MMY 19

1693 Words
Sudah dua hari berlalu, sejak malam dimana Zakiya pertama kali pulang hingga larut malam. Tidak ada komunikasi diantara keduanya. Remaja lelaki itu sudah mencoba untuk mengaja wanita itu berbicara, setidaknya tentang Zac, namun sepertinya memang dari  Zakiya sendiri yang mencoba menghindar. Wanita itu akan pergi pagi-pagi sekali namun tetap mengerjakan tugas rumah dan memasak sarapan.  Zhafih sudah tidak bisa lagi menahan ini lebih lama. Baiklah kalo memang wanita itu sibuk, Zhafif memakluminya. Namun, sebelum kejadian itu, Zakiya dan dirinya sudah sepakat untuk segera menyekolahkan Zacky tepat saat pendaftaran tahun ajaran baru nanti. Tentunya sebelum itu mereka membutuhkan berkas-berkas, dimana bahwa meraka sudah legal untuk mengadopsi Zac. Di akte kelahiran anak itu nanti akan tertulis nama Zakiya dan Zhafif.  Zhafif bingung, Zakiya seperti menghindar tentang hal ini. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama, sebab proses adopsi tidaklah mudah dan cepat. Jadi, Zhafif memutuskan untuk membicarakannya ini dengan Zakiya. Memaksa jika perlu. Ia sudah bangun ketika wanita itu nampak sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, Zhafif memilih menunggu dan akan menghampirinya ketika Zakiya hendak berangkat ke kantor. “Mbak,” panggilnya ketika Zakiya hendak meninggalkan rumah. “Saya sibuk Zhafif, kita bicara nanti.” “Sekarang, bukan nanti lagi, Mbak,” tekan Zhafif sambil menahan lengannya. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Zakiya membuat Zhafif melepaskan genggamannya. “Ini tentang proses adopsi Zacky, Mbak.” Zakiya mengalihkan pandangannya ketika perkataan itu terlontar dari mulut Zhafif. Wanita itu kemudian menghela nafasnya. “Kamu tahu kenapa saya pulang malam terus? Karana saya sibuk menyiapkan semuanya.” “Menyiapkan apa, Mbak?” “Menyiapkan proses adopsi Zacky. Saya sudah bolak-balik ke Dinas Sosial.” “Beneran, Mbak? Kenapa Mbak nyiapin semuanya sendirian? Kenapa enggak minta bantu saya?” ujar Zhafif merasa bersalah sekaligus merasa lega. Ternyata Zakiya tidak melupakan tentang hal ini. “Biar saya saja, kamu jaga Zacky saja,” ujar Zakiya membuat Zhafif mengangguk. “Saya perg—“ Perkataan Zakiya terpotong ketika Zhafif menahan lengannya kembali. “Tunggu bentar, Mbak. Tunggu bentar.” Pria itu kemudian berlari menuju ruang keluarga untuk mengambil sesuatu. Zhafif kemudian kembali dengan membawa selembaran di tangannya. “Nih, Zhafif buat untuk kita Mbak,” ujarnya memberikan gambar itu. “Yang saya udah dipajang di kamar.” Ayah. Zacky. Bunda. “Zac yang gambar sama nulis, Mbak.” Wanita itu tersenyum kecil melihat gambaran yang ada di kertas itu. Dua orang dewasa yang nampaknya Zhafif dan dirinya sedang memegang Zhafif. Ada tulisan yang masih berantakan dibawahnya. “Sampain terima kasih saya sama Zacky ya,” ujar Zakiya menyimpan kertas itu di dalam tasnya. “Kalo gitu saya pergi dulu,” ujar Zakiya namun kembali ditahan Zhafif.  “Ada apa lagi, Zhafif?” Bukannya menjawab, remaja lelaki itu malah memberikan telapak tangannya yang ditatap Zakiya bingung. “Apa?” tanyanya tak mengerti. “Salam sama suami dulu Mbak. Biar berkah keluar rumahnya.” Zakiya berdecak namun segera mengambil tangan lelaki itu dan menciumnya. Dan, ketika isterinya menunduk detik itu juga Zhafif memberikan ciumannya pada dahi Zakiya. “Cium dikit doang kok, Mbak,” ujar Zhafif ketika melihat tatapan ingin menerkam yang Zakiya berikan padanya. “Saya pergi,” katanya membuat Zhafif mengikuti hingga ke terasa dan melambaikan tangannya. Remaja lelaki itu bergidik ketika merasakan angin subuh menerpanya. “Mbak Zakiya mau ngapain, sih, cepat banget ke kantor? Masih gelap gini.” ——— Lala menguap ketika masuk ke dalam ruangan dimana ia bekerja. Bola matanya menatap sesosok yang sedang bekerja di atas kursinya. Gadis itu sudah tak terkejut lagi ketika melihat Zakiya sudah berada di kantor dengan kopi yang sudah setengah. Awalnya Lala kira wanita itu mengalami masalah di rumah tangganya atau paling parah diusir mertua. Namun, nyatannya rumah tangga bosnya itu baik-baik saja. “Pagi Mbak,” sapa Lala. “Pagi,” sapa Zakiya balik sambil mendongak ke arah Lala. “Jadwal saya hari ini apa saja?” tanya Zakiya. Lala membacakan jadwal bosnya itu lalu mengangguk ketika yakin tidak ada yang tertinggal. “Hanya itu saja?” tanya Zakiya. “Iya itu aja kok, Mbak. Kerjaan yang harusnya hari ini udah beres dua hari yang lalu.”  Lala sampai terheran sendiri dengan bosnya itu, sejak dua hari yang lalu Zakiya terus-terusan meminta pekerjaan yang membuatnya sibuk hingga tak sempat keluar kantor untuk sekedar makan siang. “Oke,” jawab Zakiya kembali sibuk dengan berkasnya. Pukul sebelas siang, Zakiya telah selesai mengerjakan pekerjaannya. Mungkin nanti setelah makan ia tidak memiliki kegiatan yang bisa dikerjakan.  Wanita itu menghela nafasnya, ia memutar kursinya hingga pandangannya menatap pamandangan bangunan yang kokoh. Zakiya terpaksa berbohong pada Zhafif bahwa saat ini ia tengah sibuk menyiapkan proses adopsi Zacky. Padahal ia sama sekali tak melakukan itu atau berniat melakukannya. Zakiya merasa sekarang ada yang salah dengan hidupnya. Ini tidak seperti hidup yang wanita itu jalani. Wanita itu merasa asing namun juga merasa nyaman.  Dan, Zakiya benci dengan perasaan bernama nyaman. Untuk orang orang yang selalu merasakan pahitnya hidup, nyaman adalah jebakan. Sewaktu-waktu ia bisa saja ditinggal sebelum melakukan mengatakan perpisahan. Dan, Zakiya tidak mau perasaan itu semakin membuatnya terbenam. Harusnya ia tetap menerapkan prinsip, urusan saya, urusan kamu, itu berbeda. “Mbak udah jam makan siang,” kata Lala membuat Zakiya kembali memutar kursinya. “Mbak mau pesan apa?”  “Beliin kaya biasa aja, La,” ujar Zakiya tak bernafsu.  “Oke, Mbak.” Lala mengacungkan jempolnya pada Zakiya. Ketika berada di ruangan sendirian, Zakiya merasa bosan. Ia memutuskan untuk turun sebentar ke bawah untuk menghirup udara segar. Ia sengaja tidak mau ke rooftop, biasanya tempat itu dipenuhi oleh pria-pria yang ingin merokok. Bukannya mendapat udara seger, malah akan merusak paru-parunya. Zakiya berdecak ketika lift ke lantai bawah sudah tertutup. Jika seperti ini, ia harus menunggu terlebih dahulu. “Mau barengan?” Zakiya tersentak ketika mendengar suara disampingnya. Siapa namanya? Arga? Arkan? Ah, Zakiya lupa kalo lift disini tak hanya satu. Ia tak perlu menunggu. “Saya Arkan, kalo kamu lupa.” Pria itu memamerkan senyum kecil yang membuat Zakiya mengangguk.  “Silahkan deluan,” ujar Arkan sambil mempersilahkan Zakiya masuk ke lift yang berada di sebalah lift yang sudah turun ke bawah tadi. “Thanks,” ujar Zakiya. “Mau lunch? Sendirian aja?” tanya pria itu membuat Zakiya menggeleng. “Cuman mau cari udara seger aja.” “Capek ya jadi Direktur? Btw, congrats ya.” Zakiya mengangguk dan melangkah ketika pintu lift terbuka. Arkan mengikuti langkahnya hingga menuju basement. “Keren lho, Direktur termuda. Cewek lagi. Harusnya kan cewek itu masak di rumah aja,” gelaknya membuat Zakiya menatapnya datar. Tidak lucu. Arkan ini pasti salah banyak dari pria-pria yang menganggap wanita hanya boleh berada di rumah. Payah! “Eh, mau makan siang bareng enggak?” tanyanya yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Zakiya. “Saya traktir, deh,” ujarnya menahan lengan Zakiya. Wanita itu memutar bola matanya ketika melihat lelaki itu lancang sekali memegangnya. Zhafif saja izin dulu. Ck, kenapa ia memikirkan lelaki itu? “Kamu bisa mengerti arti gelengan kan? Saya tidak mau!” sembur Zakiya sedikit keras membuat Arkan langsung mundur dan meminta maaf. Pria itu kemudian pergi setelah banyak pasang mata melihatnya.  Zakiya mendesah kesal, ia memutuskan menunggu Lala untuk kembali ke lantai atas. Dua menit kemudian, gadis itu muncul sambil menentang bungkusan.  “Kamu beli apa?” tanya Zakiya. “Pangsit, Mbak!” serunya sambil mengangkat bungkusan itu, karena plastiknya bening, Zakiya bisa melihat isinya dan sebuah kerupuk pangsit yang tak asing baginya. “Itu kamu beli dimana?” “Ini Mas Zhafif yang beliin Mbak,” ujar Lala sambil berbisik ke arah Zakiya. Dia tahu bahwa bosnya itu ingin merahasiakan pernikahan ini. “Zhafif?” tanya Zakiya terkejut. Pantas saja, ia ingin itu kerupuk pangsit Pak De. “Dia cuman ngasih ini aja?” tanya Zakiya. Lala menggeleng ketika mereka berada di lantai pertama kantor. “Mas Zhafif tadi nanya tentang Mbak. Saya bilang kalo dua hari ini Mbak sibuk banget bahkan enggak sempat keluar makan.” Zakiya mengentikan langkah kaki berbalut heels. “Mas Zhafif juga tanya, apa Mbak suka pergi ke Dinas sosial. Saya jawab enggaklah, keluar makan aja enggak.” “Dimana sekarang Zhafif?” tanya Zakiya cepat membuat Lala terkejut. “Kayaknya masih di parkiran, Mbak.” Buru-buru Zakiya menuju parkiran dengan sedikit cepat. Wanita itu berdecak ketika sadar bahwa Zhafif pasti mengetahui ia berbohong. Wanita itu menetralkan nafasnya ketika sampai di parkiran namun tidak ada Zhafif disini. “Kamu pasti marah sama saya Zhafif,” ujar Zakiya. “Saya enggak marah kok sama Mbak.” Zakiya membalikan tubuhnya ketika mendengar suara lelaki itu. Zhafif tersenyum kecil ke arahnya. “Saya pernah meninggalkan Mbak sebelum masalahnya selesai, jadi sekarang saya mau mendengarkannya.” “Jadi kenapa Mbak bohong sama saya?” tanya Zhafif pelan. Zakiya menahan nafasnya, ia menatap lelaki itu yang kini menatapnya. Zhafif bohong. Dari matanya saja, lelaki itu tahu bahwa ia sangat kecewa padanya.  “Zhafif, dengar saya baik-baik,” pinta Zakiya. “Saya masih banyak banget yang mau saya gapai dan kamu masih sangat muda,” ujar wanita itu susah payah. Zakiya menelannludahnya sebelum melanjutkan lagi ucapannya. Berusaha untuk tidak membuat Zhafif tersakiti dengan ucapannya. Namun, sadarkan wanita itu bahwa Zhafif sudah tersakiti sejak awal. Ia hanya berusaha untuk menutupinya, setidaknya sampai ia mendengarkan penjelasan Zakiya. “Anak itu—maksud saya Zac akan membuat kita susah suatu hari nanti.” Susah? Zac membuat mereka susah? Zhafif tidak habis pikir dengan jalan otak Zakiya. Bagaimana anak sepolos itu akan menyusahkan mereka? “Kamu dengar dulu saya, Zhafif,” kata Zakiya ketika lelaki itu menggeleng. “Kita juga enggak tahu sampai kapan pernikahan ini berakhir.” Zhafif mendongak, menatap langit yang begitu cerah pada siang ini. Namun, tidak seperti hatinya. Lalu kembali menatap Zakiya. “Kamu mengertikan maksud saya?” tanya Zakiya. Remaja lelaki itu mengangguk. “Urusan Mbak Zakiya, akan menjadi urusan Mbak. Dan, urusan saya, akan menjadi urusan saya,” kata lelaki itu membuat Zakiya terdiam. “Ayo buat seperti itu, Mbak. Zac akan menjadi urusan saya, jadi mulai sekarang Mbak enggak usah peduliin kita.” “Saya pamit. Mbak buruan makan sia—“ Zhafif memejamkan matanya menahan dadanya yang terasa sakit. Zakiya menunggu kelanjutka ucapan pria itu. Namun, ternyata Zhafif hanya mengangguk dan meninggalknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD