Hari ini, Adam memutuskan untuk mencari tahu kemungkinan bahwa anaknya terkena ilmu sihir. Memang di internet ada banyak ilmu pemikat dan beragam caranya memikat, setidaknya Adam ingin memastikan betul tidaknya hal itu. Meski berharap banyaknya itu benar karena dia kasihan pada Dimas jika anaknya benar mencintai Aiva.
Tok!
Pagi-pagi dan tanpa memberi tahu siapa pun, Adam mampir di rumah putranya walau tahu hanya ada IRT di sana. Dimas sedang ada perjalanan pekerjaan dan Aiva sejak kemarin menginap di rumahnya. Cukup bagus untuk memanfaatkan situasi dan memastikan semuanya tanpa mengundang curiga.
Inah yang membukakan pintu terkejut. Ternyata sang tuan besar yang datang berkunjung. “Eh, Tuan? Den Dimas sama non Aivanya gak ada, Tuan.”
“Ya, saya tau,” kata Adam merangsek masuk. Dia mengamati keadaan rumah itu, tidak jauh berbeda seperti yang terakhir kali dilihatnya. Mungkin Aiva tidak ada waktu untuk mempercantik rumah karena sibuk mempercantik diri. Dia menoleh ke Inah. “Kamu sudah bersihkan kamar Dimas?”
“Non Aiva larang saya masuk ke kamar den Dimas, Tuan. Jadi saya gak berani masuk kalau bukan disuruh.”
Pria paruh baya itu mengangguk-angguk. “Bagus.” Dia beranjak menaiki tangga ke lantai dua, tidak keberatan Inah mengikutinya. Begitu sampai di depan pintu kamar Dimas dan Aiva, tercium perpaduan bau yang aneh.
“Ada apa, Tuan?” tanya Inah yang sadar gelagat tak biasa tuannya. Tuannya tak menjawab, langsung membuka pintu dan masuk.
Adam menoleh ke kanan dan kiri, mengikuti arah bau itu yang menyengat tak jelas dari mana. Disibaknya selimut, mengobrak-abrik lemari dan liar mencari sesuatu. Laci, meja rias, nakas, semuanya tak luput dari pantauannya. Bahkan Inah yang menanyakan benda yang dicari tidak dia gubris.
“Apa kamu pernah menemukan sesuatu seperti ... sesajen?”
IRT itu menggeleng. Seingatnya walau bau aneh itu tercium sejak lama, saat diperbolehkan masuk Inah tak pernah menjumpai hal seperti itu. ngeri juga kalau beneran ada yang kayak begitu di sini. “Enggak, Tuan. Memang ada apa?”
“Enggak, saya cuma ingin memastikan sesuatu.”
“Kalau ... kalau ternyata non Aiva ... melet den Dimas, Tuan?” tebak Inah.
Sontak pria itu kembali menoleh. “Kamu juga merasa begitu?”
“Ya, saya Cuma bisa kira-kira aja, Tuan. Amit-amit, sih, tapi emang bener den Dimas berubah banget. Sampe waktu itu gak inget non Diana sama non Disha.”
Adam mengangguk-angguk, kali ini semakin yakin ada yang tak beres. Jika benar ada main sihir, berarti Adam sendirian tidak akan bisa menghentikannya. Dia perlu bantuan seseorang yang ahli spiritual. “Ada sesuatu yang kamu curigai, Nah?”
Inah mengingat-ingat. “Anu ... saya pernah denger non Aiva ngomong di telepon tentang den Dimas. Terus sama sebut barang-barang aneh gitu, Tuan.” Tak hanya sekali, sering kali dia mencuri dengar nonanya menyebutkan barang-barang aneh itu. Dan wewangian ini juga menempel pada Dimas.
“Selain itu, kamu gak menemukan barang lain? Kayak bau dupa, contohnya?”
Gelengan diberikan Inah.
Adam berkacak pinggang sambil terus memperhatikan kamar anaknya. Sekecil apa pun, Adam perlu bukti untuk menguatkan dugaannya dan tidak asal membawa Dimas ke ahli spiritual. “Gimana caranya membuktikan kalau Aiva main sihir?” gumamnya.
“Saya akan mengawasi non Aiva, Tuan, sama den Dimas juga. Nanti kalau ada apa-apa, saya beritahu Tuan.” Jelas Inah ingin membantu. Dia tidak suka pada Aiva dan ini peluangnya untuk menjatuhkan nonanya itu bahwa dia main curang.
“Ya, kabari saya kalau kamu menemukan sesuatu.” Adam melirik arlojinya, lantas berdecak. Sebelum pergi, dia berpesan, “Ya sudah. Jangan beritahu siapa pun saya mencurigai Aiva.”
“Baik, Tuan.”
***
Aneh. Dimas merasakan tubuhnya panas dan lemas sejak perjalanan sampai tiba di lokasi syuting. Dia sudah memastikan tubuhnya sehat untuk bepergian dan dokter juga mengatakan kondisinya baik-baik saja, tapi begitu memasuki jalan tol tubuhnya menunjukkan respons tak baik sehingga Dimas tidur seharian.
Dimas masih bergelung dalam selimut, kesulitan bangun meski alarm sudah berbunyi di jam take adegan. Kepalanya langsung pusing saat sedikit saja berjauhan dengan bantal, tubuhnya juga berat untuk digerakkan.
“Mas! Dimas, woy! Bangun belum, lu?!”
Seseorang memekik dari luar kamarnya. Dimas hanya bisa melirik tanpa bisa beranjak untuk membukakan pintu atau membalas. Dari suaranya, Dimas tebak itu Putra. Temannya itu ikut untuk jaga-jaga menjadi sutradara cadangan.
Pintu didorong dari luar dan benar saja, itu Putra. Pria itu sudah siap dengan pakaian hangatnya mengingat Probolinggo lagi lumayan dingin. Dengan bundelan skrip, Putra memukul Dimas dan mengomel, “Ya elah nih anak masih molor ternyata. Bangun woy! Mau kerja kagak sih lu?”
Mata Dimas terbuka sedikit, sebelum mau tak mau kembali menutup.
Putra berdecak, lalu menyibak selimut dan menarik tangan Dimas. “Burun, woy—buset! Panas amat badan lo.” Dia memeriksa suhu dahi Dimas, panas. Beberapa bagian tubuhnya begitu panas, sementara yang lainnya justru dingin. “Njir! Kenapa lo maksain ikut kalau lo belum sehat, sih? Yang ada ‘kan semuanya repot. Lu udah kena sp bukannya makin bagus, malah makin ancur tau gak.”
Dimas mengabaikan semua ocehan Putra dan menahan semua caciannya untuk membalas omongan pedas temannya. Pening di kepala dan sensasi tak mengenakkan di seluruh tubuhnya lebih menyiksa dibanding ambil pusing sama ocehan nih jelmaan setan satu.
“Woy! Pingsan lu? Diem aja sih lu, b*****t. Ngomong kek.”
Sumpah. Kalau sehat nanti, Dimas tidak akan lagi mau membantu Putra dengan hutang-hutangnya atau orang-orang yang berurusan sama dia. Putra ini kadang bercandanya kelewatan, tapi Dimas jarang bisa benar-benar marah padanya. Mungkin memang tabiat Dimas sejak dulu adalah orang yang mudah memaafkan makanya gampang terpengaruh dengan janji-janji untuk tidak mengulang kesalahan.
Sementara Dimas melenguh merasa kondisinya semakin sakit, Putra bingung sendiri harus apa. “Duh ... gue mana pernah berurusan sama orang sakit. Mas, eh, gue harus gimana dong?”
Pendengaran Dimas tidak lagi menangkap suara dengan baik, dia justru mengerang kencang seolah lemas di tubuhnya tadi sirna. “Argh!”
“Anjir! Lo kenapa, sih, hah? Jangan buat takut gue dong,” seru Putra bergidik ketakutan. Pasalnya, tubuh Dimas menggeliat-geliat dan tak henti mengerang. Sudah persis orang kerasukan.
Tunggu. Kerasukan?
“B-bentar, deh, gue panggil orang dulu.” Dia langsung ngibrit keluar dan memanggil orang-orang sebanyak mungkin—yang sebagian besar berupa kru film—agar menolong Dimas yang kesakitan di kamarnya. Mereka berbondong-bondong menghampiri kamar Dimas, beberapa hanya bisa melihat dari jendela karena kamar yang tergolong kecil itu sudah penuh oleh orang-orang yang berdesak-desak.
Putra tidak kembali ke sana—tidak mau tahu kondisi Dimas lebih jauh. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Aiva.
“H-halo?”
[“Eh, kenapa suara lo kayak abis dikejar setan gitu?”]
“Iya, setan. Suami lo tuh yang kesetanan.”
[“Hah? Dimas kenapa?!”]
“Dia ... dia kayak kerasukan. Teriak-teriak gak jelas gitu. Terus badannya panas banget, eh, gak semua, telapak tangan sama kakinya dingin. Serem banget, Ai.” Putra menjelaskannya dengan nada takut dan gusar. Baru kali ini dia menyaksikan hal mengerikan kayak begitu. “Lo udah cob—”
[“Dimas kenapa, Ai? Dia baik-baik aja, ‘kan?”] Dari suaranya, itu jelas bukan Aiva. Putra tebak itu Elena, mamanya Dimas. Tanpa alasan yang jelas dia menegang dan berubah gugup.
“Eum ... a-anu, Tante, Dimas kayaknya belum pulih benar. Dia sakit, sekarang masih di kamarnya.” Putra menjauhkan ponselnya seolah berbicara pada orang lain, lalu pamit. “Saya permisi dulu, Tante.”
***
Pulang dari kantor, Adam langsung dihadapkan pada istri dan menantunya yang gusar karena informasi tentang anaknya. Belum saja Adam menginjakkan kaki ke dalam rumah, Elena sudah menodongnya dengan seruan, “Pa! Dimas sakit, Pa!”
Adam mengernyit, terkejut dan heran. “Dimas sakit? Maksudnya?”
“Ya, Dimas sakit! Tadi temannya nelpon dan bilang Dimas teriak-teriak, kayak kerasukan.” Elena menarik Adam untuk kembali keluar. “Ayo, Pa, kita susul Dimas, ajak Dimas pulang.”
“Ma, mungkin dia cuma sakit biasa karena sakit belum lama ini. Udahlah, dia udah besar, walaupun anak tunggal jangan dimanjain kayak gini.”
“Pa! Tega ya kamu! Dia anak kita, Dimas lagi sakit kamu malah gak peduli, hah? Papa macam apa kamu?!” bentak Elena emosi karena Adam bersikap acuh pada keadaan putra semata wayang mereka. Selain karena dia adalah seorang ibu, mendengar jeritan Dimas tadi siang sanggup membuatnya lemas.
Adam menyentak pegangan Elena, melirik sinis Aiva yang kelihatan polos tapi menyembunyikan kebusukan di belakangnya. Emosinya terpancing. “Kamu pikir kamu ibu yang baik? Selalu memanjakan Dimas sampai besar seperti ini bukan perilaku yang baik. Lihat akibatnya? Sakit sedikit malah heboh, dibesar-besarin. Mau jadi apa dia kalau hanya mengandalkan orang tuanya?”
“Pa, Ma, udah. Dimas lagi sakit begini gak baik malah berantem,” lerai Aiva. Dia tegang bukan main, ikut khawatir dengan keadaan Dimas. Bagaimana kalau ajiannya tak mempan lagi?
“Diam, kamu. Kamu juga bukan istri yang baik dibanding Diana.”
“Pa! Kok malah bawa-bawa Diana sih? Sejak kapan Papa jadi mihak dia kayak gini?” balas Elena protes. Mereka sejak dulu sama-sama tak suka Diana yang mengubah Dimas dan membawanya susah, sekarang kenapa Adam malah memihaknya?
Elena mulai berpikir semua ini ada kaitannya dengan Diana, bahwa bekas menantunya itu melakukan sesuatu dan menghasut suaminya agar memihaknya. Sial, kebenciannya pada Diana semakin menjadi.
“Sejak Papa tau kalau penampilan gak mencerminkan sikap seseorang.” Setelah itu Adam berbalik pergi tanpa berganti pakaian, kembali memasuki mobilnya dan melepaskan rem tangan.
“Pa! Papa mau ke mana?” seru Elena melihat suaminya pergi lagi.
“Jemput Dimas!”
***
dah deh, no komen di chap ini mah.