8. Nomor tidak dikenal

1397 Words
Ruby sangat bingung dengan perkataan James ''Apa maksud anda tuan?'' Kata Ruby dengan bergetar dan mata yang mulai redup. James masih terus mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby. Semakin dekat hingga kedua nafas saling beradu. Tangan James memegang lembut pipi Ruby dengan telapak tangannya. Pipi Ruby yang dipegang pun terasa panas membara. Aroma khas kayu manis dan dari pria ini mampu membawa tekanan yang membuat jantungnya serasa berdetak kencang. ''Jika barangku tidak ditemukan, Aku ingin tubuhmu sebagai penggantinya.'' Hidung mereka bersentuhan, wajah James terus mendekat hampir menyentuh bibir Ruby. Nafas Ruby yang semakin berat, dadanya yang naik turun tak berarturan membuat mata James berkabut. Sangat dekat hanya beberapa mili saja bibir mereka sudah dapat merasakan satu sama lain. Tiba-tiba Ruby tersadar dan memalingkan wajah. ''Tuan, tolong jaga sikap anda.'' Suasana romantis yang tercipta tiba-tiba berubah menjadi hawa yang mencekam. Pinggang Ruby sudah dilepaskan James. Ruby selalu mengira orang didepannya adalah Reyhan. Tatapan mata yang sama, Aroma yang hampir sama. Dia sangat nyata, Rasanya ingin tenggelam didalamnya. Terlalu nyata hingga membuat Ruby lepas kendali. Namun akhirnya dia tersadar didepannya adalah seorang Iblis. James dengan merendam amarahnya berbalik badan membelakangi Ruby. Dia tidak ingin melihat Ruby, jika terus melihatnya. Tidak tau lagi dengan cara apa dia menahan tubuhnya sendiri untuk tidak menekan Ruby ke sofa. ''Kuberi waktu 3 hari. Jika sampai waktunya habis tidak dapat menyerahkan barang itu padaku. Maka sebagai gantinya kau harus menjadi simpananku.'' James berkata tanpa ekspresi dan masih dalam posisi membelakangi Ruby. Dengan gertakan gigi Ruby membalas ''Baiklah tuan, dengan cara apapun saya akan mendapatkannya kembali sebelum waktu habis dan tolong untuk tidak membawa ini ke media, kami akan menyelesaikan secepatnya.Terimakasih...'' Ruby dengan emosi yang membara mengepalkan tangannya meninggalkan James. Iblis tetaplah Iblis, bagaimana dia tadi bisa merasakan Reyhan didepannya. Jelas-jelas itu adalah James si Iblis. James masih berdiri tak bergerak dari posisinya. Dia merasakan detak jantungnya tak karuan. Sihir apa yang dimiliki wanita tadi, bisa membuatnya begitu berantakan. Bahkan dia rela meninggalkan kekuasaannya di Las Vegas dan datang ke negera asalnya ini. James memandang nanar luar jendela, baginya negeri ini terasa asing. Hidup 4 tahun di Las Vegas membuatnya tidak memiliki kenangan sama sekali tentang negera ini. 4 tahun lalu dia meninggalkan negara ini, entah mengapa dia tidak ingin kembali sampai ketika wanita itu menggangu pikirannya sepanjang malam. 1 bulan yang lalu James Ma berdebat dengan ayah angkatnya Reymon Ma. Dengan alasan bosan berada di Las Vegas dan banyak timbul masalah organisasi Ma di negera asalnya. Dia ingin mengambil alih kekuasaan. Kemauan James yang kuat membuat Reymon kalah karena dia sudah cukup tua untuk berdebat dengan anak kesayangannya ini. James membulatkan tekad, dia hanya ingin tau seberapa kuat perasaannya pada wanita ini. Bertahun-tahun tak ingin disentuh wanita. Bahkan dia merasa jijik jika ada wanita yang mendekatinya. Namun berbeda dengan wanita itu. Dia selalu membuatnya gelap mata dan ingin menekan tubuh wanita itu dibawahnya. Reaksi bawah sadar yang selalu membuat James penasaran. . . . Acara lelang pun selesai, begitu pula acara penyerahan barang lelang. Tinggal tersisa satu masalah yang membuat Ruby frustasi. Sambil memegang sebuah kartu nama yang diberikan pengawal James padanya. Membuatnya merasa merinding, dia berjanji setelah cincin itu ditemukan. Selamanya tidak ingin berhubungan dengan Iblis itu. Ruby meremas kartu nama ditangannya, dihempaskan ke tempat sampah. . . . Keesokan harinya... Shining Corp sudah gaduh, dibalik kesuksesan acara semalam. Ternyata hilangnya cincin lelang itu mengancam kelangsungan tim Ruby. Lingkar mata Ruby menghitam, bahkan badannya terus dipaksa bekerja mencari jejak dari semalam. ''Kak bagaimana ini, bahkan jejaknya pun tidak ada. Ini mustahil'' Sarah sudah mengacak-acak rambutnya frustasi. Diikuti dengan muka-muka kelelahan anggota tim lainya.'' Ruby melihat terus gambar cincin itu. Permata merah cincin itu tampak seperti tidak asing baginya. ''Apakah ini batu permata ruby merah?'' ''Ya kak ini permata ruby asli, milik bangsawan yang ingin beramal. Harganya bahkan tidak sebanding dengan gaji kita seumur hidup.'' Kata Zack yang wajahnya ditempelkan ke meja sambil merengek. Ruby teringat kalungnya, Kalung dengan ruby merahnya. Kalung itu pemberian Reyhan yang sudah dia kubur dalam-dalam ditanah. Sepertinya kenangan itu muncul dikepalanya. Tiba-tiba Andre sudah ada didepan Ruby membangunkan lamunannya. ''Ruby, kita bicara sebentar.'' Andre sudah berada di posisi menarik tangan Ruby membawanya pergi. Mereka pergi ke Rest area Rooftop. Di area Rooftop memang digunakan bagi karyawan untuk bersantai. Andre membawakan Ruby kopi dan bersandar di Railing. ''Aku akan mengganti kerugian itu dan berbicara langsung dengan pemenang lelang.'' Andre dengan santai berbicara. ''Tidak, tidak boleh. Andre sudah kukatakan berkali-kali ini urusanku jangan ikut campur. Aku akan menyelesaikannya sendiri.'' Ruby menatap Andre dengan marah ''Ruby, bagaimana caramu menyelesaikan. Bahkan tidak ada jejak sama sekali. Anggap saja ini pinjaman dariku, kau bisa membayarkannya kembali nanti.'' Andre mencoba meyakinkan Ruby '' Andre, orang itu tidak menginginkan uang. Dia ingin barang itu.''Ruby sudah berjongkok dengan frustasi. Dia hanya tidak ingin Andre terlibat jauh ''Aku akan berbicara padanya..... Andre mengambil langkah panjang, berjalan untuk berencana pergi menemui pemenang lelang itu. sebelum handphonenya berbunyi. Tersambung dengan ayahnya. Mukanya tiba-tiba pucat. Bahkan air wajahnya sangat jelek. Dia mengerti menutup telfonnya dan berbalik pada Ruby. ''Ruby, sepertinya aku tidak bisa memberikan uang itu sekarang, nilai saham kita dipasar turun drastis karena kejadian kemarin. Kurasa ada yang sengaja membocorkan berita ini. Tapi tenang, aku akan berusaha mencari pinjaman oke.'' '' Terimakasih Andre kamu sudah membantuku, tapi aku akan berusaha sendiri. Kamu harus mengurus masalah perusahaan dulu. Aku akan selesaikan masalahku. Sampai jumpa'' Ruby pergi dengan terburu-buru menghindari Andre. Dia tahu sifat Andre, dia akan berusaha untuk Ruby. Namun caranya selalu membuat Ruby Canggung. Dia tidak ingin Andre seperti itu apalagi berharap lebih padanya. Ruby mengambil tasnya, mengisyaratkan pada timnya dia akan menemui pemenang lelang. ''Kurasa dia yang menyebarkan berita ini. Berita ini sudah tersebar. Selain kita dan dia siapa lagi yang mengetahuinya.'' Kata Ruby pada timnya dengan wajah suram dan penuh kemarahan. Ruby memutuskan pergi menemui James. ......... Ma Corp Di gedung yang tidak seperti gedung pencakar langit lainnya. Tidak terlalu tinggi namun sudah menunjukan keagungannya. Gedung diluarnya nampak seperti gedung megah d******i kaca hitam dan didalamnya tersimpan banyak sekali hiburan. Casino, Bar, hingga Club yang siang hari tetap beroprasi. Ruby sudah berada didepan Gedung menuju tempat penjagaan. Dia tidak ingin hal dulu terulang dan diusir. Ruby memencet telfonnya dan tesambung dengan suara dingin itu. Meski Ruby membuang kartu nama James. Tidak lama dia memungutnya kembali. Sungguh lucu. Melihat nomor tidak dikenal muncul dilayarnya membuat James mengernyitkan alisnya. ''Siapa?'' James bertanya dengan nada dingin. '' Aku sudah didepan, cepat turun.'' Emosi Ruby sudah berada diubun-ubun membuatnya tidak memanggilnya ''Tuan'' Rupanya wanita itu, berani sekali dia memerintahnya. Raut wajah James berubah menjadi licik. ''Berikan telfonnya pada pengawal didepanmu'' Ruby menurut memberikan telfonya pada pengawal. Pengawal itu nampak tersentak dan dengan Raut yang pucat. Melihat pembicaraan mereka. Ruby merasa ada yang tidak beres. ''Nona, silahkan ikut denganku.'' Kata pengawal itu yang masih pucat dan menyerahkan Handphone Ruby. Ruby masuk dan diarahkan ke dalam lift. Sepertinya lift khusus. Jantung Ruby berdetak tak karuan, apa yang direncanakan iblis itu. Sambil menunggu didalam lift dia teringat dengan Reyhan, masih terus penasaran apakah dia benar-benar bukan Reyhan. Jika dia Reyhan mengapa dia seperti menjadi manusia baru dan kejam, jika bukan lalu mengapa sangat serupa bahkan dimana Reyhan sekarang. Disaat Ruby masih berfikir, pintu lift terbuka. Tiba di Lantai 12 gedung itu, Terlihat langsung ruang kerja dengan nuansa hitam dan warna emas sebagai kontrasnya. Ruangan ini sangat rapi dan ditata dengan baik. Terlihat ruangan ini mengarah langsung ke ikon kota A. Menara yang menjulang tinggi. Meskipun ruangan ini terlihat dingin namun dia dapat merasakan kehangatan tersendiri. Dia tidak menemukan siapapun di ruangan itu. Mencari kesetiap sudut ruangan. Ternyata di salah satu sudut ruangan samar-samar terlihat pria dengan telanjang d**a membelakanginya. Mengangkat besi barbel berat dengan kedua tangannya. Otot-otot besar tertarik membentuk garis, keringat terus menetes dipunggungnya. Ruby terbeku, matanya yang indah melotot. Sungguh wanita mana yang tidak tergoda melihat pemandangan ini. Sejenak terlihat goresan-goresan luka yang sangat banyak dipunggungnya. Sebuah tanda berwarna merah api juga terlihat. Reyhan tidak pernah memiliki itu. Bahkan tanda seperti tanda lahir itu. Dia sungguh bukan Reyhan. Ruby masih tidak percaya ini. Dia menutup mulut dengan tangannya seperti kehilangan harapan. terlihat gelang kain masih terlihat terikat dipergelangan tangan pria itu. Gelang kain berwarna hitam emas. sepertinya tidak pernah dilepaskan. Gelang kain itu sepertinya sangat berarti baginya, gara-gara itu Ruby pernah ditodong pistol. huh... sungguh kesal James mendengar ada seseorang dibelakangnya dan berbalik. ''Sungguh tidak sabar naik keranjangku? belum ada 3 hari sudah mencariku.''
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD