MMY 18

1554 Words
Pukul lima pagi, Zakiya tersentak dari tidurnya. Wanita itu mendesah sambil bangkit dari tidur, diliriknya lagi ke arah jam digital yang berada di atas nakas. Benar saja, ini bukan waktu yang tepat untuk bangun seperti sebelum-belumnya. “Sstss.. jangan sampe Bunda bangun ya, Zac.” Suara ribut-ribut di luar sana sangat menganggu tidurnya. Zakiya turun dari kasur sambil mengikat rambutnya. Wanita itu berhenti sebentar di depan cermin tinggi yang ada di kamarnya. “Tidak buruk juga.” Wanita itu manatap pantulan dirinya yang mengenakan piama terusan selulut dengan motif lembut. Entah apa yang ada dipikiran Zakiya ketika membeli baju piama couple ini. Clekk! Zhafif mematung kala pintu kamar Zakiya terbuka. Pria itu tersenyum lebar ke arah wanita yang saat ini menatapnya datar. Remaja lelaki itu juga mengenakan piama dengan motif yang sama dengan Zakiya, juga Zacky. “Kenapa?” tanya Zakiya. “Ini Mbak, tadi waktu saya mau ke dapur, saya lihat Zac berdiri di depan kamar saya, ternyata dia kelaparan. Jadi saya buat sereal dan enggak sengaja tadi jatuh di lantai,” jelas Zhafif sambil mendorong pel kainnya ke lantai. “Kamu beresin ini sampe bersih, saya cuci muka dulu baru nanti saya buatin makanan.” Zakiya kembali masuk ke kamarnya dengan menguap. Ada-ada kerjaan suaminya itu. Zhafif mengangguk antusias ketika mendengar perkataan Zakiya. Ia buru-buru membersihkan lantai dan memastikannya kering. Lalu mengajak Zacky untuk duduk dibawah sembari menunggu Zakiya memasak. Dua puluh menit kemudian, Zakiya kembali dengan sepiring omelet dan sosis goreng. “Saya masak ini saja ya,” kata wanita itu meletakan piringnya di atas meja. Zhafif buru-buru mengajak Zac untuk memakannya. Zakiya yang melihat suaminya itu ikut makan dengan lahap, menaikan sebelah alisnya. “Yang lapar kamu apa Zac?” tanyanya. Zhafif yang sedang menggigit sosis, menolah sambil melebarkan senyumnya. “Masakan Mbak Zakiya enak banget, sih.” “Mbak jago masak karena diajarin Mama Mbak ya?” tanya Zhafif sambil meninggalkan ruangan tamu untuk mengambilkan minum Zac. Zakiya yang mendengar pertanyaan lelaki itu terdiam. Mama? Hah, wanita itu bahkan meninggalkan Zakiya ketika ia belum mendapatkan menstruasi pertamanya. Wanita itu lebih memilih pergi bersama suami mudanya dan tak kembali hingga sekarang. “Gimana Mbak?”  “Gimana apa?” tanya Zakiya balik. “Itu.. Mbak diajarin sama Mama ya?” tanya Zhafif memberikan minum pada Zac. “Mama saya enggak tahu dimana,” ujar Zakiya enteng membuat Zhafif terkejut. Salah pertanyaan, nih. Batin Zhafif. “Oh, ayah Mbak pasti orangnya jago masak ya? Pasti suka nemenin Mbak?” tebak Zhafif kembali. “Lelaki tua itu enggak peduli sama saya.” Zhafif hampir saja tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar perkataan Zakiya. Dia benar-benar salah bertanya. Remaja lelaki itu menggaruk kepala belakangnya tak gatal. Bingung ingin mengatakan apa lagi sekarang. “Maaf ya, Mbak. Saya enggak tahu.” Dia benar-benar suami yang buruk karena baru mengetahui tentang keluarga isterinya sekarang.  “Saya mau mandi dulu, ada rapat di kantor jadi saya harus datang lebih awal.” Zakiya bangkit dari duduknya. “Mbak,” panggil Zhafif. “Ada apa?” tanyanya membuat Zakiya membalikan tubuhnya menatap Zhafif yang saat ini menatapnya. “Makasih udah buatin makanannya,” ujar lelaki itu sambil tersenyum. Zhafif kemudian menolehkan pandangannya ke arah Zacky. “Terima kasih Bunda,” ujar Zacky. “Sama-sama,” ujar Zakiya sambil terkekeh. Wanita itu kemudian melangkahkah kakinya menuju kamar. Ia kira mungkin hari ini akan ia habiskan dengan mood yang buruk karena mengingat kedua orang tuanya. Tapi, ternyata ia salah. Nampaknya hari ini akan baik-baik saja. Sangat baik mungkin. ————- “Zac dadah sama Bunda!” Zacky melambaikan tangannya pada Zakiya yang sudah berada di dalam mobil. Wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum kecil. Lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju. “Kita ngapain lagi Zac?” tanya Zhafif pada bocah tujuh tahun itu. Zhafif terkekeh, ia sok-sokkan bertanya seperti itu padahal pekerjaan rumah sudah menunggu untuk dikerjakan. Tak ingin membuang waktu. Lelaki itu kemudian mengajak Zac masuk.  Remaja lelaki itu membersihkan rumah dengan baik, berusaha untuk tidak melewatkan satu debu saja. Zakiya tadi sudah mencuci pakaian dan menjemurnya. Ia sungguh takjub dengan wanita itu karena bisa mengerkan tugas rumah dan kantor dengan sangat baik.  Ia tidak boleh membuat Zakiya kecewa. Ia sudah mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Dan, sekarang tinggal mengepel lantai. Zhafif tiba-tiba teringat dengan kejadian kemarin ketika Zakiya terjatuh diatas tubuhnya dan... bibir mereka yang besentuhan. Astaga! “Zac tunggu disana aja ya.” Zhafif memberi tahu Zac untuk tetap  duduk diatas sofa saja, ia tidak mau Zac terjatuh karena lantainya licin. Melihat Zac, Zhafif teringat dengan apa yang malam tadi ia cari di internet. Tentang anak yang sulit untuk mengungkapkan emosinya. Zac benar-benar berbeda dengan anak seusianya. Anak itu terlalu enteng. Tidak pernah menangis, tidak pernah tertawa, mungkin hanya tersenyum kecil. “Zac turunnya nanti dulu ya,” ulang Zhafif ketika bocah itu hendak mengambil ancang-ancang untuk turun. Mampaknya Zacky tidak mau mendengarnya. Anak laki-laki itu turun dan berlari ke arah Zhafif. Naas, anak itu terpeleset sebelum Zhafif menangkapnya.  “Zacky!” seru Zhafif membuat anak itu terkejut. Remaja lelaki itu mendekati Zac yang terjatuh dengan p****t deluan menyentuh lantai. Untung anak itu bisa menahan tubuhnya sehingga kepalanya tidak ikut terjatuh. “Zac kenapa enggak dengar ayah?” tanya Zhafif sambil hendak memegang tangan anak itu. Namun, Zac malah mundur dengan tubuh bergetar membuat Zhafif terkejut. Anak itu ketakutkan dengan suaranya tadi. “Zac maafin ayah, ayah enggak marahin Zac kok. Ayah cuman takut Zac jatuh.” Zac semakin memundurkan langkahnya membuat Zhafif merasa bersalah. “Ayah minta maaf ya, ay—-“ Zhafif menggeleng. Ia sebaiknya meninggalkan Zac. Ia benar-benar ayah yang buruk. “Ayah pergi ya...” “JANGAN!” Zhafif terkejut ketika melihat Zac menarik celananya. Mata anak itu mulai memerah dan akhirnya menangis kuat.  “Hikss jangan pergi... hiks Ayahh...” Zhafif segera mengangkat tubuh anak itu ke dalam gendongannya. “Ayah enggak pergi kok,” ujar Zhafif sambil mengelus tangan Zac yang mencengkram bajunya erat sekarang. Remaja lelaki itu membawa tubuhnya untuk duduk di sofa. Bahaya jika ia berjalan-jalan dengan lantai licin yang baru saja dipel. Entah mengapa Zhafif merasa lega ketika mendengar tangis kuat Zac. Bocah itu mulai mengerti sekarang bahwa ketika takut ia boleh menangis.  Ah, apa Zhafif sudah terlihar Ayah ideal? Lelaki itu tersenyum lebar. Ia harus mengajak Attar dan Petra untuk melihatnya menjadi ayah yang hebat. “Zac tadi kenapa mau turun?” tanya Zhafif sambil mengelus rambut bocah itu. Zacky mendongakan kepalanya dengan wajah basah. “Zac mau bantu Ayah.” “Kan tadi Zac udah nyiram tanaman jadi enggak usah bantu Ayah lagi.” “Ayah capek nanti.” Zhafif terenyuh. Ia memang tidak tahu cara menjadi ayah yang baik tapi ia ingin bisa belajar tentang hal itu. Ia ingin nanti Zac akan selalu bercerita padanya jika ada masalah. Ia ingin menjadi yang pertama mendengar kisah cinta anaknya. “Tadi Zac mau bantuin Ayah kan?” tanya Zhafif. Anak laki-laki itu mengangguk. “Pijitin punggung Ayah dongg, capek.” Dasar Zhafif! —— “Halo, teman-teman! Nama aku Zacky. Aku anaknya Ayah Zhafif dan—-“ “No, no!” kata Zhafif sambil menggelengkan kepalanya. “Harus lengkap. Zhafif Arfhadia, boleh ditambah pake ganteng.” “Halo, teman-teman! Nama aku Zac—-“ “Senyum dong, Zac. Nanti teman-temannya pada takut,” kata Zhafif membuat Zacky yang sedang berdiri cemberut.  Zhafif yang melihatnya terkekeh. Ia kemudian memamggil Zacky untuk mendekat dan memeluknya. “Zac udah hebat hari ini. Udah belajar nulis, membaca sama...” “..berhitung!” seru anak lelaki itu sambil mendongak. Wajahnya tersenyum cerah membuat Zhafif spontan mencubit pipinya. “Udah pinter, berarti udah siap sekolah dong?” tanya Zhafif yang langsung diangguki anak itu antusias. “Udah malam, Zac bobok ya?” ajak Zhafif ketika jam menunjukan pukul sembilan malam. Zacky tak menjawab pertanyaan Zhafif, pandangannya tertuju pada pintu rumah dimana sekarang mereka berada di ruang tamu. Zacky tadi baru saja memperagakan perkenalan di depan teman-teman sekolahnya.  Zhafif sudah memutuskan untuk segera menyekolahkan Zacky. Anak laki-laki itu sudah waktunya masuk sekolah dan bertemu banyak teman-teman. “Mau nunggu Bunda pulang?” tanya Zhafif yang diangguki Zac. “Ya udah, Zac bobok sini.” Zhafif menepuk-nepuk pahanya dan Zac langsung berbaring di sofa. Tak lama setelahnya, Zac langsung tertidur membuat Zhafif terkekeh. Namun, lelaki itu tetap tak tenang ketika jarum jam terus bergerak semakin malam dan Zakiya juga belum pulang. Ia tadi sempat menelpon Zakiya ketika magrib untuk menanyakan kapan wanita itu pulang. Tapi, ponsel wanita itu tidak aktif membuat Zhafif resah. Tepat jam 10 malam, suara mobil masuk ke dalam rumah membuat Zhafif bergegas keluar. Ia sudah memindahkan Zacky ke kamarnya. “Mbak kok baru pulang? Telpon saya kok enggak diangkat? Zac tadi udah pintar banget belajarnya lho Mbak—“ “Bisa enggak kamu diam?!” sentak Zakiya membuat Zhafif menutup mulutnya. Wanita itu kemudian mendengus kuat lalu meninggalkan Zhafif yang masih berdiri di depan pintu rumah. Zhafif berdecak, tidak seharusnya ia langsung memberondongi wanita itu dengan banyak ocehan miliknya. Zakiya pasti lelah, ia tahu jelas setiap harinya melihat bagaimana lelahnya sang Papi ketika pulang dari kantornya. Zakiya pasti sedang mengalami hari yang berat di kantornya. Remaja lelaki itu akhirnya segera mengunci pintu rumah lalu menuju ke lantai atas, dimana kamarnya berada. Sebelum masuk, ia menyempatkan melihat pintu kamar Zakiya. “Selamat tidur, Mbak Zakiya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD