Leon menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar. Melakukan apapun yang dapat membantunya mengatasi rasa sedih, dan bosan.
Sekolah masih diliburkan, dan belum mendapat pemberitahuan lanjutan mengenai jadwal masuk berikutnya. Saat ini, masih dilakukan penyelidikan terkait kasus kematian Sisil.
Keadaan sekolah saat ini ramai akan petugas yang mencoba membantu keluarga Sisil dalam menemukan jawaban akan kematian Sisil. Karena itu, murid diliburkan hingga waktu yang belum ditentukan.
Olah Tempat Kejadian Perkara diketuai oleh Inspektur Jusuf. Seorang yang berpengalaman di bidang bedah Tempat Kejadian Perkara. Tak sedikit kasus yang dapat dipecahkan oleh beliau. Hal itu yang memberikan harapan yang negitu tinggi dari keluarga Sisil, agar penyebab kematian Sisil segera terungkap.
Tokk... tokk... tokkk...
“Leon! Leon!” Bryan datang ke rumah keluarga Hutama.
Sepertinya Bryan mengetahui bahwa Leon mendapat waktu libur dari sekolahnya. Bryan juga bersekolah, namun pulang lebih cepat dari waktu pulang sekolah Leon.
Ia pasti akan mengajak Leon bermain sepanjang hari, mengetahui bahwa Leon libur sekolah. Meskipun, sebenarnya Ia tidak mengetahui jelas, kenapa Leon diliburkan sementara dirinya tidak.
Mama Leon membukakan pintu rumahnya, mempersilahkan Bryan untuk masuk.
“Hi, Mama!” Bryan memberikan senyuman ceria saat pintu dibuka oleh Mama Leon.
“Bri, mau main sama Leon, ya?”
Bryan langsung menggeleng dengan antusias, masih dengan senyumannya.
Hari bahkan belum memasuki waktu makan siang, tapi Bryan langsung mengunjungi sahabatnya sesaat setelah pulang sekolah.
Mama Leon mempersilahkan Bryan ke kamar Leon, memberi izin Bryan menemani Leon di kamarnya, mungkin saja akan menghilangkan rasa sedih Leon akibat kejadian baru-baru ini.
Bryan mengetuk pintu kamar Leon. “Leon?”
Nada bicara Bryan sedikit merendah, entah karena apa. Sepertinya, dirinya tidak ingin mengganggu dan mengejutkan sahabatnya.
“Kamu bobok, ya? Aku ganggu? Aku mau ngajak nonton film Inside Out kamu tau kan? Leon pasti mau kan?”
Bryan langsung menghujani Leon dengan pertanyaan. Leon bahkan tidak diberi waktu untuk menjawab, dirinya hanya memerhatikan wajah Bryan yang dengan antusias bertanya.
Mereka mulai menonton seperti rencana awal milik Bryan. Padahal, film itu telah beberapa kali ditonton olehnya, tapi Bryan sangat menyukainya, dan tidak bosan meskipun dirinya telah menghafal dialog yang ada di film itu.
Bryan memiliki kegemaran menonton, terlebih film animasi dan berbahasa asing. Meskipun dirinya sulit memahami filmnya, karena bahasa yang tidak terlalu dikuasai olehnya, tapi dirinya sangat menyukai hal itu.
Dari menonton, biasanya Bryan akan diminta oleh Leon untuk menghafalkan kosa kata yang didapatnya. Makanya, Bryan sering kali mengikuti bahasa yang sering didengarnya dan diingat olehnya.
“Blue! Blue! Leon, itu Blue!” Bryan senang saat melihat karakter yang paling disukainya.
Dirinya langsung menunjukkan kepada Leon bahwa Blue, karakter favoritnya telah muncul. Bryan bahkan pernah meminta dirinya untuk memiliki kulit berwarna biru, agar dirinya bisa seperti Blue.
Blue yang Bryan maksud adalah karakter yang bernama Sadness di film tersebut, namun Bryan lebih sering menyebutnya Blue, karena Ia hanya mengingat sebutan itu.
Brugg...
Terdengar suara cukup keras di ruangan dimana Bryan dan Leon sedang menonton. Bryan langsung mencari kesana kemari, dimana sumber suara itu.
Leon yang langsung mengetahui sumber suara, langsung melihat ke arah tersebut.
Bryan menunduk, mencoba mengambil sesuatu. Sepertinya itu yang menyebabkan suara keras tadi.
Sebuah buku, berukuran cukup besar. Bryan keheranan, Ia tidak pernah melihat buku itu sebelumnya. Bahkan buku yang biasa Ia gunakan untuk menggambar dan menulis tidak sebesar itu.
“No!” Leon meninggikan nada suaranya.
Leon segera mengambil buku itu dari tangan Bryan. Hal itu menyebabkan Bryan kaget, dengan suara Leon dan juga tindakan kasar Leon.
Tidak biasanya Leon seperti itu. Bryan hanya bisa memerhatikan wajah Leon, sambil menahan tangis.
“Kamu jangan biasain ambil barang orang sembarangan! Siapa yang kasih kamu izin ngambil itu?!”
Bryan menunduk.
Film yang terputar di laptop Leon, masih belum sempat dipause oleh mereka. Menyisakan suara-suara dari film itu di antara ketegangan Leon dan Bryan.
“Siapa?!” Suara Leon semakin meninggi.
Leon membentak Bryan. Ini pertama kalinya, Bryan dibentak oleh Leon.
Bryan akan menangis dalam hitungan detik, hingga seseorang mengetuk pintu kamar Leon.
Tokk... tokk...
“Nak? Keluar sebentar ya, ada yang mau ketemu kamu”
Leon menghela nafas, dirinya pun merasa terkejut. Ia tidak menyangka kenapa Ia bisa membentak Bryan hanya karena kesalahan yang bahkan bukan disengaja oleh Bryan.
Leon mengusak rambut Bryan, sebagai permintaan maaf. Dirinya masih dikuasai oleh emosi, sehingga sulit untuk mengatakan maaf. Padahal hatinya ingin meminta maaf kepada Bryan.
“Bri, kamu disini dulu ya” katanya pelan sambil berlutut di depan Bryan yang sedang duduk di kursi.
Leon menyimpan bukunya ke tempat yang kecil kemungkinannya untuk ditemukan orang lain. Sebelumnya, Leon meminta Bryan untuk menutup mata, agar tidak mengetahui tempat persembunyiannya.
Setelahnya, dirinya berjalan keluar kamar, meninggalkan Bryan sendirian menangis tertahan di tempat duduknya. Untung saja, dirinya mampu menahan rasa sedihnya.
Di ruang tamu, Leon mendapati papanya yang ternyata berada di rumah. Papanya duduk bersama pria yang Ia lihat saat kejadian Sisil.
Keduanya melihat ke arah Leon, saat dirinya mendekat. Mama Leon pun bergabung di antara mereka.
“Leon, gimana keadaan kamu?” Inspektur Jusuf menyapa Leon.
“Baik” jawabnya singkat.
Leon mendudukkan dirinya di samping sang Mama.
“Jadi, om mau tanya tentang kejadian yang kemarin, tentang Sisil” Inspektur Jusuf berusaha memerhatikan sikap Leon.
Ia mengira-ngira apakah Leon nyaman membicarakan hal ini sekarang.
Leon mengangguk menanggapi perkataan Inspektur Jusuf.
“Kalau kamu bersedia, kamu bisa ceritain semua yang kamu tau ke saya. Kalau kamu gak bersedia, kamu gak perlu bicara sekarang. Tapi, saya harap kamu bersedia, karena hal ini dapat membantu penyelidikan ini”
Leon mengangguk.
Semua mata menuju ke arah Leon, bersiap mendengarkan apapun yang kira-kira akan menjadi petunjuk.
“Jadi, kapan terakhir kali kamu ketemu Sisil?”
Tanpa berfikir terlalu lama, Leon menjawab. “Kemarin, pagi”
“Dimana?”
“Di sekolah, waktu Sisil ditemukan meninggal”
Semua terdiam.
“Sebelumnya kamu ada ketemu Sisil?”
Leon mengangguk. “Terakhir? Kemarin, pas pulang sekolah”
“Oiya, belakangan Leon dan Sisil sering pulang bareng, Mas” Mama Leon menjelaskan kepada Inspektur Jusuf.
“Yang kamu pulang telat? Itu kamu bareng sama Sisil?”
“Enggak, Pa”
“Kenapa kamu pulang telat, sampe malam begitu?”
Kali ini, Papa Leon mencoba menginterogasi anaknya juga.
“Itu... Aku cuma nyari udara segar”
“Nyari udara segar? Apa maksud kamu?”
“Aku bilang ke Sisil, aku pulang sendiri aja, setelah itu, aku duduk di taman di jalan xxx”
“Kamu sampe malam disitu?”
Leon mengangguk. Sebenarnya, Papa Leon ingin sekali memarahi anaknya, tapi karena ada Inspektur Jusuf, niatnya diurungkan.
“Sisil pernah ada cerita ke kamu? Cerita yang jadi pikiran bagi Sisil?”
Leon menggeleng.
“Sisil pernah nyebut nama seseorang yang kamu kenal? Atau gak kamu kenal?”
Lagi, Leon menggeleng.
“Pernah gak, Sisil nyeritain kalo dirinya ada masalah sama seseorang? Masalah apapun itu?”
Masih, Leon memberikan tanggapan dengan diamnya, hanya gelengan.
“Kalau kesal? Sisil ada cerita, pernah kesal sama seseorang?”
“Nggak ada. Sisil gak pernah benci sama orang, dan gak pernah dibenci juga”
Kali ini, jawaban Leon menjadikan Inspektur Jusuf terdiam. Beliau langsung menghentikan pembicaraan mengenai Sisil.
Inspektur Jusuf beranjak dari duduknya, dan meminta izin untuk undur diri. Dirinya masih memiliki banyak pekerjaan di luar sana, terkhusus di sekolah Leon dan Sisil.
Keluarga Hutama dan Inspektur Jusuf merupakan teman sejak di jaman orang tua Leon masih sekolah. Mereka merupakan teman sekelas yang cukup dekat satu sama lain, bahkan hingga saat ini.
Inspektur Jusuf keluar dari rumah keluarga Hutama. Dirinya memerhatikan halaman rumah keluarga Hutama yang dihiasi banyak bunga.
Sebenarnya dirinya sangat asing melihat bunga-bunga itu, karena Ia bukan tipe orang yang menyukai tumbuhan.
Namun, Ia merasa seperti pernah melihat bunga-bunga itu. Ia bahkan berhenti sejenak untuk memerhatikan lebih dekat, bunga jenis apa itu.
Disentuhnya dengan lembut bunga yang memiliki ragam warna dan jenis. Berbeda-beda di setiap pot yang tersusun rapi, dan beberapa ada yang ditanam di tanah.
Ia merasa sangat, sangat, sangat tidak asing, setelah melihat dari dekat. Hanya saja, Ia tidak yakin apakah bunga itu merupakan jenis bunga yang sama dengan yang Ia selidiki saat ini.
Melihat Inspektur Jusuf berhenti tepat di dekat taman kecil di rumahnya, Papa Leon memanggilnya dan bertanya. “Sif, kenapa?”
Ia mengira ada sesuatu yang mengganggu Inspektur Jusuf. Namun Inspektur Jusuf hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman singkat.
Saat evakuasi Sisil berlangsung beberapa hari lalu, tim olah Tempat Kejadian Perkara menemukan sesuatu yang kemungkinan dapat menjadi petunjuk dalam penyelidikan ini.
Inspektur Jusuf menemukan sebuah tangkai, di dekat dimana tubuh Sisil ditemukan.
Pada awalnya, Inspektur Jusuf mengira bahwa hal itu hanya merupakan tangkai biasa, dan tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Sisil. Namun, bukan Inspektur Jusuf namanya jika mengabaikan hal-hal kecil yang kemungkinan memiliki nilai penting dalam suatu kejadian.
Ia memerhatikan tangkai itu, dilihatnya masih terdapat beberapa kelopak berwarna putih yang telah berguguran. Di beberapa bagian kelopak yang masih menempel pada tangkainya, terdapat noda darah.
Melihat noda darah itu, Inspektur Jusuf semakin yakin, bahwa tangkai bunga ini kemungkinan besar dapat menjadi petunjuk dalam kejadian ini.
Ia langsung membawa tangkai itu, memasukkannya ke sebuah wadah plastik dengan zipper, yang biasa digunakan untuk menyimpan barang yang kemungkinan akan menjadi barang bukti.
“Dok, bantu saya cari tahu bunga apa ini” pintanya saat memasuki ruangan kerja dr Paula.
Dr Paula merupakan seorang dokter forensik yang telah mengabdi begitu lama pada rumah sakit, dan juga kepolisian.
Dirinya banyak membantu autopsi di beberapa kasus kriminal. Sifatnya yang begitu teliti, memberikannya prestasi besar di bidang forensik.
Dr Paula awalnya merasa aneh melihat temannya, Inspektur Jusuf, membawa setangkai bunga yang telah berguguran. Dirinya bahkan merasa sedikit kesal, kenapa pria ini menambah pekerjaannya saja, hanya untuk mencari tahu setangkai bunga yang telah berguguran itu.
“Itu dari mana?” Dr Paula bertanya, namun masih fokus melakukan pekerjaannya yang lain.
“Aku nemu ini di dekat tubuh Sisil”
Dr Paula menoleh, terkejut dan terdiam memberikan ekspresi terkejut kepada Inspektur Jusuf.
“Kamu udah selesai autopsi Sisil?”
Dr Paula mengangguk. “Sepertinya akan ada pemeriksaan ulang, aku gak yakin penyebab kematiannya karena trauma benturan di kepala”
“Hasil autopsi udah keluar?”
Dr Paula menggeleng. “Belum, masih akan dikirim besok ke pihak kepolisian”
“Malang banget nasib kamu, Nak” Dr Paula memerhatikan foto Sisil yang ada di atas meja kerja Dr Paula.
“Buruan bantu cari tahu bunga ini, biar kita bisa bantu Sisil”
Diambilnya wadah plastik dari tangan Inspektur Jusuf. Dilihatnya dengan seksama, diperhatikannya dari jarak dekat.
Mustahil untuk bisa mengetahui jenis bunga itu hanya dengan sekali lihat, terlebih kelopak pada bunga itu telah berguguran. Bentuknya yang tidak utuh menjadikan dr Paula harus bekerja ekstra untuk mencari tahu bunga itu.
“Suf, aku bukan orang yang hobi sama bunga-bungaan. Jadi, aku minta bantuan temenku tentang bunga ini. Kemungkinan ntar sore aku bakal hubungi kamu soal bunga ini”
Inspektur Jusuf mengangguk dan pamit dari ruang kerja dr Paula.
Kemudian dirinya balik lagi. Berniat untuk menceritakan sesuatu.
“La, aku tadi abis dari rumah John Hutama, kamu masih ingat kan?”
“John? Suaminya Helen?”
Inspektur Jusuf mengangguk.
“Masih lah. Helen itu sahabat ku waktu sekolah dulu”
“Oh iya, berarti masih sering kontak sampe sekarang?”
“Ya begitu lah. Suaminya Helen tuh ketat banget, jadi Helen jarang ikut reunian, bahkan sama kami yang dulu sering main bareng”
Mereka ternyata telah saling mengenal satu sama lain. Kesibukan dan rumah tangga mereka, menjadikan hubungan mereka renggang.
“Kamu ngapain ke rumah mereka? Ada acara?”
“E-engga, aku ... eum ... Cuma berkunjung biasa”
Inspektur sengaja menyembunyikan niat aslinya pada pertemuan itu, Ia tidak ingin menyebabkan dr Paula nantinya akan berasumsi bahwa dirinya sebenarnya mencurigai sesuatu.
Sebenarnya, sampai hari ini, belum ditemukan seseorang yang dicurigai, bahkan Inspektur Jusuf merasa sangat stres mengetahui bahwa dirinya belum mendapat titik terang pada kasus ini.
Dirinya bingung, tidak biasanya dirinya seperti ini.