“Bagaimanapun, kita harus tuntaskan kasus ini! Saya, dr Paula, dan kalian! Kita harus terus melanjutkan kasus ini, sampai ketemu siapa sebenarnya dalang di balik semua kasus-kasus ini.” Inspektur Jusuf berbicara dengan suara keras di depan rekan-rekannya.
“Tapi, Pak. Kasus itu belum ada kemajuan, kasus Sisil juga udah seharusnya ditutup.” Seorang rekan mencoba memberikan opini untuk menghilangkan obsesi Inspektur Jusuf terhadap kasus-kasus itu.
“Nggak. Silahkan kalau harus ditutup, atau harus disebar ke media mengenai kasus Sisil adalah sebuah kecelakaan. Yang terpenting, saya akan tetap melanjutkan kasus itu, tanpa perintah dari atasan.”
“Pak, kita gak akan-...”
“Meeting hari ini selesai. Kalian silahkan istirahat. Tidak ada pertanyaan lagi, dan tidak ada sanggahan. Bubar!”
Rekan-rekan kepolisian yang turut dalam meeting yang diadakan oleh Inspektur Jusuf, bubar satu persatu berjalan keluar dari ruangan.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar samar tertutupi suara langkah kaki rekan-rekan kepolisian yang menuju pintu keluar ruangan. dr Paula kali ini datang terlambat, dia melewatkan meeting yang dipimpin oleh Inspektur Jusuf.
“Suf? Udah selesai?” tanya dr Paula kebingungan sambil memerhatikan orang-orang keluar dari ruangan, sementara dirinya baru saja memasuki ruangan.
Inspektur Jusuf mengangguk. Dia berdiri menghadap ke jendela yang memamerkan keadaan di luar kantor.
“Maaf banget. Tadi ada pertemuan mendadak juga di rumah sakit. Huff....” dr Paula menghembuskan nafasnya, kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia disana.
“Gimana?” Suara Inspektur Jusuf mengejutkan dr Paula yang baru saja terduduk.
“A-apanya yang gimana?”
“Kamu udah dengar kabar tentang Sisil?”
“Sisil?” dr Paula terlihat berfikir sejenak.
Ia melanjutkan. “A-ah ... Sisil. Kecelakaan?”
Inspektur Jusuf mengangguk. “Sepertinya kita udah kehabisan waktu buat buktiin kalau kasus itu bukan kecelakaan. Atasan sudah menyetujui bahwa akan segera disebar ke media, entah hari ini atau besok.”
“Kamu ... masih bersikeras kalau kasus Sisil itu berhubungan dengan....”
Inspektur Jusuf mengangguk antusias. Ia melipat tangan di depan torsonya, pertanda bahwa Ia benar-benar serius akan hal itu. “Tentu. Aku akan teguh dengan pendapatku bahwa kasus itu memang berhubungan satu sama lain. Aku akan tetap, hingga kenyataan benar-benar datang ke depan mataku.”
Dr Paula sedikit bergidik melihat tingkah teman seperjuangannya itu. Hal itu mengingatkan dirinya pada kasus kebakaran rumah Hutama yang juga belum menemukan titik terang.
*
“Selamat siang, Leon! Bagaimana harimu?” sapa seorang psikiatris yang menangani Leon sejak kejadian besar itu.
“Biasa saja, Dok.” Leon menyapa cukup singkat.
Leon sedang diselimuti perasaan bahagia beberapa jam yang lalu, sesaat setelah dirinya berbicara di telefon bersama Bryan. Saat perjalanan menuju rumah sakitpun, Leon masih dalam suasana hati bahagia. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya berubah setelah tiba di ruangan psikiater tempat Ia berbagi cerita.
“Can we stop this, Dok?” Leon bertanya dengan nada datar.
Sang dokter yang sedang sibuk melihat berkas di atas mejanya, mengalihkan fokus pada wajah datar Leon.
Wajahnya yang dulu tampan dan penuh senyuman, kini senyum itu sulit ditemukan. Tidak banyak informasi mengenai Leon sebelum kejadian mengenaskan menimpa keluarganya, sehingga cukup sulit untuk melihat perbedaan di waktu-waktu saat itu.
“S-stop? Kenapa?” tanya sang psikiater.
“I don’t think this is a good idea. I mean ... aku udah gak seharusnya ngejalani terapi ini. This is sick.”
Sang psikiater tersenyum. “You are sick. Indeed.”
Leon terkejut mendengar perkataan sang dokter. Bagaimana mungkin seorang psikiater mengatakan hal yang mampu mentrigger pasiennya.
“I’m so sorry, Leon. We are not stopping this, until your father’s friend say so. Kamu masih butuh terapi, kamu masih butuh latihan untuk anger managementmu yang ... kamu tahu, kamu masih harus tetap melakukan ini.”
“Tidak ada yang berhak mengatur kehidupanku, mengatur pilihanku, selain diriku sendiri.”
Psikiater sepertinya sedang mencoba memancing amarah Leon, sekedar untuk memastikan bagaimana anger management Leon belakangan ini. Sudah cukup lama, Leon tidak melakukan terapi. Ia bahkan tidak melaporkan apapun yang seharusnya dilaporkan kepada psikiaternya itu.
Wajah Leon sudah memerah, seakan mau meledak dalam hitungan detik. Tangannya menggenggam, namun wajahnya tetap datar seakan tidak terjadi apa-apa.
Melihat itu, psikiater menyadari bahwa belum semestinya terapi psikis ini dihentikan. Ia masih diselimuti amarah yang memuncak bercampur dengan rasa panik yang sewaktu-waktu akan meledak.
Psikiater berusaha menenangkan Leon dengan mencoba meraih tangan Leon. Perlahan-lahan tangannya membuka genggaman tangan Leon yang kian memerah, melukai kulitnya. Leon meneteskan air mata.
Psikiater itu tetap diam dan mengelus lembut tangan Leon. Tanpa sengaja, netra sang psikiater muda nan cantik itu menangkap lengan Leon, melihat goresan-goresan disana.
“Leon?” panggil sang psikiater untuk menanyakan apa yang terjadi dengan lengannya.
Leon masih menangis, menunduk, tangan kirinya yang masih mengepal erat digunakannya untuk memukuli kepalanya. Sang psikiater tentu saja terkejut. Ini lebih parah dari sebelumnya.
“Leon. It’s okay. You can open up to me, right? What are you thinking lately?”
Leon menangis sesenggukan. Wajahnya masih menunduk. Kini, kedua tangannya digenggam lembut oleh sang psikiater.
“Dok....” Leon mulai bersuara.
Psikiater masih setia menunggu setiap kata yang akan keluar dari mulut Leon. Cukup lama memang untuk meyakinkan bahwa psikiater merupakan tempat yang tepat untuk melepaskan setiap keluhan Leon. Durasi terapi yang diberikan tentu tidak lama, namun sang psikiater baik-baik saja dengan itu. Ia masih setia menunggu hingga Leon bersedia untuk membuka apa yang Ia sembunyikan belakangan ini.
“Hiks ... hiks ... aaarrghhhhh....”
Leon menarik tangannya dari genggaman psikiater. Ia mengepalkan tangannya lagi, dan kali ini Ia gunakan untuk memukul sandaran kursi yang Ia duduki tadi.
Psikiater berusaha menarik kembali tangan Leon. Tenaga Leon yang memang kuat, tentu bertambah kuat dalam keadaan marah seperti itu.
“Aaarrghh! Udah kubilang aku gak butuh....” Leon berteriak hampir mengangkat kursi yang tadi Ia duduki.
“Okay. Dengar! Leon! Dengar saya! Kita bisa bicarakan ini, kamu tenang dulu. Gak ada ngelempar barang, gak ada ngehancurin barang.”
Leon terdiam. Entah Ia tersadar bahwa apa yang psikiaternya bilang barusan adalah hal yang benar, atau Ia hanya sedang mengumpulkan amarahnya untuk diluapkan.
Psikiater menunduk di hadapan Leon. Ia menggenggam kedua tangan Leon kemudian meminta tubuh Leon agar tenggelam dalam peluknya. Hug makes everything better, right?
Leon turut menunduk, berlutut dan menerima pelukan dari sang psikiater. Keduanya berpelukan sambil berlutut. Leon menangis dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang psikiater.
“Semua akan baik-baik aja,” kata psikiater berusaha menenangkan Leon.
Tidak juga. Tidak semuanya akan berjalan baik-baik saja. Kata baik-baik saja itu hanya sugesti agar semuanya segera mereda. Faktanya, semua akan tetap berantakan.
“Ada apa, Leon?”
Leon masih diam. Ia duduk di kursi yang hampir saja menjadi korban amarahnya.
Psikiater menawarkan air minum untuk Leon. Berharap dengan segarnya air mineral dapat menyegarkan amarah di hati Leon.
Leon meminum air yang diberikan padanya, kemudian menunduk sambil mengelus lengannya yang terdapat goresan-goresan luka.
“A-aku ... bingung.” Leon membuka mulutnya dan mulai berbicara.
Psikiater mengangguk, menandakan dirinya siap mendengarkan cerita dari Leon.