3. Malam yang panjang

1039 Words
Disisi lain di sebuah Penthouse Apartemen terkenal di Las Vegas. Rumah yang khusus berada tingkat teratas gedung pencakar langit, dengan design ruangan yang dirancang oleh designer dunia. Perabot tampak mewah namun terlihat sangat dingin dan kosong. Sosok pria itu bersandar sepenuhnya di jendela sambil memegang anggur. Memandangi keindahan kota dengan semilir angin khas kota Las Vegas. Memutar anggur digelas beruang kali entah sejak kapan dia mulai memikirkan sesuatu. Tampak kosong dan hati nya selalu bertanya-tanya seperti ada serpihan yang hilang dalam dirinya. Bahkan dia sendiri tidak dapat menjawabnya. Sejak melihat mata wanita tadi sel darahnya tampak bereaksi tak seperti biasanya yang seperti manusia abadi yang dingin tak memiliki nyawa. Mata wanita yang sangat lembut dan polos bahkan membuatnya ingin terus memandanginya. Dengan serakah ingin melihat mata itu lagi dan lagi. Bisa dikatakan reaksinya ini membuat tubuhnya merasa panas. Ditambah dengan reaksi anggur merah yang perlahan membakar tenggorokannya. ''Sial, perasaan apa ini''! Pria itu berdecak kesal sambil memegang keningnya yang sudah mengerut sedari tadi. Rasanya dia ingin mandi air dingin semalaman, setiap bernafas nafsu selalu menggerogoti tubuhnya seiring teringat wanita itu. Tak tahan lagi..... Pria itu mengendorkan dasi melepas kancingnya dengan kasar hingga tubuh berototnya dengan beberapa goresan bekas luka terlihat jelas. berjalan menuju kamar mandi tersirat emosi yang masi sama. Mengguyur kepalanya di bawah air dingin, kedua tangan ditahan kedinding. Mengeluarkan suara erangan kesakitan. Dia benar-benar tersiksa. Bahkan bagian bawah perutnya tak mau kalah bereaksi. Dan hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Sepertinya dia harus tidur dikamar mandi semalaman, karena reaksi ini sangat menyakitkan. Malam yang panjang dan menyakitkan bagi dua orang ini, disatu sisi pria yang tidak bisa tidur sepanjang malam karena hal yang tak dapat dia jelaskan. Disisi lain Ruby yang terjaga dan matanya pahit tidak ingin tertutup. Kenangan tiba-tiba muncul terus menghantuinya sampai hari mulai terang. Pagi hari di Las Vegas. ''Tok..tok...'' Ruby yang sudah berganti posisi menjadi bersandar dijendela itu terbangun dari lamunannya. Membuka pintu dan tiba-tiba tanpa ijin sarah dan Linda fotografernya menyeruak masuk sambil memakan snacknya. '' Kak dengarkan aku, aku punya informasi!'' Sarah berkata dengan semangat membumbung tinggi. Ruby yang lingkar matanya sudah seperti zombie acuh tak acuh dengan kehadiran mereka dan kembali ke sisi jedela menyeduh tehnya memandang sisi luar lagi. ''Pria kemarin namanya adalah James Ma!'' Teriak Sarah ''Dia se-negara dengan kita, anak dari Reymon Ma pemimpin organisasi Ma yang dikenal keji menguasai beberapa casino di negera kita dan beberapa negara termasuk Las Vegas.'' Timpa Linda dengan tawanya. Dahi Ruby mengerut, ''Pantas saja dia sangat tampan, dia memang lahir dengan sendok emas. Meskipun terlihat dingin, tapi dia sangat menggoda. Huhuhu, matanya mumbuat duniaku hilang seketika kak, bahkan suaranya bisa membuat telingaku hamil''! Linda terus berkata tanpa jeda Dalam hati Ruby berkecamuk banyak hal. Mengapa Reyhan Zhang berubah menjadi James Ma. Jelas-jelas itu adalah Reyhan. Dia tidak mungkin salah lihat. Bertahun-tahun bersama mana mungkin tidak mengenalnya. Tiba-tiba suara disekitar Ruby seperti kehilangan Volumenya. Pembicaraan mereka layaknya palu yang memukul terus menerus kepalanya membuatnya pusing dan bingung. Mungkin memang bukan Reyhan..... .... Sore Hari Rombongan tim Shining corp telah selesai membereskan sisa acara kemarin. Waktunya bersenang-senang.... Mereka berpencar mengelilingi kota. Ruby dan sarah memilih untuk datang ke sebuah festival kesenian di sisi paling lengah di tengah hingar binar kota Las Vegas. Tempat ini sangat nyaman bagi Ruby, hanya berjajar kios-kios yang menjajakan barang kesenian baik lokal maupun mancanegara. Bendera warna warni tergantung menunjukan kemeriahan festival. Dia menghirup udara dalam-dalam. Udara sore Las Vegas yang membuatnya jatuh cinta. Berjalan menikmati setiap jengkal pemandang festival kesenian ini. Disatu sisi keramaian menarik perhatian Ruby. Dibagian tengah festival, berkumpul orang-orang lokal mulai mengikuti irama musik. Sepertinya semua musik berbaur jadi satu. Musiknya berganti-ganti dari salsa, rumba, hingga tango. Semua orang sangat bahagia menari tanpa memperdulikan apapun. Riuh yang sangat membahagiakan. Ruby ikut bahagia dan tertawa. Bertepuk tangan seiring hentakan musik. Hingga tak sadar dia ditarik seseorang ikut masuk dalam kerumunan dan menari gembira. Sungguh entah sejak kapan tawanya yang dahulu selalu mempesona mulai kembali. Dia tertawa sangat bahagia. Setiap rona wajahnya terlihat jelas, berputar menari dan bergandengan dengan orang asing disekitarnya. Garis wajahnya terlihat seperti bunga lily merah yang baru merekah. Sangat merona dan memabukkan. Setiap lekukan badannya tak pernah lepas dari tatapan pria-pria disekitarnya. Tanpa terkecuali tatapan mata elang hitam seorang lelaki yang entah berapa lama menatapnya. Tanpa peringatan ingin menyapu seluruh orang disekitarnya karena yang ingin dia lihat hanya wanita itu. James beberapa waktu lalu tiba di festival seni ini. Dia awalnya ingin mencari seorang buronannya yang menyelinap ditengah festival. Awalnya James ingin meremukan dan menghancurkan langsung tempat ini. Namun tak disangka ditengah-tengah pengejarannya, James melihat seorang wanita di dalam kerumunan. Wanita itu, wanita yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Bertemu lagi, apakah ini sebuah kebetulan?. James mematung dan terbodoh sejenak melihat tingkat wanita itu yang tanpa henti tertawa. Rasanya tawa wanita itu adalah obat terselubung untuk James. Bibir james ikut terangkat miring seiring tawa Ruby yang hampir berbaur indah keseluruh kerumunan. Sekian detik kemudian, Mata James dibalik kacamata hitamnya mendung menggelap tajam seperti pedang dan ingin membunuh setiap lelaki yang menatap wanita itu dengan serakahnya. Dengan segan dia melepas kacamata dan mulai mengamati setiap garis wajah Ruby. Tak lama kemudian... Kedua mata mereka bertabrakan tanpa peringatan. ''Duar'' Tiba-tiba kedua mata James yang tajam membuat Ruby berhenti bernafas. Seketika dunia serasa berhenti bergerak. Musik salsa yang tadinya bertempo cepat pun seolah menjadi tautan biola yang digesek dengan pilunya. Tatapan mata James padanya masih seperti singa yang ingin menyapu mangsanya. James dengan setelan jas hitam yang sangat pas dengan badannya tampak gagah dan tak meninggalkan sedikit cela, membuat Ruby bergidik dibuatnya. Ruby menggeleng-gelengkan kepala tanda dia tidak ingin percaya apa yang dilihatnya. Ketika dilihatnya lagi bayangan James tiba-tiba menghilang. Apakah ini illusi?. Namun mengapa seperti kenyataan. Ruby bergerak maju menuju hilangnya bayangan James. Seakan masih merasakan hangat tubuh james yang berada disini. Ruby meremas dadanya yang sangat sesak. Dia mencari pria itu dengan gila. ''Reyhan, Reyhan!'' Dia hanya ingin tau. Apakah dia Reyhan, apakah dia sengaja tidak mengenal Ruby? Ruby berputar-putar mencari keberadaan pria itu namun tidak menemukannya dimanapun. Raut putus asa tergambar di wajah Ruby, Dia yang telah membiarkan Reyhan dulu pergi, seharusnya dia tidak seharusnya segila ini. Dia tak seharusnya menginginkannya lagi kan? Tapi kenapa perasaan bersalah ini terus menghantuinya selama empat tahun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD