Aku merebahkan tubuhku ke kasur. Rasanya badanku sangat capek. Seharian jalan-jalan keliling mal itu sangat melelahkan. Sepertinya malam ini aku akan tidur dengan nyenyak karena kecapean. Tapi, ini adalah hal bagus, karena dengan begitu aku tidak akan punya waktu untuk memikirkan Aric. Ya, benar. Tok...tok...tok. Aku mengangkat kepala dan menatap arah pintu kamarku yang kini sudah terbuka. Di sana sudah ada Revan yang tengah membawa kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya. “Belanjaan lo, nih,” katanya seraya meletakkan kantong-kantong belanjaan di atas meja belajarku. Aku tersenyum lebar ke arahnya. “Lo pasti seneng banget, ya, jalan-jalan bareng Mama lo dan gue,” ledekku. “Seneng dari Hongkong! Kaki gue rasanya kayak mau copot, kecapean ngikutin l

