''Brakk''
Tiba-tiba badan Ruby ditabrak dengan kerasnya oleh seorang asing yang muncul dari kerumunan.
Tampak setelah menabrak Ruby orang itu lari tunggang langgang.
''Hei!''
Meskipun Ruby tidak terjatuh, tapi dia tetap kesal. Ditabrak dengan kerasnya membuat dia berdecak ingin memaki orang itu. Namun tak sampai kata-kata makian keluar, Ruby sudah ditabrak lagi oleh orang lain.
Oh ada apa dengan hari ini, Ruby sudah sangat kesal.
Namun,
Tercium aroma maskulin pria yang sangat kuat. Sebelum Ruby menyadari siapa yang menabraknya.
Dia tidak merasakan Gelang tangan peraknya sudah tersangkut di tangan orang yang menabraknya. Tiba-tiba Ruby ikut terseret karena gelangnya yang tersangkut itu dan orang itu terus berlari. Seiring jalan,Ruby berteriak pada orang itu.
''Heii, Tanganku, Berhenti!! ''
''Hei, apa kau tuli?''
Ruby pontang panting dibuatnya.
Ketika orang itu tiba-tiba menghentikan langkahnya tanpa aba-aba. Membuat tubuh Ruby jatuh kedalam pelukannya.
Wajah Ruby serasa menabrak beton sangat keras.
''Aduh, sakit!!''
Dia mencium aroma maskulin yang sangat kuat. Seperti aroma kayu manis yang berbaur dengan bau khas tembakau.
Ruby menaikan wajahnya dan terlihat wajah orang itu, sinar matahari sore keemasan menembus matanya dan terlihat sosok yang dingin itu. Ya, dia James. Sejenak Ruby terdiam membisu melihat pemandangan indah ini. Ternyata bukan khayalan, dia tadi benar-benar melihat James.
James sedikit kaget dengan apa yang dilihatnya. Namun dia ingin tetap fokus pada buruannya.
''Menjauhlah!!''
Teriak James pada Ruby seketika membangunkan Lamunannya.
''Sial, dia sudah jauh!!, kata James sambil memalingkan wajah mencari orang yang dia kejar.''
Tanpa aba-aba James berlari lagi namun belum sampai dia jauh melangkah, tangannya ditahan oleh Ruby.
''Gelangku tersangkut ditanganmu !''.
James dengan mata memicing mengamati Ruby, menahan nafas kesalnya
''Kau ingin aku memotong tanganmu, atau kau ikut aku berlari, cepat pilih salah satu, aku tidak punya waktu lagi''
''Apa?''
Ruby marah dengan apa yang diucapkan James. Bulu matanya naik turun seiring nafasnya.
''Baiklah jangan salahkan aku!''
James berkata dan membawa Ruby berlari mengejar buruannya.
Sebenarnya James tidak ingin melibatkan wanita dalam bisnisnya. Namun sungguh dia tidak punya waktu lagi. Selain itu entah sihir apa yang membuat james rasanya menginginkan wanita ini didekatnya. James membuat pilihan untuk membawa wanita yang tersangkut ini.
Hatinya masam
''Benar-benar sangat kebetulan''
Apakah ini yang disebut takdir?
Nafas Ruby yang tersegal-segal karena mengikuti ritme lari James. Ingin sekali memaki pria ini. Entah dia Reyhan atau bukan dia tetap membenci jika harus berlari secepat ini. Sungguh Menyiksa,
Tangan Ruby yang tadinya hanya tersangkut kini sudah digenggam erat oleh James.
Tiba-tiba hati Ruby Menghangat.
Entah pergi kemana semua anak buahnya, semua berpencar namun hanya dia yang menemukan buronan itu dan terus mengejarnya meninggalkan keriuhan festival dan akhirnya berakhir di sebuah gang kecil yang mengarah pada jalan buntu.
Buronan itu tejebak seperti tikus kecil yang mencari jalan keluar.
'' Cih, Bahkan anak kecil saja lebih pintar bersembuyi dari pada dirimu. Sebelum aku mendekat dan meremukan kakimu. Cepat serahkan barang itu.''
James berkata dengan santainya.
Ruby disebelahnya sudah hampir mati dibuat berlari sepanjang jalan. Memegang dadanya yang sudah kehabisan nafas.
Buronan itu mengeluarkan pisau daging besar dan mengarah pada kedua orang itu. Dengan sigap James mengindarinya.
James mengayunkan kakinya yang kokoh dan panjang mengenai wajah pria itu.
Ruby yang mengikuti gerakan james ikut kelabakan. Tak disangka pisau itu tiba-tiba mengarah ke d**a Ruby.
Dengan sigap James memeluk tubuh Ruby dan sekali lagi menghadiakan tendangan kewajah pria itu. Tendangan yang cukup meremukan wajahnya.
Tendangan tadi seakan mengerahkan seluruh kekuatan James.
Pria itu akhirnya terkapar ditanah dengan darah mengalir dimulutnya.
Beberapa pengawal James akhirnya datang dan membereskan Pria itu.
''Bos maafkan kami, kami terlalu ceroboh,''
Kata salah satu pengawal.
James marah hingga urat mukanya membiru
''Kalian sungguh tidak berguna!!!''
Teriak James
''Jika hal ini terulang, jangan harap kalian melihat matahari besok''!
Seluruh anak buah james terjatuh lemas memohon belas kasihan.
Sungguh pemandangan yang memalukan. Pria-pria kekar berjas hitam tunduk didepan James bahkan bisa dikatakan mereka juga ikut bersujud didepan Ruby karena posisi Ruby masi tersangkut denganya, Perasaan yang kikuk untuk Ruby Tentunya.
Setelah beberapa lama akhirnya James menatap tangan mereka yang masih berpegangan.
''Urusanku sudah selesai, selanjutnya aku akan memotong tangamu'' ujar James
Ruby seperti disambar petir
''Tidak!!! Lihat ini hanya tersangkut, kamu hanya perlu melepasnya.''
James melihat sisi tangannya yang membuat gelang Ruby tersangkut. Baru menyadarinya mata James tiba-tiba menghitam, ternyata itu adalah gelang kain James. Gelang kain yang terlihat seperti sapu tangan sutra ditali ikat pada pergelangan tangan.
Ruby dengan santai berkata
' Ini hanya perlu menarik atau memotongnya kainnya,''
Tanpa peringatan tangan James menyentuh dagu Ruby? Memilin dengan kasar bahkan seperti meremasnya. Matanya penuh amarah seperti menembus mata Ruby.
Dia memancing amarah pria ini.
Ruby tidak tau seberapa penting gelang kain ini bagi James.
James menarik dagu Ruby dekat kedalam jangkauannya. Bahkan hanya tersisa beberapa cm dengan hidungnya.
''Hanya ada satu pilihan, harus kupotong tanganmu''
Ruby ditarik james dengan kasar, tiba-tiba datang mobil limosin hitam metalic menghampiri mereka. James menarik dengan paksa Ruby untuk masuk kedalam Mobil itu.
''Lepaskan, kumohon Reyhan!''
Ruby yang dibawa masuk dengan paksa meronta-ronta.
Sejenak Ruby tiba-tiba terdiam takjub melihat keindahan Limosin ini. Sehingga melupakan apa yang barusan dia ucapkan.
Hawa dingin serasa merasuki mobil. Sepasang tatapan mata nanar menatap Ruby.
''Apa yang barusan kamu katakan?''
Bentak James
Ruby sudah menyulut emosi pria ini.
James menekan tubuh Ruby, dengan tekanan penuh James seperti ingin meremukan tubuh Ruby, berani-beraninya dia menyebutkan nama asing didepannya.
Cari mati
Nafas yang saling memburu. James dan Ruby sudah tidak memiliki jarak untuk dipisahkan. Muka Ruby berubah menjadi merah seperi udang rebus.
Dagu Ruby kembali dicengkaram James dengan gerakan lambat jempol jarinya menyentuh bibir Ruby, Menyentuh kelembutan bibirnya, James ingin sekali merasakan kelembutan itu.
Mata Ruby dipenuhi kabut, karena aroma maskulin pria ini sanggup melumpuhkan syaraf-syaraf Ruby.
Namun Hatinya tiba-tiba remuk, Apakah pria ini Reyhan atau bukan, jika bukan bagaimana bisa didunia ini ada manusia yang benar-benar serupa.
Mata coklat, alis tebal, hidung tinggi menjulang, bahkan aroma tubuhnya masi sama.
''Kamu sangat mirip dengan orang yang kukenal.'' bibir Ruby mengucapkan dengan gemetar.
Air mata Ruby mengalir tanpa izin membasahi tangan James yang masi kuat menggengam dagu Ruby.
Alis James mengernyit dan dahinya mengerut. Serasa disiram air dingin akhirnya dia melepaskan Ruby, berdecak kesal dan membuang muka melihat arah luar mobil. Pandangan nanarnya menyiratkan emosi yang terpendam.