Kayaknya part-nya bakal dibagi dua. Btw, sub judulnya jadi beda ya memperingati kembalinya Dimas yang asli wkaka.
***
“Pa, Papa yakin aku gak kenapa-napa? Aku ngerasa ada yang aneh,” keluh Dimas saat mereka dalam perjalanan pulang.
Ya, setelah nyaris 10 hari berada di rumah Ustadz Firdaus, Dimas sudah sembuh sepenuhnya. Dia adalah Dimas yang dulu tanpa guna-guna Aiva dan Dimas seperti yang dulu diingat Adam. Selama di rumah Ustadz Firdaus, Dimas dibekali cukup ilmu agama sehingga bisa terhindar hal seperti ini lagi.
“Iya, bukannya Ustadz Firdaus udah jelasin semuanya?”
Dimas mengusap tengkuknya. “Beneran, Pa, aku ngerasa aneh sama badan aku sendiri. Kayak aku udah lama tidur.” Dia menatap tangannya aneh. “Aku ... rasanya aku kayak canggung sama diriku sendiri.
Adam tak menimpalinya, menyibukkan diri menyetir. Bahkan tubuh Dimas merekam jelas kejadian selama tiga tahun lebih Dimas menjelma jadi orang lain. Untungnya ingatannya sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.
“Oh ya, Pa, hape aku mana ya? Aku pengen telepon Diana.”
Di balik sikap tenangnya, Adam menegang dan merasa kelu. Dia tak siap ditodong pertanyaan yang tidak bisa dijawab. “Em ... ponsel kamu ya ...” Jarinya mengetuk-ngetuk stir, “mana Papa tau.”
Bagaimana respons Dimas jika tahu bahwa dia sudah berpisah lama dengan Diana? Bagaimana jika semua orang mengatakan kebenaran yang menjatuhkannya? Bagaimana ... jika Aiva kembali mengacau.
Kemarin orang-orangnya tidak menemukan dia ada di rumahnya, hal itu cukup membuat Adam tak bisa tidur. Wanita itu bisa ada di mana saja, bisa mengacau kapan saja.
Selama sisa perjalanan yang dibuat selama mungkin itu Adam tak hentinya tersiksa memikirkan hal ini. sementara Dimas di sampingnya terlelap.
***
Menyebalkan. Orang-orang itu ternyata masih mengikutinya bahkan setelah Diana berpura-pura tertarik pada Seno. Kalau hanya untuk memastikan keberadaannya tidak mengganggu Dimas, seharusnya hal itu cukup. Entah apa maksud Elena mengirim mereka, kali ini Diana akan memberanikan diri bertanya atau jika mereka macam-macam, dia akan lapor polisi.
Pagi ini, Diana izin dari tempat kerjanya karena akan mendaftarkan Disha sekolah. Meski waktu sekolah masih cukup lama, Diana hanya khawatir tak sempat. Maka begitu Kek Dahlan memberinya izin, dia langsung memanfaatkannya.
“Bunda, nanti Bunda bakal anter Ica sekolah gak?” tanya Disha melompat-lompat kecil. syukurlah anak itu tidak sadar ada dua orang yang sedari tadi mengikuti mereka.
“Mm, kalau sempet, Bunda anter. Kalau gak, Ica bareng teman-teman aja ya?”
Disha mengacungkan ibu jarinya. “Oke. Ica sekolah aja udah senengggg banget! Makasih ya Bun udah sekolahin Ica.”
“Asal nanti Ica sekolah yang bener ya? Belajar yang bener juga supaya pinter. Anak Bunda harus pinter dong kayak bundanya.”
“Siap, Bun!”
Sekolah itu selisih satu rt dari rumahnya, sekolah terdekat meski hanya sekolah negeri biasa. Diana tak peduli dengan status sekolah anaknya harus terkenal atau mewah, yang terpenting adalah pendidikan. Melihat Disha senang saja sudah cukup.
Mengingat hari ini terhitung masih akhir semester, ada banyak siswa yang sepertinya sedang mempersiapkan untuk ujian kenaikan kelas. Bangunannya juga cukup luas meski beberapa bagiannya terlihat kusam dimakan usia.
Diana pergi ke sebuah ruangan berpelat ‘Ruang Guru’ lantas melongok ke dalam. Banyaknya benda di ruangan itu membuat matanya menelisik sejenak. Ada seorang wanita di depan komputer di sana. “Permisi, Bu.”
Wanita itu menoleh, lalu menghampirinya. “Iya. Ada apa ya, Bu?”
“Ini, saya mau mendaftarkan anak saya masuk sekolah. Bisa sekarang, Bu?”
“Ohh, mari masuk, Bu.”
Ibu-anak itu dipersilakan masuk, duduk menunggu sementara sang guru lenyap di balik rak-rak tinggi berisi dokumen.
“Bun, bukunya banyak, ya,” bisik Disha melihat banyaknya buku berjejer rapi.
Diana mengangguk. “Iya. Makanya Ica harus mau baca buku, ya, biar pinter.”
“Ini, Bu, ada berkas dan sejumlah uang yang harus dibayar.” Bu guru tadi kembali beserta sebuah map dan duduk di depan mereka. “Dokumen ini untuk biodata siswa,” katanya menyerahkan selembar kertas, lalu menyerahkan kertas lain, “yang ini untuk rincian biaya, berikut keperluan sekolah yang perlu dibeli.”
Diambilnya kertas berisi rincian biaya sementara yang lainnya disimpan di meja. Matanya melihat dengan seksama berapa banyak uang untuk mendaftarkan Disha sekolah.
Nyaris satu juta berikut buku paket, seragam, uang spp, hingga anggaran lain di luar pemahamannya.
“Bu, saya jahit baju anak saya sendiri, apa biayanya bisa dikurangi?” tanya Diana. Dia memang sebelumnya sudah mengumpulkan uang, tapi tidak menyangka akan segini banyak. Lagi pula dia memakai banyak untuk membeli bahan seragam Disha.
Wanita tadi tersenyum kecil. “Tidak bisa, Bu. Kami memesan sesuai jumlah siswa, jadi pakaian itu sudah satu paket dan tidak bisa dibeli per satuan.”
“Kalau soal spp, bukannya pendidikan sekolah sadar itu dibebaskan?”
Senyum tadi nyaris hilang dan terganti wajah masam. “Bu, ini Jakarta. Uang satu juta itu bukan apa-apa. Lagian memangnya pemerintah paham untuk apa uang spp? Tidak semua dari kami PNS yang digaji pemerintah.”
“Iya, Bu, saya paham. Tapi—”
Bu guru berdiri sambil mendekap buku. “Permisi, Bu, saya ada kelas. Silakan isi dokumennya dan kembalikan saat Ibu sudah menyiapkan dananya.” Dia meninggalkan ruang guru dengan langkah kaki yang mengentak-entak.
Diana kembali larut dalam rincian biaya. Jika dia tidak perlu membeli separuh seragam, maka akan mengurangi hampir sepertiga biayanya. Itu lumayan besar untuk ditabung atau modal warungnya yang saat ini sedang tutup.
Tidak mungkin dia akan meminjam pada bank atau meminjam pada tetangga. Dia tak yakin bisa mengembalikannya di saat kadang biaya hidupnya saja kurang. Apalagi menghubungi Dimas, itu adalah opsi paling terakhir dari pilihannya.
Jari kecil Disha menarik-narik lengan baju Diana. “Bun, Ica jadi sekolah, ‘kan?”
“Ah? J-jadi kok, Sayang.”
Tidak mungkin ‘kan dia memupuskan keinginan Disha? Lagipula kalau bukan tahun ini, tahun depan Disha juga harus masuk sekolah. Sebenarnya Diana tak ingin menunda usia belajar Disha.
Ah, mungkin pulang dan memikirkannya di rumah akan lebih baik. Siapa tahu Diana bisa memutar otak, jangan-jangan ada sejumlah uang yang bisa digunakan atau terpikir akan sekolah yang biayanya agak lebih murah.
“Ca, yuk pulang,” ajak Diana, tak lupa mengambil formulir sekolah. Awalnya Disha hendak memprotes karena berpikir tidak jadi sekolah, tapi urung dilakukan.
Baru saja mereka sampai di depan pintu, bu guru tadi kembali dengan wajah yang lebih sumringah. Diana mengangguk kecil sebelum melewatinya, tapi tak diduga tangannya dicekal. “Tunggu, Bu. Ini kuitansinya.”
“Lho, ini kuitansi apa, Bu?” Diana bertanya heran.
“Biaya sekolah anak Ibu. Sudah dibayar lunas.”
Mata Diana melotot, menatap lembaran kertas yang tertanda ‘lunas’ itu sulit dipercaya. “L-lunas? Siapa yang bayar, Bu? Saya bahkan belum menyiapkan uangnya.”
“Yang penting administrasinya sudah selesai. Nanti akan kami antar ke rumah Ibu untuk bahan ajar beserta seragamnya.” Jika didengar-dengar, cara bicaranya lebih sopan pada Diana—lebih menyambut. Belum sempat Diana tanya lebih lanjut, bu guru tadi sudah pergi.
“Oh, terima kasih,” gumam Diana masih kebingungan. Siapa yang membayar biaya sekolah Disha? Kejadiannya hanya sepersekian menit, orangnya pasti masih ada di sini.
Diana terhenyak, refleks mengedarkan pandangannya. Iya, siapa lagi yang harus dicurigai selain dua pria berjas hitam yang mengikutinya ke mana-mana? Pasti mereka, atau paling tidak orang yang menyuruh mereka.
Meski rasa penasaran menggerogotinya, Diana menunda melabrak dua orang itu sampai tiba di rumah. Jangan sampai Disha lihat atau bocah itu akan menanyakan banyak hal.
“Sayang, Ica masuk duluan ya. Bunda mau ke toko Kek Dahlan sebentar.”
Disha mengangguk, tanpa bertanya lagi masuk rumah.
Lewat pantulan kaca tetangga, bisa dilihat dua orang tadi masih mengamatinya. Benar-benar ingin dicolok ya matanya! Diana melihat langsung keduanya yang serta merta membuat mereka gelagapan.
“Berhenti!” seru Diana saat gerak-gerik mereka menunjukkan hendak menjauh. “Saya tau kalian mengikuti saya beberapa hari ini. Mau apa? Apa Mama—maksudnya Bu Elena yang mengirim kalian?”
Perlahan pria-pria itu berbalik, wajahnya ditutupi masker hitam. “Bukan, Bu.”
“Bukan?” tanyanya, “lalu siapa? Kalian tidak perlu berbohong. Jujur atau saya laporkan kalian berdua pada polisi.”
Satu dari mereka tiba-tiba menyentuh telinga kanan dan memaling ke arah lain, yang baru Diana sadari keduanya memakai earphone wireless. Mungkin orang yang memerintah memberi instruksi baru, melirik rekannya dengan tatapan ragu. A-ah, apa jangan-jangan mereka disuruh melukai Diana?!
Yang lainnya mengotak-atik handphone lalu memberikannya pada Diana. “Beliau ingin bicara, Nona.”
Layarnya terpampang nama ‘tuan’. “Halo?”
[Lama tidak mendengarmu, Diana.] Suara dari ujung sana mengejutkan Diana. Dia benar-benar meleset dari dugaan.
“Pap—mm, Pak Adam?”
[Panggil papa saja, tak apa. Papa dengar Disha mau masuk sekolah dasar.]
“Ya, begitulah.” Untuk saat ini, Diana berani menyimpulkan bahwa benar, dua orang ini yang membayar atas suruhan Adam. Diana melanjutkan dengan nada datar. “Ada apa, Pa? Kenapa Papa ngirim orang-orang ini buat ngawasin aku?”
[Tidak ada. Hanya ingin memastikan menantu kami tidak kesulitan.]
“Maksud Papa apa, menantu? Papa lagi main-main, ya?” Jelas wanita itu tersinggung. Apa maksudnya menantu? Jelas mereka tidak ada hubungan lagi. Mengungkitkan seolah menghina Diana secara halus.
Lagi pula, sejak kapan mantan papa mertuanya itu jadi baik begini? Sebelumnya mana pernah.
[Sebenarnya Papa ingin mengatakannya secara langsung, tapi ... maaf.]
“Apa?”
[Maafkan Papa, Diana. Papa tau Papa selama ini salah memperlakukan kamu. Papa—]
“Pa, pertama, Papa gak perlu minta maaf. Kedua, Diana gak butuh dan gak nyaman ada yang ngikutin Diana apa pun itu alasannya. Aku gak butuh bantuan Papa lagi. Ketiga, stop kasih Mama alasan untuk mengganggu aku.”
[Elena mengganggumu? Kenapa?]
Diana memejamkan matanya meredam emosi. Setiap kali mengingat mantan mama mertuanya, semua perlakuan buruk itu seketika bermunculan. “Mana aku tau. Papa tanya aja sendiri.”
***
Dimas mengernyit ketika Adam membangunkannya dan menyadari bahwa dia berada di rumah lamanya—yang tentu saja tidak diingat Dimas. “Lho Pa, ini rumah siapa? Anter aku pulang ke rumahku sama Diana, Pa.”
Wajah Adam tercetak datar. “Karena Papa gak tau rumah kamu di mana, ingat? Papa gak akan sudi ke tempat kumuh itu. Rumah ini juga atas nama kamu, kok,” katanya lalu keluar dari mobil.
Rumah yang dimaksud Dimas adalah rumahnya dulu bersama Aiva. Adam khawatir membawa Dimas pulang ke rumahnya karena orang-orangnya kemarin belum menangkapnya. Paling tidak dia harus memastikan Aiva sudah pergi dari rumah. Dia juga cukup yakin setelah kemarin, Aiva tidak akan berani ke sini dan melarikan diri sejauh-jauhnya.
Kepala Dimas dilanda pusing sejak beberapa hari. Dia bahkan sulit membedakan mana yang asli dan mana mimpi, semuanya terlihat sama saja. Begitu keluar dari mobil, samar-samar dia mengingat pernah melihat rumah itu sebelumnya.
“Handphone ... Diana ...,” gumamnya panik meraba-raba saku jeans. Diana pasti ketakutan sendirian di rumah. Dia harus segera pulang atau Diana akan marah. “Pa, hand phone aku yakin gak ada di Papa?”
Adam terdiam sejenak. Apa mungkin Dimas akan mengingat kenangan di rumah itu jika dia masuk? Ah, di jalan Adam sepertinya berpikiran pendek. Dia khawatir Aiva kembali ke rumahnya padahal rumah ini lebih bahaya. “Kamu telepon pakai telepon rumah saja,” gumam Adam.
Dimas mengangguk, lalu berlari memasuki rumah.
Adam berbalik memunggungi rumah, antisipasi kalau-kalau Dimas kembali. Dia gusar akan beberapa hal dan mengulur waktu untuk menghadapi pertanyaan beruntun Dimas nanti.
Awalnya Adam hendak menghubungi anak buahnya dan menanyakan perihal penangkapan Aiva, tapi dia teringat Elena sama sekali tidak diberi kabar selama penyembuhan Dimas. Jadi, dia memutuskan menghubungi istrinya dahulu.
Belum saja Adam berbicara, Elena sudah menyela begitu panggilan tersambung, [Pa!]
“Papa sama Dimas ada di rumah dia dan Aiva. Cepat kemari, ada yang perlu kusampaikan.”
Hanya begitu, panggilan langsung diputuskan sepihak oleh Adam. Niatnya sebatas memberi tahu, informasi dari anak buahnya jauh lebih penting daripada berbasa-basi.
“Halo? Bagaimana, sudah ketemu?” tanya Adam pada lawan bicaranya di telepon.
[Belum, Pak. Kami sudah memeriksa ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi nona Aiva, tapi beliau tidak ada.]
Sang bos memejamkan mata menahan amarah. “Hanya itu yang bisa kalian lakukan? Memeriksa? Yang kuinginkan kalian menemukannya!” Persetan dengan bicara baik-baik, sekali gagal maka mereka tidak becus. “Esok, dia harus tertangkap. Paham?!”
[B-baik, Pak .... Sebenarnya ada satu tempat yang belum kami periksa karena Bapak bilang tak usah.]
Kening Adam mengerut, tak ingat pernah bilang begitu. “Yang benar? Di mana?”
[Rumah Pak Dimas.]
“Argh!”
Teriakan itu ....
“Sialan!” Adam menegang seraya berbalik dan langsung berlari menerobos rumah. Rahangnya mengeras dengan amarah yang semakin memuncak.
***
“Lho, Aiva, kamu kenapa ada di sini?” tanya Dimas heran. Meski dia tak ingat rumah ini, tapi papanya bilang ini rumah atas nama Dimas. Jadi jelas kehadiran teman istrinya ini sangat janggal. “Kamu sama Diana?”
Sontak raut wajah Aiva berubah bingung. “Maksud kamu apa, Mas? Seminggu ini kamu ke mana aja?”
“Seminggu? Tunggu. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana Diana?” tanya Dimas menoleh ke sana-sini, berharap teman istrinya ini memang bersama Diana. Toh tak ada alasan lain Aiva menemuinya sendirian.
Aiva tampak tergugu dan tersenyum pahit. “Maksud kamu apa? kamu ....” Tiba-tiba wanita itu terkesiap dan menajamkan tatapannya pada Dimas. “Dimas, kamu tau aku siapa?”
“Tau, kamu sahabatnya Diana, ‘kan?”
Sama sekali tak Dimas duga, Aiva mulai menangis mendengarnya. Mulanya hanya isakan kecil, sampai tangisnya tersedu-sedu disertai racauan. “Jahat kamu! Kamu melupakan kebersamaan kita!”
Tanpa disadari siapa pun, tangis sesegukan itu tersirat seringai. Semuanya sudah direncanakan.
Setelah menyakiti Inah, Aiva memang terpikir untuk kabur melarikan diri. Namun, dia akan hidup dalam pelarian dan ujung-ujungnya tertangkap. Maka sekalian saja menyerahkan diri, tapi masih sempat tertawa. Lihat, mempermainkan Dimas sebanding dengan risiko yang akan dia dapatkan. Ahh, suaminya yang lugu selalu menghibur.
Wajah Dimas tampak kebingungan luar biasa. “Maksud kamu?”
“Kita udah nikah selama tiga tahun, Dimas. Kamu udah cerai lama sama Diana!” pekik Aiva makin larut dalam tangisnya. Bahkan sampai duduk bersimpuh di hadapan Dimas.
“Bohong! Omong kosong apa ini, Aiva?! Kemarin aku dan Diana baru aja merayakan ulang tahun Disha!”
“Itu tiga tahun yang lalu, Dimas! Kamu kenapa sih?”
Aiva mendekat dengan lututnya ingin menyentuh Dimas, tapi pria itu sontak mendorongnya. Meski Dimas tidak biasa kasar apalagi pada perempuan, tapi pria itu mudah dikuasai amarah. “Pembohong! Bilang yang sebenarnya!” Dimas balas berseru.
“Kamu tanya aja sama Inah apa yang terjadi.”
Inah muncul dengan tubuh gemetaran di belakangnya. Tampak luka yang waktu itu ditimbulkan Aiva berbalut kain kasa dan plester. Untunglah lukanya hanya tidak dalam dan tidak mengenai bagian penting sehingga dibawa ke puskesmas saja cukup.
“I-Inah, itu semua tidak benar, ‘kan?” tanya Dimas gemetaran.
“M-maaf, Tuan, tapi itu benar.”
Seolah kehilangan kewarasan, Dimas berteriak sedemikian rupa dan menarik rambutnya sendiri. Rasanya kepalanya begitu penuh sampai nyaris pecah. Teriakan itu begitu keras sampai Adam tergesa-gesa masuk. “Aiva! Hentikan drama menjijikan ini dan berhenti memperdaya Dimas!” seru Adam menebak apa yang terjadi. ah, terlalu jelas.
Rona merah padam menjalari wajah hingga telinga Dimas, matanya pun menyiratkan kekacauan. “Sebenarnya ada apa ini, Pa? Kenapa dia bilang aku nikah sama dia, Pa?!” Pria itu masih mencoba menepis semua kenyataan tak masuk akal ini.
Adam melirik Aiva penuh amarah sebelum membalas, “Bukan apa-apa, kamu—”
“Kita udah nikah tiga tahun, Mas! Kamu—”
Plak! Cetak tangan Adam menghiasi pipi ber-make up Aiva. Pria paruh baya itu sudah tak tahan dengan kelakuan kurang ajar wanita di hadapannya.
“Papa!” Dimas mendekati Aiva lalu membelakanginya, bermaksud melindungi wanita itu. prinsip utamanya tak akan melukai wanita, terutama fisik. “Gak perlu sampai pakai kekerasan!”
“Dia pantas mendapatkannya.”
Dalam situasi menegangkan itu, pintu terbuka lebar dan terdengar pekikan setelahnya. “Pa!” Elena—Mama Dimas—langsung menemukan jejak tamparan pada pipi menantunya dan Adam yang tampak menahan sisa amarah. “Ada apa ini? Kamu nampar Aiva?”
Adam mendengus kesal, jengkel karena begitu banyak yang membela dan terpedaya wanita culas seperti Aiva. “Ya. Kenapa? Kamu tidak tau apa yang sudah dilakukan wanita ini pada anak kita.”
Elena mendelik pada suaminya, lalu menghadap Aiva. “Aiva, emang apa yang kamu lakukan ke Dimas?”
Bukannya Aiva yang menjawab, Dimas malah menyela dengan nada frustrasi. “Ma, mereka bilang aku udah cerai sama Diana, itu bohong ‘kan?”
“Ngapain kamu ungkit dia, hah? Dia ganggu kamu lagi?”
“Kalian semua kenapa sih?!” Dimas semakin bingung, kembali berakhir pada Papanya. “Pa, aku mau pulang. Kasian Diana sendirian di rumah.”
“Diana? Rumah? Maksud kamu apa, Dimas?” sentak Elena lagi. Jelas dia sangat anti jika ada yang mengungkit-ungkit Diana atau pernikahan putranya yang pertama.
“Mama yang—”
“Dimas, lebih baik kamu telepon Diana pakai telepon rumah sebelum Papa antar kamu,” sela Adam bermaksud agar Dimas menenangkan diri sejenak. Sejujurnya, Adam belum siap jika Dimas harus mengetahuinya sekarang.
Adam memelototi Aiva ketika Dimas sudah pergi. Sementara Aiva tak tampak takut atau bersalah, wajahnya malah terkesan menantang balik.
Elena sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa kembali bertanya. “Pa, ada apa ini? Kenapa Dimas jadi begitu? Ke mana aja kalian selama seminggu ini, hah?”
“Kenapa gak kamu tanya aja menantu kesayangan kamu ini?”
Rupanya Aiva belum puas dengan kepura-puraannya ini. Sambil memelas, dia balik bertanya, “Maksudnya, Pa? Aku gak tau maksud Papa.” Entah dia mencoba mempertahankan kepercayaan Elena di detik-detik terakhir atau memang ingin bermain-main di saat terakhir hidupnya menjelang hancur.
Adam mendecih dan buang muka. “Jangan panggil aku papa. Gak sudi aku punya menantu picik kayak kamu.”
“Pa, Ai, sebenernya—”
“Selama ini Aiva pelet Dimas,” potong Adam.
Elena melotot tak percaya dan bergumam, “Hah?” Nyaris membuat kesan wanita keras dan pantang ditentang seperti Elena hilang begitu saja di depan anak dan menantunya—ralat: calon mantan menantu.
“Kamu pikir anak kita seleranya sekacau itu sampai tertarik sama wanita culas kayak dia?”
“Aiva, apa itu benar?” tanya Elena lagi.
Aiva menggeleng-geleng, menatap penuh permohonan satu per satu ketiga orang di depannya bergantian. “Ma, Pa, aku—”
“Gak usah sok polos kamu. Saya udah tau semua belang kamu. Siap-siap saja mendekam di penjara.”
Wanita itu menunduk ketika kakinya membawanya berdiri, reaksi selanjutnya tak diduga siapa pun. Aiva mendongak dengan wajah culas dan puas, lantas tertawa terbahak-bahak membahana di ruang tamu. Jelas Elena, Adam, dan Dimas menatapnya keheranan dan ngeri.
Aiva seperti wanita psiko. Sebelum tawanya yang berangsur reda berhenti, bibirnya mengulas senyum licik dan penuh rahasia. “Yahh, jadi beneran udah ketahuan, ya?”
“Aiva!” bentak Elena benar-benar tak percaya dan merasa dibohongi.
“Toh selama nikah sama Dimas gue gak pernah bahagia kok. Jadi gue gak selamanya salah.” Nada bicaranya berubah tak sopan dan sarat akan kesinisan. Sorot matanya dingin dan merendahkan di waktu yang bersamaan. “Sayangnya Cuma sebentar, ya? Padahal hartanya Dimas masih banyak.”
Tangan Elena sudah terangkat tinggi-tinggi sebagai ancang-ancang ingin menampar Aiva, teapi Adam langsung mencekalnya di udara. “Jangan tampar dia, Ma. Dia kotor, nanti tangan kamu ikut kotor. Biar mereka yang nangkap dia,” kata Adam menunjuk dengan dagunya kepada sejumlah orang yang memasuki rumah berperawakan khas bodyguard. Lewat lirikan mata, kedua orang dari mereka menahan tangan Aiva di belakang tubuhnya.
“Kamu akan ditahan atas tuduhan penipuan, tuntutan atas orang-orang yang berurusan sama kamu sebelum kamu nikah sama Dimas, serta penganiayaan.”
Sebelum resmi menikah, Aiva memang memiliki rekam jejak yang penuh dengan hal buruk. Beberapa orang dari club, orang-orang yang merasa dia tipu, atau wanita-wanita yang suaminya pernah ada main dengannya. Belum termasuk penganiayaan Inah, penipuan dan memperdaya Dimas lewat ilmu hitam, dan sejumlah hutang yang kembali diungkit.
Hidupnya aman selama ini karena berada dalam lingkup keluarga Dimas yang penuh kekuasaan.
“Terserah,” kata Aiva, “ingat, ada banyak fasilitas dan properti sekarang udah atas nama gue. Jadi gue gak meninggalkan keluarga ini dengan tangan kosong.”
“Sialan kamu, Aiva!” Elena kembali mengumpat.
Sementara itu, Dimas semakin kebingungan dengan semua ini hanya bisa jadi penonton. Ingatannya kemarin dengan apa yang dibilang Aiva tidak sinkron. Bagaimana bisa dia sudah menikah selama tiga tahun dengan wanita itu sedangkan kemarin Diana masih jadi teman tidurnya?
Aiva menyeringai di depan wajah Dimas, disambut tatapan gamang pria itu. Sebelum diseret, Aiva berpesan, “Nitip Dimas ya, Ma, jangan sampai suamiku balik lagi sama Diana.”
***
Sesek sesek oy!
Oh ya, nyadar gak sih ada beberapa tokoh yang emosinya kayak berantakan gitu? Kayak kadang hari ini sama si A baik besoknya malah judes. Kalau kalian ngeh, itu sengaja kok. Ada beberapa tokoh yang kurang bisa handle emosi jadi kayak labil. Nyatanya aku sendiri kadang kayak gitu sih jadi ya gitu dehh