Sepanjang jalan, hanya ada keheningan didalam mobil.
James melihat dengan nanar pemandangan luar dibalik mata yang diselimuti kekecewaan. Kehangatan sesaat yang dirasakan pada wanita ini. Mungkin dia sudah salah paham.
Sungguh salah,
Dia sempat berfikir bahwa wanita ini adalah obat untuknya. Selama bertahun-tahun dibalik topengnya. Seperti dia menyembunyikan sesuatu yang tidak dia mengerti. Rasa sakit dihatinya juga tidak dapat dijelaskan.
Tangan James meremas seperti ingin meremukkan apapun itu. Tak seharusnya dia terjebak emosi dengan wanita ini. Karena bagi hidupnya organisasi Ma adalah yang paling utama.
Reymon Ma sudah sakit-sakitan dan dia adalah tumpuan bagi organisasi Ma sekarang. James tidak boleh lengah, dia tidak boleh luluh dengan apapun.
Segera James menata hati meluruhkan seluruh emosi didalam hatinya. Meluruhkan perasaan yang ada pada wanita ini.
Tapi, mengapa dia masih tidak melepaskan Ruby. Bisa saja dengan mudah James melepaskan ikatan gelangnya namun ini sungguh rumit.
Tiba disebuah apartemen mewah ditengah kota Las Vegas. James menyeret Ruby mengikutinya.
Masuk menuju Rumahnya...
Dengan Lift yang lgsung menuju ke ruang tamu rumah James.
Ruby yang terus meronta-ronta semenjak turun dari mobil kini mengumpulkan keberanian. Menggigit tangan James sekeras mungkin. Atau memang keras hingga gigi Ruby hampir tanggal dibuatnya.
''Apa yang kau lakukan!!!
James mengerang
Bukan kesakitan, malah merasakan kepahitan.
'' Apa yang ingin kamu lakukan, tanganku hanya tidak sengaja tersangkut ditanganmu. Lihat ini!'' Ruby Sambil menunjukan Tanggannya yang menempel pada tangan James.
''Kamu mau membawaku kemana?''
Teriak Ruby dengan gertakan gigi.
Mereka sudah sampai di ruang tamu Reyhan.
Tanpa melihat sekitar, Ruby masih memaki James
''Apakah kau sengaja?'' Masalah ini Cukup dengan menarik gelang ini dan selesai.''
Dengan emosi yang sudah diubun-ubun membuat Ruby menarik tangannya yang tersangkut dan otomatis membuat gelang kain James robek.
Sobekan yang cukup membelah gelang itu menjadi dua.
Dan
Akhirnya terlepas....
Namun,
Entah setan apa yang merasuki James.
Dengan segan James merogoh didalam jasnya mengeluarkan sebuah Pistol hitam mengarahkan ke dahi Ruby tanpa ampun.
''Siapa yang memberimu ijin merusaknya?''
Tuas pistol hampir ditarik James.
Ruby tidak tahu kalau gelang itu adalah hidup matinya James. Rasanya emosi James sudah ada di titik fatik sebuah reaksi.
Ruby yang gemetar dengan mata yang sudah berair melihat ujung pistol yang sudah ada di dahinya. Sangat putus asa dan ingin menyerah. Bagaimana dia bisa mendapat ampun dari mafia paling berbahaya dikota ini. Sungguh tidak terfikirkan lagi. Lebih baik menyerah
Mati saja...
Lagi pula dari 4 tahun yang lalu dia sudah ingin mati. Mati sekarang juga tidak ada bedanya.
Dengan kuat Ruby ikut menggenggam ujung pistol dan berkata
'' Jika ini membuatmu bahagia, maka lakukanlah''
''Kurasa aku juga ingin mati dari dulu''
Ruby menatap dengan penuh kebencian, kemudian perlahan menutup matanya. Seakan mengizinkan peluru menembus kepalanya.
Emosi yang masi melekat diwajah James namun,
James tidak pernah melihat orang yang sungguh ingin mati seperti ini. Mendung di mata James kian memudar digantikan dengan perasaan masam yang tak terlukiskan.
Pada akhirnya james membuang pistol itu.
Dia mengalah...
''Cepat pergi dari hadapanku, sebelum aku memecahkan kepalamu!!!'
Bentak James.
Ruby membuka mata mematung karena suara pistol yang dilempar dan teriakan James. Ruby masih tidak bergerak dia tidak ingin mempercayai hal ini. Namun dia dikejutkan kembali oleh suara James.
''Enyahlah!!!''
Air mata Ruby yang terus jatuh tak terbendung, dia mengambil langkah meninggalkan tempat itu menuju lift, menekan tombol turun dengan gila.
Sungguh sedetikpun dia tidak ingin berada disini. Karena terlalu membuat hatinya sakit. Semakin dia menyadari. Jika itu Reyhan, dia tidak mungkin mengarahkan pistol kepadanya.
Memang dia bukan Reyhan, dia hanya orang yang mirip dengan Reyhan.
James yang membuang muka merasakan bayangan Ruby meninggalkan rumahnya memberikan pukulan bagi dirinya. Dia terduduk di sofa. Melihat gelang yang robek itu hatinya juga berkecamuk.
....
Sampai di hotel tempat Ruby menginap. Timnya sudah berkumpul di Lobby dengan cemas menunggu Ruby, Dia masuk dengan kondisi yang berantakan dan masi terlihat jelas bekas tangisannya.
''Kak Ruby, kami mencarimu kemana-mana'' teriak sarah dengan khawatirnya.
''Apa yang terjadi kak, kenapa kamu menangis?''
Respon Sarah melihat mata Ruby yang berair.
Seorang laki-laki menghampirinya dan memeluk Ruby. Dia adalah Andre, anak dari Pemilik perusahaan tempat Ruby bekerja juga menjabat sebagai direktur keuangan. Andre juga dijuluki sebagai pangeran karena dia tampan dan baik hati. Tampak memang dia sangat khawatir karena memang dia menyukai Ruby.
''Ruby, apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis?'' Tanya Andre dengan serius dan memegang pipi Ruby dengan kedua tangannya.
Ruby menggelengkan kepala sambil mengapus sisa air matanya.
'' Aku hanya tersesat, tidak apa-apa, lagipula aku sudah kembali''!!
Tim Ruby yang sedari tadi mengerubunginya sudah lega dan membiarkan Ruby ke kamarnya.
Semua orang bubar dan kembali ke kamarnya karena hari sudah malam.
Andre mengantar Ruby sampai di depan pintu kamar Ruby.
Ruby penasaran dan bertanya
''Mengapa kamu tiba-tiba datang, bukanya perusahaan sedang sibuk?''
''Aku hanya mengkhawatirkan acara kalian, kukira akan ada masalah jadi aku harus mengeceknya langsung''
jelas Andre namun bukan itu alasan andre, dia sampai harus terbang tengah malam hanya untuk melihat Ruby disiang hari. Namun Ruby yang ingin ditemuinya malah menghilang. Membuat hatinya ingin runtuh.
Ruby memukul lengan Andre dengan sedikit marahnya
'' Kau kira aku akan gagal seperti itu, Cih, sungguh kau mendoakanku jelek''
Hahahaha
Kekeh Andre sambil mengelus ujung kepala Ruby
''Baiklah, karena kau bersalah sudah membuatku khawatir maka besok temani aku seharian berkeliling kota. Oke. ''
Belum sempat dibantah Ruby, Andre sudah melangkah pergi dan melambaikan tangannya.
Ruby berdecak kesal, namun dia juga tidak menolaknya karena Andre selalu baik padanya.
Sejak 3 tahun yang lalu dia bertemu dengan Andre, pada awalnya dia tidak mengetahui jika Andre adalah anak pemilik Shining Corp. Kesan pertama yang sederhana pada Andre membuat hati Ruby menghangat namun itu bukan rasa suka. Andre selalu menemaninya disaat terpuruknya. Namun dia tahu bahwa hatinya akan selalu untuk Reyhan.