Nightmare

2208 Words
“Loh, tante? Sama siapa tante kesini?” Ravi tiba-tiba menyapa mama Leon. Mereka bertemu di super market di kota mereka. “Hei, Ravi. Sama Leon, tapi dia nunggu di foodcourt” “Oh, ya. Tante gimana kabarnya?” Leon menyalami mama Leon. Mereka berbincang cukup banyak dan memakan waktu yang lumayan lama. Bahkan, Ravi yang sebenarnya telah selesai berbelanja masih saja mengikuti mama Leon untuk dapat mengobrol. “Leon gimana tante? Aku udah lama banget gak kabar-kabaran” “Leon? Loh, tante kira kamu selama ini kontakan sama Leon, soalnya dia sering pulang telat, biasanya kan sama kamu-....” “Hah? Engga kok, Tante. Aku udah lama banget gak kabar-kabaran sama Leon. Bahkan saat temannya meninggal, pesanku masih belum dibalas” “Ah, masa iya?” “Iya, Tante. Nih coba tante lihat pesannya” Ravi menunjukkan isi pesan teks antara dirinya dengan Leon. Mereka memutuskan berhenti sejenak di dekat rak peralatan mandi, hanya untuk bercerita. “Oh ya. Kenapa ya? Leon memang belakangan ini tuh sibuk belajar, Vi. Jadi maafin ya, Leon jadi jarang ngehubungi kamu” “Oh ya, Tante. Gak apa-apa kok” “Ngomong-ngomong, Leon belum ada ngasih naskah cerpen baru buat diterbitkan? Tante heran juga, kok dia gak keliatan seperti sedang dikejar deadline nulis” “Belum ada, Tan,” jawab Ravi singkat. Seketika teringat di ingatan Ravi, mengenai keinginannya menulis buku dengan genre thriller yang sempat dilarang oleh papanya. “Tante ... ehm ... Leon ada cerita gak ke tante? Tentang novel?” “Novel?” Ravi mengangguk. Ia mulai melihat ke sekeliling, takut jika Leon tiba-tiba mendengar percakapan mereka. “Jadi, waktu kapan tuh ya, Tan. Aku lupa kapannya, tapi aku inget banget, Leon pernah minta aku mentorin dia nulis novel” “Wah, bagus dong. Terus gimana?” “Terus, aku gak ngerti sih, itu Leon beneran atau Cuma main-main kan, Tan. Tiba-tiba banget dia katanya dapet e-mail dari penerbit xx. Tante tau kan?” “Penerbit xx?” Mama Leon menggeleng, tanda dirinya asing dengan nama penerbit xx yang Ravi bicarakan. Leon melanjutkan. “Penerbit xx tuh biasa nerbitin novel misteri, thriller, crime, pokoknya yang gelap-gelap gitu temanya, Tan” Mama Leon mengangguk, tanda dirinya mulai masuk sepenuhnya ke pembicaraan ini. Ia tentu heran, kenapa Leon bahkan tidak memberitahu mengenai hal ini kepadanya, padahal biasanya apapun yang Leon alami, mamanya pasti menjadi saksi pertama yang diberitahu oleh Leon. “Nah, itu waktu itu ... ehm ... Leon minta mentorin nulis dengan genre kek gitu, Tan. Aku gak tau, apakah dia sekarang nulis secara mandiri atau nyari mentor baru, soalnya-....” Mama Leon memotong bicara Ravi. “Nulis genre kayak gitu? Kok Leon ... terus, gimana?” “Aku sempat nanya kabar kelanjutan dari niatnya Leon nulis itu, tapi gak dibalas, jadi aku gak tau Tan, apakah Leon benar nulis itu” Kecewa rasanya melihat sang anak telah berubah. Di satu sisi, dirinya sadar bahwa anaknya kini telah dewasa, telah memiliki privasi untuk dirinya sendiri, telah menetapkan batasan antara orang tua dengan diri anaknya sendiri. Tapi, di sisi lain dirinya merasa kecewa. Mengetahui anaknya melakukan sesuatu tanpa mendiskusikan dengan dirinya. “Kamu sebenarnya nolak permintaan Leon, atau dukung dia?” “Aku? Aku nolak lah, Tante. Aku masih inget sama pesan Om John, untuk gak buat cerita-cerita dengan genre itu. Makanya aku terus terang banget ngomong kalo aku gak berani bantu Lein, tapi semenjak itu kayanya dia jadi jarang konsul lagi tentang cerpennya” “Tante juga sebenarnya gak masalah, kalau misalnya Leon mau nulis yang kayak gitu, tapi papanya kan gak ngizinin, jadi tante bingung juga” “Iya, Tan. Aku takut jadi dimarahin om John, gak enak juga ntar Leon jadi imajinasinya kemana-mana karena itu, karena kan dia pasti harus ada referensi, minimal ada dua sampai tiga buku ya, Tan” “Bener juga. Makasih ya, Ravi. Kalau gak ketemu kamu, pasti tante sampe sekarang bingung mau ngobrolin tentang Leon sama siapa” “Tapi, Leon baik-baik aja kan, Tan?” “L-Le-on baik ... cuma ... ya gitu, tante juga gak paham. Belakangan dia jadi sering merenung, murung juga. Mungkin karena masih sedih kehilangan Sisil. Tante cuma bisa pantau pelan-pelan, soalnya takut anaknya risih kalo tante tanya-tanyain, mungkin dia lagi pengen sendiri” “Oalah begitu ya, Tan. Kalau sekolahmya gimana, Tan? Baik-baik aja kan? Maksudnya gak ada masalah?” “Sekolah baik, tapi pernah kemarin dia dapet surat panggilan orang tua, jadi tante harus ke sekolahnya” “Surat panggilan orang tua, Tan? Kok bisa?” “Iya, ternyata belakangan ini, Leon sering bolos kelas san terlambat masuk kelas juga. Tante heran, selama ini memang Leon sering bangun kesiangan, susah banget dibanguninnya tuh, padahal biasanya gak gitu” “Jadi, om John gimana, Tan?” “Marah dia. Tapi Leon sempet cerita kalo dia begadang karena terlalu khawatir dengan ujian sekolahnya yang sebentar lagi, juga dia kemarin remedial kan, tante khawatir dia tertekan juga di sekolah, karena terlalu ngekhawatirkan ujian-uji-....” “O-oh ... L-Le-on ...” Ravi terkejut kala melihat Leon sudah bergabung di antara mereka bertiga. Sebenarnya, tidak ada hal aneh yang mereka bicarakan, namun entah kenapa, suasana berubah menjadi canggung dan lebih ke menyeramkan. Seakan semuanya gelap, saking takutnya akan kedatangan Leon. “Loh, kamu kok tau mama disini?” Leon diam. Dirinya menatap datar kepada Ravi. Ravi menyapa Leon. “Leon! Kamu susah banget balas chat kakak, kenapa sih?” Ravi hanya berusaha mencairkan suasana. Padahal biasanya mereka sangatlah kompak. Tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Namun, kali ini mereka bahkan sulit sekali saling menyapa. “Sibuk,” jawab Leon sekenanya. Benar saja, dirinya kan sedang sibuk menulis novel tanpa bimbingan dari siapapun. “Sebentar, biar mama bayar ini dulu ke kasir. Kamu tunggu sini sana Ravi ya” Leon langsung berjalan mengambil alih trolley yang sejak tadi dipegang oleh mamanya. Mama Leon keheranan, lagi. Dirinya aneh melihat anaknya yang tidak ramah terhadap Ravi. Padahal biasanya, Leon akan sulit diajak pulang jika sudah bertemu dengan Ravi. “Kita duluan ya, nak!” Mama Leon melambaikan tangan dan mengelus lengan kekar milik Ravi yang sudah dianggapnya anak sendiri. Sesungguhya, Ia melakukan itu karena rasa tidak enak terhadap sikap sombong anaknya tadi. “Mama ngobrol apa aja sama Kak Ravi?” “H-hah? Enggak- enggak ada sih, Cuma nyapa biasa” dalih sang mama. Kini, mereka berdua telah berada di mobil. Leon duduk di kursi kemudi, sedangkan mama berada di sebelahnya. Keduanya diam. Keadaan mobil menjadi hening, setelah Leon menanyakan pertanyaan itu. Padahal, tadi dirinya cuek akan kehadiran Ravi, tapi sekarang Ia menanyakan hal itu. Berarti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, Ia seperti ingin mengetahui pembicaraan mamanya dengan Ravi, apakah membicarakan keinginannya tentang novel itu atau tidak. Tidak ada hiburan apapun di mobil. Suara yang terdengar hanya klakson mobil dan motor serta ributnya suara kenderaan di luar sana yang menembus baja yang sedang dikendarai Leon. Tiiinnnnnnnnnnnnnn!! Suara klakson mobil ditekan cukup lama. Menghasilkan suara nyaring yang cukup panjang, menusuk telinga. “Nak! Pelan-pelan aja” Mama Leon tentu saja ketakutan melihat tingkah anaknya di jalanan seperti ini. Tidak biasanya anaknya mengedepankan emosi dirinya jika di jalan. Lagi, sikap tidak biasa oleh Leon terlihat langsung di depan mamanya. Apakah Leon marah hanya karena mamanya tidak memberitahu mengenai perbincangan dirinya dengan Ravi? Atau Leon marah karena terlalu lama menunggu? Entahlah... .... “L-Le-on ... t-tolong....” Sisil memohon dengan suara terbata. Tangannya berusaha menggapai apapun yang ada di hadapannya. Sisil berusaha keras untuk bergerak, namun sia-sia. Posisinya yang menyebabkan sulit untuk bergerak dan bernafas, sehingga dirinya hanya bisa menatap. Meneteskan air mata bersamaan dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya. Ia masih berusaha keras menggerakkan tangannya, meskipun posisinya sudah hampir terlipat ditimpa tubuh sendiri. Sisil menatap pria yang disayanginya, Ia tersenyum, berharap di saat terakhir hidupnya ini dirinya dapat menghabiskan waktu untuk merekam wajah tampan yang selalu jadi kesukaannya. Senyumnya semakin merekah, matanga masih memancarkan kecantikan, meskipun kelopak mata hampir terkelupas dan terhiasi jejak merah. Sisil tersenyum seperti seorang yang kehilangan akal, kemudian tertawa keras. “Hahahahaha ... tolong ... tolong aku, Leon!!!” Malam itu, jeritan Sisil membangunkan Leon dari tidurnya. Nafasnya sesak, d*adanya naik turun, jantungnya berdetak begitu kencang. Ia bangun dan terduduk di kasurnya. “Huh ... huhhh” Leon berusaha menetralkan nafasnya. Keadaan kamarnya yang gelap, karena memang kebiasaan tidur Leon adalah mematikan lampu kamar. Ia menengok kesana-kemari, menelusuri seisi kamar. Ia takut, jika Sisil iseng mengganggu dirinya malam ini. Dengan jelas dirinya mendengar suara jeritan Sisil, nafas Sisil yang terengah, bahkan kepalanya saat ini dipenuhi dengan senyuman Sisil yang dilihatnya. Untung cuma mimpi, batinnya. Ia mengelus d*adanya sendiri. Leon berjalan menuju meja belajarnya. Ia memiliki kebiasaan menyediakan botol minum berisi air untuk Ia minum jika terbangun di tengah malam. Glek... glekk... Air yang dingin itu mengalir di tenggorokan Leon. “Leon, tolong aku....” Terdengar bisikan yang sangat familiar di telinganya. Leon menoleh ke arah jendela kamarnya yang menghadap keluar. Botol minum terhempas, saking terkejut dirinya. Mematung. Berdiri mengamati jendela kamarnya, yang entah sejak kapan tidak tertutup. Tirai tipis yang menutupi jendelanya, bergoyang dihembus oleh angin. Angin cukup kencang malam ini. Mengumpulkan keberanian diri, Leon memutuskan untuk mengecek apa yang ada di balik jendela. Ia berjalan, pelan, dan cukup pelan. Hingga tiba-tiba.... “Hahahahaha....” Suara tawa dari Sisil terdengar menghiasi kamar tidur Leon. “Aaaaaaaaahhhh....” Leon terduduk di kasurnya. Hanya mimpi, lagi. Ia menetralkan nafasnya. Berjalan menuju meja belajarnya, meraih sebuah botol minum.... Leon terdiam, saat botol minum hampir bertemu dengan bibirnya... . “Nak ... lihat deh, kenapa ya bunga-bunga mama seperti ada yang memotong?” tanya sang mama kepada anaknya yang sedang duduk merenung di teras rumah. Leon hanya diam. Beberapa hari ini, Leon sepertinya cukup diam, dan tidak terlalu menanggapi mamanya. “Kamu kenapa?” Leon hanya menggeleng, dan berjalan masuk ke kamarnya. Mama Leon merasa heran, namun Ia mengira jika anaknya itu sedang pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan saat menuju ujian-ujian nanti. Wanita paruh baya itu membereskan tamannya. Sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan tamannya ini. Bunga-bunga terlihat seperti dipetik dan bahkan ada yang dipotong menggunakan pisau atau gunting taman, jika dilihat dari bekas potongannya. Merasa sedih, mama Leon membereskan sendiri kerusuhan itu. Ia kesal, namun tidak ada yang dapat disalahkan. Sekalian membereskan keadaan taman yang berantakan, mama Leon berniat untuk merapikan kembali tamannya. Ia bahkan mengganti susunan pot bunga yang waktu itu telah dirapikan oleh anaknya, dibantu dengan Bryan. Merasa kurang puas dengan susunan yang berantakan karena bunga-bunga yang tercabut itu seperti merusak pemandangan, Ia menggeser sendiri susunannya. “Duhhh ... Leon!” panggilnya untuk meminta sang anak membantu merapikan taman. Panggilan dari mamanya itu tidak ada yang menggubris. Jelas saja, Leon pasti sudah berada di kamarnya di lantai dua, sedangkan mamanya berada di halaman rumah keluarga Hutama. “Mama? Kenapa angkat-angkat itu?” Bryan yang baru saja turun dari mobil, bertanya kepada mama Leon. Mama Leon mendongak. Dirinya kini sedang membungkuk, berusaha mengangkat pot yang cukup besar. “Ha? Huh ... huh ... ini mama mau ngerapiin ini” “Emang itu kenapa harus dirapiin?” Bryan mulai membuka pagar rumah keluarga Hutama. Meninggalkan mamanya sendiri memarkir mobil ke halaman rumah mereka. Ia mulai mendekat ke mama Leon. “Bryan ada lihat seseorang mendekati taman ini tidak?” Bryan menggeleng. “Mendekat kenapa?” “Maksud mama, Bryan ada lihat orang yang berusaha merusak taman?” Lagi, Bryan menggeleng. “Merusak taman untuk apa?” Ternyata, Bryan kurang paham dengan pertanyaannya. Mama Leon langsung melanjutkan kegiatannya merapikan taman. Membiarkan Bryan berdiri memerhatikan dirinya. “Ma, aku mau main sama Leon, boleh?” “Bo-leh,” Mama Leon terbata karena dirinya sedang mengangkat beban berat. “Masuk aja, Bri. Tapi, kalau Leon tidur, jangan diganggu ya” Bryan mengangguk. Dirinya langsung berjalan dengan ceria menuju rumah dan langsung mendatangi kamar Leon. Tok... tok... tok.... tok... tokkkkk.... Ketukan pintu itu persis ketukan milik Bryan. Leon pasti sudah mengetahui siapa pemilik ketukan itu. Bryan membuka pintu itu pelan, Ia masih mengintip di sela pintu yang terbuka. “Hiks ... hiks....” Bryan berjalan sambil mengepalkan tangannya, mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia berjalan dengan cepat menuju pintu depan rumah keluarga Hutama. “Loh, Bri. Kenapa?” Mama Leon yang sedang menyantap teh krisan yang Ia seduh barusan, dirinya masih terlalu lelah untuk mengejar Bryan. Bryan keluar dari rumah keluarga Hutama sambil menangis. Tangisannya pelan, namun jelas bahwa dirinya menangis entah karena apa. Terlihat di depan pagar rumah keluarga Hutama. Sebelum Bryan membuka pagar, Ia berhenti. Berdiri tepat di depan pagar. Tangannya seperti menghapus air matanya. Kemudian Ia berbalik. Memberikan lambaian tangan ceria yang dibuat-buat kepada mama Leon. Sepertinya, Bryan menyembunyikan tangisnya. Mama Leon tertawa kecil, cukup kecil, melihat tingkah Bryan. Menurutnya, mereka mungkin hanya bertengkar kecil, dan Bryan kalah lalu menangis. Makanya, Bryan menyembunyikan tangisnya, agar ketika Ia sampai di rumahnya, Ia tidak akan ditanyai oleh kakaknya, dan Leon tidak akan dituduh dan dimarahi juga. Bryan memang tidak sepintar anak-anak pada umumnya. Namun, jiwanya benar-benar murni, putih, polos, dan solid. Ia sangat marah jika sahabatnya itu dimarahi oleh orang lain. Begitulah Bryan jika sudah menyayangi temannya. Alasannya tentu karena Leon adalah satu-satunya teman yang Ia miliki, Ia tidak ingin Leon merasa sakit hati, jika dimarahi karena dirinya. Beberapa temannya sering kali dituduh dan dimarahi oleh kakaknya, makanya tidak banyak anak yang mau berteman dengan Bryan. Hanya Leon...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD