MMY 16

2017 Words
Zakiya tak henti-hentinya berdecak ketika baru saja keluar dari kamar hingga sekarang berada di dapur. Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan dengan kedua tangan di pinggangnya. Rumah ini benar-benar tidak bisa dikatakan rumah lagi, sangking berantakannya. “ZHAFIFFFF!” teriaknya memanggil lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Lihatlah sekarang bagaimana bentuk dapur saat ini, banyak bubu s**u bewarna coklat bertebaran di lantai. Apa lelaki itu menuangkan s**u sambil bersalto? Batinya. Dua menit menunggu, lelaki itu tak kunjung muncul membuat Zakiya mendengus dan berniat mendatanginya ke ruang keluarga. Wanita itu benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi ketika melihat Zhafif yang dengan nyamannya duduk bersama Zacky di depan televisi sambil menonton kartu dengan segelas s**u. “Mbak, sini ikutan,” ajak Zhafif tanpa merasa berdosa sama sekali, ia menepuk-nepuk sofa disampingnya sambil tersenyum lebar. Tusk! Zakiya tersenyum lebar ketika berhasil mencabut kabel televisi. Ia kemudian kembali ke hadapan dua laki-laki berbeda usia itu dengan berkacak pinggangnya. Tatapan wanita itu benar-benar mengerikan. Zhafif yang melihatnya meneguk ludah susah payah, kenapa Mbak Zakiya melihatnya seperti romusha yang siap disuruh bekerja dua puluh empat jam?! “Zhafif, kamu tahu?” tanya Zakiya yang langsung dijawab gelengan oleh lelaki itu. Zakiya mendengus melihatnya. “Karena rumah ini harus bersih dan rapi. Jadi kita harus membersihkannya. Kenapa enggak sewa pembantu aja, Mbak?” tanya Zakiya seolah-olah menjadi Zhafif sambil berjalan di depan kedua lelaki itu. “Karena saya tidak suka orang asing berada di sekitar saya.” “Karena saya enggak mungkin mengerjakan semuanya. Kita bagi tugas, siapa yang mencuci, memasak, merapikan rumah, mengepel dan lain-lainnya,” kata wanita itu yang membuat Zhafif mengangguk-angguk. “Mbak mencuci sama masak aja,” saran Zhafif. “Biar yang lain saya aja.” “Kenapa?” tanya Zakiya dengan kening mengerut. “Saya pernah masukin garam padahal harus gula, Mbak. Saya juga pernah enggak misahin baju berwarna sama yang enggak, jadinya luntur.”  Zakiya yang mendengar perkataan Zhafif sedikit terkejut. Ia tidak tahu bahwa remaja lelaki itu  akan secepat ini untuk setuju. Biasanya ego seorang laki-laki paling malas untuk membersihkan rumah, apalagi remaja seperti suaminya ini.  “Zac mau bantu,” ujar Zacky tiba-tiba membuat Zakiya dan Zhafif menoleh. “Zac menyiram tanaman, mau?” tanya Zakiya yang langsung diangguki anak itu. “Oke, kalo gitu sekarang kita mulai!” seru Zakiya. “Ayo! Ayoo! Tidak ada yang boleh istirahat sampe kita bisa bercemin di lantai!” “Bener-bener kerja rodi ini,” guman Zhafif. “Apa Zhafif?” tanya Zakiya tersenyum manis namun tidak dengan matanya yang menatap tajam. Zhafif menggeleng takut-takut. “Enggak kok, Mbak. Semangat!!!” “Semangat kan Zac?” tanya Zhafif pada Zac yang diangguki bocah lelaki itu. Hal yang pertama kali Zakiya lakukan adalah membersihkan dapur sebab takut tumpahan s**u bubuk itu ada yang menginjak dan terpeleset, barulah ia kemudian mencuci baju yang sudah sangat sangat penuh. Padahal ini hanya bajunya dan baju Zhafif. Belum lagi ditambah dengan pakaian Zac. Zakiya tiba-tiba jadi rindu dengan kantor. Mungkin jika ia bekerja, saat ini ia tengah memgerjakan laporan atau meeting bersama divisi lain. Ah, Zakiya lupa mengabari pada Lala bahwa ia tidak masuk hari ini. Ingat dirinya untuk menelpon gadis itu nanti. Wanita itu kembali menuju dapur untuk mencari deterjen yang ternyata sudah habis di kamar mandi. Ia berdecak ketika melihat Zhafif memasukan kepalanya ke dalam kabinet yang berisi sabun-sabunan. “Mau cari apa kamu?” “Aduh!” ringis lelaki itu ketika kepalanya tak sengaja terantuk. Ia kemudian mengeluarkan kepalanya sambil meringis. “Sabun pel lantai, Mbak,” ujarnya sambil mengangkat sabun yang ia maksud. “Itu sabun cucu piring, Zhafif.” “Lho, beda ya Mbak? Kan sama-sama sabun terus untuk membersihkan noda membandel.” “Ya kamu pikir aja sendiri.” Zhafif terkekeh, kemudian meletakan kembali sabun itu dan mencari sabun untuk lantai. Niatnya menggoda wanita itu ternyata sukses. “Mbak mau ngambil apa? Hati saya?” tanya Zhafif. “Kan udah sama Mbak haha!” gelak laki-laki itu membuat Zakiya melongo. “Gimana, Mbak? Gimana? Baper enggak?” “Kamu enggak mau sekalian masik ke mesin cuci, Zhafif? Masih muat kok.” “Ya ampun, Mbak. Lantainya udah saya tinggalin terlalu lama. Dah Mbak Zakiyaaa!” seru remaja lelaki itu sambil berlari menuju keluar dapur. Zakiya yang melihatnya mendengus lalu mengambil deterjen dan kembali untuk mencuci baju. Tentu saja dengan mesin cuci. Bisa-bisa lepas semua tangan Zakiya jika ia mencuci secara langsung. Wanita itu bernafas lega ketika acara cuci-cucinya sudah selesai dan sekarang tinggal di jemur. Namun ketika ia baru saja hendak menginjakan kaki di lantai untuk menuju halaman belakang, Zakiya merasa ada yang aneh. Kenapa basah sekali? Tidak mungkinkan rumahnya dilawati banjir? “Wuhshhh...” “Oyee....” Zakiya menahan amarahnya untuk tidak meledak, ia menghembuskan nafasnya perlahan untuk meredam rasa emosinya. Ia kemudian meletakan ember berisi pakaian-pamaian itu di lantai. Lalu berjalan hati-hati menuju ruang tamu dimana ia mendengar seruan-seruan itu. “ZHAFIF ZACKYYY!” teriaknya membuat kedua laki-laki itu ternganga melihat ke arah Zakiya.  Zakiya berjalan cepat ke arah keduanya. Apa meraka tidak menyadari betapa bahayanya bermain seperti ini? Bagaimana jika mereka terpeleset dan jatuh hingga mengenai—astaga bahkan Zakiya tidak bisa melanjutkannya. Namun, wanita itu sendiri melupakan bahwa lantai sedang licin membuat Zhafif melotot. “Mbak licin,” ujar Zhafif. Remaja lelaki buru-buru mendekati Zakiya ketika apa yang ia takutkan terjadi. Zhafif menjadikan tubuhnya sebagai matras agar membuat wanita itu tidak merasakan sakit. “Akhhh!” teriak Zhafif. “Berat banget!” “Diam kamu!” seru Zakiya tersinggung. Wanita itu kemudian mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada tepat diatas tubuh Zhafif. Wajah keduanya begitu dekat bahkan membuat mereka yakin, kedua nafas mereka terdengar. “Zac juga mau,” ujar anak laki-laki itu polos. “Akkhh!” pakik Zakiya ketika Zac menimpanya. “Auhhh!” seru Zhafif ikutan meringgis. “Ternyata saya kuat juga ya, Mbak,” ujar Zhafif dengan wajah sedekat ini dengan Zakiya. Zakiya yang memang mengalihkan wajahnya karena wajah mereka yang begitu dekat hany diam. “Tapi, ternyata Mbak berat juga,” singgungnya lagi. “Apa?!” tanya Zakiya menolehkan kepalanya lagi sehingga sekarang wajahnya kembali tepat berada di depan wajah Zhafif. Bibir mereka bahkan hanya berajak 5cm. “Zac jangan bergerak—hmmm.” Ups! Zac secara tak sengaja menyenggol kepala Zakiya membuat wanita itu memelotkan matanya ketika merasa ada sesuatu yang lembut di bibirnya. Ciumanan?! Zakiya buru-buru turun dari tubuh Zhafif ketika beban tubuh Zac menghilang dari tubuhnya. “Kamuu?!” pekiknya histeris sambil mengesot mundur dari Zhafif. Remaja lelaki itu sendiri hanya diam membeku sambil memegangi bibirnya sendiri. “Allhamdulilah, rezeki.” Tentu saja Zakiya yang mendengarnya tak terima ia menatap ke arah pelaku yang hanya memandang polos ke arah keduanya. Tapi tidak mungkinkan ia memarahi Zac? Bocah itu juga tidak bersalah. Perlahan Zakiya kembali menegakan tubuhnya dan menatap keduanya. “Kamu tahu Zhafif yang apa yang barusan kamu perbuat?” “Tapi saya ngelakuin itu biar Zac senang, Mbak.” “Kamu buat Zac dalam bahaya!” serunya membuat Zhafif terkejut. Pria itu kemudian menundukan kepalanya kala mencerna apa yang baru saja dikatakan Zakiya benar. Ia benar-benar Ayah yang buruk. “Tapi saya bakal jaga Zac bakal enggak jatuh, Mbak.” “Kalo kamu sendiri yang jatuh bagaimana Zhafif?!” seru Zakiya lagi yang kali ini membuat kepala Zhafif mendongak. “Walaupun kamu sudah tua, hal ini tetap bisa saja berbahaya!”  Walau nadanya terdengar mengerikan, Zhafif bisa merasakan ada setitik rasa khawatir dari Zakiya teriakan wanita itu. Iya kan? Apa hanya Zhafif saja? “Kenapa kamu senyum-senyum gitu?” tanya Zakiya memainkan dagunya. Remaja lelaki itu malah terkekeh. “Enggak kok, Mbak,” ujarnya. “Zac sini,” panggil Zhafif yang dituruti bocah lelaki itu. Zhafif langsung saja mengangkat tubuh Zac ke dalam gendongannya dan berdiri. “Sini, Mbak,” panggil Zhafif pada Zakiya. “Mau apa kamu?” tanya Zakiya. “Sini aja udah,” paksa Zhafif yang akhirnya dituruti Zakiya. Remaja lelaki itu langsung saja mendekap Zakiya ke dalam pelukannya membuat wanita itu terkejut. “K-kenapa?” Sial! Kenapa ia gugup?! “Pegangan sama saya, Mbak. Nanti jatuh karena lantainya licin.” Zhafif kemudian mengajak dua orang itu menuju teras rumah. Lalu kembali ke dalam rumah dan tidak menyuruh keduanya masuk. Ia kemudian buru-buru mengepel ulang seluruh lantai dan memastikan semua henar-benar kering dan tidak ada lantai yang basah. “Sudah beresss!” ——- “Halo, La?” “MBAK ZAKIYAA!” Zakiya menjauhkan ponselnya dari telinga ketika pendengar pekikan Lala yang membuatnya mendengus. “Telinga saya masih baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu berteriak.” Terdengar kekehan tawa dari ujung sana. “Maaf ya, Mbak.” “Saya hari ini izin tidak masuk, kamu hendle semua pekerjaan saya, kalo tidak bisa kamu tunda saja,” ujar Zakiya lansung ke  tujuannya untuk menelpon Lala. “A-apa Mbak? Mbak enggak masuk?” tanya Lala kaget. “Mbak baik-baik aja kan Mbak? Apa Mbak baru saja divonis memiliki penyakit mematikan?” tanyanya lagi dengan kurang ajarnya. “Mulut kamu, Lala,” peringat Zakiya. “Ih, bukan gitu, Mbak. Saya udah heran banget jam delapan teng Mbak belum duduk di kursi, taunya izin. Ya ampun, jadi hot news ini nanti kayaknya di jam makan siang,” heboh gadis itu dari sebrang sana. “Emangnya kenapa?” “Lho Mbak enggak sadar ini pertama kalinya Mbak tidak masuk. Sakit aja Mbak masih hantam masuk kantor.” “Yuuhuu sampe!” Zakiya menegakan kepalanya ke arah pintu saat mendengar seruan Zhafif yang nampaknya sudah pulang. “Apa Mbak habis ehem-ehem jadinya capek? Gimana, Mbak? Enak?” “Sudah, saya tutup.” Tut! Zakiya kembali meletakan ponselnya ke dalam saku dan berjalan menuju teras rumah karena Zhafif dan Zac yang tadi keluar untuk membeli bumbu nasi goreng dan lain-lainnya belum juga masuk ke rumah. “Astaga, Zhafif!” seru Zakiya ketika melihat lelaki itu membeli makanan yang tidak sehat. Buru-buru Zakiya mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. “Kamu kenapa beliin Zaf makanan itu?!” tanyanya menatap tajam ke arah Zhafif. “Itu makan terlalu manis pasti mengandung pewarna yang enggak jelas!” “Maaf, Mbak. Tadi saya ajakin Zac belanja tapi dia cuman ambil biskuit aja, saya beliin deh semuanya yang kayaknya enak,” kata laki-laki itu membuat Zakiya menghela nafasnya. Zakiya berdecak. “Zac aja tahu makanan yang bagus.” “Sudah kalian semua masuk, duduk saja di depan televisi!” perintah Zakiya yang diangguk Zhafif dan Zac. Dua puluh menit kemudian, Zakiya kembali dari dapur dengan sepiring nasi goreng yang cukup banyak. “Nasinya udah dikit lagi. Jadi saya gabungin.” “Enggak pedas kan, Mbak?” tanya Zhafif sambil melirik Zac. Zakiya mengangguk. “Zac mau ayah suapin enggak?” tanya Zhafif. Ada sesuatu yang aneh di diri Zakiya ketika mendengar lelaki itu menyebutnya ayah. Dan, jangan lupakan statusnya yang sekarang tak hanya menjadi isteri namun juga ibu.  Rasanya, Zakiya tidak percaya bahwa sekarang hidupnya tak lagi hanya ia sendiri. Ada dua orang laki-laki asing yang kini masuk ke hidupnya. “Mbak makan,” tegur Zhafif ketika Zakiya hanya diam. “Kamu juga, dari tadi nyuapin Zac terus.” “Nanti aja, deh. Mbak sama Zac aja dulu yang kenyang,” kata Zhafif sambil terkekeh ketika Zac melahap suapannya dengan cepat. “Kamu enggak menghargai saya masak? Ini cape—“ “Sekarang ayah lagi,” potong Zhafif cepat sebelum Zakiya menyelesaikan ucapannya. “Zac yang sekarang suapin ayah ya?” kata lelaki itu yang diangguki Zac. Ketika suapan itu masuk ke dalam mulut Zhafif, lelaki itu buru-buru keluar dari rumah membuat Zakiya mengeri masakannya tidak enak dan lelaki itu sedang memuntahkannya. “Kenapa? Tidak seenak masakan Mami kamu?” tanya Zakiya sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng itu dan memperhatikan Zhafif yang ada di depan pintu. “Kok enggak ada kok, Mbak?” “Enggak ada apa?” tanya Zakiya heran. “Kok ojek onlinenya enggak ada? Mbak enggak pesankan?” “Yah enggaklah.” “ENAK BANGET MBAK!” seru Zhafif membuat Zakiya terkejut. “Saya kira tadi Mbak di dapur enggak ngapa-ngapain karena diam banget, eh taunya masakan Mbak enak banget! TOP!” “Saya masak Zhafif, bukan berperang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD