Zhafif memilih melawati jalan besar ketika hendak pulang ke rumah. Sedikit trauma dengan kejadian yang menimpanya tadi. Hampir saja ia menabrak seorang anak kecil yang entah kemana kaburnya ketika ia jatuh. Tapi, ternyata kecelakaan itu membawanya menuju ke sebuah rahasia milik Attar dan Lita.
Laki-laki itu tidak kecewa dengan apa yang disembunyikan Attar dan Lita, karana semua orang punya rahasia yang tidak bisa diceritakan pada orang lain.
“Mbak Zakiya udah pulang belum ya?” gumam Zhafif yang sedikit kedinginan karena angin berhembus kencang. Mantel yang ia pakai tadi sudah sobek karena terseret aspal. Lelaki itu benar-benar beruntung karana ia tak apa-apa.
Zhafif yakin wanita itu tengah menikmati pesta pengangkatannya. Namun, ia turut bahagia karena akhirnya salah satu impian wanita itu terwujud. Huh, Zhafif nampaknya harus buru-buru karena angin malam sudah semakin dingin.
Dipertangahan jalan menuju rumahnya, ia melihat sesuatu ramai-ramai dipinggir jalan. Nampaknya baru saja terjadi sebuah kecelakaan. Jalanan yang licin setelah hujan memang cukup beberhaya dilewati.
Tunggu, Zhafif sepertinya mengenali mobil siapa yang sedang digeremuni oleh orang-orang.
Zhafif kemudian menghentikan motornya namun sengaja tidak turun karena takut ia salah mengira. Itu tidak mungkin Mbak Zakiya, wanita itu sekarang pasti berada di kantor dan lagi pula mobilnya ada di rumah.
“Keluar atau kami pecahkan kacanya!”
Err, mengerikan. Batin Zhafif.
Ketika pintu mobil itu terbuka sedikit, para warga langsung menyerbu dan membukanya lebar-lebar serta menarik paksa seseorang yang berada di dalam mobil itu.
“M-mbak Zakiya?”
Buru-buru Zhafif turun dari motornya ketika melihat ada seseorang yang menarik isterinya dengan kasar. Ah, bahkan ada yang terang-terangan hendak memukul isterinya. Sialan!
“Jangan sentuh isteri saya!” geram Zhafif sambil memegangi erat tangan yang hendak memukul kepala isterinya.
“Kamu siapa? Tidak usah ikut campur?!” seru warga. “Dia sudah menabrak pemulung itu!”
“Saya suaminya. Saya yang bertanggung atas apa yang dilakukan isteri saya,” kata lelaki itu sambil menatap para warga.
“Zzz-zhafif?” Remaja lelaki itu menoleh ke arah belakang, melihat Zakiya yang saat ini nampak begitu ketakutan. Zhafif menarik tubuh isterinya itu yang bergetar ke arah belakangnya.
“Alah nanti juga kabur, orang kaya begitu!”
“Lalu bapak-bapak sekarang sedang ngapain? Bukannya segera membawa korban itu ke rumah sakit malah ingin main hakim sendiri!” seru Zhafif membuat para warga terdiam.
“Bapak ikut saya sebagai saksi,” ujar Zhafif pada seorang bapak-bapak.
Ia kemudian membalah kerumunan warga yang ada di depan mobil Zakiya dan menemukan seorang wanita paruh baya tergelatak pingsan. Segera saja mengangkat ibu itu untuk dibawa ke rumah sakit.
“Ibu.”
Langkah Zhafif terhenti ketika mendengar suara yang amat kecil namun masih bisa ia dengar. Ia menoleh dan terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki yang nampak berusia lima tahun menatap dengan pandangan kosong ke arah wanita yang ia gendong.
“Buk, tolong adiknya dibawa ke mobil ya,” pintanya pada seorang ibu-ibu.
Remaja lelaki itu tak bisa menenangkan Zakiya karena ia sendiri sekarang sedang panik dan berusaha tepat waktu menuju rumah sakit. Sesampainya mereka, wanita paruh baya itu segera dilarikan ke UGD untuk ditangani.
“Kenapa bisa nabrak orang, sih, Mbak?” tanya Zhafif ketika mereka didepan ruang UGD. Remaja lelaki itu kemudian menepuk jidatnya ketika melihat wajah Zakiya. Bukannya menenangkan, ia malah memperburuk keadaan.
“Mbak baik-baik aja?” tanya Zhafif pada Zakiya yang masih nampak shock dengan kejadian ini.
Zhafif meneguk ludahnya pelan lalu menarik Zakiya ke pelukannya, ia dapat merasakan tubuh wanita itu bergetar hebat. “Enggak papa jangan takut. Ada saya Mbak.”
Ia kemudian mengajak Zakiya untuk duduk di kursi besi yang ada di depan ruangan UGD. Sambil mengusap tubuh belakang Zakiya, Zhafif membuka ponselnya untuk menghubungi Zalia. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Dirinya butuh Zalia.
Perhatian Zhafif kemudian teralihkan pada pria paruh baya yang tadi ia ajak sebagai saksi. “Dik,” panggilnya.
“Iya, Pak?” tanya Zhafif.
“Kalian akan benar-benar bertanggung jawab kan?”
“Iya, Pak,” angguk Zhafif mantap.
“Baguslah. Ibu dan anak ini adalah pemulung yang sering mencari barang rongsokan di daerah rumah saya. Jadi tolong jaga mereka. Saya pulang dulu karena sudah malam.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Zhafif kemudian menghela nafasnya, wajahnya ia usap kasar. Ia kemudian menoleh ke arah anak kecil yang ada disampingnya. Ditatapnya anak itu yang hanya memandang lurus ke arah pintu UGD dengan diam. Apa hanya ia yang menunggu anak ini menangis?
Hingga mereka sampai di rumah sakit dan wanita paruh baya itu diberi tindakan. Anak laki-laki itu sama sekali tidak menangis ataupun merengek. Tatapannya kosong dan terus mengunci bibirnya.
“Hei,” panggil Zhafif kaku. Ia sangat jarang berinterkasi dengan anak kecil. “Ibu kamu akan baik-baik saja,” kata Zhafif.
Anak laki-laki itu hanya mengangguk membuat Zhafif semakin bingung. Apa yang anak kecil sukai selain sesuatu yang harus dibeli dulu? Ayo, Zhafif pikirkan apa yang dulu kamu ingin dari Papi.
Pelukan.
Zhafif ingin sekali dipeluk Raka. Jadi ia kemudian turun dari kursi dan menjadi berlutut. “Ayo sini peluk Kakak?”
Anak laki-laki itu hanya menggeleng. Nampak menolak. Dia tidak bisu kan? Tapi tadi Zhafif yakin mendengarnya memanggil ibu pada wanita yang sedang ada di UGD itu?
“Kenapa? Kakak enggak jahat, kok,” rayunya.
“Aku bau,” katanya dengan suara yang sangat kecil.
Apa tadi ia bilang? Zhafif bau? Iyakan?
Ah, daripada pusing. Zhafif memilih langsung menggendong anak laki-laki itu dan spontan ia memeluk leher Zhafif.
“MAS ZHAFIF!”
“Mami?” tanya Zhafif terkejut karena tak sampai lima menit ia memberi pesan pada Zaila, wanita itu sudah berada disini.
“Kenapa? Siapa? Apa yang terjadi? Itu anak siapa?!” tanya Zaila beruntun sambil memperhatikan tubuh anaknya dari atas sampai bawah, memastikan bahwa tidak luka dan kurang satupun.
“Mbak Zakiya nabrak ibu-ibu, Mi. Ini kayaknya anaknya,” ujar Zhafif. “Mami boleh tolong jaga adik ini bentar karena Mas mau nenangin Mbak Zakiya dulu.”
Anak kecil itu kemudian turun dari gendongan Zhafif dan beralih kegandengan Zalia. Wanita itu mengajak anak itu menuju keluar bersama Raka.
Zhafif sempat melihat ke arah Raka yang ikut menatapnya. Tidak ada yang berubah dari tatapan Papinya. Masih tak memperdulikannya.
“Mbak,” panggil Zhafif menyentuh bahu perempuan itu yang masih tediam.
“Saya takut Zhafif,” ujar Zakiya gemetaran sambil menoleh ke arah suaminya. “Saya takut di penjara. Bagaimana dengan karier saya?! Saya baru naik jabatan!”
Zhafif yang mendengarkan ucapan Zakiya sedikit meringis. Di keadaan seperti ini pun Zakiya masih memikirkan pekerjannya. “Mbak, sekarang yang terpenting, kita doakan dulu keadaan ibunya baik-baik saja dulu, Mbak.”
“Tapi—-“
Zhafif menggeleng membuat Zakiya menghentikan ucapannya. “Jangan pikirin apa-apa dulu, Mbak.”
“Mbak jangan khawatir, saya akan selalu ada sama Mbak,” ujarny sambil menggengam tangan Zakiya. “Percaya sama saya Mbak, apapun resiko dan terjadi kedapannya, kita jalani sama saya ya,” ujarnya sambil menatap Zakiya dengan pandangan meyakinkan.
Tiga puluh menit kemudian pintu ruangan UGD terbuka membuat Zakiya dan Zhafif berdiri dan mendekat ke arah dokter.
“Bagaiman, Dok? Bagaimana dengan keadaan ibu itu?” tanya Zakiya cepat yang diangguki Zhafif.
Dokter itu menatap mereka bergantian kemudian menggeleng membuat Zakiya dan Zhafif menatap tak percaya. “Beliau ternya memiliki penyakit lain yang memang sudah sangat parah sehingga kami tidak bisa banyak menolong lagi. Ibu itu meminta kalian masuk.”
Zhafif kemudian menatap Zakiya yang terdiam di depan pintu kamar. Ia tahu sekarang wanita itu tengah ketakukan dan sekarang tugasnya untuk menguatkan isterinya. Ia kemudian meremas genggaman tangan mereka membuat Zakiya menoleh ke arahnya.
Remaja lelaki itu berusaha tersenyum walau sangat susah dengan keadaan seperti ini. “Ada saya, Mbak,” ingatnya pada Zakiya.
Zakiya kira mungkin ia akan dimarahi atau mungkin dicaci maki karena membuat ibu itu tak bisa terselamatkan namun ia malah melihat senyumnya. “Bu, saya sangat minta maaf dengan apa yang saya lakukan. Ibu boleh minta apapun akan saya berikan asal jangan penjarai saya.”
“Ibu boleh minta apapun?” kata ibu paruh baya itu sedikit kesusahan. Nafasnya nampak putus-putus dan kering.
“Apapun, Bu. Mobil, rumah, apartemen, uang berapapun saya kasih.”
“Siapa lelaki ini?” tahya Ibu itu melihat ke arah Zhafif.
“Itu suami saya, Bu,” ujar Zakiya membuat Zhafif menatap ke arahnya.
“Ibu boleh minta apapun kan?” tanya ibu itu lagi membuat Zakiya mengangguk.
“Saya boleh minta kalian untuk merawat Zacky?”
“Siapa, Bu?” tanya Zakiya.
“Dia anak yang Ibu temukan di jalan seorang diri. Dia anak yang malang.”
“Boleh?” tanya ibu itu. “Tolong anggap Zacky anak kalian, karena ibu tahu kalo umur ibu sudah tidak lama lagi.”
Zakiya terdiam. Itu artinya ia akan menjadi seorang ibu? Tapi, yang terpenting ia tidak akan masuk ke penjara kan? “Saya mau, Bu.”
Zhafif yang mendengar itu melotokan matanya. Apa Zakiya tahu bahwa ia baru saja menerima sebuah tanggung jawab yang besar? Wanita itu tidak asal mau karena ingin bebas dari hukuman kan?
Setalah mengatakan itu, sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya dengan raut wajah tersenyum. Setelah sedikit berdoa. Zhafif kemudian menarik tubuh Zakiya keluar ketika mayat sang ibu sedang dirapikan.
“Mbak apa-apaan, sih?!” sentak Zhafif.
“Mbak pikir jadi orang tua itu mudah?” tanya Zhafif lagi.
“Kenapa? Kita hanya perlu memberikan anak itu mainan yang banyak, apapun maunya kita turutin dan sewa pengasuh,” ujar Zakiya membuat Zhafif semakin terkejut. Ia tidak habis pikir dengan jalan wanita itu.
“Saya tidak mau, Mbak!” kata laki-laki itu.
“Kamu hanya perlu menjadi ayahnya, Zhafif. Saya yang akan biayai semuanya.”
“Bukan ini masalahnya, Mbak,” kata Zhafif memegang pundak Zakiya. Nafasnya terdengar terngah-enggah. “Saya enggak tahu cara menjadi ayah yang baik.”
“Zhafif...”
“Ah, saya lupa, Mbak. Saya enggak boleh terlalu ikut campur sama urusan Mbak. Saya pergi.”
Setelah mengatakan itu, Zhafif melepaskan tangannya dari pundak Zakiya dan berjalan menjauh dari isterinya. Sedangkan Zakiya hanya bisa terdiam memandangi punggung Zhafif yang perlahan menjauh darinya.
“Zhafif...”