Kematian Darto

1036 Words
Kakak dari salah satu pemuda yang tewas di peternakan pak Cokro itu bernama Darto. Ia adalah seorang laki-laki duda berusia tiga puluh lima tahun. Laki-laki inilah yang bersikeras menuntut pak Cokro agar pak Cokro mengeluarkan uang untuk ganti rugi atas kematian adiknya itu. Sudah dua tahun lamanya Darto ditinggal mati oleh sang istri yang baru saja dinikahinya itu. Darto tinggal sendirian dirumahnya yang memang sudah pisah dengan kedua orang tuanya. Setiap hari Darto merasa kesepian setelah ditinggal mati oleh istrinya. Darto pun juga belum dikaruniai anak karena baru beberapa bulan menikah sang istri sudah meninggal terlebih dahulu. Terkadang Darto melampiaskan hawa nafsunya dengan seorang janda yang tinggal dikampung sebelah. Mereka memang saling mencintai, bahkan Darto juga berniat untuk menikahi janda itu karena sudah merasa cocok dengannya.  Malam itu, setelah pak Cokro tertidur. Pak Cokro tidak mengetahui bahwa Lulun samak itu telah datang menemui orang yang telah menuntut pak Cokro dengan wujudnya yang berubah menjadi seorang janda kekasih Darto. Lulun samak itu awalnya menggoda laki-laki yang berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun itu. Tapi yang dirasakan laki-laki itu seperti mimpi padahal saat itu sangat nyata. Lulun samak pun menggoda laki-laki itu dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut untuk memunculkan birahi laki-laki itu. “Lilis..., Ada apa malam-malam datang kemari?” tanya Darto heran. “aku kesepian kang.” Ucap Lulun samak itu yang telah merubah dirinya menjadi kekasih Darto. Lulun samak terus menggodanya sampai laki-laki duda itu membuka pakaiannya sendiri dan sudah tidak kuat menahan birahinya. Saat ingin menyetubuhi Lulun samak yang telah berubah wujud itu, Lulun samak langsung menampakkan wajah aslinya yang sangat menyeramkan yang belum pernah laki-laki itu temui sosok yang sangat menyeramkan itu. Lulun samak itu melotot persis duduk diatas tubuh laki-laki duda itu. Darto sama sekali tidak bisa berbicara apalagi berteriak. Malam itu Darto tak bisa melawan Lulun samak itu yang telah mencekiknya. Seketika nyawa Darto melayang setelah dicekik oleh Lulun samak itu. Darto si penuntut pak Cokro telah meninggal dirumahnya sendiri. Malam yang sangat sunyi itu tak ada satupun yang mengetahui Darto telah meninggal dunia. Keesokan paginya, saat polisi ingin menemui Darto, polisi meneleponnya terlebih dahulu tapi tak ada jawaban. Polisi yang langsung bergegas kerumahnya itu pun melihat rumahnya terkunci dari dalam dan masih ada sandal jepit diluar rumahnya. Polisi beberapa kali mengetuk pintu rumah Darto tapi lagi-lagi tak ada lagi jawaban darinya. Polisi yang kebetulan melihat tetangga Darto yang sedang lewat pun lantas bertanya kepada wanita itu. Wanita itu lalu menjawab, “saya tidak tahu, mungkin masih tidur.” Ucap wanita itu lalu langsung pergi meninggalkan polisi itu karena tak mau ditanya lebih jauh lagi. Polisi itu lalu kerumah orang tua Darto untuk mencari tahu dimana Darto berada. “Bukankah dia ada dirumahnya pak?” ucap ibu Darto sembari bertanya. “Kami sudah disana sebelum kami kemari, tampaknya rumahnya terkunci dari dalam, Bu. Apakah ibu bersedia kerumahnya untuk memanggilnya? Barangkali jika ibu yang memanggilnya, pak Darto akan menjawab.” Ucap polisi itu. Ibu Darto itu pun lalu ikut polisi itu untuk memeriksa rumah Darto. Jaraknya tak terlalu jauh dan bisa dilalui dengan berjalan kaki saja. Sampailah ibu Darto dirumah Darto dan mulai mengetuk pintu rumah Darto, “Darto...., Darto...,” ucap ibunya memanggil putranya, namun tak ada suara pun yang menyahut suara panggilan ibunya. Ibu Darto tampak bingung dengan putranya. Sandal dan juga motornya masih berada didalam, terlihat dari kaca jendela rumahnya yang tampak transparan dan terlihat dari luar rumahnya. “Pak..., Coba dobrak saja rumahnya.” Ucap ibu Darto yang mulai panik. Pikiran buruk menghinggapi ibu Darto. Tanpa menunggu lagi, kedua polisi itu pun mendobrak rumah Darto dan berhasil. Mereka bertiga lalu memasuki rumah Darto sambil memanggil namanya. Polisi itu lalu menemukan Darto yang telah terbujur kaku tanpa mengenakan busana atau kain apapun. Ibu Darto sontak terkejut dan meneriaki nama putranya, “Darto!! Darto! Kamu kenapa nak!” teriak ibunya dan langsung menangis histeris. Polisi memeriksa nadi Darto, tapi Darto sudah meninggal. Entah apa yang membuatnya meninggal tanpa busana. Para tetangga yang mendengar suara gaduh itu pun langsung berubung kerumah Darto. Semua tetangga tampak kaget saat melihat Darto yang sudah ditutupi oleh kain yang diambil polisi dari dalam lemarinya. Polisi lalu menyuruh para warga untuk keluar dari rumah Darto dan hanya perangkat RT dan RW saja yang boleh masuk. Polisi akan meminta keterangan dari mereka tentang penyebab kematian Darto yang misterius ini. Salah satu polisi pun langsung memasang garis polisi mengelilingi rumah Darto. Polisi yang satunya lagi berusaha untuk menelepon mobil jenazah dan para jajarannya untuk menuju kerumah Darto. Darto, duda itu telah meninggal secara misterius dan tak ada satu pun orang yang tahu bagaimana cara Darto meninggal. Yang membuat kejanggalan para polisi adalah, Darto meninggal dengan tubuh tanpa busana. Polisi pun langsung menduga bahwa Darto telah dibunuh. “tolong saya pak...., Tolong saya ..., Tolong cari siapa pembunuh putraku!” ucap ibu Darto menangis histeris. Para tetangganya pun menenangkan hati wanita tua berusia enam puluhan itu. Polisi langsung menyelidiki kematian Darto dirumahnya, tempat kejadian perkara untuk pertama kalinya Darto ditemukan. Tak menunggu lama, datanglah ambulans dan membawa Darto kerumah sakit untuk di otopsi. Polisi ingin tahu siapa yang membunuh Darto dan apa motif atas pembunuhan itu. “Ini pasti Cokro yang menyuruh orang untuk membunuhnya...,” ucap ibu Darto yang langsung menuduh pak Cokro walau tanpa bukti. “hukum saja dia pak polisi! Dia sangat kejam!” ucap ibu Darto meracuh. Para tetangga memaklumi karena ibu Darto kini sudah tidak punya putra lagi dan hidup seorang diri. Selama ini yang menanggung kehidupannya adalah Darto, putra pertamanya. Ibu Darto tampak terpukul dengan kejadian itu. Berbagai sumpah serapah telah keluar dari mulut ibu Darto. Beberapa tetangga menenangkannya agar tak berbuat lebih jauh lagi. Polisi lainnya pun langsung pergi kerumah pak Cokro yang kala itu sedang melakukan sarapan bersama putri dan juga istrinya. Polisi mengetuk rumah pak Cokro dan dibukakan oleh mbak Aminah, pembantu pak Cokro. “selamat pagi! Apakah pak Cokro ada dirumah?” tanya polisi itu tegas. “A....., Ada pak..., Saya panggilkan dulu, mari silahkan duduk dulu.” Ucap mbak Aminah yang tampak gemetar dengan datangnya kedua polisi itu. Mbak Aminah langsung berkeringat dingin dan langsung memanggil pak Cokro bahwa diruang tamu ada dua orang polisi ingin bertemu dengannya. “ayah..., Wulan akan temani ayah!” ucap Wulan kepada ayahnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD