Adam dan Dimas tidak pulang ke rumah mereka di Jakarta atau kembali ke penginapan para kru film, mereka menginap di rumah Ustadz Firdaus untuk memulihkan kondisinya. Ustadz Firdaus bilang setidaknya mereka harus di sana selama seminggu. Tentu saja Adam tahu diri untuk bergantian menginap antara rumah Ustadz dan hotel yang tak jauh dari sana.
Kondisi Dimas mulai membaik dan tidak lagi kesakitan meski kadang kambuh, tapi Ustadz Firdaus bilang itu adalah bagian dari proses penyembuhan juga membuang ilmu hitam yang ada di tubuhnya.
Ternyata benar, Aiva berbuat curang dengan menggunakan ilmu sihir. Adam tidak bisa membayangkan keadaan fisik dan mental putranya yang diperdaya selama bertahun-tahun. Ustadz Firdaus juga bilang jika lebih lama lagi, kemungkinan Dimas tidak bisa kembali seperti sedia kala.
Ilmu hitam yang digunakan Aiva adalah ilmu pengasihan. Pengasihan adalah salah satu cabang ilmu gaib yang berfokus pada masalah percintaan. Percintaan dalam hal ini dapat berupa murni percintaan atau hanya masalah seks. Pengasihan dapat ditempuh dengan banyak cara, mulai dari mantra tertulis, boneka, pantangan, ajian, jimat, ramuan hingga penyelenggaraan upacara tertentu.
Cara yang ditempuh Aiva adalah aji-ajian dan pengikat lain berupa minyak wangi yang diberikan Mbah Surya. Makanya ketika Dimas jauh dari Aiva dan tidak lagi menghirup bebauan itu, dia mulai terlepas. Di waktu yang sama juga Aiva tidak memanjatkan aji-ajiannya.
Adam memperhatikan Dimas yang sedang tertidur dalam penyembuhan Ustadz Firdaus dari jarak jauh. Semakin dia berdekatan dengan Dimas semakin dia merasa bersalah dan gagal menjadi seorang ayah.
Tak berapa lama, Ustadz Firdaus keluar. Pria berpakaian koko lengkap dengan sorban itu duduk di kursi kayu depan rumahnya, lantas Adam mengambil tempat di sebelahnya. “Bagaimana perkembangannya?” tanya Adam.
“Kondisinya sudah membaik, semalam juga sempat sadar. ‘Ilmu’ itu sedang mencoba memperdayanya dan Dimas saat ini sedang berada dalam fase meyakinkan diri sendiri. Dia kebingungan begitu lama, jadi sepertinya untuk sembuh tidak akan mudah dan cepat.”
Adam terdiam sebelum mengangguk pelan. “Tolong bantu dia, Ustadz. Ini semua salah saya tidak mengenali putra saya sendiri.”
“Ini semua sudah takdir Allah, Pak. Mungkin atas adanya peristiwa ini, Bapak menjadi ayah yang lebih baik untuk nak Dimas,” nasihat Ustadz Firdaus, “Bapak ingin melihat nak Dimas?”
“Apa boleh, Ustadz?”
“Silakan, tapi saya sarankan jangan mengajaknya berinteraksi. Terkadang Dimas mudah kerasukan jin di saat pemulihannya dan kita tak tahu saat ini Dimas atau jin itu yang menguasai tubuhnya.”
Menuruti arahan Ustadz Firdaus, Adam masuk dan memperhatikan Dimas dari jarak dua meter. Ruang besar itu menjadi saksi Dimas melawan ilmu hitam yang dikirimkan Aiva dan memenangkan kembali dirinya semula. Tubuh Dimas terkesan mengurus dan wajahnya ditumbuhi bulu halus di rahang. Hilang sudah kesan seorang sutradara sukses yang melekat padanya.
Adam tiba-tiba mengingat bagaimana dulu dia dan Elena mengusir Dimas yang nekat ingin bersama Diana, bahkan rela tak lagi berada dalam lingkup keluarganya yang kaya.
Flashback.
Adam dan Elena kompak melemparkan tatapan tak suka dan tak menyambut kedatangan wanita yang resmi menjadi menantu beberapa hari yang lalu itu. Lihat saja, Elena mengejek pakaian Diana yang jauh dari kata elegan dan mewah, lebih mirip baju pembantu dibanding istri putranya.
“Mah, Pah, aku gak keberatan kalian gak datang ke pernikahan kami,” Dimas menoleh bergantian pada Adam dan Elena, “tapi tolong terima Diana. Dia pilihanku, dia istriku tanpa ada paksaan. Jadi, tolong jangan membuatnya tidak nyaman di rumah ini.”
Tautan tangan Dimas mengerat. Diana sedari tadi hanya menunduk, merasa sungkan dan sadar diri pada derajatnya. Jika bukan Dimas yang meyakinkannya, mungkin Diana akan selamanya menghindari kedua orang yang menjadi mertuanya itu.
Dimas, lelaki itu tidak peduli mereka menikah tanpa restu keluarganya. Izin dari orang tua Diana sudah cukup. Lagi pula, Adam dan Elena hanya akan merestuinya jika wanita itu berasal dari kolega bisnis mereka. Makanya dia tidak heran keduanya tak datang walau Diana berpikiran macam-macam.
Adam terkekeh merendahkan. “Kamu meminta kami menerima wanita tak jelas itu? Terus saja bermimpi. Sampai kapan pun, wanita tak jelas itu tak akan jadi menantu keluarga ini.”
“Iya, kamu tau syarat kami untuk wanita yang akan kamu nikahi. Dan jelas di wanita ini, tak satu pun dari syarat itu,” tambah Elena.
Bahkan mereka enggan menyebut nama Diana.
Seketika hati Diana mencelos. Dia tak menyangka keluarga suaminya setidak suka ini padanya, mungkin sampai pada taraf membenci. Dari dulu Dimas bilang kalau keluarganya sulit menyukai seseorang, tapi sepertinya lebih dari itu.
Rahang Dimas mengeras, berusaha meredam emosi. Akan lebih mudah jika itu orang lain, tapi yang menghina istrinya adalah orang tuanya sendiri. “Papa Mama gak berhak bicara begitu tentang Diana.”
“Itu fakta, Dimas. Sampai kapan kamu akan menutup mata dan merendahkan diri sendiri?”
“Papa—”
“Udah, Mas,” lerai Diana menahan d**a Dimas. Entah apa niatnya, yang jelas itu tak akan baik. “Mama Papa tenang aja, aku gak akan ngatur Dimas atau ngubah dia. Kalau kalian mau, aku juga tetap akan tinggal di kontarakanku dan Dimas tetap di sini.”
“Baguslah,” kata Adam.
“Di, apaan sih?” protes Dimas, lalu menoleh pada sang papa. “Ke mana pun Diana pergi, aku ikut. Di mana nanti dia akan tinggal, aku ikut. Bahkan kalau dia mau tetap di lingkungannya, aku ikut.”
Elena menyentak, “Dimas!”
Adam menertawakan Dimas. “Yakin kamu?” dia berjalan mendekati putranya. “Tanpa semua fasilitas di sini, tanpa bantuan, tanpa kartu kredit, bisa kamu hidup sendirian di luar sana?”
Dimas menelan ludahnya. Hidup di luar sana? Sejak kecil dia tumbuh di lingkungan ini, serba ada. Membayangkan itu membuatnya terpekur sejenak sampai Diana mengetatkan genggamannya.
“Ya, aku bisa. Di luar sana, tanpa bantuan Papa sekali pun,” jawab Dimas mantap.
“Silakan pergi. Kamu bukan dari keluarga kami lagi, Radimas Aditya.”
* done
“Papa banyak salah sama kamu,” bisik Adam mengepalkan tangannya. Sekarang baru dia sadar betapa selama ini dia bukanlah ayah yang baik. “Maafkan Papa.”
Jika saat ini ada sesuatu yang bisa dilakukan Adam untuk membalas putranya, akan dia lakukan. Maka satu hal yang dipikirkannya saat ini adalah membalas dalang dari semua kekacauan ini.
Setelah keluar dari ruangan guna menjauh dari Dimas, Adam mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi seseorang. Wajahnya tampak marah. “Saya ada kerjaan buat kamu. Usir Aiva dari rumah saya secepatnya, saya ingin besok saya tidak perlu melihat wajahnya lagi.”
“Dan satu hal, jebloskan dia ke penjara dengan kasus yang hukumannya tidak mudah diringankan. Kamu dan orang-orang licik itu pasti tau hal apa yang bisa membuatnya mendekam di penjara bertahun-tahun.”
“Tidak baik membalas dendam, Pak,” Ustadz Firdaus tiba-tiba menyela.
Adam menoleh, perlahan menurunkan ponselnya yang masih terhubung dengan tangan kanannya. “Saya hanya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan.”
“Saya paham, tapi kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan serupa.”
“Saya tidak bisa membiarkannya lepas begitu saja, Ustadz. Kejahatannya bukan kejahatan kecil, dia nyaris mencelakai Dimas!”
Ustadz Firdaus tidak lagi membalas, watak seseorang seperti Adam sulit untuk diubah oleh orang lain. Menentangnya percuma saja, tak akan semata-mata berhasil. “Saya hanya mengingatkan, Pak.”
“Saya permisi dulu, hendak melaksanakan shalat duha.”
Adam mencekal lengan sang ustadz yang hendak berlalu dari hadapannya. “Ustadz, saya punya permintaan.”
“Apa itu, Pak?” tanya Ustadz Firdaus.
“Jika nanti Dimas sembuh, tolong jangan katakan yang sebenarnya. Cukup bilang bahwa rohaninya sakit sehingga Ustadz membantunya.”
Kening Ustadz Firdaus tampak mengernyit. “Kenapa harus bohong, Pak? Saya rasa Dimas bukan anak kecil yang mudah ditipu.”
“Saya hanya ingin melindunginya dari rasa bersalah.” Adam menunduk. “Dia telah menyakiti seseorang di bawah sihir itu. Itu bukan salahnya, jadi saya mohon sembunyikan. Biarkan dia mengingatnya sendiri saat mentalnya sudah siap.”
Ustadz Firdaus terdiam sebentar. Permintaan Adam logis sebagai seorang ayah, tapi tak baik untuk seseorang yang disakiti Dimas. Seharusnya Dimas tahu fakta yang sebenarnya, itu yang ada di pikiran sang ustadz. Paling tidak lelaki itu bisa mencoba menebus kesalahannya.
“Ustadz?”
Beliau menghela napas. “Baiklah, demi kebaikan nak Dimas.”
***
“Argh! Kacau! Kenapa semuanya jadi gini sihh?!”
Aiva uring-uringan sejak semalam. Semuanya memburuk dan semakin runyam. Mbah Surya memberitahunya bahwa jeratannya pada Dimas sudah sangat lemah, nyaris putus. Lelaki itu juga sulit diraih kembali seolah-olah sedang dilindungi.
Hal itu menjelaskan menghilangnya Dimas selama lebih dari seminggu. Rombongan film sudah pulang tiga hari yang lalu dan Dimas tidak di sana. Putra juga bilang bahwa sejak Adam membawa Dimas pergi, lelaki itu tak kembali lagi.
Sial, ini artinya Aiva sudah ketahuan.
“s**t! Gue harus gimana, nih? Gue gak mau ninggalin semua ini sekarang,” gerutunya menatap resah semua barang mewah di sekelilingnya. “Semua ini punya gue, gak akan gue tinggalin untuk apa pun.”
Aiva mengambil semua hal yang bisa dia bawa. Perhiasan, uang tunai, barang elektronik, berikut semua pakaian mewahnya. Dia jejalkan ke dalam koper sebanyak mungkin. “Gue harus bawa semuanya,” dia terus meracau sambil bergerak panik ke sana kemari.
“Argh! Gak boleh, semuanya harus gue yang punya!”
Entah ke berapa kalinya dia berseru hari ini. Untungnya Elena sedang tidak berada di rumah atau semuanya akan semakin runyam.
Kepanikannya terhenti sejenak, raut wajahnya berubah keras. Dia mendesis, “Inah.”
Penuh amarah dan ayunan langkah yang cepat membawa Aiva ke dalam mobil. Gila-gilaan dia ngebut hingga butuh 15 menit saja untuk sampai rumah. Langsung saja dia ke dapur dan menemukan tubuh sintal Inah sedang mencuci piring. Tanpa pikir panjang, dia meraih pisau buah lalu menghempaskan Inah ke lantai.
Seketika art itu melotot karena sang nyonya menodongkan pisau padanya. “Nyon-nyonya—”
“Diem lo! Ternyata lo suka ikut campur urusan orang lain, ya?” Aiva memojokkan Inah dengan semakin mendekatkan pisaunya. Sontak Inah mundur menghindar, tapi Aiva cepat menjambak rambutnya sehingga jaraknya dengan pisau hanya beberapa senti menter.
Inah dipaksa tetap menatap Aiva selama wanita itu bertanya, “Apa yang udah lo lakuin, hah? Jawab!”
“S-saya nggak ng-ngerti, Nya.”
“Halah, gak usah sok polos deh lu! Lu ‘kan yang udah ngadu macem-macem sampe papa bawa Dimas pergi, hah?!”
“Sumpah, Nya! Saya gak—”
Drt! Drt!
Adu mulut itu terhenti ketika ponsel Inah berbunyi dari balik celemeknya. Wajah Inah berubah pias, takut yang meneleponnya Adam atau Diana yang akan memancing emosi nyonyanya ini.
Aiva meliriknya tajam. “Angkat.”
Inah menelan ludah, lalu mengambil ponselnya. Matanya melirik Aiva ragu. Itu nomor tak dikenal, bagaimana kalau itu Diana dengan nomor baru? Dia pasti menggantinya karena Elena menghubunginya waktu itu.
Merasa terancam dan curiga itu salah satu nomor yang membahayakannya, rahang Aiva mengeras dan semakin mendekatkan pisau ke leher Inah. “Siapa itu?”
Inah menggeleng keras. “S-saya gak tau, Nya.”
Tanpa basa-basi, Aiva mengangkat telepon itu dan mengarahkannya ke mulut Inah, memelototinya untuk mengancam art itu berbicara macam-macam.
“H-halo?”
[Inah, kamu tau di mana Aiva?]
Kedua wanita itu sama-sama terkejut, bedanya Aiva berubah jadi kaku. Itu Adam dan fakta bahwa dia dicari lewat Inah membuatnya gusar. Itu berarti Adam tahu dia tidak ada di rumahnya.
Aiva menggeleng pada Inah.
“N-nggak tau, Tuan.”
[Kalau kamu diancam, kamu bisa bilang.]
“Enggak, Tuan.”
[Ya sudah. Kalau dia menghubungi kamu, bilang waktunya hanya sampai besok untuk meminta ampun.]
“Apa maksudnya itu, hah?” tanya Aiva begitu Inah mematikan sambungannya—yang sebenarnya masih menyala.
“Saya gak tau, Nya.”
“Terus apa yang lu tau, bangs*t?! Lu udah jatuhin gue dan buat gue kehilangan semua harta ini, lo pikir gue akan biarin lo gitu aja!?”
Di seberang sana, Adam menahan diri untuk tidak bicara. Dia ingin mendengarkan lebih jauh apa yang akan dikatakan Aiva pada Inah.
“Saya gak ngerti apa maksud Nyo—argh!”
[Aiva, apa yang kamu lakukan pada Inah, hah?!”
Tanpa sadar Aiva terlalu geram sampai menggores leher Inah. Meski pisaunya tak terlalu tajam dan goresannya tidak dalam, luka itu mengeluarkan darah.
Seketika dia membeku dan menjatuhkan pisaunya. Terkejut akan tindakannya sendiri dan fakta bahwa Adam mendengar semuanya. Dia menjambak rambutnya sendiri sambil melangkah mundur. “Argh, setan! Gue gak akan lepasin lo gitu aja, Inah!”
Setelah itu, Aiva buru-buru pergi dari sana dan mengendarai mobilnya tak tentu arah. Saat ini dia perlu bersembunyi atau Adam akan melakukan sesuatu padanya.
***
Sebenernya untuk scene segala ilmu hitam itu aku gak sepenuhnya paham, sebagian aku cari di internet dan sisanya denger di rumpian ibu-ibu. Jadi kalau itu aku gak yakin banget kayak gitu, makanya kalau ada yang mau nambahin atau ngebenerin boleh banget, buat tambahan info dan ilmu baru juga. Aku juga bukan tipe orang yang sering liat film rukyah atau exorcise dan semacamnya hehe.