Maksud lain pembelaan terhadap adiknya

1037 Words
Akhirnya polisi menutup kasus atas tewasnya ketiga pemuda di peternakan milik pak Cokro. Kematian ketiga pemuda itu sampai sekarang tidak ada yang tahu kecuali pak Cokro sendiri. Sudah pasti mereka mati karena dibunuh oleh Lulun samak yang melihat mereka ingin mencuri sapi-sapi milik pak Cokro. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Lulun samak itu bahwa masalah ini akan selesai begitu pak Cokro telah sampai dirumahnya. Pertemuan pak Cokro dengan Lulun samak kali ini pun juga mengatakan bahwa Lulun samak itu menemui Darto dan menyamar menjadi kekasihnya untuk melenyapkan nyawa Darto dengan cara mencekiknya saat akan melakukan hubungan intim. Darto pun sebenarnya bukan mencari keadilan atas tewasnya sang adik di peternakan milik pak Cokro melainkan Darto ingin memeras pak Cokro karena Darto tahu bahwa pak Cokro adalah orang terkaya didesanya. Hal itu membuat Lulun samak murka kepada Darto dan langsung membunuhnya dengan cara itu. Semua orang yang mau mencelakai pak Cokro, tidak akan bisa dilakukan karena pak Cokro dilindungi oleh Lulun samak itu. Seluruh keluarga dan juga harta pak Cokro tak akan bisa dicuri oleh orang lain. Bahkan semua apapun yang dilakukan oleh para karyawan pak Cokro juga diawasi oleh Lulun samak. Lulun samak itu tahu apa aktivitas para karyawan itu setelah sudah istirahat bekerja. Sore itu, ketika keluarga Wulan sedang berkumpul diruang tamu, Wulan tiba-tiba berkata kepada ayahnya tentang kasus yang baru saja selesai. “Ayah..., Akhirnya masalah ini selesai, tapi apakah ayah tahu, kalau saja Darto tidak meninggal, sudah pasti dia akan terus menuntut ayah. Ayah..., Wulan masih penasaran, siapa yang membunuhnya?” ucap Wulan sembari bertanya. “ayah juga tidak tahu, Wulan. Menurut polisi, Darto meninggal akibat sakit jantung, tapi entahlah, ayah juga tidak tahu. Biarlah nak, biarkan dia tenang disana.” Ucap pak Cokro. “ayah..., Wulan dengar kini ibu Darto hanya tinggal sendirian, apakah ayah tidak mau memberinya sesuatu? Kasihan ayah, usianya sudah tua.” Ucap Wulan. Pak Cokro pun teringat akan ibu Darto yang pernah menuduhnya telah membunuh putranya. Pak Cokro lalu menghela nafasnya, “sebenarnya ayah tidak ingin bertemu dengannya. Nanti ayah akan menyuruh Asep untuk memberikannya sejumlah uang dan sembako kepada wanita itu.” Ucap pak Cokro. Wulan pun sedikit lega karena pak Cokro yang akan merawat janda orang tua dari Darto yang kini sudah sebatang kara. Pak Cokro lalu memanggil Asep agar Asep memberikan sejumlah uang beserta sembako kepada wanita sebatang kara itu. “Asep..., Kita akan memberinya seperti ini sampai dia meninggal nanti.” Ucap pak Cokro. “baiklah tuan...,” jawab Asep patuh. Selain menjadi supir pribadi keluarga pak Cokro, Asep juga sudah dipercaya oleh pak Cokro untuk memberikan bantuan-bantuan kepada warga yang sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi. Itulah yang membuat pak Cokro dikenal sebagai orang dermawan didesanya. Seluruh desa tahu bahwa pak Cokro adalah orang kaya yang dermawan. Tapi kedermawanan pak Cokro juga tidak tulus dan ikhlas. Selain ingin dikenal sebagai orang yang dermawan, pak Cokro juga mempunyai maksud lain yaitu untuk melindungi Wulan agar terhindar dari celaka atas kemusyrikan yang dilakukan oleh pak Cokro. Pak Cokro tahu dirinya adalah orang yang menyekutukan Tuhan, pak Cokro pun juga sudah mengetahui konsekuensinya suatu saat nanti. Pak Cokro tak peduli akan hal itu, karena pak Cokro tidak ingin hidup miskin didunia ini. Kekayaan pak Cokro lah yang membuat pak Cokro dikenal banyak orang, kekayaan pak Cokro lah yang membuat dirinya selalu dipuji oleh orang bahkan kekayaan pak Cokro lah yang membuat dirinya disegani oleh orang lain. Seandainya pak Cokro bukan orang kaya, sudah pasti hidup anak dan istrinya menderita karena kemiskinan. Pak Cokro tidak ingin hal itu terjadi kepada istri dan juga anaknya. Semua hal pak Cokro lalukan termasuk menyekutukan Tuhan agar dirinya bisa membahagiakan istri dan juga putrinya. Tak lama setelah itu, pulanglah Asep dan langsung menemui pak Cokro. “Semua sembako dan juga uangnya sudah saya berikan kepada janda tua itu pak.” Ucap Asep kepada pak Cokro. “apakah dia mau menerimanya?” tanya pak Cokro. “ya pak..., Memang ibu itu menolak, tapi setelah saya memberikan pengertian, akhirnya ibu itu menerimanya. Saya juga sudah bicara kepadanya bahwa setiap bulan akan mendapatkan jatah seperti ini.” Ucap Asep. “Hmmm..., Baiklah..., Terima kasih Asep. Oh iya Asep, kau catat warga didesa ini yang bernasib sama seperti ibu itu, saya yang akan menanggung hidup mereka.” Ucap pak Cokro. “baik pak Cokro, akan saya segera laksanakan.” Ucap Asep. “Baik..., Saya tunggu ya Asep. Setelah itu kamu bisa memberikan catatan itu kepada saya, Wulan atau Bu Sekar ya.” Ucap pak Cokro lalu berdiri dan pergi meninggalkan Asep. Pak Cokro lalu masuk kedalam kamarnya, disana sudah ada istrinya yang baru saja selesai mandi. Pak Cokro lalu mengatakan kepada istrinya bahwa dirinya mempunyai program untuk memberi santunan kepada janda-janda tua didesanya. Bu Sekar juga menyetujui akan hal itu. Bu Sekar selalu menyetujui kegiatan sosial yang dilakukan suaminya itu. “bu..., Uang di brangkas masih berapa?” tanya pak Cokro. “tumben bapak menanyakan hal itu. Coba bapak lihat sendiri, ibu mau mengeringkan rambut dulu.” Ucap Bu Sekar sambil mengambil hair dryer di meja riasnya. Pak Cokro lalu memeriksa brangkasnya. Masih banyak uang disana, pak Cokro lalu mengambilnya beberapa bendel uang. Bu Sekar melirik suaminya yang sedang sibuk dengan uang-uang itu. “untuk apa uang-uang itu pak?” tanya Bu Sekar yang langsung menghentikan hair dryernya. “seperti yang tadi bapak ceritakan Bu, untuk santunan janda-janda tua didesa kita ini.” Ucap pak Cokro masih menghitung uang itu. “Oh..., Ambil saja pak, di ATM masih banyak uangnya.” Ucap Bu Sekar sembari tersenyum. “ibu tidak mau membantu bapak menghitung uang ini?” tanya pak Cokro sambil melirik istrinya. Bu Sekar lalu mematikan hair dryernya dan langsung membantu pak Cokro yang sedang berada didepan brangkas. Bu Sekar sangat patuh dengan suaminya, sementara pak Cokro sangat menghormati Bu Sekar. Semua santunan yang akan diberikan kepada janda-janda itu tentu saja atas persetujuan dari Bu Sekar. Bahkan Bu Sekar juga yang mengatur berapa besaran uang yang akan diberikan kepada janda-janda itu untuk santunan mereka. Semua keuangan pak Cokro pun berada didalam kuasa Bu Sekar, bukan hanya Bu Sekar yang menginginkan hal itu, namun pak Cokro lah yang memberikan uang-uang itu kepada istrinya. Jika pak Cokro menginginkan sesuatu, beliau selalu meminta terlebih dahulu kepada Bu Sekar. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD