Mengekor

1086 Words
Suara ketukan terdengar dari luar kamar. Intan gegas menyelesaikan dandan dan mengambil tas. "Selamat pagi," sapa seorang laki-laki tegap berseragam cokelat. Intan kembali dibuat melongo, ternyata Arga menepati janjinya menjemput Intan di depan kamar. Padahal semalam gadis berponi itu sudah dibuat tercengang oleh tebakan Arga yang mengetahui bahwa Intan sedang menghindari polisi tampan itu. Mahasiswi itu juga semakin dibuat tak bisa berkutik dengan kalimat Arga yang seakan memborgol hatinya. "Kamu tahu Intan? Semakin kamu coba menghindar, semakin gencar kamu saya kejar. Karena kamu udah jadi buronan hati saya." Intan kembali terngiang ucapan Arga yang sukses membuatnya insomnia. "Udah siap? Kita sarapan dulu yuk." Suara Arga mengembalikan kesadaran Intan dari lamunan. Gadis yang sudah mengenakan setelan blouse putih dengan celana kulot hitam itu hanya bisa mengangguk sambil menunduk. Intan kemudian mengekor langkah tegap perwira polisi di depannya. Setelah menuruni tangga, Intan semakin dibuat heran. "Lho, Kak, katanya mau sarapan dulu?" Intan heran karena langkah Arga tak berhenti di meja makan yang sudah terisi Om Hasan dan Yudith. Terlihat Tante Fitri masih sibuk di dapur yang terhubung dengan meja makan. "Eh, Intan udah turun?" sapa Tante Fitri yang berjalan menghampiri keduanya sambil membawa sepiring gorengan. "Nih, dibawa yah. Titip buat Ibun," Tante Fitri menyerahkan piring kepada Arga. "Makasih, Tante," cengir polisi tampan bertubuh atletis itu. "Yuk, Intan," ajak Arga. Intan semakin heran dengan ajakan Arga. Tante Fitri hanya mengulum senyum, begitu juga dengan Om Hasan dan Yudith. "Kita nggak sarapan dulu?" tanya Intan polos. "Sarapan dong, di rumah saya," jawab Arga dengan penuh kemenangan. "Hah?!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Intan yang mendadak kelu. 'Tuhan, tolong selamatkan saya!' batin Intan meronta. Ajakan Arga semakin membuatnya seperti seorang narapidana yang ingin segera kabur dari penjara. "Udah sana sarapan, keburu kalian telat apel pagi nanti." Tante Fitri mendorong tubuh perempuan tinggi langsing di depannya. Kembali Intan hanya bisa mengekor langkah laki-laki gagah yang sudah terlihat semringah. Saat di depan pintu, langkah kaki Intan terhenti. Ia meragu dan bertanya dalam hati, untuk apa dia sarapan pagi di rumah orang lain? "Intan, ayo," Arga yang menyadari Intan tak ada pergerakan segera menggandeng tangan lentik itu. Deg! Detak jantung Intan masih belum stabil sejak semalam. Sekarang gadis cantik natural itu harus selalu menyiapkan hati untuk kejutan dari Arga yang bisa saja tiba-tiba terjadi seperti saat ini. "Bun, Yah, Bang, Dek, kenalin ini Intan, ponakannya Om Hasan." Semua orang di meja makan menoleh ke arah Arga dan perempuan muda di sebelahnya. Kini Intan merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup. "Wah ini yang namanya Intan, udah gede yah sekarang. Sini-sini duduk," Ibun tersenyum ramah lalu bangkit dari kursi dan menuntun Intan untuk duduk di samping kursi kosong. Intan tersenyum sopan dan mengangguk pada semua orang. Selanjutnya Arga menyelipkan diri di antara meja dan kursi bersisian dengan Intan. "Ayo, makan dulu Intan. Maaf ya kalau di rumah Arga sarapannya emang begini. Semoga nanti kamu terbiasa," celoteh Ibun sambil menyerahkan piring berisi nasi goreng. 'Hah? Maksudnya nanti terbiasa itu gimana?' Intan kembali terbengong. Arga lalu menaruh telur dadar dan gorengan ke piring Intan. "Ayo makan dulu, jangan bengong mulu," kembali Arga usil mengacak rambut Intan. Semua orang tersenyum, kecuali Intan. 'Gimana bisa makan kalau diginiin terus?' gerutu Intan dalam hati. "Eru berangkat ya, Bun. Mau jemput Rere dulu," Semeru bangkit kemudian salam takzim pada ayah dan ibunya, lalu melambai pada kedua saudaranya dan tersenyum ramah pada calon pacar adiknya. "Ayo Intan dimakan, Nak," suara Ibun kembali menyandarkan Intan bahwa ia masih berada satu meja dengan keluarga Arga. 'Tadi dijemput depan kamar, sekarang diajak makan bareng keluarga, besok apa lagi coba?' keluh Intan dalam hati. "Kamu nggak usah sungkan, anggap aja kayak lagi di rumah Om Hasan. Dulu tante kamu suka cerita tentang kamu, malah Tante Fitri pengin banget adopsi kamu waktu keluarga kamu ketimpa musibah, tapi kakek sama nenek kamu nggak ngebolehin yah. Ibun tuh sampai penasaran pengin lihat kamu, Ntan, anak perempuan yang hebat dan kuat. Eh, tahunya malah Arga yang bawa kamu ke sini," seloroh Ibun dengan antusias. Intan hanya menanggapi dengan senyuman, ia bingung harus menjawab apa. Sedangkan Arga sudah tersenyum semringah. Apalagi melihat reaksi Ibun yang menerima kedatangan Intan dengan tangan terbuka. Kali ini jalan polisi tampan itu kian mulus untuk memborgol cinta Intan agar menjadi tahanan di hatinya seumur hidup. ***** Selama di kantor, Intan pun harus kuat menahan godaan dari rekan kerja Arga, terutama Alfa. "Duh! yang lagi bucin akut, pepet terooos, Ga! Asal jangan sampai Intan lagi ke toilet lo juga ikut yah!" Alfa terbahak, diikuti yang lain. Arga hanya tersenyum, Intan mencebik. Seharian ini Arga dan Intan bagai Upin dan Ipin yang tak terpisahkan satu sama lain. Sebenarnya Intan merasa risih karena Arga mengekori kemana gadis itu pergi kecuali toilet. Seolah dia adalah tahanan yang sedang dalam pengawasan petugas. Hingga jam pulang kantor tiba, Arga dan Intan kembali bersama dalam mobil. Seperti biasa Arga membelokkan mobilnya ke tempat makan. "Intan, jadi sabtu besok mau berangkat jam berapa ke rumah nenek?" Intan mengernyit sambil menyeruput jus alpukat di hadapannya. "Kata kamu sabtu mau pulang ke rumah kakek, mau anter nenek ke pasar. Jadi kita mau berangkat jam berapa?" Intan mendadak gelagapan, tentu saja itu hanya alasannya saja untuk menghindar dari Arga. Nenek tidak pernah ke pasar karena sudah ada tukang sayur langganan yang keliling lewat depan rumah nenek. "Intan? Kok kamu jadi sering ngelamun sih, sekarang? Kan saya udah bilang kalau ada apa-apa cerita ke saya." "Oh, eh, nggak apa-apa, Kak." "Jadi besok mau dijemput jam berapa?" "Eh, nggak usah, Kak, nggak jadi. Tadi kakek ngabarin kalau mau ada acara pengajian." Kini Intan sibuk mencari alasan lain, karena kakek neneknya sudah tak bisa dijadikan alasan. Sedangkan besok, Om Hasan dan Tante Fitri juga sudah ada agenda ke undangan pernikahan. Intan juga tak mungkin ikut Yudith yang akan berkencan dengan pacarnya. "Wah kalau gitu besok kita bisa dong jalan-jalan berdua? Hmm?" "Ehm, Kak, kenapa sih Kakak mau jalan-jalan sama saya?" tanya Intan penasaran. "Kenapa kamu nanya gitu?" "Ya saya pengen tahu aja, kenapa Kakak begitu?" Arga tersenyum lalu memajukan posisi duduknya dan menatap lekat Intan. "Emang kenapa? Nggak boleh saya ngajakin kamu jalan? Ada yang marah? Ada yang cemburu?" "Ya bukan gitu, saya pengen tahu aja alasan Kakak," Intan penasaran. "Terus kalau kamu udah tahu alasannya, kamu mau gimana?" "Ya nggak gimana-gimana, tinggal jawab aja susah amat, sih!" Intan mulai kesal, Arga makin gemas. Arga lalu tersenyum dan menarik tangan Intan dalam genggaman. Gadis berponi itu terkesiap. "Karena saya suka sama kamu, saya sayang sama kamu. Maura Intan Permata, mau kan kamu jadi pacar saya?" Seketika Intan menyesal telah bertanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD