Di chapter ini, kita gak usah ketemu dulu lah ya sama si Dimas musuh para wanita berhati lembut :’) ya iyalah, ‘kan Aiva yang hatinya kaya batu malah ditemenin sama Dimas. Ganteng sih, tapi jahad bin ngeselin :)
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Diana agak menjadi pendiam. Dia tegasnya pada Disha dia tidak marah, hanya saja banyak kerjaan. jelas Disha terlalu kecil untuk dipaksa mengerti keadaan para orang dewasa.
Hari ini, suasana hati Diana cukup membaik. Menyibukan diri menjahit pakaian dan mematangkan keputusannya lumayan ampun mengalihkan pikirannya mengingat kejadian tempo hari. Apalagi baiknya Disha jadi mau makan sayur tanpa perlu dipaksa atau diiming-imingi sesuatu.
“Ica sayang, Ica mau Bunda beliin boneka gak?” tanya Diana pada Disha yang melanjutkan sendiri buku latihan hitungannya.
“Mau!” seru Disha, tak lama kemudian terdiam. “Tapi ... emangnya Bunda punya uang?”
“Ya gak sekarang, Ca. Nanti kalau—”
“Bunda gak jadi mau sekolahin Ica ya?!”
Diana mengernyit atas tuduhan putrinya. “Hah? Jadi, kok.”
“Bohong.” Matanya memicing penuh selidik.
“Ica kok mikirnya gitu?”
“Ya abis Bunda mau beliin Ica. Uang buat sekolah dipake buat beli boneka, ‘kan?”
Ahh, jadi ke arah situ pemikirannya. Diana tertawa sendiri, merasa lucu Disha sudah bisa berpikiran begitu—mulai dewasa. “Enggak, Ca.” Tubuh Disha diangkat, lalu didudukkan di pangkuannya. “Bunda mau cari kerja, boleh?”
“Kerja?” ulang Disha membeo, “Bunda ‘kan udah kerja. Di situ,” katanya menunjuk ke arah pojokan—mesin jahit.
“Bukan, Sayang, Bunda mau kerja di pasar.”
“Pasar?” Bocah itu cemberut tak setuju. “Nanti Ica sendiri dong.”
“Ica ‘kan nanti sekolah. Bunda juga ‘kan istirahat pas Ica pulang, siang Ica biasanya main. Bunda yang sering ditinggal sendiri sama Ica.”
“Bunda kenapa kerja? Emangnya Ayah gak ngasih Bunda uang?”
Diana bungkam. Heh, uang? Kemarin aja kamu dimarahin sama ayah kamu, anak, batinnya nelangsa. Kasihan sekali putrinya ini, tak tahu ayahnya siapa. Sedangkan ayahnya, tak mau tahu kamu ini anaknya. Malah sibuk dengan istrinya yang ‘menarik’ itu.
“Gimana ngasihnya? Ayah ‘kan gak pernah pulang, Ca,” gumam Diana tak sadar.
Disha mengangguk kecil. “Oh iya, ya, gak pernah.” Bocah itu menunduk, memainkan pensilnya. “Ya udah boleh deh.”
Alis Diana terangkat sebelah. Eh, ternyata gampang juga membujuk Disha. “Bener?”
“Emangnya Bunda mau kerja di mana?”
“Di pasar aja lah ya, biar deket kalau istirahat.”
“Pasar masih kejauhan, Bun. Gimana kalau nanti Ica pengen main ke sana?” protes Disha.
“Kenapa Ica pengen main ke tempat kerja Bunda?”
“Ya siapa tau Ica gak ada teman, di rumah sendirian. Nina lagi jalan-jalan, Kania tidur siang, atau Andi main sama teman-teman cowoknya, ‘kan Ica takut kalau sendirian di rumah.”
Ah, benar juga. Disha masih terlalu kecil untuk ditinggal kerja sendirian. Diana juga tidak mungkin menitipkannya pada tetangga mengingat mereka semua juga sibuk. “Nanti Bunda usahain cari kerja yang dekat, ya?”
***
Berhari-hari Diana mencoba mencari pekerjaan yang jam kerjanya fleksibel terhadap perannya sebagai orang tua tunggal tidak berjalan mulus. Bukan berarti Diana ditolak di semua pekerjaan yang dilamarnya, hanya saja faktor tidak bisa melonggarnya jam kerja dan atasan yang tidak mau menoleransi menyebabkan Diana mundur di beberapa pekerjaan, bahkan dua di antaranya sudah masuk sesi wawancara.
Sebenarnya jika ingin, wanita itu mampu bekerja di tempat yang sanggup menggajinya dengan harga tinggi. Kantoran misalnya. Meski ijazahnya bukan sarjana, dia yakin ilmunya selama kuliah dulu akan banyak membantu. Atau jika ada peluang, Diana bisa mencoba peruntungannya kerja di depan kamera. Postur tubuh dan wajahnya cukup menunjang untuk bekerja di bidang itu.
Sayangnya, pekerjaan terbaik yang bisa dijalaninya saat ini hanyalah menjadi karyawan di toko sembako. Diana bersyukur diterima di sana karena selain gajinya cukup untuk biaya sehari-hari, pemilik toko juga ramah dan begitu baik. Dia memaklumi keadaan Diana yang single parent sehingga bisa izin di waktu-waktu tertentu dengan pemotongan gaji yang tidak terlalu besar.
“Nanti kalau ada yang beli grosiran tulis di sini, kalau ada yang beli eceran tulis di sini,” terang sang pemilik toko, seorang kakek asal Sukabumi yang mengadu nasib di ibu kota.
Diana mengangguk seraya memperhatikan arahan pria tiga per empat abad itu dengan seksama. Beliau menjelaskan sistematika pembukuan karena Diana ditugaskan di bagian kasir dan bertanggung jawab atas keuangan toko. Juga tambahan info pemasok-pemasok mereka, utang yang harus dibayar ketika uang terkumpul, dan kasbon warga setempat yang belum dibayar.
“Udah ngerti, Neng?”
“Udah, Kek. Saya akan bekerja sebaik mungkin.” Diana mengangguk sekali lagi. “Terima kasih Kakek mempercayakan pekerjaan ini sama saya.”
Kakek Dahlan mengibaskan tangannya, seolah ucapan Diana berlebihan. “Kakek juga ngerti susahnya hidup di Jakarta, apalagi Neng gak punya suami. Kasian anak Neng waktu besar kalau Neng cuma ngejahit.”
“Iya, Kek.” Hanya itu yang bisa Diana sampaikan sebagai respons. Dia merasa agak tertohok harus mendapatkan simpati orang lain yang mendengar kisah hidupnya. Jujur saja, Diana benci merasa dikasihani. Mendengar betapa orang-orang menyimpulkan kehidupannya menyedihkan hanya akan membuatnya meratapi nasib.
Akan tetapi, kali ini rasa kasihan tidak boleh membuatnya tersinggung. Seperti yang ‘orang itu’ pernah bilang, “Miskin aja belagu, sok mentingin harga diri.” Kali ini Diana tidak boleh mementingkan ego. Dia tidak akan pernah menghilangkan harga dirinya, maka dia tidak akan membiarkan orang-orang itu seenaknya mengatakan dia belagu. Memangnya salah jika si miskin mementingkan harga diri?
“Ada yang mau ditanya, Neng? Kakek mau pulang bentar lagi,” tawar si Kakek.
Diana tersenyum simpul. “Belum ada, Kek. Nanti saya tanya aja sama pegawai di sini kalau gak ngerti.”
“Ya udah. Ji! Sini dulu!”
Seorang pria dari balik rak-rak tinggi muncul setengah berlari. “Ada apa, Kek?” Pria itu hanya memakai baju kaos tanpa lengan dan celana selutut, tak lupa topi dan kain untuk lap keringat. Hanya dari melihatnya Diana tahu apa tugasnya, tukang panggul.
“Ini si Neng ‘kan kasir baru, nanti dibantuin yah kalau ada apa-apa. Awas, jangan digangguin.” Si Kakek mencubit Aji karena pria itu cengengesan. “Kalau digangguin, Neng, tendang aja ti*itnya.”
Aji melotot malu, sementara Diana melotot kaget. Astaga, ternyata Kek Dahlan orangnya sompral kalau ngomong, enggak malu mengatakan kalimat yang tergolong vulgar itu. Untung aja baik, jadi kesannya humble. Kalau enggak ‘kan disangka penjahat kelamin.
“I-iya, Kek,” cicit Diana agak canggung.
“Ji, sekarang masih kamu yang tanggung jawab sama toko,” pesan Kek Dahlan, “Kakek pulang dulu.”
Begitu Kek Dahlan hilang tak terlihat, Aji menoleh ke arah Diana dan menyodorkan tangannya. “Saya Aji, Teh. Teteh namanya siapa?”
Diana tidak langsung menyambut uluran tangannya itu, berdeham sebentar untuk menghilangkan kegugupan. “S-saya Diana.”
Aji mengangguk-angguk, lalu melepaskan tangan Diana. “Jangan kaku-kaku, Teh. Aji orangnya gak galak kok, baik hati dan suka menabung.” Dia cengengesan lagi.
Diana terkekeh kecil. “Aji udah berapa lama kerja di sini?”
“Eum ....” Aji mengetuk-ngetuk dagunya sambil melihat langit-langit. “Kayaknya setahunan. Gak tau deh, lupa.”
“Terus, sebelumnya yang jadi kasir siapa?”
“Ibu-ibu di gang Melati, namanya Bu Indah.”
“Kenapa berhenti?”
Aji melirik ke sana-sini, memastikan tidak ada orang lalu berbisik pada Diana, “Sebenernya dia dipecat, Teh. Abisnya uang lima juta gak jelas ke mana, terus gak dibalikin kalau pinjam sama Kek Dahlan.”
Mulut Diana terbuka, yang langsung ditutup dengan tangannya. Orang sudah dikasih kerjaan sebagus ini masih ada aja yang tergiur untuk menggelapkan uang.
“Ya udah, Teh, Aji ke belakang dulu ya, mau beresin barang soalnya bentar lagi ‘kan dateng stok.”
“Oh, iya iya.” Diana mangut-mangut, sebelum sadar arti dari perkataan Aji. Dia langsung memeriksa jadwal yang tertera di buku agenda, tanpa sadar melenguh. “Duh, hari pertama udah datang aja pemasok,” keluhnya. Dia takut melakukan kesalahan di hari pertamanya bekerja.
***
Sesudah Dimas sembuh dari sakitnya dan kembali bekerja, kehidupan glamor Aiva juga kembali berjalan. Pagi ini sesudah Dimas berangkat, dia lekas menghubungi teman-temannya dari klub kecantikan dan berkumpul di salon langganan mereka. Wanita-wanita itu temannya dulu semasa jadi aktris di bawah naungan PH tempat Dimas bekerja sekarang.
Bisa dikatakan, mereka bukan orang yang sebaik penampilannya. Raisya, seorang simpanan Rektor dan sekarang ini sedang mengandung. Kaila, kupu-kupu malam di pub besar di Jakarta. Terakhir, Yessi, kerap memeras harta orang yang pernah dijebaknya. Dia juga orang yang berperan besar dalam kesuksesan Aiva sekarang mengeruk harta dan mendapatkan Dimas.
Aiva membanting tubuhnya ke kursi tunggu salon sambil mengurut pangkal hidungnya. Beberapa hari ini dia kurang tidur karena harus bersikap sebagai wanita penuh kasih sayang guna mengenyahkan bayang-bayang Diana dari benak suaminya. Sungguh hari-hari paling melelahkan dan menyebalkan.
Kaila yang berada di sampingnya terkekeh. “Nyonya Dimas kenapa cemberut? Habis dirodi sama suami lo?” godanya, “oh lupa. Lo mana mau punya anak, harus pake pengaman terus ya pantes Dimas gak betah lama-lama. Selamanya lo mau nganggurin suami lo yang ganteng itu?”
“Apaan sih? Orang Dimas lagi di luar kota. Lagian lo tahu, gue gak akan pernah pake barang bekas tanpa pengaman.”
“Cih, lo sendiri barang bekas,” celetuk Yessi.
Memang benar, selama ini Dimas selalu memakai pengaman tiap kali berhubungan dengannya. Itu sudah wajib menjadi syarat jika pria itu ingin kepuasan. Belum lagi, dia sering menolak setiap kali Dimas meminta. Aiva lebih rela mengantar Dimas ke pub dan memuaskan hasratnya bersama siapa pun itu. Dia tidak akan pernah menerima mentah-mentah barang yang sudah dipakai, terutama oleh Diana.
Aiva berdecak, memutuskan untuk mengambil majalah perawatan yang sengaja disimpan untuk menghibur para tamu yang harus menunggu. Sebenarnya karena mereka pelanggan tetap, mereka bisa masuk kapan pun tanpa reservasi. Mereka harus menunggu karena salah satunya—Raisa—belum datang.
Sementara mereka sibuk sendiri menunggu kedatangan Raisa, bukan tidak tahu bahwa banyak pelanggan salon yang mencibir status dan sepak terjang mereka di dunia para lelaki yang dominan merugikan para wanita. Segala hal tidak enak didengar mengudara bahkan tanpa niat disembunyikan. Pihak salon tidak menegur, tidak juga memperbolehkan—bersikap tidak tahu.
Sayangnya, cibiran tidak akan mempengaruhi orang-orang yang tumbuh dengannya. Kata-kata hanya omong kosong yang tak perlu diambil pusing. Gosip orang sudah terlalu akrab dengan kuping ketiganya.
“Eh, Kai, gue denger pub tempat lo lagi buka lowongan ya?”
Kaila mengangguk menanggapi pertanyaan Yessi. “Danuar hilang abis berantem sama pengusaha kaya. You know-lah dia ke mana. Jadi, bartender bagian belakang kosong deh.”
“Cowok gue butuh kerjaan, nih.”
Kekehan terdengar dari balik majalah perawatan. “Cowok yang mana lagi, lo?”
Yessi mengedikkan bahu. “Berondong. Lumayanlah kalau dia dapat gaji ‘kan ladang duit gue bertambah.”
“Dasar setan.”
“Lo, gue, kita semua setan ya. Inget,” balas wanita itu cuek. Lontaran seperti itu tidak asing lagi dan sudah biasa.
Bermenit-menit kemudian, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sesekali bertanya masalah satu sama lain, walau masalahnya tidak jauh dari uang dan pria. Memangnya pembahasan apa lagi yang mungkin dilakukan sekelompok wanita ini?
Aiva tidak ikut nimbrung apa pun obrolannya walau terdengar seru, setidaknya sekarang. Kepala dan sekujur tubuhnya butuh pijatan untuk melunturkan pegal dan kekesalannya. Menanggapi ucapan mereka sekarang yang seenaknya bercanda hanya akan menumpuk kegondokannya selama beberapa hari ini.
Kaila melirik arlojinya. “Ini Ray ke mana, sih? Badan gue pegel-pegel, nih, semalam banyak banget pelanggan yang pesen.”
“Cie. Laku keras ya lo. Servis lo yang biasa-biasa aja atau yang ekstrem emang?”
“Gue mah tergantung pelanggan aja maunya gimana.”
“Ck. Kayaknya nanti malem gue mau coba gaya baru sama Tyson. Gaya tsundere kayaknya seru tuh.”
Ya, setiap pertemuan mereka tak jauh dari kata-kata vulgar terselubung. Sama seperti kelakuan mereka yang tanpa malu mengumbar tubuh, mana peduli dengan keadaan sekitar yang terganggu oleh perbincangan lucah mereka yang secara terang-terangan itu? Bahkan leher Yessi penuh dengan kiss mark dan dia tidak menutupinya sama sekali.
Lonceng yang dipasang di atas pintu salon bergerincing, lalu masuklah seorang wanita yang wajahnya tertutupi topi panama. Dia menanggalkan topinya dan melambai pada ketiga orang yang menunggunya sejak tadi.
“Woy, ke mana aja, lu?” tanya Yessi sementara Kaila dan Aiva tidak repot-repot menyapanya.
Raisa mendengus ketika menaruh tas selempangannya di meja. “Biasa, Lucas ngotot pengen periksa kandungan gue.”
“Dih, bisa juga tuh rektor perhatian,” celetuk Kaila.
“Bilang aja lu ngiri.”
“Enak aja, lu kali!”
“Permisi, Mbak.”
Di saat Kaila dan Yessi sibuk adu mulut, keempatnya menoleh serempak ke arah seseorang yang menginterupsi. Itu salah satu pegawai salon yang biasanya mengurus jadwal atau memberitahu pelanggan berapa banyak kursi salon yang kosong. Dia juga yang memperkirakan berapa lama pelanggan harus menunggu kalau salon sedang penuh.
Pegawai salon itu melanjutkan, “Treatment-nya udah siap.”
Kaila buru-buru menyerobot masuk sambil berseru, “Buruan! Udah pegel banget nih!”
Yang lainnya hanya terkekeh mengikuti pegawai salon memasuki ruang khusus yang mereka pesan.
Kelihatannya, Aiva dan Raisa pendiam dan kalem, tipe orang-orang yang akan dianggap paling baik karena tidak banyak bicara. Yah, sebagian dari orang-orang yang tidak mengenal keempatnya akan beranggapan serupa. Faktanya, mereka justru yang lebih fatal menyakiti hati wanita lain dibanding Yessi dan Kaila yang tidak terikat dengan satu pria.
Ingat, jangan nilai buku dari sampulnya.
Raisa tidak jauh beda dengan Aiva, hanya saja hubungannya menjadi rumit karena mengandung dan secara tidak langsung tidak lepas dari satu pria. Payahnya, wanita itu melibatkan cinta. Well, selain masalah yang ditimbulkan istri sang pria, kehidupan pernikahannya jauh lebih menguntungkan dibanding Aiva yang tidak lagi memiliki pesaing. Bisa dibilang harmonis meski penuh skandal.
Aiva melirik dengan perasaan tak menentu ke arah perut Raisa yang mulai membuncit. Entah kenapa, hatinya merasa tersentil. Sudah tiga tahun, tapi dia tidak pernah membiarkan Dimas menghamilinya. Setidaknya, belum.
*
“Ahh, asli badan gue seger banget!” ujar Yessi puas setelah mereka menjalani perawatan tubuh berupa massage. Mereka memilih untuk pijat dahulu, setelah itu perawatan wajah dan rambut sambil ngobrol. Sudah rutinitas mereka merawat diri sebagai aset untuk mendapatkan kehidupan yang glamor.
“Sama,” timpal Raisa.
Keempatnya—masih di ruangan khusus—sedang menjalani perawatan rambut berupa creambath. Pegawai salon yang melayani mereka juga tidak sembarangan. Dengan harga berlipat-lipat, mereka bisa mendapatkan semuanya. Layanan khusus berempat dan pastinya rahasia mereka terjaga—walau kalau bocor pun bukan masalah besar.
“Eh, Yes, Dimas kemarin waktu sakit ngigo nama Diana. Itu wajar?” tanya Aiva pada Yessi. Fyi, Yessi yang menyarankan Mbah Surya, sang dukun klenik pada Aiva tiga tahun lalu.
Tampak dahi Yessi mengernyit di balik kenyamanannya meresapi treatment. “Ngigo?”
“Heem, kalau mabuk juga.”
“Wah, lo mesti hati-hati jaga aset, Ai,” timpal Kaila, “jangan-jangan jampi-jampi Mbah Surya udah ilang.”
“Apaan sih lo? Jangan sampe, ah,” rengek Aiva. Dia tidak akan membiarkan Dimas kembali pada Diana, apalagi jika Dimas sampai membuangnya. Dia tidak mau kembali ke dunia malam atau bersaing lagi di dunia industri film.
“Lah, lo udah tanya ke si Mbah?” Aiva mengangguk lesu. “Apa katanya?”
Aiva cemberut. “Katanya banyakin dibaca doanya.”
“Gitu doang?” Kaila mendengus tak percaya, lalu beralih pada Yessi. “Lo gimana sih milih dukun? Orang udah bayar mahal-mahal cuma disuruh doa doang. Kakek gue juga bisa gitu doang mah.”
“Menurut gue,” Raisa angkat suara, sontak membuat Aiva, Kaila, dan Yessi menatapnya. Para pegawai masih di sana, berusaha menulikan telinga untuk tidak tergoda membocorkannya pada dunia luar, “Dimas cuma inget Diana pas dia lagi gak sadar, atau paling enggak fokusnya turun gitu. Jadi gampang diguna-guna, tapi gampang juga inget sama kenyataan.”
Yessi berdecak lalu mengkritik, “Gak masuk akal.” Dia kembali bersandar pada sandaran kursi, sebelum kembali mengangkat kepalanya. “Eh, Rai, kenapa gak lo coba guna-gunain istrinya Lucas biar mau dicerai?”
“Betul tuh,” dukung Kaila. “Coba aja, Rai.”
Raisa terdiam. “Bukan istrinya yang gak mau, tapi Lucas.”
“Dih, kok gitu?”
“Gue juga gak ngerti.”
Aiva mendengus. “Ternyata Lucas gak se-gentle yang gue bayangin.” Kaila ikut mengangguk, menyetujui perkataan Aiva.
“Gue takut Lucas marah kalau tau gue guna-gunain Hasna.”
“Nah, udah, lo guna-gunain aja mereka berdua,” Aiva ikut menghasut Raisa. Lumayan ‘kan kalau temannya itu ikut memakai jasa Mbah Surya, dia tidak perlu menelepon pria menyebalkan itu.
Raisa tidak langsung menanggapi hasutan teman-temannya, memilih untuk sementara waktu memanjakan tubuhnya sebelum harus berkubang dalam sekelumit rumah tangga orang lain. Akan tetapi, tetap saja hasutan Yessi merasuk ke pikirannya.
Lucas akan menjadi miliknya seorang, itu ... terdengar menyenangkan.