“Ckk, Mbak Zakiya pikir ngurus anak itu mudah?!”
“Gimana nanti kalo dia sedih?! Gimana nanti kalo dia nangis? Sakit? Bagaimana nanti kalo dia di bully di sekolah?!” seru Zhafif pada angin yang berhembus kencang. Ia kembali meneguk minuman yang ada di atas meja hingga hambis.
Ketika cairan itu melewati lehernya, Zhafif bisa merasakan kelegaan yang menenangkan hatinya. Ia kembali membuka botol kedua.
“Lo minum soda, kayak minum amer aja, Fif,” kata Petra melihat tingkah Zhafif, lelaki itu menggelengkan kepalanya.
“Shhh...” ringis Attar sambil memegangi pipinya yang memerah. Apalagi jika bukan karena Petra yang memukulnya ketika ia memberitahukan tentang Lita dan Ia yang sudah menikah.
Walau Petra sangat suka bebacot ria dengan Lita, namun lelaki itu amat menyayangi wanita itu karena kehadirannya membuat Petra serasa memiliki adik perempuan.
“Gue pengen nginep di rumah..” Zhafif melihat ke arah Attar lalu kemudian menggeleng. Ia kemudian menatap ke arah Petra. “.. rumah lo ya, Pet.”
“Gue ikut,” sahut Attar.
“Lo mau ninggalin Lita?” tanya Zhafif yang dengan pandangan sayu. Gayanya seperti baru saja menegak vodka.
“Lita sama Adam lagi di rumah Mamanya,” jawab Attar.
“Gas!” ajak Petra.
Ketiganya kemudian meninggalkan minimarket itu menuju rumah Petra. Para lelaki itu memilih menghabiskan waktu dengan memasak mie porsi jumbo dan bermain game hingga larut malam. Zhafif berusaha untuk sedikit melupakan apa yang terjadi. Ia butuh untuk menenangkan pikirannya.
“Enggak bisa tidur, Fif?” tanya Attar terbangun dan menoleh ke arah Zhafif yang memandangi ke arah plafon.
Zhafif mengangguk. “Kira-kira gue kayak anak kecil kalo kabur gini, enggak?” Sebenarnya sangat tidak baik jika ia kabur ditengah masalah yang belum selesai seperti ini. Namun, Zhafif butuh menenangkan dirinya.
Kenapa Zakiya tidak meminta pendapatnya dulu tentang Zacky? Kenapa perempuan itu langsung setuju saja? Apa kehadirannya memang tak berarti?
“Lo enggak salah, gue juga ngehilang satu hari waktu Lita bilang dia hamil.”
“b******n,” komentar Zhafif membuat Attar terkekeh.
“Tapi, setelah itu gue yakin bahwa gue emang harus bertanggung jawab. Bukan karena gue yang melakukan itu tapi karana gue cinta sama Lita,” jelas Attar membuat Zhafif terdiam.
Lelaki itu melirik ke arah jam yang menujukan pukul dua belas malam. “Gue pulang dulu,” ujarnya.
“Udah malam, besok aja bego.”
“Enggak bisa tidur gue.”
Attar hanya terkekeh. “Kalo mati di jalan nanti telpon gue atau Petra.”
“Enggak bisalah setan,” ujar Zhafif sambil terkekeh. Wajar untuknya marah namun ia tidak boleh seenak itu untuk meninggalkan Zakiya, apalagi dengan keadaan seperti ini. Bagaimana pun perempuan itu mengalami hari yang berat.
Zhafif mengemudikan motornya yang sudah ia ambil di tempat kecelakaan. Lelaki itu menembus malam dan dingin dengan jaket yang dipinjamkan Petra. Ketika ia sampai di rumah, lampu yang menyala membuat Zhafif bernafas lega karena itu artinya Zakiya sudah berada di rumah.
Zhafif menjadi teringat dengan Zacky kala hendak membuka pintu, bagaimana keadaan anak itu? Apa Zakiya sudah menyiapkan kamarnya?
Remaja lelaki itu membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki. Ia terkejut ketika melihat Zakiya tengah tertidur di sofa ruang tamu. Apa wanita itu menungguinya? Tidak mungkin.
“Mbak,” panggil Zhafif tak tega untuk membangunkannya. Wajah wanita itu benar-benar nampak sangat kelelahan.
“Hmmhh.” Zakiya mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memandang ke arah Zhafif.
“Kamu pulang?” tanyanya dengan suara serak.
“Maaf saya yang meninggalkan Mbak Kiya tadi,” ujar Zhafif menudukan tubuhnya disamping isterinya. “Bagaimana dengan keadaan ibu itu?”
“Besok akan dimakamkan.”
“Lalu dimana Zacky? Tidur mana, Mbak?” tanya Zhafif.
“Mami kamu minta Zacky tinggal bersama mereka,” ujar Zakiya membuat Zhafif mengerutkan dahinya.
“Dan Mbak setuju?” tanya Zhafif sedikit keras membuat Zakiya terkejut. “Dimana Zacky sekarang?” tanyanya lagi hingga membuatnya berdiri.
“Di rumah Mami dan Papi kamu.”
“Saya kecewa sama Mbak,” kata Zhafif sambil memadang ke arah Zakiya. “Padahal Zacky sudah diamanahkan sama kita Mbak!”
“Memangnya siapa yang bilang Zacky akan tinggal sama Papi dan Mami kamu?!” sembur Zakiya. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya.
“Saya menunggu kamu Zhafif, saya ingin mendengar pendapat kamu.”
“Kenapa Mbak?”
Zakiya menghembuskan nafasnya. “Karena kamu suami saya,” katanya cepat.
“Apa, Mbak?” tanya Zhafif meminta diulang.
“Tidak ada siaran ulang,” ujarnya kemudian membuat Zhafif tersenyum bodoh.
“Kalo gitu sekarang Mbak Zakiya tidur saja,” kata Zhafif kembali mengenakan jaketnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Zakiya heran. Padahal haru ini sudah tengah malam.
“Saya mau menjemput Zacky, Mbak,” jawab Zhafif.
“Saya ikut,” putus Zakiya.
“Tapi, sudah malam Mbak.”
“Kamu berani melarang saya,” kata Zakiya mengerikan.
“Iya, Mbak ikut tapi pake baju yang lebih tebal.”
“Kamu—-“
“Apa? Mbak mau bilang kenapa melarang saya?”
“Iya tunggu sebentar,” kata Zakiya meninggalkan Zhafif untuk mengganti bajunya. Wanita itu kemudian keluar dengan pakaian yang lebih tebal. Mereka menggunakan mobil untuk menuju rumah Zaila dan Raka.
Orang tuanya awalnya terkejut dengan kedatangan mereka. Dan, sedikit menolak ketika ingin menjemput Zacky. Namun, ketika Zhafif menerangkan apa yang terjadi dengan tak rela Zaila membiarkan Zacky pulang.
“Makasih ya, Mi,” ujar Zhafif yang kini sedang menggendong Zacky yang tertidur nyenyak.
“Enggak papa, hati-hati ya nanti.”
Zhafif dan Zacky akhirnya segera menuju mobil mereka. Remaja lelaki itu meminta Zakiya untuk memangku Zacky yang tengah tertidur.
“Mbak cocok, deh,” kata Zhafif sambil terkekeh melihat Zakiya tengah memeluk Zacky.
“Mbak kita nunggu matahari terbit yuk?” ajak Zhafif membuat Zakiya hanya menganguk. Mereka kemudian memutuskan mencari tempat yang bisa melihat matahari terbit karana memang sebentar lagi.
“Zhafif...” panggil Zakiya.
Zhafif yang mendengarnya menoleh. “Terima kasih,” katanya membuat Zhafif terkejut namun lelaki itu kemudian tersenyum dan mengangguk.
“Sayakan suami Mbak. Jadi tenang aja,” kata lelaki itu sambil tersenyum.
“Enghh...”
“Mbak, Zacky bangun?! Gimana? Karan suara saya kekerasan ya?” tanya lelaki itu panik membuat Zakiya menghela nafasnya.
“Kamu tenang,” ujar Zakiya membuat Zhafif mengangguk.
“Zac mau minum?” tanya Zakiya ketika melihat bocah itu sudah membuka matanya lebar. Ia hanya mengangguk dan Zhafif segera memberikan botol air mineral.
“Mbak,” bisik Zhafif pada Zakiya.
“Apa, Zhafif?” tanyanya.
“Bilangin kalo sekarang kita orang tuanya,” kata Zhafif lagi.
“Zacky,” panggil Zakiya menbuat anak laki-laki itu menatapnya.
“Ibu sekarang udah enggak ada, Ibu udah tenang disana.”
“Sekarang Tante dan Kakak itu menjadi orang tua Zacky.”
“Zacky mau panggil kita apa? Mama-Papa? Mami- Papi? Daddy Mommy?” tanya Zhafif antusias.
“Ayah,” panggilnya ke arah Zhafif. “Bunda,” lihatnya ke arah Zakiya.
“Wah, bagus juga!” seru Zhafif yang membuat Zakiya ingin tertawa. Lihatlah siapa sekarang yang seperti anak kecil?
“Umur Zac berapa?” tanya Zhafif.
“Tujuh,” katanya singkat sambil menguap. Zhafif segera menutup mulut anak lelaki itu pelan.
“Tujuh? Tapi kenapa kamu terlihat sangat kecil? Seperti anak lima tahun,” komentar Zakiya membuat Zhafif melotot.
“Mbakk,” kata Zhafif.
“Apa?” balasnya.
“Zac nanti makan yang banyak ya, biar cepat besar!” kata Zhafif bersemangat.
“Lihat Zac! Mataharinya terbitt!” seru Zhafif heboh melihat matahari terbit. Ia kemudian menoleh kembali ke arah Zakiya dan terkejut ketika melihat wanita itu tersenyum.
“Kenapa?” tanya Zakiya karena merasa risih dilihat oleh Zhafif.
“Emm, saya lapar Mbak,” alasannya sambil mengangguk-angguk. “Zac lapar enggak? Kita makan bubur ayam yuk? Zac tim bubur diaduk atau tidak aduk?”
“Ckk, cepat jalankan saja mobilnya Zhafif!”
“Heheh iya, Mbak. Selow.”
Setelah selesai sarapan, mereka kemudian kembali ke rumah karena akan menghadiri pemakaman dari Ibu Sri yang namanya baru mereka ketahui.
“Zac, ayo doa untuk Ibu,” ajak Zhafif ketika mereka sedang berada di makamnnya. Pemakamannya berjalan dengan lancar dan baik.
“Mbak,” panggil Zhafif pada Zakiya yang terdiam.
“Saya yang membuat ibu Sri meninggal Zhafif,” katanya.
“Ini udah takdir, Mbak. Ibu Sri meninggal bukan karena Mbak sengaja, penyakit lain yang dideritanya juga menjadi penyeba,” bijak Zhafif membuat Zakiya mengangguk sambil tersenyum.
Ketiganya kemudian keluar dari area pemakaman dengan Zhafif yang menggendong Zacky. “Mbak mau kerja?” tanya Zhafif ketika mereka mau masuk ke dalam mobil.
“Saya libur.”
“Wah, Zac! Bunda libur lho,” ujar Zhafif sambil menggoyang-goyangkan tangan anaknya. Zacky tak mengatakan apapun, ia hanya mentap Zhafif dengan pandangan bulatnya.
“Mbak sore nanti kita beli baju Zacky, yuk?” ajak Zhafif.
“Iya, nanti.”