Bimbang

1034 Words
Kini Candra pun sudah berada dirumahnya. Candra sudah sehat kembali dan bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya. Suatu pagi, Candra ingin bertemu dengan Wulan, ada yang ingin bicarakan kepada Wulan mengenai hubungannya. Seperti biasa, mereka bertemu di perkebunan teh milik ibunya Wulan, Bu Sekar. “Wulan..., Walau kau sudah membuktikan dan sudah memberi alasan mengapa kau tidak mau menikah denganku, sekarang aku tegaskan lagi, kau mau menikah denganku atau tidak?” Tanya Candra. Wulan tampak bingung, Wulan tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Disisi lain Wulan ingin menikah dengan Candra, tapi disisi lainnya, Wulan takut jika Candra yang akan menjadi tumbal selanjutnya. “Wulan..., Kenapa kau diam?” tanya Candra lagi. Wulan lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah yang tidak pasti, Candra pun mengikutinya. “Aku tidak bisa menjawabnya, disisi lain aku sangat ingin menikah denganmu, tapi disisi lainnya, aku ketakutan jika kau akan dimakan oleh setan itu.” Ucap Wulan. Candra pun lalu tersenyum dan berkata, “itulah ujian cinta kita, kita harus melawannya, kita tidak boleh menyerah. Aku tidak akan mati dengan cara seperti itu, Tuhanlah yang akan menjadi pelindungku.” Ucap Candra meyakinkan Wulan. Wulan pun hanya terdiam ketika mendengar ucapan Candra. Wulan masih terdiam dalam pikirannya yang tampak kalut. Ada kekhawatiran didalam diri Wulan mengenai kekasihnya itu. Tidak bisa menjawab ajakan Candra, Wulan pun memutuskan untuk pulang kerumahnya memikirkan nasibnya nanti yang akan menjadi janda dalam waktu yang tidak lama lagi. Disisi lain Wulan mencintai Candra dan menginginkan Candra untuk menjadi kekasihnya. Tapi disisi lain, Wulan ketakutan akan keselamatan Candra. Wulan sudah membaca beberapa sumber di internet. Saat Wulan membaca sumber-sumber dari internet itu, yang paling Wulan ingat adalah kata-kata, “jika setan sudah menginginkan seseorang menjadi budaknya, setan akan terus mengikuti orang itu sampai orang itu lengah.” Wulan pun lalu berfikir kembali, manusia adalah tempatnya luput. Manusia sudah pasti bisa lengah, saat itu pula setan akan mengambil jiwa Candra untuk menjadi b***k setan yang selama ini disembah oleh ayahnya. Saat Wulan sedang melamun memikirkan nasib Candra nantinya, pak Cokro pun mengetuk pintu kamarnya. “Wulan..., Wulan...,” suara pak Cokro membuyarkan lamunan putrinya. Pak Cokro pun masuk kedalam kamarnya. “Wulan..., Boleh ayah bicara sebentar?” tanya pak Cokro. Wulan hanya mengangguk. Pak Cokro menghela nafasnya, “bagaimana soal hubunganmu dengan Candra?” tanya pak Cokro. Wulan lalu menenangkan hatinya, “untuk apa ayah menanyakan hal itu? Sebentar ayah..., Kenapa ayah tiba-tiba ingin menyuruhku untuk segera menikah dengan Candra? Bukankah ayah tidak menyukainya?” tanya Wulan menghardik ayahnya. Pak Cokro lalu berbalik arah dan berkata, “saat kau sakit, ayah jadi berfikir sesuatu tentang kebahagiaanmu nak. Maka dari itu ayah harus mendukungmu untuk bersama dengan orang yang kau sayangi.” Ucap pak Cokro. “kebaikanku untuk menjadikanku janda di usia yang masih muda?” ucap Wulan dengan senyum sengitnya. “apa maksud dari perkataanmu itu nak? Ayah tidak mengerti.” Ucap pak Cokro berpura-pura dan tampak kaget. “Kenapa ayah? Ayah kaget? Walau usiaku lebih muda dibanding dengan ayah, tapi untuk kali ini aku akan mengingatkan ayah untuk pertama kalinya, ayah..., Bangkai yang tersimpan rapi pasti akan tercium juga!” ucap Wulan lalu pergi meninggalkan ayahnya yang sedang berada dikamarnya. Wulan sebenarnya ingin sekali memarahi ayahnya mengenai hal yang pernah dilihatnya, tapi apalah daya, Wulan yang tidak tega jika harus memarahi ayahnya pun hanya memberi isyarat bahwa ayahnya harus menghentikan pesugihannya. Wulan tidak tahu menahu mengenai hal apa yang membuat ayahnya sampai melakukan perjanjian kepada mahkluk itu sampai-sampai ayahnya mau disuruh oleh mahkluk itu menjadi budaknya dan mencari tumbal untuk tujuannya. Wulan lalu keluar dari rumahnya lagi dan pergi bersama kudanya yang entah mau kemana Wulan pergi. Wulan tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan ayahnya. Wulan pun lalu pergi ke danau untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah. Sesampainya di area danau, Wulan mengikat kudanya dibawa pohon. Banyak orang yang sedang mencuci pakaian mereka dikamar mandi yang dibangun oleh Wulan itu. “non Wulan...,” sapa salah seorang warga kepada Wulan. Wulan hanya tersenyum ketika beberapa warga menyapanya. Wulan terus berjalan menyusuri danau hingga Wulan berhenti di tepi danau yang agak jauh dari kamar mandi umum itu. Ditempat Wulan berdiri itu tampak sepi dan tenang. Wulan lalu duduk ditepian danau dan beberapa kali melempar air danau itu dengan kerikil yang diambilnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Pikiran Wulan sedang sangat kacau hari ini, walau Candra sudah mengetahui bahwa dirinya hanyalah seekor umpan bagi ayahnya, tapi Candra tidak pernah peduli akan hal itu. Candra hanya ingin menikah dengan Wulan saja walau apapun yang terjadi. Candra tidak takut jika nantinya dirinya akan mati lebih cepat setelah menikah dengan Wulan atau akan tetap hidup bersama kekasihnya itu. Lain dengan Candra, lain lagi dengan Wulan. Wulan sangat ketakutan dengan perpisahan, Wulan sangat takut akan hal itu. Wulan tidak ingin berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi, apalagi jika hal itu terjadi kepada Candra. “aku harus menghentikan ayahku! Akulah yang akan menjadi perisai untuk Candra!” ucap Wulan sambil melempar batu yang lumayan besar itu kedalam danau sampai airnya mengenai wajahnya. Wulan lalu mengusap wajahnya yang basah akibat terkena air danau itu. Wulan menatap tajam telapak tangannya bekas usapan air danau yang mengenai wajahnya itu. Wulan pun menghela nafasnya, “aku pasti bisa menghentikanmu dengan mudah seperti mudahnya aku mengusap air danau yang berani menyentuh wajahku ini!” ucap Wulan sambil terus menatap tajam tangannya. Wulan lalu pergi meninggalkan danau itu. Wulan berjalan agak cepat dan kembali menaiki kuda kesayangannya itu. Kuda Wulan agak sedikit merengek saat Wulan ingin menaikinya. Wulan pun mencium kuda itu dan mengelus kepalanya, “ssttt..., Ayo kita pulang...,” ucap Wulan kepada kuda itu. Wulan pun menaikinya dan memacu kudanya begitu cepat agar bisa segera sampai kerumahnya. Wulan memasukkan kuda kesayangannya itu kedalam kandang dan memciumnya sebel meninggalkan kuda kesayangannya itu. Wulan lalu berjalan pelan kembali kerumahnya yang tampak sepi. Tidak ada satu orang pun dirumah itu. Wulan pun tidak peduli dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Walau setiap hari Wulan tidak melakukan apapun, Wulan merasa lelah karena seharian ini banyak berfikir macam-macam mengenai hal yang belum tentu terjadi. Wulan dibuat pusing dengan prediksi yang dia buat sendiri. Mengenai ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi itu pun menghinggapi pikiran Wulan. Wulan hanya takut kehilangan kekasihnya, Candra. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD