Wulan pun menyesal saat dirinya bersikap kasar kepada Candra, tapi mau bagaimana lagi, Wulan hanya bisa melakukan itu untuk menyelamatkan nyawa kekasih hatinya. Seketika Wulan berfikir bahwa dirinya tidak apa jika nantinya tidak menikah dengan Candra asalkan Candra tetap hidup dan Wulan tetap bisa melihatnya setiap waktu. Wulan sangat merasa bersalah kepada keluarga Candra, karena dirinya, Bu Indah dan pak Raharjo menjadi korban pemecatan ayahnya.
Hari ini pun Wulan diijinkan untuk pulang kerumahnya, “jaga kesehatanmu ya.” Ucap dokter itu. Wulan lalu tersenyum ramah kepada dokter paruh baya itu. “terima kasih pak dokter.” Ucap Wulan sembari berpamitan pulang kerumahnya.
Wulan pulang bersama kedua orang tuanya serta Asep, seorang supir pribadi keluarga pak Cokro. Saat berada didalam mobil, Wulan tak banyak bicara dan lebih sering memejamkan matanya. Wulan masih merasa malas berbicara dengan ayahnya itu dan lebih memilih untuk diam. Pejaman mata Wulan adalah cara Wulan untuk berfikir bagaimana caranya memberi tahu Candra mengenai alasan penolakannya menikah dengan Candra. Tak sedikit pun rasa cinta Wulan kepada Candra berkurang ataupun sirna. Wulan malah semakin mencintai kekasihnya itu.
Sampailah Wulan berada dirumahnya, “istirahatnya dikamarmu nak.” Ucap Bu Sekar kepada putrinya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Wulan langsung bergegas masuk kedalam kamarnya. Sesampainya didalam kamar, Wulan langsung merebahkan tubuhnya disana. Rasa rindu terhadap kamarnya itu tentunya membuat senang, bersyukur dia bisa kembali tidur dikamar kesayangannya itu.
“Bu..., Apakah ibu merasa ada yang aneh pada Wulan? Kali ini dia tampak pendiam.” Ucap pak Cokro. “Mungkin dia baru saja sembuh pak, butuh istirahat. Sudahlah, kita doakan saja putri kita itu tidak sakit aneh-aneh lagi.” Ucap Bu Sekar yang langsung membawa barang-barang dan pakaian Wulan yang kotor kekamar mandi.
Saat berbaring, Wulan mulai memegang ponselnya, Wulan mulai ingin menghubungi kekasihnya itu. Wulan sangat rindu dan ingin segera bertemu dengan Candra. Wulan mengirim sebuah pesan singkat agar Candra sudi membesuknya dirumah. Candra yang saat itu sedang melamun diteras rumahnya pun tampak senang, “ibu..., Bapak..., Lihat, benar apa yang bapak katakan, kalau dia masih cinta, dia pasti akan menghubungi ku.” Ucap Candra girang. Kedua orang tua Candra ikut tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu. Walau hanya sekedar pesan singkat, hal itu sangat membuatnya bahagia. “memangnya apa katanya?” tanya pak Raharjo. “Dia ingin aku untuk kerumahnya.” Ucap Candra. Candra pun bergegas menuju rumah Wulan dengan percaya diri.
Sementara itu, setelah Bu Sekar meletakkan baju-baju kotor Wulan dikamar mandi, Bu Sekar pun berjalan menuju kekamar putrinya. Sampai dikamar Wulan, Bu Sekar melihat Wulan masih memejamkan matanya dengan tubuh yang tertutup selimut sampai ke lehernya. Bu Sekar tetap masuk menghampiri putrinya lalu menyentuh kening putrinya itu untuk memastikan putrinya masih dalam keadaan normal. “Wulan...,” ucap Bu Sekar lembut. Bu Sekar panik, Wulan tak menjawab panggilannya dan tubuhnya mulai panas lagi. “Pak..., Bapak..., Bapak....,” teriak Bu Sekar memanggil suaminya. Pak Cokro yang dari tadi duduk diruang tamu pun langsung bergegas kekamar putrinya. “Ada apa Bu?” tanya pak Cokro juga tampak panik. “badan Wulan panas lagi pak...,” ucap Bu Sekar mulai keluar air mata dan menetes di pipinya. Pak Cokro lalu memeriksa keadaan putrinya untuk memastikan putrinya sehat-sehat saja. “Candra...., Candra....,” Wulan mengigau lagi.
“Bapak..., Ibu..., Ada Candra diluar,” ucap mbak Aminah membuyarkan kepanikan mereka. “suruh masuk saja mbak, antar dia sampai kekamar ini.” Ucap Bu Sekar tanpa berfikir lagi. Mbak Aminah pun kembali keruang tamu untuk memberi tahu Candra, “ibu bilang kau disuruh masuk kedalam kamar non Wulan. Ayo aku antar.” Ucap mbak Aminah kepada Candra dengan wajah datarnya. Berjalanlah Candra menuju kamar Wulan. Jantung Candra mulai berdetak ketika sedang berjalan menuju kamar Wulan. Candra belum pernah sama sekali masuk kekamar wanita seurmur hidupnya. “masuklah!” ucap mbak Aminah kepada Candra.
“Assalamualaikum....,” sapa Candra. “waalaikum salam...,” jawab Bu Sekar. Pak Cokro sama sekali tidak menghiraukan Candra yang telah berdiri didepan kamar putrinya itu. “Kemarilah, Candra.” Ucap Bu Sekar. Mata Candra langsung menuju kearah kekasihnya itu, Candra bisa melihat bahwa kekasihnya itu memanggil-manggil namanya. “Candra..., Candra....,” gumamnya. “aku disini Wulan,” jawab Candra. Mendengar ada suara Candra menusuk telinganya, Wulan langsung membuka matanya dan langsung duduk dan memeluk kekasihnya itu didepan kedua orang tuanya. “Candra..., Kau tidak apa-apa?” tanya Wulan panik. “aku tidak apa-apa, apa yang membuatmu ketakutan seperti itu?” tanya Candra berusaha melepas pelukan kekasihnya itu. Candra merasa tidak enak dengan kedua orang tua Wulan yang masih berada dikamarnya. “Boleh aku berbicara dengan Candra berdua saja?” tanya Wulan melirik kedua orang tuanya. Tanpa menjawab, pak Cokro dan Bu Sekar pun langsung keluar dari kamar Wulan tanpa menutup pintu kamarnya.
Setelah memastikan kedua orang tuanya pergi, Wulan langsung menceritakan mimpinya, “Candra..., Aku bermimpi sangat buruk. Aku melihatmu mati tergulung ombak didanau itu.” Ucap Wulan dengan wajah seriusnya. “sudahlah Wulan, itu hanya mimpi saja.” Ucap Candra menenangkan kekasihnya itu. “aku serius!” ucap Wulan dengan mata melotot. “iya iya, baiklah...,” ucap Candra. “Kau tidak marah saat aku menolak kau menikah denganku?” tanya Wulan. “ya..., Awalnya aku sangat marah, tapi setelah sampai rumah, bapakku memberi pengertian kepadaku sehingga aku harus ikhlas menjalani takdir hidupku.” Jawab Candra. Mendengar jawaban Candra yang bijak itu, Wulan lantas tersenyum. “Aku bangga kepadamu. Ada alasan mengapa aku menolak dinikahkan denganmu. Kau mungkin tak akan percaya, tapi aku bisa membuktikannya kepadamu. Aku mendengar percakapan antara ayahku dengan makhluk, entah makhluk apa itu namanya, yang jelas wajahnya sangat menyeramkan dan aku sampai ketakutan bahkan aku sampai pingsan berhari-hari kemarin. Ayahku mengadakan perjanjian kepada mahkluk itu bahwa mahkluk itu menyuruh aku menikah denganmu dan makhluk itu yang akan membunuhmu setelah kau menikah denganku. Maka dari itu, ayahku bersikeras merestui hubungan kita.” Ucap Wulan. Mendengar cerita Wulan yang dianggapnya tidak masuk akal itu membuat Candra tertawa, “kau ini kan lulusan luar negeri, kenapa kau mempercayai hal mistik seperti itu? Hahaha...,” celoteh Candra. “Candra..., Aku serius!” bentak Wulan yang tidak suka dengan ejekan tawa Candra yang tidak percaya dengan ucapannya itu. “Kau mau membuktikan apa?” tanya Candra. “tepat sekali nanti malam adalah malam Jumat, kita nanti bertemu saja diujung jalan dan kita berangkat kedanau malam ini juga!” ucap Wulan serius. “Hmm...., Baiklah..., Buktikan omonganmu itu, kalau memang tidak terbukti, berarti memang kau yang mempermainkan perasaanku yang tulus mencintaimu ini.” Ucap Candra kepada Wulan.