Second Case

2110 Words
Gedung yang cukup luas itu kini telah dikelilingi oleh banyak orang. Tempat parkir kenderaan bahkan dipenuhi oleh kenderaan dan beberapa ornag yang berdiri. Beberapa orang mulai ramai membicarakan sesuatu yang terjadi hari ini. Bahkan beberapa dari mereka mulai mengangkat ponselnya tinggi-tinggi di udara, guna merekam apapun yang terjadi. Semua masih terlalu kabur, karena kabar baru menyebar pagi ini. Bahkan, kolam yang belum siap dibuka hari ini, sudah ramai oleh pengunjung. Entah itu pengu njung atau sekedar mampir. “Mayatnya di kolam, Pak. Sepertinya sudah semalaman” Inspektur Jusuf masuk ke dalam sebuah bangunan yang cukup luas dan memiliki beberapa kolam dengan beragam kedalaman. Ya, gedung itu adalah kolam renang. Pagi ini, tubuh seorang pria ditemukan mengapung di atas kolam dengan kedalaman dua meter lebih. Seorang cleaning service yang diamanahkan membersihkan dan mempersiapkan kolam untuk beroperasi, merupakan orang yang pertama kali menemukan dan melaporkan kejadian ini. Pihak kepolisian saat ini memiliki pekerjaan ekstra. Mereka harus mengevakuasi mayat yang ditemukan, juga harus memerhatikan tempat kejadian perkara untuk melihat kemungkinan yang terjadi. Selain itu, mereka juga diharuskan untuk menertibkan orang-orang yang ada di lokasi kejadian. Jika sudah begini, banyak sekali ornag yang tidak berurusan dengan lokasi kejadian ini berusaha membuat sibuk pihak kepolisian. Entah sekedar melihat, merekam, atau berbincang satu sama lain membicarakan kejadian seperti ini. Seorang wanita yang bekerja sebagai salah satu petugas yang mengevakuasi di lokasi kejadian, sudah membawa seorang cleaning service untuk dimintai keterangan. Lokasi tentu saja sudah diberi garis polisi, agar tidak sembarangan orang bisa masuk dan memijakkan kaki di lokasi kejadian. Inspektur Jusuf melihat beberapa luka sayat di leher pria itu. Ia langsung menyentuh dan mengangkat baju yang masih menutupi tubuh si pria. Luka yang Ia lihat ternyata bukan hanya di leher, namun di sekujur tubuh yang bahkan ditutupi dengan baju. Inspektur Jusuf mengambil sebuah berkas dari bawahannya. Dilihatnya dengan seksama berkas yang berisi data identitas dari pria tersebut. Seorang pria berusia empat puluh tuga tahun, seorang pelatih renang yang bekerja di kolam selama kurang lebih delapan tahun hingga hari ini dirinya ditemukan mati di tempat kerjanya. Inspektur Jusuf melihat dr Paula yang baru saja masuk, dan segera melihat keadaan mayat yang tentu saja sudah tidak bernyawa. “Inspektur?” panggil dr Paula. Inspektur Jusuf menoleh, dirinya sedang melihat ke arah toilet kolam. “Kenapa dok?” “Lihat” Inspektur Jusuf menuruti perintah dr Paula. Melihat ke arah yang dipinta. Ada bekas luka melilit perut, kaki, dan leher pria itu. Bagaimana bisa Inspektur Jusuf tidak melihat bekas itu. Mereka bertatapan. “Ini juga” Dr Paula menunjuk pucuk kepala pria itu. Terdapat sebuah luka yang masih basah, namun darahnya sudah luntur akibat basah oleh air kolam. “Lukanya seperti pukulan benda tumpul, tapi nanti saya coba cari tahu lagi di lab” Inspektur Jusuf langsung meninggalkan dr Paula, dan berjalan ke arah timnya untuk memberi tahu bahwa kejadian hari ini kemungkinan adalah sebuah penganiayaan yang menyebabkan kematian. Hari ini, bertambah lagi kasus kriminal di daerah tempat tinggal mereka. Entah apa yang melatarbelakangi kejadian-kejadian ini. Inspektur Jusuf berjalan menuju parkiran, namun salah satu dari timnya memanggilnya dan memintanya bergabung ke dalam. “Kami menemukan handuk ini tadi di lantai, di dekat loker dan letaknya di sudut dekat dengan tong sampah” Inspektur Jusuf melihat dengan jelas ada apa dengan handuk itu. Ternyata, handuk itu terdapat beberapa bercak darah. Handuk berwarna biru tua itu, terdapat noda darah yang jika tidak dilihat dengan fokus, maka tidak akan ada satupun orang yang dapat melihatnya. Segera, Inspektur Jusuf meminta bawahannya untuk membawa handuk itu ke laboratorium untuk diperiksa. Pikiran Inspektur Jusuf semakin kacau. Dirinya bahkan tidak tidur dengan teratur setelah mengerjakan kasus kematian Sisil. Sebenarnya, menyelidiki kasus kejahatan dan kematian seperti ini bukan ranah Inspektur Jusuf sepenuhnya. Namun, Ia bertanggung jawab penuh atas olah tempat kejadian perkara, dimana selalu ditemukan fakta-fakta yang mengarah pada kasus, dan hal itu selalu datang di kemudian hari. Dirinya bingung harus melakukan apa. Satu kasus bahkan belum selesai. Tidak peduli dirinya telah bekerja sama dengan beberapa orang di bidang yang sesuai dengan kejadian ini, namun tetap saja tidak ditemukan akhir dari teka-teki ini. Sehari sebelum kasus kematian seorang pelatih renang, Inspektur Jusuf telah menemukan titik terang mengenai kasus Sisil. Ia mendapat fakta baru bahwa Sisil sempat bermasalah dengan seorang penjaga gerbang sekolahnya. Dugaan kuat bahwa pria itu yang menyebabkan Sisil terjatuh dari tangga. Beberapa hari ini cukup tenang bagi Inspektur Jusuf setelah mendapat fakta baru tersebut. Namun, Ia berusaha mengaitkan kembali kemungkinan bahwa pria itu yang merupakan pembunuh Sisil, namun hatinya seperti berat mengakui hal itu. Belum seminggu ditetapkan pria itu sebagai pembunuh Sisil, dirinya membuktikan alibi yang sesuai, dan bukan berbohong. Bukti yang didapat juga tidak cukup kuat untuk menetapkan pria tua itu sebagai tersangka. Maka, loloslah dirinya dari tuduhan. Karena itu, Inspektur Jusuf kembali menahan kantuknya setiap waktu. Dirinya memikirkan dimana bukti yang kuat untuk menetapkan tersangka. Hingga kasus baru datang dan sepertinya Ia benar-benar akan menghapuskan tidur dari kegiatannya sehari-hari. Kali ini, Inspektur Jusuf berada di kantor untuk menyaksikan interogasi dengan saksi kematian pria di kolam renang. Seorang cleanin service, mengaku dirinya tidak melihat adanya mayat yang mengapung. Ia hanya melakukan pekerjaannya, setelah cukup lama, barulah dirinya melaporkan kejadian. Cukup janggal, pikir Inspektur Jusuf. Bagaimana Ia tidak melihat seorang pria mengapung di atas kolam, dengan tubuh sebesar itu, dan bahkan di sekitar kolam ditemukan banyak bunga. Banyak bunga? Inspektur Jusuf terkejut kala mendengar kesaksian yang menyatakan bahwa ada beberapa bunga di kolam tempat ditemukan mayat itu. Apakah hal ini masih berkaitan dengan kasus Sisil, pikirnya. Ia langsung meminta rekannya untuk mencari tahu hubungan antara Sisil dan pelatih renang ini. Diperhatikannya lagi ke arah kaca ruangan yang di dalamnya sedang ada kegiatan interogasi. Cukup lama dirinya terdiam melihat lurus ke arah kaca. Hingga seorang rekan menyenggol tangannya. “Stres banget kayaknya” Inspektur Jusuf menoleh, dan menerima secangkir Long Black Iced dari temannya. . “Baiklah anak-anak kelas dua belas seluruhnya, saya himbau untuk segera menyelesaikan administrasi sekolah, agar semuanya bisa ikut dalam ujian akhir sekolah. Kalian sudah akan tamat dari sekolah ini, menuju ke perguruan tinggi favorit masing-masing. Untuk itu, saya himbau untuk terus tingkatkan semangat belajar, agar bisa lolos ujian dan bisa lolos masuk ke universitas impian kalian” Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaab menyampaikan arahannya pagi ini di atas podium di lapangan sekolah. Apa yang dikatakannya benar, namun tidak bagi Leon. Leon hanya bisa tersenyum malas mendengar perkataan gurunya itu. Terlebih pada bagian universitas impian dan jurusan impian. Hak itu tidak sama sekali sesuai dengan apa yang Leon alami. Mulai dari Leon naik ke kelas sebelas, dirinya telah diminta oleh orang tuanya untuk memilih jurusan dna universitas yang sesuai dengan keinginan orang tuanya. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Begitu juga dengan orang tua Leon, menginginkan semua yang terbaik dari yang terbaik di muka bumi ini hanya untuk masa depan anaknya. Hal itu yang sekarang menyebabkan Leon sedikit kesal. Ia selalu berpikir, ini adalah hidupnya, Ia berhak penuh atas pilihan di hidupnya, tapi orang tuanya selalu ikut campur. Bukan hanya ikut campur, tapi seratus persen turun tangan untuk setiap pilihannya. Leon selalu saja merasa iri melihat anak seusianya diizinkan memilih, dibiarkan melakukan apapun yang disukai dan diinginkan. Berbeda dengannya, Ia selalu saja berakhir dengan setuju dengan pilihan orang tuanya. “Leon?” Seorang teman wanitanya memanggil Leon. Leon hanya menoleh. Ia bahkan bergeser ke kiri karena dirasa risih disenggol-senggol oleh oranv yang tidak begotu dekat dengannya. “Leon, kamu okay?” “Oke,” jawab Leon singkat. Sangat singkat. “Kamu kalau butuh teman, aku bisa jadi temanmu kok” Leon mengangguk. Dirinya cukup jengkel diajak basa-basi di waktu sekarang. Sudahlah dirinya dibuat kesal dengan arahan bu guru barusan, kini teman wanitanya itu juga cari perhatian kepadanya dan itu membuatnya double kesal pagi ini. “Kalau boleh, aku pindah duduk bareng kamu, ya?” Leon hanya memberi tatapan datar. Dirinya ingin menunjukkan bahwa Ia kesal, namun energinya terlalu sayang jika harus marah-marah di waktu sepagi ini. Pagi ini benar menjadi pagi termenyebalkan dalam hidupnya. Meskipun, baginya hari-hari biasa sudah sangat menyebalkan. Teman wanitanya itu kemudian mengetahui bahwa Leon sepertinya masih ingin sendiri. Ia memerhatikan wajah Leon yang berekspresi datar. “Kalau butuh teman, kabarin aku ya” Leon mengalihkan pandangannya ke depan. Kemudian, temannya itu menyenggol lengannya lagi. “Aku cukup kaget lihat keadaan Sisil, masih kaget banget sampe sekarang tuh suka keinget....” Leon hanya menatap ke depan, tanpaenoleh ke arah temannya itu. “Tapi, wajar sih Sisil jadi korban begitu. Dia tuh kadang sok pick me girl banget, sok cantik banget sih kadang dia tuh....” Leon menoleh, wajahnya kini sedikit berekspresi. Keningnya berkerut, alisnya bahkan hampir menyatu mendengar perkataan temannya. Yang Leon tahu selama bersekolah, sekelas dengan Sisil sekaligus teman wanitanya itu, mereka tidak memiliki masalah apapun, bahkan mereka berteman baik. “Sebenarnya aku kurang suka sama Sisil, kesel,” bisik teman wanita Leon. Dirinya sedikit berjinjit untuk berbicara ke telinga Leon. Leon hanya diam melihat temannya itu. “Dari dulu tuh, cowokku selalu direbut sama Sisil. Bahkan, pacarku mutusin aku demi Sisil, eh malah diputusin sama Sisil. Wajar kan kalau aku-....” “Bisa diam? Kamu gak dengar kalau di depan ada yang bicara?” Teman wanitanya terdiam dan tubuhnya menegang. Leon langsung berjalan ke barisan depan. Mencoba menjauhi teman wanitanya yang berbicara buruk tentang Sisil. “Wajar kan kalau aku apa?” Seorang ketua kelas bertanya ke teman wanita yang tadi sempat berbicara dengan Leon. “Kepo! Diem deh lu,” jawabnya singkat. Leon duduk di kursinya. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi teman yang melalui hari-hari sekolah bersamanya. Teman yang biasa selalu menjadi lawan maupun rekannya dalam belajar. Berbagi cerita, menjelekkan papanya sendiri, menceritakan kisah indah tentang hari bersama mamanya, kini Ia hanya akan menyimpan semuanya sendiri. Mungkin akan berbagi dengan Bryan saja. “Leon?” Bu guru memanggil Leon yang terlihat sedang merenung. Leon menoleh tanpa menjawab. Dirinya benar sedang merenung. Pikirannya dipenuhi oleh mimpinya kemarin. Dimana dirinya diminta oleh Sisil untuk menolongnya. Dengan jelas Ia melihat keadaan Sisil, bahkan hingga hari ini, hal itu masih memenuhi seisi kepalanya. “Kamu kenapa? Ngelamunin apa?” Leon menggeleng, kemudian melihat ke arah bukunya di atas meja belajarnya. Seisi kelas cukup keheranan melihat tanggapan yang diberikan oleh Leon kepada guru. Padahal bu guru berniat baik, menegur Leon agar fokus ke pelajaran yang disampaikan dan menegurnya pun dengan cara yang baik-baik. Leon merupakan ornag yang mudah sekali akrab dan dekat dengan siapapun. Biasanya Ia selalu mampu langsung mengobrol akrab dengan semua orang, terlebih guru-guru. Tapi entah kenapa, Leon seakan berubah belakangan ini. Dirinya tidak lagi seperti Leon yang ramah dan baik hati. Kini, Leon lebih sering diam, tidak berekspresi, menanggapi orang juga tidak mau. Entah apa yang merasuki Leon. Beberapa anak-anak mulai membicarakan sikap dan sifat Leon. Beberapa dari mereka menganggap bahwa Leon seperti itu karena kehilangan Sisil. Namun, beberapa anak sudah mengetahui perubahan di diri Leon sejak sebelum Sisil meninggal. Banyak sekali gosip murahan berkeliaran di sekolah Leon. Anak-anak mulai berspekulasi dan berasumsi asal-asalan karena kasus Sisil. Ada yang mengaitkannya dengan mantan Sisil, dengan anak-anak sekolah yang iri dengan kehidupan Sisil, dan juga banyak yang mengaitkannya dengan penjaga gerbang yang beberapa kali mengganggu Sisil dan mendapat tanggapan kurang ramah dari Sisil. Terlebih setelah berita penangkapan penjaga gerbang, semua orang bahkan menyudutkan Sisil dan membenarkan tindakan yang penjaga gerbang lakukan. Bahkan saat berita penjaga gerbang dibebaskan, banyak dari anak-anak sekolah yang merasa senang, karena mereka mendukung si penjaga gerbang. Saat itu, Leon juga turut kesal. Dirinya senang saat mengetahui bahwa pelakukan adalah pria tua penjaga gerbang sekolah mereka. Namun, Leon marah saat berita pembebasan penjaga gerbang itu. Leon bahkan sempat menyalahkan pihak penyelidikan, mengatakan bahwa pekerjaan mereka tidak becus. Namun, Ia hanya melakukan hal protes itu dengan dirinya sendiri. Biasanya, jika akan memasuki hari ujian, Leon dan Sisil akan pergi belajar di perputakaan kota, atau pergi ke cafe khusus pelajar yang menyediakan tempat untuk belajar di dekat sekolah mereka. Sepertinya, pada ujian kali ini, Leon harus belajar sendiri, entah Ia masih akan pergi ke tempat yang biasa ia datangi bersama Sisil, atau hanya belajsr di rumah. Lagipula, minat belajar Leon sepertinya sedikit meluntur. Setelah kejadian pemanggilan orang tua ke sekolah, Leon terlihat seperti menomorduakan kegiatan belajarnya dan juga nilai dan kedisiplinannya di sekolah. Jika seperti itu, pasti Sisil akan mengingatkannya untuk belajar. Sisil akan mengajak Leon duel nilai ujian mereka. Yang kalah akan mendapat hukuman. Leon tersenyum di tempat duduknya sendiri, kala mengingat memori itu. Hukuman yang paling dirinya ingat adalah traktir makanan, biasanya mereka akan pergi melakukan cafe hopping saat ujian selesai. Atau sekedar food hunting di tempat yang menyediakan street food atau tempat yang ramai food truck di alun-alun kota. Hari ini, kenangan bersama Sisil telah menciptakan senyum di wajahnya. Terima kasih, Sisil...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD