MMY 17

1561 Words
“Bunda lama banget ya, Zac,” ujar Zhafif pada bocah tujuh tahun yang berada disampingnya.  Zac mengangguk saja membuat Zhafif menghela nafasnya. Tentang bocah itu, Zhafif sudah sering sekali mengajaknya berbicara atau melakukan aktifitas bersama. Tetapi tetap saja, Zac masih saja sedikit berbicara. Saat tahu sekarang ia sudah menjadi Ayah, Zhafif merasakan dua ketakutan sekaligus. Pertama, ia terlalu muda dan masih berusaha untuk mengontrol emosinya. Lalu yang kedua, Zhafif tak mengerti bagaimana cara menjadi Ayah yang baik? Bisa tidak ia yang menjadi ibunya?  Zhafif menggeleng, pertanyaannya benar-benar tidak masuk akal. Namun, rasanya Zhafif tahu caranya menjadi ibu yang baik. Dulu tiap hari ia bertemu dengan sosok itu. Maminya. Zalia benar-benar selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Setiap keinginannya, tak pernah sampai terucap namun wanita itu sudah mengetahui. Teguran wanita itu juga sangat lembut padanya ketika berbuat salah. Remaja lelaki itu menghembuskan nafasnya, mungkin saat ini teman-temannya—kecuali Attar karena pria itu sudah menikah—tengah menikmati kehidupan yang bebas sebelum menuju kampus impian. Tidak sepertinya yang sedang pusing berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik. Zhafif sama sekali tidak menyesal, ia suka dengan apa yang ia jalani sekarang. Tapi, kadang rasa tidak bisa berguna bagi orang itu menghampirinya, membuat Zhafif merasa kesal pada dirinya sendiri. Remaja lelaki itu merasa lengan bajunya digoyang, ia menoleh ke arah Zacky. “Ada apa, Zac?” “Kita mau kemana?” tanyanya dengan suara kecil. Zhafif mengakui bahwa Zac sangat tampan. Ck, apa apa, sih, dengan orangnya sehingga meninggalkan anak selucu ini? “Kita mau ke mall!” seru Zhafif. “Kita mau beli baju sama perlengkapan sekolah Zac. Senang enggak?” tanya remaja lelaki itu dengan senyum lebar.  Zhafif menunggu reaksi Zac, namun bocah itu hanya menganggukan kepalanya dan kembali sibuk sendiri. Maksudnya, diam. “Udah lama?” tanya Zakiya membuat perhatian Zhafif tertuju pada wanita yang mengenakan rok selutut bewarna coklat dan kemeja putih. Zakiya juga membawa sebuah tas yang membuatnya nampak cantik. Benar-benar rapi. “Udah mau lebaran Mbak,” canda Zhafif sambil menggandeng tangan Zac. Remaja itu lelaki itu mengenakan kaos berlapis kemaja dan celana jeans. Tak lupa sepatu vans. Tampan. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil Zhafif. Mobil itu sudah diantarkan oleh sopir keluarganya. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Zhafif sendiri tengah memikirkan tentang Zac. Apa bocah itu memiliki trauma? Tak berselang lama, mereka kemudian sampai di salah satu Mall. Zhafif menggandeng tangan Zac ketika masuk sedangkan Zakiya berjalan di depan mereka. Remaja lelaki itu merasakan genggaam tangan Zac padanya mengerat. Bocah itu nampaknya ketakutan. Zhafif mengelus rambutnya sambil terus berjalan. “Kita beli baju Zac dulu,” ajak Zakiya masuk ke salah satu toko baju keluarga. Banyak suami isteri dan anak-anak disana.  Zhafif sendiri ingin rasanya menarik tangan Zakiya agar berjalan disampingnya. Wanita itu terus berjalan di depan ia dan Zac. “Mbak itu bagus!” seru Zhafif sambil menujuk piama ayah, ibu dan anak seusia Zac, membuat perhatian orang-orang sedikit melirik ke arah mereka. “Zhafif,” geram Zakiya membuat lelaki itu meringgis. “Beli itu yuk, Mbak? Pake uang saya kok.” “Enggak!” tolak Zakiya. “Kamu duduk disana saja, biar saya yang cari baju Zac,” tunjuk Zakiya pada kursi kosong yang berada di dekat cermin lalu mengambil alih Zac untuk mencari bajunya. “Ayah Zac itu malu-maluin aja,” kata Zakiya menggandeng Zac menuju bagian anak-anak. Saat tengah mencoba mengepaskan baju serta celana untuk Zac. Tiba-tiba dua orang gadis mendatangi Zakiya dan Zac. “Halo adek ganteng,” sapanya pada Zac dan Zakiya.  “Anaknya ya, Mbak?” tanya salah satu gadis itu pada Zakiya yang dianggukinya. “Mbak, boleh enggak minta kenalin teman saya ini sama adik, Mbak?” tanya gadis itu lagi sambil menarik tangan temannya yang tersenyum malu-malu. “Adik?” tanya Zakiya mengerutkan dahinya.  “Itu Mbak yang lagi dekat kaca,” tunjuknya pada Zhafif yang sedang memegang ponselnya. “Ohhh...” Zakiya ingin mengumpat sekarang. Apakah ia setua itu? Iya sih umurnya dengan Zhafif berbeda tujuh tahun. Rasanya ia ingin mengatakan bahwa Zhafif adalah suaminya namun secepat mungkin berusaha ia tahan. “Dia agak beda,” jawab Zakiya. “Beda gimana, Mbak?” “Kalo malam suka manjat pohon, terus bangun-bangun udah di genteng.” “Oh, kami permisi dulu ya, Mbak.” “Ih, ganteng-ganteng kok aneh.” Zakiya rasanya ingin tergelak ketika mendengar bisik-bisik dua anak gadis itu yang pergi dari hadapannya. Maaf ya, Zhafif. Batin Zakiya. “Coba cari disana yuk, Zac.” Setelah cukup mendapat banyak baju untuk Zac. Zakiya memutuskan mengakhiri belanjanya namun sebelum menuju kasir langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang tadi ditunjuk Zhafif. “Zac ingat tempat ayah tadi kan?” tanya Zakiya pada Zac. Bocah itu mengangguk. “Zac kesana dulu ya, say—masksudnya Bunda mau ke kasir dulu.” Astaga, Zakiya merasa belum terbiasa dengan panggilan Bunda. Antrian kasir cukup banyak, padahal hari ini bukan hari libur. Dua puluh menit menunggu, Zakiya kemudian kembali menuju tempat dimana Zhafif dan Zac berada. Tidak ada orang disana. Apa mungkin Zhafif membawa Zac ke game center? Zakiya memutuskan untuk duduk sebentar di tempat tadi. Zhafif tiba-tiba datang dengan tiga minuman boba, namun hanya seorang diri.  “Zac mana, Mbak?” “Zac mana, Zhafif?” Keduanya sontak meneguk ludah ketika skenario terburuk terlintas di otak. “Tunggu, maksudnya Zac enggak sama kamu?” tanya Zakiya. Zhafif menganggeleng. “Sekitar dua puluh menit yang lalu saya pergi buat cari minum, Mbak,” jelas Zhafif. “Bukannya Zac tadi ikut sama Mbak?” “Saya tadi suruh Zac buat susulin kamu kesini karena saya mau ngantri buat bayar bajunya.”  Zhafif tiba-tiba dilanda panik kala mengetahui bahwa saat ini Zacky tidak ada bersama mereka. Hilang. Remaja lelaki itu berusaha untuk mencoba tenang. Tidak ada yang salah disini. Tapi, coba saja tadi Zhafif mau menunggu sebentar saja dan tidak langsung pergi, mungkin saat ini Zac masih ada bersama mereka. “Ini salah saya, Mbak.” “Ini salah kita berdua, jadi ayo cari Zac!” Zakiya menitipkan belanjaanya pada pihak toko, lalu mencari Zac di sekitar toko. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan bocah itu. Zhafif berusaha memperluas pencariannya dan berpisah dengan Zakiya. Sepuluh menit berlalu, itu artinya sudah setengah jam Zac tidak ada bersama mereka.  “Gimana Mbak?” tanya Zhafif kembali ke toko baju itu. “Enggak ada.” Zhafif menghembuskan nafasnya panjang. Dimana sekarang Zacky? Bagaimana bocah itu culik? Atau tersesat? Ia tidak memiliki siapapun selaian Zakiya dan dirinya. “Kamu nangis Zhafif?” tanya Zakiya kaget. “Ini salah saya, Mbak,” ujarnya berusaha menahan tangisnya. Zakiya yang melihat itu berusaha untuk menenangkan suaminya. Ia mengusap punggung lelaki itu kaku. “Sudah jangan menangis...” bujuk Zakiya. “Zacky!?”  Zhafif kembali menangis ketika melihat Zac bersama seorang wanita yang nampaknya cleaning service. Remaja lelaki itu mendekap erat Zacky dan tidak ingin melepaskannya. “Anak ibu tadi terkunci di toilet. Saya kira di dalam tidak ada siapa-siapa, waktu dibuka ternyata ada anak kecil. Anak ibu hebat enggak nangis.” “Terima kasih ya, Buk,” kata Zakiya pada petugas yang membawa Zac. “Zac kemana aja?” tany Zhafif yang masih menyisahkan air mata di pipinya. “Jangan nangis,” ujar Zac dengan suara memelan. Anak laki-laki tujuh tahun itu membenamkan wajahnya di d**a Zhafif. Zakiya merasa Zacky merasa bersalah pada Zhafif karena telah membuat ayahnya itu khawatir hingga menangis. Ia sendiri saja terkejut dengan Zhafifi yang menangis. Mereka kemudian memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum pulang. Setslah itu baru kembali ke rumah karena hari hendak beranjak malam.  Dipertengahan jalan menuju pintu keluar, Zhafif tiba-tiba mengajak Zakiya dan Zac melakukan photo box. “Malu, Zhafif,” geram Zakiya. “Mbak cantik kok. Kita sekalian poto keluarga,” ajaknya membuat Zakiya tidak bisa menolak. Tidak jadi langsung pulang, Zhafif kembali mengajak Zakiya dan Zac masuk ke toko yang kali ini berisi banyak mainan. “Zac setidaknya harus punya satu mainan, Mbak.” Begitu kata Zhafif ketika Zakiya menolak masuk. Tapi nyatanya, pria itu membelikan sepuluh mainan untuk Zac. Dua diantaranya Zakiya yang memilih, mainanan yang sekaligus bisa mengasah kecerdasaan Zac. Diperjalanan menuju rumah, Zac tertidur di pangkuan Zakiya. Bocah itu nampaknya benar-benar kelelahan setelah puas diajak berkeliling. “Mbak,” panggil Zhafif. “Mau langsung pulang atau beli makan malam dulu?” Mereka tadi juga sempat sekalian berbelanja isi dapur. Namun, Zhafif tahu bahwa Zakiya juga lelah. Mungkin membeli makanan di luar adalah solusi yang tepat. “Apa aja, Fif. “Capek ya, Mbak?” tanya Zhafif. “Hem,” angguknya. “Nanti saya pijitin mau?” tawar Zhafif yang lansung mendapat tatapn mencurigakan dari Zakiya. “Cuman pijit kok, Mbak. Enggak pake plus-plus,” katanya. “Tapi kalo mau gas!” “Oh iya, itu tadi saya belikan sesuatu untuk kamu emm... kita mungkin.” “Hah? Apa Mbak?” tanya Zhafif. Mobil yang dikendarai Zhafif kemudian sampai di garasi. “Buka saja, saya mau bawa Zac ke kamarnya dulu.” “Saya aja, Mbak.” “Kamu bawa masuk barang-barang aja,” perintah Zakiya. Zhafif kemudian mengangguk. Ia yang sudah tak sabaran membuka papper bag yang diberikan Zakiya. Untuk kita? Apa maksdunya? “Woah!” seru Zhafif berbinar kala melihat apa isinya. Baju piama untuk mereka bertiga dengan motif yang sama. “MBAK NANTI MALAM PAKE INI YA!” teriak Zhafif ke dalam rumah. “ZAC BANGUN GARA-GARA KAMU ZHAFIF!” “MAAF MBAK CANTIK!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD