MMY 13

1789 Words
Saat kecil, Zhafif pernah bertanya apa yang membuat Papinya begitu membencinya? Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa perasaan Raka padanya tidak seperti yang dikatakan Zaila. Maminya selalu mengatakan bahwa Raka menyayanginya namun sulit untuk diungkapkan dengan perkataan. Saat berumur dua belas tahun, Zhafif ingin membuktikan perkataan Maminya. Saat itu ia tengah berada di sekitaran kolam berang. Zhafif tidak bisa berenang. Dan, ada Raka yang melihatnya dari jendela. Di rumah tidak ada siapapun kecuali para palayan yang tengah sibuk. “Papi!” panggil Zhafif saat itu ketika Raka hendak pergi. “Kalo Papi sayang sama Mas Afif. Papi harus nolongin Mas!” Byurrr! Ia yang saat itu masih kanak-kanak dengan nekadnya menceburkan diri ke dalam kolam renang. Zhafif kecil, tak menutup matanya dan terus melihat ke arah dimananya Papinya akan menyelamatkannya. Namun, tak ada Raka yang menceburkan dirinya untuk menolongnya. Saat itu ia akhirnya sadar bahwa Papinya membencinya. Ia yang sudah terlalu lama di dalam air dan tak bisa berenang perlahan menutup kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat. Dadanya terasa begitu sesak. Byurr! Maminya. Zaila menceburkan dirinya dan cepat mengangkat Zhafif dari sana. Wanita itu menangis histeris hingga memaki para pelayan yang tak menyadari apa yang dilakukan Zhafif. Besoknya kolam itu dihancurkan dan ditimbun dan berakhir menjadi taman yang berisi bunga-bunga milik Zaila. Sejak saat itu Zhafif tak lagi berusaha untuk mengambil perhatian Raka. Ia menjadi anak yang pendiam ketika bersama Papinya dan bisa Zhafif seutuhnya bersama Mami dengan yang lain.  Tak hanya Papinya yang menolaknya. Oma dan Opa dari Papinya juga menganggapnya tidak ada jika saat acara keluarga. Hanya Nenek dari Maminya yang tingga seorang diri sangat menyayanginya. Dan, orangnya menolak kehadiranya bertambah kembali menjadi satu. Isterinya sendiri. Wanita itu jelas malu dengan kehadirannya. Ia tidak ada apa-apanya dengan Zakiya yang saat ini sangat sukses. Lupakan bahwa ia menikahinya karena jabatan, Zhafif sendiri yakin tanpa menikahinya pun Zakiya akan mendapatkan posisi itu. Zhafif menghembuskan nafasnya lagi, berusaha tidak untuk memikirkan apa-apa dan berfokus mengemudikan motornya melewati gang yang hanya bisa memuat satu mobil. Tiba-tiba seorang anak kecil yang sedangan bermain hujan muncul di hadapannya membuat Zhafif membanting stangnya dan terjatuh. Ia terseret cukup jauh dan berakhir di dekat pagar salah satu rumah. “Zhafif!” Remaja lelaki itu kesusahan untuk bengkit dengan perlahan karana seluruh tubuhnya terasa begitu sakit. “Litaa?” “Ayahh! Sini cepat Ayahhh!” teriak Lita membahana. Zhafif bukan main terkejutnya ketika yang keluar adalah Attar. “Ayah?”  —— Zakiya mengusap wajahnya kasar ketika sampai di rumah namun tidak menemukan Zhafif. Ia yang tak nyaman dan selalu gusar di Pesta itu akhirnya memilih untuk pulang. “Dimana, sih, anak itu?!” seru Zakiya yang terus menempelkan ponselnya di telinga yang sedang berusaha untuk menghubungi Zhafif. Suara mobil yang masuk membuat Zakiya buru-buru menuju jendela rumahnya. Dugaannya benar ketika melihat yang keluar dari mobil itu adalah Zalia dan Raka.  “s**t,” umpatnya sambil berjalan membukakan pintu rumahnya. “Dimana Zhafif?” tanya Zalia langsung ketika baru sampai di teras rumah anaknya. “Zhafif tidak ada di rumah, Mi,” jawab Zakiya jujur. “Apa kamu bilang?!” seru Zaila. “Saya tahu bahwa Zhafif tadi menjemput kamu di kantor tapi kamu tidak mau. Sekarang dimana dia Zakiya?!” Zakiya yang berdiri di hadapan mertuanya hanya bisa diam. Ia sendiri tidak tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Hanya karena ia menolak, ah, tidak mengakui Zhafif, Zalia sudah sangat marah besarnya. Bukan, Zalia bukan marah karena itu. Tapi, karena kepergiaan Zhafif  yang sekarang tidak tahu dimana. Hujan di luar sana masih sama derasanya ketika Zhafif pergi kantor dan sekarang hari mulai bertambah gelap. “Tidak perlu dipikirkan sayang. Anak itu mungkin sedang tertawa bersama teman-temannya,” kata Raka yang melihat raut wajah khawatir isterinya. “Iya kalo begitu, kalo tidak? Hari ini hujan lebat, Pi. Sudah mau malam juga, gimana kalo terjadi apa-apa sama Mas Zhafif?!” panik Zalia yang benar-benar cemas tentang keberadaan anaknya. “Kamu ganti pakaian saja Zakiya,” kata Raka yang melihat baju menantunya sudah basah kuyup. Wanita itu tadi nekat keluar saat keadaan hujan lebat dari kantornya untuk mencari taksi. Zakiya mengangguk tanpa bersuara, sesampainya di kamar ia kembali mencoba menghubungi Zhafif namun kembali terdengar suara operator yang mengatakan ponsel milik lelaki itu tidak aktif. “Apa susahnya, sih, mengaktifkan ponsel lalu mengabari saya atau Mami kamu?!” kesal Zakiya membanting ponselnya ke atas kasur. Tiba-tiba pikiran buruk tentang Zhafif terlintas dibenaknya membuat Zakiya menggigit bibir bawahnya. Bagaimana jika lelaki itu kecelakaan dan ponselnya hilang? Bagaimana jika sekarang Zhafif berada di rumah sakit dengan keadaan kritis dan tidak ada yang tahu identitasnya? Astaga! Zakiya mengusap wajahnya kasar, ia tidak akan bisa tenang seperti ini. Wanita itu kemudian mengambil kunci mobilnya yang ada diatas nakas lalu berjalan keluar rumahnya.  Ia tidak menemukan Zalia dan Raka ruang tamu, namun mobil mereka masih berada di garasi. Zakiya kemudian melajukan mobilnya menuju jalan raya. Ia akan mencoba mulai mencari Zhafif dari arah kantornya dan kembali ke rumah. Jika lelaki itu kecelakaan, semoga saja motornya belum diangkut. Astaga, kenapa ia malah mendoakannya?! Zakiya menggigit bibirnya gusar ketika ia sudah melewati kantornya dan berjalan ke arah balik ke rumah. Sialnya ia lupa bawah jalan dari kantor menuju rumah itu banyak sekali, bahkan ada jalan yang hanya bisa dilalui motor. Beruntung hujan sudah cukup redah sehingga pandangan Zakiya bisa lebih jauh. Wanita itu menekan gas mobilnya kuat ketika jalan lenggang dan sepi sahabis hujan. Sangking sibuk dengan pikirannya sendiri, Zakiya tidak melihat bahwa ada seorang perempuan dan anak kecil tengah menyebrang di jalan. Telat, Zakiya sudah mengerem mobilnya maksimal namun tetap saja ia berakhir dengan menabrak wanita itu. Karung yang berisi banyak botol bekas dan kaleng berhamburan di jalan membuat orang-orang menggerumbunginya. Zakiya meremas stir mobilnya ketika ia menyadari bahwa ia sudah menabrak seseorang. Detak jantungnya berdetak lebih kuat, tubuhnya terasa lemas ketika orang-orang sudah menggerumbungi mobilnya untuk meminta ia keluar dan bertanggung jawab. “Keluar atau kacanya kami pecahkan!!” Tidak tahu apa yang ia ucapkan, Zakiya malah menyebut nama seseorang yang baru tiba di hidupnya. “Zhafif tolong saya...” ——- “Lo masih shock ya, Fif?” tanya Lita sambil membawakan teh hangat. “Gue lebih shock sama kalian,” ujar Zhafif. “Bun, itu Adam udah ngantuk,” ujar Attar yang baru keluar dari kamar tidur mereka. Lelaki itu hanya mengenakan celana pendek  garis biru dan kaos oblong. “Ayahhh!” seru Lita pada Attar yang biasa-biasa saja. Wanita itu menggerakan bola matanya ke arah Zhafif yang hanya dianggap angin lalu oleh lelaki itu. “Enggak yang luka kan, Fif?” tanya Attar. “Enggak ada kok, Yah, eh, Tar,” ujar Zhafif yang entah mengapa menyebut Attar. “Lo mau lihat anak gue enggak? Bibit unggul gue,” ujar Attar sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum aneh. “Ayah!” seru Lita lagi. “Bawain Adam kesin, Bun,” pinta Attar. Lita mengerutkan dahinya. “Kenapa enggak Ayah aja yang tadi bawa kesini?” protesnya membuat Zhafif menoleh ke arah dua temannya itu. Melihat wajah bingung Zhafif, akhirnya Lita menghela nafasnya. “Bentar, Ayah jelasin dulu sama Zhafif,” kata Lita kemudian beranjak dari kedua lelaki itu. “Gue sama Lita udah nikah waktu umur kami 18 tahun. Kecelakaan, Fif,” jelas Attar yang begitu tenang. Diantara taman-temanya hanya Zhafif sendiri yang masih berusia 18 tahun, sedangkan yang lain sudah berumur 19 tahun. “Lita harus berhenti dulu sekolah waktu kelas dua, karana hamil Adam.” “Tunggu Adam ini anak manusia? Bukan anak kucing?” tanya Zhafif dengan wajah melongonya. “Sialan lo!” seru Attar. “Haloo, Uncle Zhafif!” Lita kemudian keluar dari kamarnya sambil menggendong bayi laki-laki yang berusia tiga bulan.  “Anak kalian berdua?” tanya Zhafif. Lita dan Attar kompak mengangguk. “Kok enggak mirip kalian ya?” tanya Zhafif yang diluar perkiraan Lita dan Attar. “Lo enggak marah, Fif?” tanya Lita. “Gue sama Ay—Attar udah nutupin ini semua dari lo sama yang lain.” “Kalian baik-baik aja tapi kan?” tanya Zhafif menatap keduanya. “Gue bahagia banget,” ujar Attar yang ikut diangguki Lita. “Ya udah, bagus,” angguk Zhafif. “Kecuali kalo lo kesusahan atau ada masalah, baru gue marah kalo kalian tutupin.” Attar dan Lita kemudian saling pandang ketika mendengar ucapan Zhafif. Mereka berdua merasa seperti teman tak tahu diri, hanya ada pada Zhafif saat kesusahan. Dan, laki-laki itu sama sekali tidak masalah dengan ini. “Siapa nama panjang Adam?” tanya Zhafif. “Eh, ada charger enggak? Batre ponsel gue habis. Mau ngehubungi Mbak Zakiya dulu,” katanya. “Sini,” kata Lita. “Pegang, Yah.” Wanita itu memberikan Adam pada Attar. “Siapa nama panjang Adam, nak?” tanya Attar pada Adam sambil menciumi wajah bayinya. “Adam Maheswara, Uncle Zhafif. Salam kenal!” Zhafif terkejut ketika melihat sosok lain dari Attar yang nampak begitu akrab dengan Adam. Lalaki yang biasanya selalu diam dan berbicara ketika ditanya itu ternyata bisa juga bercanda. “Orang tua kalian gimana? Lo kerja, Tar?” tanya Zhafif. “Orang tua gue sama Lita awalnya enggak setuju kami menikah. Mertua gue bahkan pernah bilang untuk gue enggak ganggu Lita lagi dan anak kami bakal diasuh mertua. Tapi, gue enggak maulah. Anak gue cuy, bibit unggul ini,” kata lelaki itu sambil tertawa ketika melihat Adam tersenyum. Zhafif yang ada disana turut tersenyum karena kegemoian bayi itu. “Gue sekarang kerja di perusahaan bokap, yah jadilah untuk makan sehari-hari,” ujarnya membuat Zhafif berdecak. Perusahaan Ayah Attar termasuk besar di bidang industri batu bara. “Terus sampai kapan lo mau sembunyiin ini dari kita?” tanya Zhafif memandang ke arah Attar.  Lelaki itu menghembuskan nafasnya. “Kanya udah tahu ini sebelum dia berangkat ke Inggris. Cuman lo dan Petra yang belum tahu.” “Gue udah tahu, btw,” kekeh Zhafif. “Buruan kasih tahu si Petra, deh,” sarannya yang diangguki Attar. “Mau coba gendong enggak?” tanya Attar ketika melihat Zhafif terus memperhatikannya namun lelaki itu malah menggeleng. “Eh, gue lupa kalo lo enggak suka anak kecil.” “Percaya sama gue, Fif. Kalo anak sendiri pasti lo bakal suka, gih buat sama Mbak Zakiya.” Zhafif yang mendengarnya hanya tertawa. Attar seperti baru saja menyuruhnya untuk membuat sebuah kue. Ia tidak yakin Zakiya mau memiliki anak dengannya yang tidak ada apa-apanya. “Gue pulang dulu ya, hujannya udah redah, nih.” Remaja lelaki itu memandang ke arah luar rumah yang sudah tak lagi hujan. “Dadah, Adam. Nanti Uncle kesini lagi okey?” “Dadah, Unclee!” Atarr menggerakan tangan Adam lembut seperti berlambai. “Fif, ada yang nelpon, nih,” katanya sambil membawa ponsel Zhafif yang sudah lumayan terisi. “Mami gue?” tebak Zhafif. “Mbak Zakiya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD