“dua ... tiga ... cue!”
Produser program talkshow memberi aba-aba untuk segera melakukan siaran langsung. Seluruh crew melakukan tugasnya, sesuai dengan arahan dan tuntutan.
Hari ini tepat seminggu setelah kabar kematian Sisil, anak seorang penyanyi ternama di kota ini. Ibu Sisil diminta untuk melakukan wawancara mengenai kasus kematian anaknya, yang hingga saat ini masih belum menemui titik terang.
“Bagaimana perasaan Mbak Rona, mengenai kabar kematian anak kamu? Yang bahkan hingga detik ini belum ada kejelasan?”
“Tentu saja hati saya sakit, melihat anak saya meninggal dengan keadaan seperti itu, terlebih itu kan di sekolah, kenapa begitu sulit ditemukan pelakunya ... hiks ....”
Ibu Sisil menangis tertahan saat program wawancara ini dimulai.
Ia melanjutkan. “Saya heran, setelah berapa hari ini, sebenarnya pihak yang menyelidiki kasus anak saya tuh ngapain aja? Kalian planga plongo doang kan di sekolahan anak saya? Kurang emangnya duit yang saya kasih ke kalian?”
Ternyata, beliau bukan orang yang memiliki attitude yang baik dan patut dicontoh. Di tengah kesedihan, masih saja dirinya memamerkan harta.
Memang, ibu dari Sisil ini dikenal sebagai penyanyi berbakat,namun tidak sedikit yang menyebarkan berita buruk mengenai dirinya. Beberapa dari penggemarnya mengungkapkan bahwa sikap dari penyanyi ini, bukan mencotohkan sesuatu yang baik.
“Duit? Kenapa kamu memberikan duit? Maksudnya duit ke siapa ini?”
“Jadi, hiks ... saya sengaja menawarkan banyak fasilitas untuk mereka, supaya lebih giat dalam menangani kasus anak saya... hiks ... Saya tidak langsung memberikan plek duitnya gitu, engga. Tapi lebih ke makanan atau apapun kebutuhan mereka yang bisa saya bantu, semata karena saya ingin penyelidikan kasus anak saya ini segera clear, ketemu siapa pelakunya. Tapi bahkan hingga sekarang ini, orang yang dicurigai pun gak ada”
Ibu Sisil semakin menguatkan tangisannya. Pembawa acara yang bersama dengan ibunya di depan kamera, memberikan tissue untuk membantu menghapus air matanya.
Sebenarnya, dengan sikap dari ibu Sisil yang seperti itu pada siaran langsung ini, pasti akan memberikan kesan buruk bagi beberapa orang yang kontra akan penyanyi ini.
Tidak seharusnya seorang keluarga korban menghabiskan uang untuk memenuhi kebutuhan pihak penyelidikan. Sebagai rasa terima kasih mungkin saja tidak masalah, namun kalau konteksnya seperti apa yang ibu Sisil utarakan barusan, itu sudah termasuk ke dalam.... kalian tahu kan?
“Lalu, bagaimana tindakan kamu ke depannya agar kasus ini segera terpecahkan?”
“Saya tidak tau, lah. Ini bukan kewajiban saya, bukan ranah saya,” ucapnya.
Hal itu membuat penonton marah, tentunya. Meskipun Ia bukan seorang yang seharusnya menyelidiki kasus ini, namun Ia jelas merupakan seorang ibu dari korban, bagaimana mungkin bisa dirinya mengatakan hal seperti itu di depan kamera?
Leon dan mama yang menonton dari rumah, seketika memberikan tatapan kesal dan juga mengoceh tidak karuan. Terlebih mama Leon, setiap kali ibu Sisil berbicara, mama Leon pasti menyampaikan amarahnya, Ia merasa kesal.
“Bagaimana kalau semisalnya, tapi mudah-mudahan gak kejadian, tapi bagaimana jika kasus ini tidak dapat dipecahkan untuk waktu yang lama? Apa tindakan kamu?”
“Saya gak sanggup hanya dengan membayangkan hal itu, tapi satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah dengan melanjutkan hidup saya. Sisil adalah anak satu-satunya dari mantan suami saya, dan saya masih memiliki dua anak dari suami saya yang saat ini. Saya rasa, saya hanya harus fokus mengurus anak-anak saya agar tidak lagi mengalami hal yang sama”
Seketika suasana studio sedikit riuh, dan hampir saja terjadi perang opini dari para penonton. Penonton di rumahpun tidak mau kalah, emosi telah menguasai setiap ibu di dunia, melihat sikap dan tanggapan ibu Sisil yang terlihat terlalu meremehkan kasus ini.
“Oke, baik. Kita selesaikan diskusi tentang itu. Sekarang kita beralih ke masa-masa terindah, masa dimana yang hanya dapat menjadi kenangan bersama Sisil.” Pembawa acara menghentikan pertanyaan yang selalu dijawab sesuka hati oleh ibu Sisil.
Kali ini pembawa acara berusaha membuka lembar kenangan keluarga Sisil.
“Sisil itu anaknya bagaimana? Sikap dan kebiasaan Sisil yang kira-kira dapat dibagikan ke kita semua yang menyayangkan kejadian ini? Silahkan”
“Sisil, anak tercantik saya, dia selalu melakukan semuanya dengan sempurna, menuruti setiap keinginan dan perintah saya dan papanya dulu. Dia anak yang kuat dan mandiri, dulu saya sempat membiarkan Sisil, karena perlakuan papanya yang meninggalkan saya saat Sisil masih kecil. Tapi, dia menguatkan saya, hingga saya ada di posisi ini”
Lagi, ibunya menangis. Entah hanya formalitas, atau air mata sesungguhnya.
“Ma, kalau aku meninggal, mama bakal ngomong kayak gitu-....” Leon bertanya tiba-tiba kepada mamanya.
“Hush! Kamu ini pertanyaannya, jangan yang aneh-anehlah, mama gak sanggup dengernya”
“Ya, engga loh, Ma. Maksudnya, kan tadi mama kesel liat ibunya Sisil ngomong sesukanya begitu, kek gak ada sedih-sedihnya”
“Kamu ini, jangan sembarangan ngomong. Itu dia pasti sedih, cuma ditahan karena kan lagi siaran langsung”
Leon tertawa kecil melihat mamanya, tadi marah-marah menanggapi setiap jawaban yang keluar dari mulut ibu Sisil, tapi sekarang malah terlihat seperti membela perempuan itu.
“Coba ceritain kedekatan kamu sama Sisil. Kita di sini penasaran, pengen tau”
“Saya memang kurang dekat dengan anak saya, karena kesibukan kami. Tapi, di beberapa waktu, saya dan Sisil menghabiskan waktu hanya berdua, berbelanja, liburan, ke funland, belanja keperluan sekolah, berdebat tentang rencana sekolah dan kuliahnya. Ya, anak saya sedang merencanakan kuliah di xx University di Toronto”
Seketika, suasana studio berubah menjadi haru. Tangisan masih setia menemani ibu Sisil pada siaran langsung kali ini.
“Dia sempet bilang ke saya, Ma, nanti Sisil ke Toronto, mama disini aja ya, jaga kamar ... hiks ... jaga kamar Sisil,” ucapnya diselingi dengan tangisan.
Pembawa acara itu terlihat mengelus punggung ibu Sisil dengan lembut. Memberikannya tissue untuk menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
“Sisil paling gak suka, kalau ada orang masuk ke kamarnya tanpa izin ... hiks ... saya bahkan sering kali gak diizinkan masuk ... hiks ... kali ini ... hiks ... gak ada lagi yang marah-marah kalau ibu masuk kamar kamu, Sil....”
Acara siaran langsung berakhir dengan menampilkan foto-foto kenangan yang menampakkan wajah cantik Sisil, bersama keluarganya. Dan beberapa foto Sisil sendiri, yang membuat orang-orang semakin merindukan sosoknya. Beberapa prestasi Sisil juga ditampakkan, dan kisah-kisah perjalanan Sisil di bidang entertain atau industri hiburan. Meskipun dirinya bukan orang yang terkenal di televisi, namun dirinya sangat dikenal di dunia modelling dan sosial media.
Banyak anak perempuan yang berharap menjadi Sisil, menginginkan tubuh indah, wajah cantik, reputasi baik, dan juga otaknya yang genius. Di sekolah saja, beberapa murid perempuan dan laki-laki sangat mengidolakan Sisil, dan banyak murid laki-laki yang menginginkan Sisil untuk menjadi kekasihnya.
Leon tampak meneteskan air matanya, kala foto-foto Sisil ditampilkan. Kenangan-kenangan itu, tidak sedikit yang terekam di ingatannya. Beberapa foto yang dtampilkan, diambil dari akun media sosial i********: milik Sisil. Foto-foto itu beberapa diambil oleh Leon, saat mereka melakukan kegiatan bersama.
Kesedihan Leon karena kehilangan teman dekatnya, diketahui oleh sang mama. Mama melihat ke arah anaknya yang sedang meneteskan air mata, meskipun wajahnya ditahan dengan memberikan ekspresi datar, tapi mamanya paham bahwa anaknya ini sedang merasakan kehilangan dan kesedihan cukup mendalam.
Beberapa hari ini, program berita di televisi menampilkan kasus kematian Sisil. Beberapa dari mereka memberikan berita lanjutan yang selalu diperbaharui agar dapat memberikan kabar terkini dan akurat.
Hampir seluruh platform media menayangkan perkembangan kasus kematian Sisil. Semua orang ikut bersedih, ikut kesal, dan juga marah karena masih belum ada perkembangan berarti akan kasus ini.
Saat Leon membuka aplikasi twitter di ponselnya, seluruh isi timeline masih mengenai kasus Sisil. Dirinya sadar, bahwa Sisil sangat berpengaruh bagi semua orang. Oh, atau karena kasusnya tergolong aneh dan membuat ngeri dan penasaran?
“Nak, papa bilang kamu udah boleh pake motor kamu lagi.”
Leon menoleh, menutup ponselnya dan menatap wajah mamanya. “Beneran, Ma?”
Mama mengangguk.
“Tapi, aku lagi gak masuk sekolah. Ntar papa berubah pikiran pas aku udah masuk”
“Ya enggak lah. Ntar mama bantu, kalau papa berubah pikiran”
Leon tersenyum dan memeluk mamanya. Bersandar dan menggantungi tubuh mamanya, menyebabkan sang mama sulit bernapas.
“Kenceng banget peluk-... uhuk ...”
Leon melepaskan pelukannya.
“Kalo gini aja mamanya baru dipeluk,” ledek sang mama.
“Apaan, kan aku sering gelendotan sama mama. Mama aja yang ogah-ogahan”
Sang mama tersenyum, Ia mengelus rambut anaknya. “Kamh jangan yang aneh-aneh ya, Nak! Mama gak mau kehilangan kamu”
“Aneh-aneh gimana deh, Ma?”
“Pokoknya mama mau kamu jadi anak mama terus, jangan ngelakuin yang engga-engga, jadi bayinya mama terus”
“Ma, aku udah bukan bayi ih”
“Di mata mama, kamu tuh bayi, tau”
“Enak aja, aku udah gede gini, bentar lagi kuliah juga masa dianggap bayi terus”
.
Leon memasuki kamarnya, mengambil posisi nyaman di tempat tidurnya. Ia teringat, sejak tadi Ia tidak menyentuh buku menulisnya.
Beberapa hari lalu, buku itu dihiasnya. Covernya diberi warna biru tua yang cukup gelap, kemudian diberi tulisan berwarna putih bertuliskan huruf R kapital di tengah sampul buku.
Ia memerhatikan hasil kreativitasnya di buku menulisnya itu. Takjub.
Padahal hanya sebuah sampul buku dengan hiasan sederhana, namun hal itu mampu memberikan senyuman di wajah Leon.
Ditatapnya, tiba-tiba saja datang ide di kepalanya.
Segera, Ia mendudukkan dirinya di kuris meja belajar, membuka buku itu dan mengambil sebuah pena.
Sepertinya, Ia menambahkan satu chapter malam ini. Chapter itu Ia beri judul “Belum Waktunya”.
Entah apa yang sebenarnya menjadi plot pada buku itu. Leon hanya menuliskan apapun yang ada di pikirannya.
Ide yang muncul secara tiba-tiba, memberikan penampakan yang tidak jelas pada plot di buku itu. Sepertinya, dirinya hanya mengembangkan ide itu secara sederhana.
Biasanya, Ia akan mendiskusikan cerita dan tulisannya kepada Ravi. Tapi, karena saat ini Ravi tidak berada di pihaknya, tidak menyetujuinya, makanya Ia tidak dapat melakukan diskusi pada siapapun, sehingga ide-ide yang didapat juga tidka begitu besar.
.
Sekolah sebentar lagi dijadwalkan untuk masuk, jadi mama Leon mengajak anaknya untuk ikut membantunya belanja keperluan rumah. Mumpung Leon masih berada di rumah, jadi mama memintanya untuk menemaninya.
Mereka pergi ke supermarket yang berjarak cukup jauh dari rumah keluarga Hutama.
Awalnya Leon menolak, namun karena merasa kasihan jika sang mama dibiarkan berbelanja sendiri, maka Leon memutuskan ikut, dengan perjanjian dirinya akan menunggu di foodcourt di supermarket tersebut.
“Aku di foodcourt aja ya ma”
“Gak ikut masuk? Kamu gak kepengen beli apa-apa?”
Leon menggeleng. Sebenarnya yang menjadi alasan dirinya malas menemani mamanya berbelanja karena Ia terlalu malas bergerak.
Mamanya kalau sudah berbelanja, pasti akan kesana kemari, dan tentu membutuhkan waktu yang lama. Leon membayangkan saja sudah sangat terasa rasa capeknya.
“Yaudah, ntar kalau mama telfon, kamu susul mama ke dalam ya”
“Ya, Ma”
Leon memesan camilan untuk menemaninya di foodcourt siang ini. Dirinya membeli camilan dan juga minuman. Bersiap menghabiskan waktu dengan bermain dengan ponselnya.
Ia membiarkan mamanya menghilang ke dalam supermarket yang terkenal cukup luas ini. Ia melihat ke sekelilingnya, dilihatnya orang yang dikenali dan biasa menghabiskan waktu bersamanya, namun Ia terlalu malas menyapa.
Difokuskannya dirinya pada ponselnya sendiri, dan camilan-camilan yang dipilihnya tadi. Memainkan sebuah permainan yang biasa Ia mainkan, dan beberapa waktu kemudian beralih membuka sosial media miliknya.
Fokus Leon terpecah kala seseorang yang duduk di belakang kursinya, membicarakan sesuatu yang tidak asing di telinganya. Berbicara dengan keras bersama teman-temannya. Mereka sekumpulan perempuan yang sepertinya seumuran dengan Leon.
Hal yang dibicarakan masih mengenai kasus yang ramai belakangan ini. Yang selalu menjadi simpati banyak orang, ya benar, kasus kematian Sisil.
Perempuan-perempuan itu berspekulasi mengenai kasus tersebut. Hal itu sebenarnya membuat Leon geram. Setiap asumsi dan opini mereka tertangkap dengan jelas oleh rungu Leon.
Mereka berbicara terlalu kuat dan bersemangat. Berbicara secara bergantian, mengucapkan asumsi-asumi aneh dari mulut mereka yang sama sekali tidak sepenuhnya benar.
Leon merasa jengah melihat perempuan-perempuan itu. Digesernya kursinya, maksudnya untuk memberi kode bahwa dirinya terganggu dengan suara-suara keras yang diciptakan mereka.
Namun, tidak ada respon yang menanggapi Leon. Mereka hanya melanjutkan berbicara, dan mulai memberikan omongan sedikittidak baik mengenai teman dekatnya itu.
Leon semakin emosi. Ia menoleh ke belakang, memutar torso dan wajahnya. Memberikan tatapan cukup menyeramkan kepada perempuan-perempuan itu.
Ternyata, mereka mengenali Leon. Mereka tahu sejak dulu, Sisil dan Leon sering disangka memiliki hubungan spesial, karena kedekatannya.
Leon segera menyelesaikan kegiatannya di foodcourt. Membersihkan mejanya dan membereskan camilannya yang berantakan.
Segera Ia berjalan menyusul mamanya ke dalam supermarket. Sebenarnya, mamanya masih belum menelepon dirinya, namun ini sudah terlalu lama sejak mamanya memasuki supermarket ini. Leon ingin segera pulang ke rumahnya, makanya Ia memutuskan untuk menyusul.
Dilihatnya sekeliling supermarket, dicarinya keberadaan mamanya. Bodohnya, Leon tidak menelepon mamanya dan menanyakan keberadaannya. Padahal itu cara tercepat untuk segera bertemu mamanya.
Akhirnya, Leon menemukan sang mama. Dilihatnya mamanya sedang berbicara dengan seseorang yang tidak asing. Orang itu adalah Ravi.
Segera Ia berjalan ke tempat dimana mamanya dan Ravi berbincang-bincang. Mereka bahkan tidak sadar akan keberadaan Leon, saking fokusnya.
“O-oh ... L-Le-on ...” Ravi terlihat sangat terkejut akan kedatangan Leon.
Leon tidak tersenyum. Ia langsung meminta mamanya untuk segera meninggalkan tempat ini.
“Mama ngobrol apa aja sama Kak Ravi?”
“H-hah? Enggak- enggak ada sih, Cuma nyapa biasa” dalih sang mama.