja dan bisa mengisi perutnya nanti.
“Makasih ya, dek.”
“Sama-sama, Bu,” ujar Zhafif ketika baru saja mengantarkan seorang wanita paruh baya di depan rumahnya.
“Kamu masih sekolah?” tanyanya sambil membuka dompet.
“Tinggal nunggu hasil ujian aja, Bu,” jawab Zhafif sedikit tersenyum. Ibu ini mengingatkan Zhafi dengan Zalia, selama perjalan menuju tujuan ibu itu tak berhenti bercerita seperti Maminya.
“Ooh, rajin ya kamu. Uda ganteng, muda, pekerja keras. Udah punya pacar belum? Ibu punya anak gadis lho.”
“Mau enggak?” tawar Ibu itu lagi seperti sedang menawarkan apa saja.
“TINAAA! TINAAAA KELUAR KAMU! JANGAN REBAHAN TERUS!”
Zhafif meneguk ludahnya kasar ketika mendengar teriakan ibu ini. Buru-buru ia minta maaf dan segera berpamitan. Ia menggeleng sopan ketika ditawari untuk singgah atau bahkan makan siang. Sebenarnya ia tengah buru-buru karena hari sudah sangat siang. Perutnya harus segera diisi. Rezeki hari ini benar-benar luar biasa bagi Zhafif. Ia tidak henti mendapat orderan sejak pagi. Bahkan hingga melupakan sarapannya.
Ah, apa ini rezeki setelah menikah?
Lelaki itu yakin jika ia terus seperti ini, ia bisa menafkahi Zakiya dengan baik. Memikirkan wanita yang usianya lebih tua darinya itu membuat Zhafif tersenyum kecil. Sedang apa kira-kira Mbak Zakiya?
Sambil menunggu pesanan makan siangnya, Zhafif memutuskan untuk menelpon Zakiya. Sekarang jam makan siang, ia rasa tidak akan mengganggu perkerjaan wanita itu.
“Halo, Mbak?” setelah tiga kali panggilan tak terjawab akhirnya ia bisa mendengar suara isterinya. Hemm.
“Iya, kenapa?” tanya Zakiya dari sebrang sana.
“Lagi apa? Udah makan siang?” tanya Zhafif, ia kemudian berterima kasih pada pelayan yang mengantar makannya.
“Saya sedang sibuk dan sudah makan siang. Ada lagi?” Zhafif menggigit bibir bawahnya ketika mendengar nada jutek dari Zakiya.
“Pulang jam berapa nanti?” tanya Zhafif.
“Jam 5.”
“Sudah ya?” Tut.
Zhafif menghembuskan nafasnya ketika sambungan telpon mereka diputus. Wajar saja Zakiya tengah sibuk, jabatannya yang sudah naik menjadi Direktur membuat wanita itu akan lebih sibuk dua kali lipat dari pekerjaannya. Namun, Zhafid merasa jarak diantara mereka masih sangat lebar. Ah, wajar saja. Pernikahan mereka baru berusia satu hari.
———
Zhafif melajukan motornya dengan pelan ketika hujan begitu deras membasahi tubuhnya. Untung ia sudah hampir sampai di rumah sehingga bisa segera meneduh. Lelaki itu melirik jam tangannya yang menujukan pukul setengah empat sore ketika sampai di teras.
“Wah, tambah deras,” keluh Zhafif menggosok-gosok rambutnya yang basah. “Astaga ini kan berkah,” ujarnya lagi sambil menggeleng.
Ia buru-buru mengambil mantel yang sialnya hanya ada satu di rumahnya. Ia lupa membawa dua mantelnya lagi yang ada di rumah Zaila dan Raka. Zhafif sengaja pulang dulu ke rumah untuk mengambil mantel karena ia akan menjemput Zakiya.
Wanita itu mengeluh tentang jarak yang jauh antara rumah ini dengan kantornya. Dan, Zhafif merasa ini salahnya tak bisa menolak permintaan Zaila. Ia merasa bertanggung jawab atas wania itu.
Zhafif kemudian menggunakan mantel itu untuk segera menjemput Zakiya yang tidak membawa mobil hari ini. Ia memang sengaja tidak memberi tahu Zakiya bahwa ia hendak menjemputnya. Zhafif hendak mengejutkan wanita itu dengan datang tiba-tiba.
Zhafif akhirnya sampai di basement perusahaan Papinya. Arf Group. Ia sama sekali tidak takut kesini, karena tidak ada yang mengenalinya sebagai anak dari Raka Arfhadia.
Remaja lelaki itu tersenyum lebar ketika melihar Zakiya tengah berjalan bersama beberapa wanita dan laki-laki. Buru-buru ia mendekati wanita itu dengan masih mengenakan mantel.
“Mbak Zakiya!” panggilnya yang membuat tak hanya wanita itu yang menoleh namun juga yang lain.
“Saya kesini buat jemput Mbak,” ujar Zhafif tersenyum lebar dengan bibir yang sudah begetar karena dingin.
“Mbak Zakiya pesan ojek online?” tanya salah satu rekan Zakiya yang mengira Zhafif driver ojek online karena mantel yang ia kenakan bergambar ojolnya.
“Ah, iya. Tapi perasaan tadi sudah saya batalkan.” Zhafif mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan Zakiya.
“Saya enggak jadi pulang karena ada pesta pengangkatan saya sebagai Direktur,” ujarnya. “Ini maaf ya,” katanya sambil memberikan uang pada Zhafif yang langsung di tolaknya. Wanita itu berusaha sebisa mungkin tidak menatap wajah Zhafif yang mungkin akan sangat kecewa.
“Oh, lain kali dikonfirmasi lewat chat aja lagi Mbak kalo mau dibatalkan,” kata Zhafif sambil tersenyum kecil.
“Permisi, Mas, Mbak,” ujar Zhafif kemudian membalikan tubuhnya dan berjalan menembuh lebatnya hujan.
Zakiya menggigit bibir bawahnya ketika melihat Zhafif berjalan manjauh darinya. Lelaki itu kemudian mengemudikan motornya kembali ditengah derasnya hujan.
Dan, apa lelaki itu marah karena Zakiya tak mengakuinya sebagai suami?
“Ayo, Mbak!” ajak rekannya membuat Zakiya mengangguk dan masuk kembali ke kantornya.
“Kenapa, Mbak?” tanya Lala ketika melihat raut wajah aneh Zakiya saat masuk ke ruangan. Lala tidak tahu bahwa Zhafif kesini, gadis itu berada di ruangan ketika Zakiya pergi ke bawah.
“Enggak, saya enggak papa,” ujar Zakiya berupaya untuk menghilangkan perasaan tak nyaman ini. Kenapa rasanya ia resah sekali? Sejak kapan perasaan ini kembali muncul pada dirinya?
Wanita itu kemudian berjalan menuju Pantry untuk mengambil teh s**u yang sekarang selalu ada di sana.
“By the way, selamat ya Mbak atas jabatannya! Mbak keren banget!” seru Lala mendekati meja Zakiya yang sedang memegangi gelas berisi teh, wanita itu tersenyum kecut. Bagaimana jika Lala atau orang kantor lainya mengetahui bahwa jabatan ini ia dapat karena pernikahannya dengan anak Pemilik perusahaan?
“Kapan-kapan kita nanti makan siang lagi ya, Mbak,” ujar Lala sambil memasang raut wajah sedih. Walau Zakiya adalah wanita yang ingin selalu sesuatu yang sempurna, jutek, dingin tapi tidak menutupi bahwa wanita itu aslinya sangat baik.
“Kenapa kamu bicara begitu?” tanyanya.
“Kan sekretaris Mbak bukan saya lagi, duh, semoga atasan saya yang baru ini enggak galak,” ujar Lala.
“Kamu tetap jadi sekretaris saya,” ujar Zakiya.
“Tapi, Sekretasi Mbak kan udah disiapin,” kata Lala.
“Suruh saja dia jadi sekretaris Manager yang baru itu.”
“Kenapa, Mbak? Mbak takut kangen sama saya ya?” tanya Lala sambil tersenyum jahil.
“Saya belum puas menyiksa kamu,” kata Zakiya.
“Hehe, Mbak malu-malu nih mengakui. Yuk. Mbak kita ke aula!” seru Lala. Pesta penyambutan Zakiya sebagai Ditektur yang baru memang akan adakan di Aula kantor setelah jam pulang.
“Dimana Zhafif?” tanya Zaila ketika melihat Zakiya seorang diri. “Telponya tak diangkat, dimana Zhafif?” tanya wanita itu lagi membuat Zakiya diam membisu dan jadi teringat dengan apa yang terjadi di depan tadi.
“Jika terjadi apa-apa dengan anak saya, kamu akan tahu akibatnya.”