2 bulan berlalu semenjak kepulangan Ruby dari Las Vegas.
Dia mulai disibukkan dengan berbagai event-event baru yang membuatnya kehilangan masa muda.
Setiap hari harus lembur, tapi sepertinya dia memang sengaja karena dia tidak ingin memikirkan hal lain dan langsung tidur.
Hari ini Ruby masih lembur dikantor dengan Sarah yang menemani didepannya. Tiba-tiba sarah bergumam
''Ramai sekali berita ini di Internet.''
''Berita apa?''Ruby penasaran
''Berita meninggalnya Robert Zhang, Konglomerat dari keluarga Zhang kak. Kurasa banyak kabar yang mengatakan dia mempunyai seorang anak laki-laki yang menghilang entah kemana.''
Hati Ruby seperti tersayat, Robert Zhang? Iblis itu? Mati?
Bukan berita kematiannya yang membuatnya sedih, namun momen saat dia bersama Reyhan. Kehadiran iblis itu adalah malapetaka untuk mereka dan juga anak mereka. Dia bahkan belum sempat membalas dendam untuk Robert dan dia seenaknya sendiri mati.
Mata Ruby memerah dan berair membuatnya teringat masa-masa itu.
Sarah masi terus bergumam.
''Bagaimana orang sekaya itu bisa meninggal tanpa hak waris. Hmmm sayang sekali.''
Ruby masi telelap dalam lamunannya.
''Kak, apa kamu sakit? Wajahmu sangat pucat?'' Tanya Sarah.
''Sarah aku tidak enak badan, aku ingin pulang, kamu pulanglah juga, bye.'' Ruby beranjak Sambil menenteng tas. Sarah masih bingung dengan perubahan Ruby.
10 menit yang lalu dia masih dengan semangat membara mengajaknya lembur.
Huh.
Ruby tiba dirumah. Masuk dan duduk termenung disofa.
Tiba-tiba Melinda medekat.
''Sayang, kurasa kamu sudah mendengar berita itu. Kuharap kamu tidak terganggu. Dia sudah meninggal. Dia pantas menerimanya.''
''Bu, aku tidak apa-apa sungguh. Aku sudah melupakan hal itu.'' Ruby menjelaskan pada Melinda
''Bahkan kamu masih tidak pandai berbohong. Bagaimana jika Reyhan kembali? Apakah kamu masi menerimanya setelah kepergian Robert?. Sayang, Ibu sudah tua, Ibu hanya ingin kamu bahagia.''
Mendengar kata-kata ibunya, Ruby menangis memeluk Melinda.
Tak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan Melinda tadi. Namun dia berharap Reyhan juga bahagia dimanapun itu.
.
.
.
Hari ini Ruby disibukkan sebagai penyelenggara sebuah acara lelang yang bisa dibilang cukup mewah. Bahkan dihadiri oleh orang-orang kaya dan Salebriti Top negara mereka.
Dia sudah mengenakan gaun hitam panjangnya. Dengan rambut coklat bergelombang yang diikat acak, memancarkan aura dewi yang mampu membuat takjub orang disekitarnya.
Ruby sangat menarik perhatian saat ini. Sederhana namun elegant, jika dia tidak mengenakan sepasang headfree ditelinganya. Orang-orang pasti akan mengira dia sebagai seorang salebriti.
Pyaarrr....
Bunyi pecahan kaca terdengar dibalik kerumunan. Ruby penasaran dengan apa yang terjadi dibalik kerumunan itu. Dia tidak ingin acaranya berantakan.
Sampai dalam kerumunan terlihat dua orang yang menjadi pusat perhatian.
Terlihat sosok cantik Elsa seorang salebriti tingkat C yang seketika itu menampar pipi Sarah, asisten Ruby dengan kencang.
Ruby pun menghampiri mereka berada di pihak Sarah.
'' Nona jika terjadi kesalahpahaman, mohon jangan bertindak impulsif.''
Ruby sudah ada disamping Sarah.
Melihat Ruby yang jauh lebih cantik darinya. Elsa terlihat sangat Iri, bagaimana bisa artis secantik dirinya dikalahkan oleh orang lain di acara ini. Namun Elsa yang melihatnya, mengerti dia hanya penyelengara acara.
'' Jadi begini cara kalian bekerja? Sungguh sangat kacau. Bahkan penataan acaranya tidak seperti sebuah acara mewah. Kau lihat ini? Bahkan dia menyiram baju puluhan jutaku dengan anggur. Bagaimana kau bisa menggantinya. Bahkan pelayan seperti dia, seumur hidup tidak dapat membayar bajuku.'' Kata Elsa sambil menunjuk Sarah yang dikira pelayan
Sarah yang tidak berdaya menangis dibelakang Ruby. Melihat Sarah yang ketakukan membuat Ruby menggertakan gigi. Entah apa yang terjadi namun dia mengenal Sarah.
Ruby pun menjawab dengan santai dan elegant. Semua mata sedang tertuju pada mereka. Jika tidak banyak orang Ruby sepertinya ingin memukul wanita ini.
''Nona, perlu saya jelaskan. Dia bukan pelayan. Saya meminta maaf atas ketidaksengajaan yang teman saya lakukan. Tapi Nona apakah anda mengerti peraturan acara lelang ini? Saya dengan sangat jelas tidak melihat nama anda di undangan yang kami sebarkan sebagai tamu maupun sebagai pendamping. Undangan ini sangat terbatas'' Ruby menjelaskan sambil membawa map hitam daftar undangan.
''Jika anda adalah pengganti ataupun utusan. Setidaknya anda menitipkan jaminan 1 milyar sebelum acara mulai. Silahkan menuju ke meja jaminan, karenan acara akan dimulai 1 menit lagi. Jika anda tidak bisa menunjukan surat utusan maupun pengganti. Bahkan tidak memberikan jaminan. Mohon maaf pintu keluar kami terbuka lebar.'' Tambah Ruby sambil menunjuk pintu keluar.
Elsa sangat marah dibuatnya. Dia menggenggam tangan dan ingin menampar Ruby, dia datang kesini dengan membawa undangan curian. Bagaimana dia akan mengaku didepan orang banyak. Ruby mempermalukannya dengan telak.
Mendengus kesal Elsa pergi meninggalkan mereka.
''Mohon maaf atas gangguan ini, acara akan segera dimulai silahkan untuk menuju tempat masing-masing'' Ruby membubarkan kerumunan dengan sopan.
Seiring bubarnya kerumunan Ruby dibisiki oleh zack salah satu timnya.
''Apa katamu?Zack, Sarah ikut denganku?''
Ruby kaget dengan apa yang dibisikan Zack. Dia mengajak mereka ke tempat yang sepi.
'' Bagaimana bisa barangnya hilang? Oh tidak!'' Ruby panik. Dia kecolongan karena sibuk dengan Elsa.
''Kak barang itu sudah laku sebelum lelang dengan harga sangat tinggi. Kak kurasa kita akan mati'' Zack menggit jarinya dengan putus asa.
'' Tadi aku sudah mengeceknya dan itu masih ada dikotak kaca. Bagaimana bisa hilang?'' Sahut sarah yang tak kalah panik
Ruby panik namun dia harus lebih kuat.
Ruby berusaha dengan segera memberikan tugas kepada zack untuk mengecek setiap CCTV. Sarah akan mengurus masalah acara. Sedangkan Ruby akan mengulur waktu dan menemui pembeli itu sebelum acara penyerahan.
Acara lelang dimulai, satu persatu barang telah terjual. Sebelum acara penyerahan Ruby harus menemukan barang itu.
Dia belum pernah melihat barang lelang itu sebelumnya. Namun yang dia tau itu adalah sebuah cincin permata.
Ruby sudah hampir putus asa, bahkan CCTV tiba-tiba mengalami gangguan.
Baiklah satu-satunya cara adalah dia harus menemui pembeli.
''Maaf tuan, apakah saya bisa menemui tuan alexander? Ada yang ingin saya bicarakan. Tolong ini penting.''
Tanya Ruby pada pengawal Alexander.
Dia sama sekali tidak menemukan Alexander sedari tadi, Sarah mengatakan hanya pengawalnya saja yang mewakili dalam acara. Sedangkan Alexander berada di ruangan VVIP gedung itu.
''Tunggu, aku akan melaporkannya ke Tuan besar.'' Jawab pengawal itu dengan sangarnya.
''Baik tuan terimakasih, tolong pastikan karena ini hal yang mendesak'' jelas Ruby
Setelah menunggu beberapa lama. Pengawal kembali dan menyuruh Ruby mengikutinya.
.
.
Di depan pintu Ruangan VVIP, hawa dingin merasuki tubuh Ruby, dia sangat was-was. Bagaimana dia menjelaskan hal ini. Sungguh sebuah bencana. Ruby menarik nafas dalam dan masuk ke Ruangan.
Didalam ruangan yang sangat dingin. Lampu ruangan juga sengaja dibuat redup namun dia masih bisa melihat jelas sekitarnya. Bau asap rokok yang membuat hidungnya gatal.
Dia tidak menemukan siapapun di sofa. Namun Ruby menangkap sebuah bayangan samar yang menghadap jendela. Memegang anggur dan memutar-mutarkan gelas.
Tubuhnya yang sempurna seperti memancarkan keagungannya. Sinar bulan tampak menyinari separuh wajahnya. Namun wajahnya tidak terlihat jelas bagi Ruby. Tuxedo hitam sangat pas ditubuhnya. Sungguh pemandangan yang indah.
Namun ketika bayangan itu berbalik menatap Ruby. Langit Ruby hampir runtuh. Reyhan?
Sesaat Ruby membeku, tangan ruby tiba-tiba bergetar hebat membuat tangannya harus saling berkaitan agar tidak terlihat gugup. Apakah dia Reyhan?.
''Sepertinya kita selalu bertemu disaat yang tak terduga. Baik Las Vegas, maupun di Negara ini. Kurasa kita berjodoh nona.''
Kata pria itu yang membuyarkan lamunan Ruby.
Tenyata Dia James.
Tapi mengapa tuan Alexander bisa menjadi James?
''Maaf tuan, anda tuan Alexander?
Tanya Ruby dengan suara yang bergetar.
''Bukan''.
Jawab James sambil meletakan anggurnya dan duduk tenang di sofa.
''Itu adalah nama orang yang kupinjam. Aku tidak memiliki akses untuk lelang ini tapi aku sangat tertarik dengan barang itu. ''
Darah Ruby sudah berkumpul diotaknya. Dia tidak tau harus bagaimana. Bagaimana menjelaskan bahwa barangnya hilang.
''Tuan kurasa ada masalah dengan barang yang anda beli, Tapi... tapi kami akan berusaha untuk mengatasinya. Kami mohon maaf sebelumnya, jika tuan bersedia untuk melewatkan saja acara penyerahan. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya hingga barang ini ke tangan anda.'' Ruby menjelaskan dengan tenaga yang masih tersisa sambil mengeratkan kedua tangannya.
''Apa barang itu hilang?'' Kata james dengan mata menyipit dan santai bersandar ke sofa.
''Kami belum memastikan, tapi kami akan berusaha yang terbaik.'' Ruby menjelaskan dengan professional.
Keheningan merasuki ruangan beberapa detik. James mengambil gelasnya dan meneguk seluruh isinya hingga tak tersisa. Gerakan tenggorokan James sambil menelan membuat Ruby terpesona hingga membuat matanya ikut berkedip-kedip.
Tiba-tiba James berkata
''Jika barang itu tidak berhasil ada ditanganku, apa yang akan kau lakukan?''
Tanya James sambil berdiri dan berjalan santai menghampiri Ruby.
''Tuan kami akan berusaha....
Belum sempat Ruby melengkapi ucapannya. James sudah ada dihadapan Ruby. Mengabil setiap udara Ruby. Kehadiran James didekatnya membuat dirinya panas.
James tiba-tiba menggapai pinggang Ruby, mendekatkan wajahnya pada telinga Ruby. Tubuhnya sudah menempel pada Ruby. Detak jantung Ruby sudah tak beraturan. Namun tangannya menahan di d**a James.
James berbisik dengan hembusan nafas yang membuat telinga Ruby bergetar dan memerah.
''Jika tidak bisa ditemukan, apakah bisa mengantinya dengan dirimu?''
Tersentak Ruby membesarkan matanya. Tidak percaya apa yang diucapkan laki-laki ini.