Loop

1090 Words
 Inspektur Jusuf merupakan salah satu dari sekian banyak orang-orang yang workaholic. Ia memegang tanggung jawab besar, karena itulah ia merasa harus menyelesaikan setiap pekerjaannya tepat waktu. Beberapa kali inspektur Jusuf mengabaikan kesehatannya sendiri hanya karena pekerjaannya belum selesai. Meskipun begitu, ia paling tidak suka mengganggu rekan kerjanya di luar jam kerja. Ia akan menyelesaikan semuanya sendiri jika sudah melewati jam kantor. Inspektur Jusuf terduduk di atas kursi kerjanya. Salah satu spot di rumahnya yang paling sering ia datangi adalah kantor minimalis yang didesainnya sendiri. Tangannya mengetuk-ngetuk meja kerjanya.Tanda bahwa dirinya gelisah dan bertekad besar menemukan jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalanya. Banyak sekali pertanyaan yang ia ciptakan sendiri.  Buku yang pernah Bryan berikan bahkan masih tersimpan rapi di meja kerjanya. Berkas hasil pemeriksaan botol plastik yang ia temukan di rumah keluarga Hutama juga masih ada di atas meja kerjanya. Ia sering kali terjaga sambil memandangi dua benda itu, berharap ada keajaiban yang akan berbisik padanya.  “Aseton....” Tangannya sibuk membuka lembar demi lembar hasil pemeriksaan itu. Kasus ini tidak rumit, hanya saja kurang bukti dan saksi. Jika dalam beberapa bulan ke depan tidak ada perkembangan, mungkin saja kasus ini resmi ditutup dan dianggap selesai. .. Suara dering alarm membangunkan Leon dari tidurnya. Kali ini, ia tidur terlalu lama. Jam di dinding menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat.  Leon menghela nafas pelan, dan kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia mulai membersihkan diri di kamar mandi. Menghidupkan shower untuk membasahi tubuhnya, membersihkan dari peluh karena mimpi buruk tadi malam. Leon menutup matanya dan menikmati setiap tetesan yang mengaliri tubuh dari mulai torso hingga ekstremitas bawah, tidak lupa setiap inci tubuhnya. “Tolong....” Suara samar tertangkap rungu Leon. Leon mendengarkan dengan seksama, mencari tahu suara siapa yang baru saja didengarnya itu. Matanya masih terpejam, berusaha menghilangkan suara air shower dari pikirannya dan mulai fokus pada suara minta tolong itu.  Suara wanita. “Hhhhuh....” Kali ini suaranya bernafas menyapa punggung Leon. Pikiran Leon mulai menafsirkan suara-suara itu menjadi sebuah bayangan. Gelap yang dilihatnya karena mata terpejam, kini melukiskan seorang wanita yang turut basah tepat di depan wajahnya. “Hah!” Leon terkejut dan refleks memundurkan tubuhnya dari tempatnya berdiri. Ia mencari keberadaan wanita yang tadi menghiasi penampakannya saat terpejam. Tangannya sibuk menghapus jejak air yang membasahi wajahnya, menghilangkan bekas-bekas air pada bibirnya dan hidungnya yang menyulitkannya bernafas.  Tubuh Leon berbalik, matanya menelusuri kamar mandi tempat ia membasuh tubuh. Tidak ada siapapun disana menemani dirinya. Hanya Leon seorang. “T-tolong ... hiks....”  Suaranya tidak terdengar berbisik. Kali ini intonasinya lebih lantang, meskipun terbata.  Leon meraih kran shower, memutarnya dan seketika suara air tidak lagi terdengar.  “Siapa kamu?” Leon berteriak menanggapi suara itu. “Keluar!” Kali ini Leon membentak suara itu. Suara tawa begitu kencang menghiasi kamar mandi. Leon terduduk. Ia ketakutan. “Kamu tumben telat, Leon?” Seorang rekan kerja menyapa Leon. Beberapa waktu lalu ia sibuk bergelut dengan suara-suara minta tolong yang entah bagaimana dapat didengarnya. Ia berpura-pura baik-baik saja. Memendam apapun cerita yang baru saja ia lalui, dan mulai melanjutkan pekerjaan dan tanggung jawabnya. “Sorry,” jawab Leon dingin. Leon melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan mesin kopi untuk dikalibrasi, kemudian menyapa pelanggan yang sudah meramaikan coffeeshop. “Kisah tewasnya siswi cantik berbakat di SMA xx kini resmi ditetapkan sebagai kecelakaan.” Suara televisi menghiasi seisi coffeeshop. Leon mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.  “Sisil.” Leon berbicara dengan sedikit berbisik. “Hah? Kamu bilang apa?” tanya rekan kerja yang ternyata berdiri tepat di sebelah Leon. Leon menoleh ke arah rekannya, kemudian menggeleng.  Leon mencari remote televisi entah untuk apa. “Remote dimana?” Rekan kerja yang sedang fokus pada berita di televisi itu hanya mengendikkan bahu dan sesekali matanya mengikuti pergerakan Leon.  “Kamu kenapa?” tanya rekan Leon. “REMOTE DIMANA?!” Nada suara Leon kini meninggi. Rekan kerja yang polos itupun terkejut. “Itu.” Bukan hanya rekan kerja Leon yang terkejut, pelanggan yang duduk di dekat bar tempat dimana Leon berdiri juga terkejut mendengar suara Leon yang tiba-tiba meninggi.  Leon langsung mengambil remote televisi dan mengeraskan volume televisi. “Sudah setahun sejak kejadian mengenaskan menimpa seorang siswi cantik berbakat, kini kasus ditetapkan menjadi kasus kecelakaan. Anak penyanyi terkenal dan berbakat itu kini hanya mampu dikenang oleh teman-teman....” Pelanggan di sana juga memfokuskan diri menonton berita itu. “Oh? Sisil?” kata seorang pelanggan sambil menepuk bahu temannya. “Sisil siapa?” Temannya itu menanggapi. “Lo gak tau? Dulu viral kasusnya. Rumornya mayatnya ditemuin di tangga sekolah.” “For real?! Ditemuin gimana?” “Mati, berdarah, posisi tubuhnya jelek banget. Kasian. Ternyata kecelakaan.” “Kecelakaan?” “Padahal udah lama banget pada nungguin kabarnya, siapa pelakunya. Ternyata cuma kecelakaan.” “Yah ... gak seru dong.” Plak!  “Hahaha ... becanda gue. Tapi emang bener kecelakaan?” “Gak tau tuh katanya resmi kasus kecelakaan. Tapi menurut gue sih, ya engga kecelakaan. Sumpah deh pas itu, rame banget foto Sisil yang masih di tangga sekolah itu.” “Wah, gila. Kok bisa? Angker gak ya sekolahnya sekarang? Seru, tuh. Buat dijadiin tempat uji nyali.” Seorang pelanggan mempermainkan bicaranya sendiri mengenai seorang yang sudah tiada. Leon tersulut emosi mendengar perkataan pelanggan itu. “Apa lo bilang barusan?” Pelanggan yang sibuk berbicara sembarangan itu terkejut dan segera berdiri dari tempatnya duduk. Berusaha mencari perlindungan, takut akan kehadiran Leon yang seakan ingin menerkam. “H-hah? E-enggak ... kita gak ngomong.” Pelanggan itu terbata membela dirinya sendiri. “Gak punya otak lo! Lo kira lo siapa?!” Adu mulut terjadi. Bahkan Leon seakan siap melayangkan pukulan pada pelanggan yang merupakan dua orang wanita itu. Pelanggan lain tidak kalah, mereka berusaha menenangkan Leon. Rekan kerja Leonpun demikian. “Leon! Heh! Kamu- ... udah, Leon!” “Apa? Gak takut gue! Lawan gue sini!” Leon masih memberikan ancaman dan gerakan seakan ingin memukul. Panik. Orang-orang panik. Beberapa memilih meninggalkan coffeeshop karena tidak ingin ikut campur. Leon masih marah dan membentak-bentak pelanggan itu. Pelanggan itu? Nangis.  Dua tahun kemudian... “Halo, New York!” Pria bertubuh proporsional layaknya keturunan Asian itu merentangkan kedua tangannya, menyesap segarnya udara New York yang baru saja ditapakinya. Cukup lama ia berdiri di pinggiran bandara John F Kennedy yang terbentang begitu luasnya. Pria itu hampir meneteskan air mata haru mengingat usahanya yang tidak sia-sia.  Bertahun-tahun menjadi penulis, bekerja sebagai editor di salah satu penerbit besar, menyelesaikan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi swasta favorit di kotanya. Perjuangan itu kini semakin terasa menemui ujungnya, ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke salah satu universitas terbaik di Amerika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD