“Lala jam berapa kita pulang?” Gadis yang sedang menyedot boba itu mendongak. “Slrupp... ahh mantap! Apa Mbak?” Zakiya berdecak kesal. “Jam berapa kita pulang?” tanyanya lagi dengan sedikit keras. “Setahu saya masih seperti biasa kok, Mbak. Enggak ada perubahan,” kata Lala mengingat-ingat. Ia tidak mungkin melewatkan berita jika perusahaan ini merubah jam pulang kantor lebih cepat. “Iya. Jam berapa?” tanya Zakiya gemas. “Jam 4.” Gadis itu kemudian menyengir sambil menatap ke arah Zakiya. “Mbak udah lupa ya jam pulang kita karena terlalu sering pulang malam?” godanya. Zakiya memilih mengabaikan pertanyaan Lala, pandangan tertuju pada jam yang ada di desktop komputernya. Bola matanya menatap konsentrasi ke arah pergantian jam, sebab beberapa detik lagi akan tepat jam empat sore. “Saya

