“Bri mau main sama Leon, ya? Leon belum pulang sekolah, nak”
Sepertinya Leon belum mengetahui jika jadwal sekolah Leon sudah kembali seperti biasanya. Leon juga akan segera mengikuti ujian akhir sekolah, setelah itu akan mulai fokus mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi.
Anak manis itu berdiri di depan pintu rumah keluarga Hutama. Wajahnya berekspresi bingung dan sedikit bersedih, karena teman bermainnya belum pulang sekolah.
“Masuk dulu mau? Sebentar lagi Leon pulang kok.” Mama mempersilahkan Bryan untuk menunggu di dalam rumah.
Sudah pasti Bryan akan menolak, karena walaupun Bryan sudah akrab dengan keluarga Hutama, pasti Ia tidak mau menunggu sendirian tanpa ditemani Leon.
“Leon! Itu Leon!” Bryan kegirangan kala melihat pagar rumah keluarga Hutama terbuka dan menampilkan Leon.
Leon berjalan dengan wajah sedikit babak belur, hasil luka kemarin. Ia terlihat lesu, mungkin kecapekan karena baru saja selesai beraktivitas.
Ia lebih dulu menyalami mamanya, membiarkan Bryan yang sejak tadi meneriakkan namanya. Bryan ingin sekali bermain, sepertinya.
“Kok cepat pulangnya, nak?”
Leon tidak merespon. Ia terlihat mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah, memberi tanda bahwa dirinya begitu penat dan kepanasan.
Bryan mengikuti Leon ke kamarnya. Leon sama sekali tidak menolak, maupun menerima ajakan bermain Bryan sejak tadi.
“Muka kamu kenapa?”
Leon hanya diam. Meletakkan tas sekolahnya di kursi belajarnya.
“Kamu berantem sama siapa?”
Leon masih diam, mulai mengganti seragam sekolahnya.
“Leon sekarang gak bisa berbicara ya?”
Leon tidak menjawab sepatah katapun, dirinya berjalan memasuki kamar mandi, bersiap untuk membersihkan diri.
Bryan kesal, dirinya di tinggal sendirian. Meskipun sebenarnya Leon masih berada di kamar, hanya saja sedang di kamar mandi.
Suara guyuran air terdengar mengisi seluruh kamar Leon. Bryan duduk di atas kasur Leon, tanpa melakukan apapun.
Ia hanya memikirkan apa yang terjadi dan menyebabkan wajah sahabatnya itu menjadi seperti itu, aneh sekali pikirnya. Lagipula, Ia masih mengingat dengan jelas, pesan Leon tentang tidak menyentuh barang milik orang sembarang tanpa seizin pemiliknya. Jadi, Ia hanya bisa duduk terdiam di atas kasur Leon.
Leon keluar dari kamar mandi. Menampilkan torsonya yang masih belum terbalut apapun. Ia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Wajahnya kini sudah cerah, dan mulai tampak senyum mengembang di wajahnya. Sepertinya air kamar mandinya telah membantu menyegarkan raga dan jiwa Leon.
Bryan saksikan wajah temannya yang mulai tampak segar dan bersih, meskipun masih menyisakan lebam serta luka-luka kecil yang mulai mengering.
“Kenapa badan kamu semuanya ada warna kayak gitu, Leon?”
“Kamu mau dengar ceritaku?”
Bryan mengangguk antusias. Meskipun Bryan agak sulit diajak berbicara,karena terkadang tidak nyambung,namun Leon senang berbincang dengannya, menceritakan cerita-cerita yang dilaluinya setiap hari. Alasannya adalah karena Bryan satu-satunya teman yang tidak menghakiminya, tidak menentangnya, dan terkadang akan mendukungnya.
Wajar saja, Bryan berlaku demikian karena Bryan hanya ingin Leon selalu menjadi temannya. Satu-satunya cara untuk tidak kehilangan Leon adalah dengan menjadi teman terbaik bagi Leon.
Persahabatan mereka lebih lama dibandingkan dengan waktu pertemanan Leon dengan Sisil. Meskipun Sisil dan Leon dikatakan berteman dekat, terkadang mereka masih bersikap kompetitif satu sama lain.
Leon menceritakan beberapa inti kejadian sehari yang lalu, yang menyebabkan tubuhnya berwarna seperti yang dipertanyakan oleh Bryan.
Mendengar cerita dari Leon, Bryan hanya bisa meringis. Tiba-tiba, air mata jatuh membasahi pipinya. Hampir saja Ia akan menangis kencang.
“Eh kenapa kamu yang nangis? Ada yang sakit? Apasih, Bri?”
Bryan masih menangis dengan sedikit teriakan keluar dari mulutnya.
“Aku benci ... hiks ... huwaaa ....” Tangisnya semakin keras.
“Eh, Bri!” Leon membentak Bryan, tanpa sadar.
“Aku benci sama papa kamu”
Tangisnya mereda, kemudian Ia tahan tangisnya akibat bentakan Leon tadi.
Entah kenapa, Leon sekarang seperti gampang sekali kehilangan kesabaran saat menghadapi Bryan.
“Udah! Jangan nangis lagi!”
Leon masih meninggikan nada suaranya berbicara kepada Bryan.
Mau tidak mau, Bryan harus berhenti menangis, sebelum nada bicara Leon semakin meninggi.
....
Sepulang sekolah, Leon menuju ke tempat dimana Ia belajar renang. Leon telah mengikuti kursus berenang sejak kecil, beberapa kali dirinya mengikuti perlombaan renang dan menjadi pemenang.
Ia terlihat terdiam dan merenung di tepi kolam. Matanya menatap entah apa, padahal hanya terdapat air yang ada di depannya.
“Leon....” Pelatih renang mendatanginya.
Leon menoleh.
Pelatih berusaha menyampaikan bela sungkawanya, karena Leon baru saja kehilangan teman dekatnya. Mereka berbincang-bincang sebelum memulai sesi latihan.
“Bapak mau nyampein, bakal ada perlombaan renang. Kali ini, hadiahnya luar biasa dan tingkat nasional juga ini. Bapak harap kamu mau ikut dan menang. Gimana?”
Leon terdiam. Dirinya cukup malas melanjutkan apapun yang biasanya Ia lakukan. Saat ini keinginannya hanya ingin melanjutkan menulis, menjauh dari orang-orang dan mengikuti keinginannya sendiri.
“Leon?”
“Hah? Ya, eh ... eum ... Leon tanya mama dulu,” jawabnya singkat.
Pelatih tentunya keheranan melihat tanggapan yang diberikan oleh Leon. Biasanya, Leon berbicara dengan ramah dan sopan, kali ini sepertinya berbeda.
“Yaudah, mulai latihan saja. Saya masih harus urus anak-anak yang itu, kamu latihan sendiri dulu”
Bagaimana bisa menang jika berlatih sendiri seperti ini, batin Leon.
“Leon! Jangan malas-malasan begitu! Gimana mau menang, yang benar latihannya!”
Pelatih berteriak cukup keras, hingga seisi ruangan itu mampu mendengar jelas apa yang Ia katakan pada muridnya itu. Leon yang sedang duduk di kursi di pinggiran kolam, Ia sedang istirahat dan minum, namun pelatih meneriakinya seperti itu.
Leon merasa malu, orang-orang mulai melihat ke arah Leon, menatapnya dengan ekspresi yang cukup tidak mengenakkan.
Ia menjejakkan kakinya ke kolam, melawan rasa kesal, capek, dan marah karena telah dibuat malu oleh pelatihnya yang selalu membebaninya.
Latihan renang telah menjadi rutinitas Leon sejak kecil. Biasanya, begitu memasuki waktu pulang sekolah, Leon akan langsung datang ke kolam yang biasa menjadi tempat latihannya.
Leon latihan renang hingga hari hampir malam. Ia akan tiba di rumah saat waktu makan malam, setelah itu dirinya langsung mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Hari ini juga sama, Leon pergi ke sekolah hingga sore, kemudian melanjutkan latihan berenang hingga hari mulai gelap. Saat tiba di rumah, Ia langsung bersiap untuk mengerjakan tugas.
“Nak, kamu gak makan malam?”
Mama Leon mengetuk pintu kamar Leon, dan menanyakan anaknya. Tidak ada jawaban, karena Leon sedang di kamar mandi, dan sepertinya tidak mendengar suara mamanya.
Makan malam dihiasi oleh suara berita terkini dari televisi. Malam ini, beritanya mengenai kelanjutan kasus Sisil.
Terlihat cuplikan video yang menampilkan ibu Sisil sedang marah-marah kepada seseorang.
Melihat itu, mama Leon langsung mengambil remote control untuk menambah volume televisi. Ia sangat ingin mengetahui dengan jelas kelanjutan dari kasus yang menimpa teman dekat dari anaknya itu.
“Oalah, yaampun ngeri banget sekarang ya, Pa”
Sang suami hanya mengangguk. Dirinya ikut memerhatikan televisi.
“Sepertinya saya pernah membaca sesuatu yang mirip dengan kasus Sisilb tapi saya lupa dimana membacanya”
“Baca? Papa baca koran kali?”
Suaminya terlihat berusaha mengingat-ingat apa yang dibacanya, namun Ia segera menghentikan niatnya untukembicarakan itu dengan istrinya, saat dirinya sudah mengingat apa yang dibicarakannya tadi.
“Leon!! Leon! Turun dulu, Nak.”
Teriakan mama Leon menghiasi rumah keluarga Hutama. Suaranya yang keras itu beradu dengan suara berita dari televisi.
“Sini lihat. Itu ada berita baru tentang Sisil, nak.”
Leon berjalan menuruni tangga. Memegang gelas di tangan kanannya, dan ponsel di tangan kirinya.
Ia berdiri menghadap televisi. Menyaksikan berita lanjutan yang tadi diberi tahu oleh mamanya.
“Loh gimana maksudnya?” Mama Leon bingung melihat berita yang disampaikan.
“Si perempuan itu marah ke orang yang masih jadi saksi, bukan tersangka, tapi dia langsung menuduh bahwa laki-laki tua itu tersangka pembunuhan anaknya. Kamu yang nonton beritanya, tapi kamu yang tidak paham”
Papa Leon mencoba menjelaskan di sela kegiatan makannya.
“Yaampun. Pasti ibu Sisil frustasi banget, kasus anaknya gak selesai-selesai udah lebih dari dua minggu”
“Kamu juga begitu?”
“Apanya begitu?”
“Kalau itu anakmu, kamu juga beg-....”
“Pa ih amit-amit. Jangan bicara sembaranganlah....”
“Ngapain sedih, anakmu kan pembohong, ngecewain orang tua terus”
Leon mendengar kalimat itu langsung dari mulut papanya sendiri. Malam ini, sudah benar niatnya untuk tidak bergabung makan malam bersama pria itu, namun Ia salah mengambil langkah saat rasa penasaran kala sang mama memanggil.
“Pa....” Mama Leon berusaha menghentikan perkataan suaminya yang dapat menyakiti hati anak tercintanya.
“Saya kan bicara benar”
“Pa, udah....”
Sang istri meminta suaminya untuk tidak lagi berbicara buruk mengenai anaknya. Meskipun, apa yang dibilangnya adalah benar, tapi tetap saja itu akan memperburuk hubungan antara papa dan anak itu.
Leon membantu mamanya membereskan bekas makanan di meja makan. Meskipun dirinya tidak ikut makan malam.
Malam ini, Leon memilih untuk makan malam di kamarnya. Ia terlalu malas untuk bertemu papanya dalam waktu lama.
“Udah, kamu belajar aja sana. Biar mama yang urus ini”
“Ma, aku mau cerita”
“Cerita apa, nak?”
Keduanya masih dengan rajin mencuci peralatan bekas makan di wastafel dapur.
Leon pun menceritakan tentang permintaan pelatih renangnya. Menceritakan dengan singkat dan detil. Dirinya tidak banyak berbicara belakangan ini.
“Kamu mau? Bagus kalau kamu bisa menang lomba. Coba aja ikut”
Leon diam. Ia berpikir bahwa orang-orang menggunakan dirinya untuk menang dalam setiap kompetisi.
Memang bagus, jika banyak yang mendorongnya untuk menang, menjadikan hal itu sebagai motivasi. Tapi, semua yang Ia temui hanya memintanya untuk menang, tanpa memikirkan keinginan sesungguhnya dari dirinya.
Kursus berenang, merupakan keinginan sang papa. Dulu, saat Leon masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, papanya yang memasukkannya ke kursus berenang.
Leon menolak sebenarnya. Namun, tidak ada yang bisa Ia lakukan selain menerima. Masih terlalu kecil dirinya untuk menolak. Toh, biaya dan fasilitas didapat dari orang tuanya.
Ia menginginkan sesuatu yang bersifat jantan. Sejak kecil Ia sering menonton film dengan tema bela diri. Dirinya menyukai film aksi dan beberapa kali meminta untuk masuk kursus bela diri.
Papa Leon yang tidak ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang menyelesaikan apapun dengan tindakan aksi seperti bela diri, Ia pun melarangnya.
Berkali-kali Ia menentang anaknya untuk mengikuti kursus bahkan ekstrakulikuler di sekolah yang berhubungan dengan bela diri.
Ia menganggap, latihan bela diri hanya akan menyakiti diri sendiri dan menyebabkan diri menjadi tidak sabar menghadapi masalah. Terlalu dangkal ternyata pemikiran pria paruh baya ini.
Padahal, hal yang tidak diinginkannya menguasai mindset anaknya, ada dalam mindset dirinya.
Ia tidak ingin anaknya jadi keras kepala dan menyakiti dirinya dan orang lain karena kemampuan bela diri tersebut, padahal dirinya sendiri sering menyakiti anak dan istrinya. Entah bagaimana pola pikir yang ditanamkan di kepalanya.
Krieet... pintu kamar Leon dibuka.
Ia langsung mengunci kamarnya, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah menyelesaikan makan malam.
Ya, setelah mencuci piring dan curhat sejenak bersama sang mama, Ia makan malam di kamarnya.
Menikmati masakan sang mama. Sebenarnya ini sudah cukup larut bagi Leon untuk menyantap makan malam.
Ia termenung melihat ke atas langit-langit kamarnya. Lampu telah dimatikan, pintu telah dikunci, namun jendela kamar Ia buka dan menyisakan tirainya terhembus oleh angin malam.
Dilihatnya langit malam yang begitu gelap. Ia menyesali hidupnya di sela mengagumi ciptaan Tuhan.
Ternyata, seseorang yang mendukungnya selama ini hanya menginginkan dirinya untuk menang. Ia tersadar bahwa tidak ada hal lain di dunia ini selain memenangkan kompetisi.
Ia ingin menang, namun menang dalam artian dirinya bisa mengikuti apapun yang diinginkan oleh dirinya sendiri, dan bukan karena menuruti keinginan orang lain.
Di tengah sesi termenung, Ia teringat oleh kasus Sisil. Di berita tadi, dijelaskan bahwa satu orang yang selama ini menjadi saksi, kini diduga akan menjadi tersangka.
Meskipun masih belum jelas, namun pihak penyelidikan akan mengiterogasi secara eksklusif si saksi yang dimaksud.
Hal itu memberi rasa lega pada Leon. Akhirnya telah ada satu orang yang dapat dicurigai.
Akhirnya, kasus kematian Sisil telah satu langkah lebih dekat pada ujungnya.