"Karena saya suka sama kamu, saya sayang sama kamu. Maura Intan Permata, mau 'kan kamu jadi pacar saya?"
Intan terdiam lama, masih mencerna pertanyaan Arga. Ia tak menyangka polisi tampan di depannya begitu cepat menyatakan cinta. Padahal kedekatan mereka masih bisa dihitung jari.
"Maksudnya Kakak nembak saya?" Intan memastikan.
"Iya, kamu 'kan udah pernah ditembak perampok, tapi kamu belum pernah ditembak polisi, kan?" cengir Arga.
Intan memutar bola matanya, entah mengapa ia merasa Arga berubah jadi jahil dan pandai menggombal sejak mulai mendekatinya.
"Jadi, mau 'kan jadi pacar saya?" ulang Arga.
Mata teduh Arga menatap lekat pada wajah bersih yang tertutup poni sebagian. Sementara Intan sudah tak karuan rasanya, sejak kemarin Arga sudah membombardir hatinya tanpa ampun. Dan kini ia kembali dikejutkan dengan pernyataan sayang dari polisi tampan di depannya.
Intan menghela napas panjang sebelum menjawab. "Maaf Kak, saya nggak bisa jadi pacar Kakak."
Jawaban Intan sontak membuat Arga terkejut, baru kali ini dia ditolak saat menyatakan perasaan pada perempuan. Biasanya perempuan yang ia dekati bahkan lebih agresif dan tak pernah bisa menolak pesonanya sebagai lelaki tampan nan gagah berseragam yang jadi idaman calon mertua dan banyak perempuan.
"K-kenapa, Ntan?"
Arga merasa dunianya runtuh, ada sensasi nyeri yang ia rasakan. Bagaimana bisa cintanya bertepuk sebelah tangan? Padahal adik Semeru itu sudah yakin bahwa Intan punya rasa yang sama.
"Saya belum siap pacaran," jawab Intan jujur.
Perempuan berambut panjang dengan poni itu memang belum siap terikat dalam suatu ikatan cinta. Ia tak mau hanya membuang waktu untuk sebuah hubungan yang belum pasti masa depannya. Pun ia tak mau merasakan sakitnya patah hati yang khawatir akan memicu kambuhnya penyakit mental yang sudah mulai membaik.
"Tapi ... bukannya kamu juga suka sama saya, iya, kan?" Arga masih tak menyerah.
Intan kembali tertembak, kini tepat mengenai jantungnya yang sudah ingin melompat ke luar rongganya.
'Tuh, kan, dia cenayang!' keluh Intan.
Bagaimana pun tebakan Arga tak pernah meleset. Dan Intan akui dalam hati ia juga mengagumi sosok perwira polisi yang sudah membuatnya merasakan sensasi kupu-kupu terbang sejak ia dirawat di rumah sakit dulu.
"Intan ..." Arga menarik dan mengenggam jemari Intan yang sudah terasa dingin dan berkeringat.
Perempuan berponi itu masih setia menunduk, tak mau meleleh karena tatapan Arga. Rasanya Intan ingin sekali menarik tangannya, tapi genggaman Arga begitu kuat membuatnya tak bisa bergerak.
"Kamu nggak usah takut, saya janji akan jagain kamu, akan bahagiain kamu."
Intan masih tak bersuara, Arga kembali bicara.
"Atau gini aja, tadi 'kan kamu bilang belum siap pacaran, kalau gitu saya akan tunggu sampai kamu siap. Gimana?"
'Hah? Ditungguin?' Intan langsung mendongak yang membuat matanya bersitatap dengan Arga.
Pandangan mereka terkunci, Intan akhirnya terhipnotis oleh senyum dan mata teduh sang perwira.
"Permisi, Kak. Ini pesanannya."
Suara pramusaji menyelamatkan Intan dari genggaman dan tatapan Arga. Karena polisi gagah itu kini sibuk menata makanan di atas meja.
"Ya udah kamu makan dulu yah, nggak usah mikirin saya," Arga kembali mengusap rambut Intan.
Lagi-lagi Intan membeku di tempat. Ia tak bisa membayangkan jika sampai ia berpacaran dengan Arga, mungkin Intan akan pingsan setiap saat karena perlakuan manis dari Arga. Ia bersyukur bisa menolak polisi tampan di depannya.
Mereka makan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Arga tentu sibuk memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hati Intan yang ternyata sekeras batu. Hingga semua perhatian dan rasa sayang yang sudah terang-terangan ia nyatakan dan tunjukkan tak berpengaruh sama sekali.
Namun Arga yakin, cepat atau lambat Intan pasti akan luluh dan menerima cintanya. Ia hanya butuh waktu dan lebih bersabar sedikit.
Usai makan, kembali Arga melihat Intan meminum obat. Ia pun terpikirkan sesuatu dan menemukan ide.
"Mau langsung pulang? Atau mau kemana dulu, hmm?" tanya Arga saat keduanya sudah mencuci tangan.
"Pulang aja, Kak."
"Oke, yuk." Arga menarik tangan Intan. Gadis tinggi itu kembali hanya bisa pasrah seperti korban hipnotis.
Dalam perjalanan pulang, suasana lebih banyak hening. Hanya suara stereo mobil yang menggema. Hingga mobil hatchback hitam milik Arga memasuki gerbang perumahan.
"Kamu istirahat yah, nggak usah banyak pikiran. Biar saya aja yang mikirin kamu," cengir Arga sambil mengusap kepala Intan.
Intan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan agar hatinya tak goyah. Mobil Arga kini sudah tiba di depan rumah Om Hasan. Arga yang sudah siap mematikan mesin mobil, mendadak berhenti karena panggilan Intan.
"Kak?"
"Ya?" Arga menoleh dengan senyum yang selalu menawan.
"Kakak, kenapa sih, suka sama saya? Kakak nggak salah orang? Kakak tahu kan, saya mantan ODGJ?"
Intan coba mengutarakan uneg-unegnya. Arga lalu mematikan stereo dan bergeser ke kiri menghadap Intan.
"Tahu, kakek kamu juga udah pernah cerita kok."
"Terus kenapa Kakak nggak mundur aja? Cowok yang lain pasti udah mundur teratur pas tahu saya mantan pasien RSJ."
"Kenapa harus mundur kalau saya bisa maju?" Arga tersenyum.
"Ck, serius, Kak!" Intan mencebik, Arga tertawa.
"Serius, Intan. Saya nggak pernah main-main sama perempuan. Dan saya udah beneran sayang sama kamu."
Intan masih tak mengerti jalan pikiran Arga. Polisi tampan seperti Arga pasti bisa dengan mudah mendapatkan perempuan cantik, modis, dari keluarga baik dan sehat lahir batin. Bukan seorang anak piatu dan ayah narapidana yang masih dalam perawatan psikiater seperti dirinya. Jujur, Intan merasa insecure.
"Lebih baik Kakak mundur aja, nggak usah nungguin saya sampai siap."
Arga menggeleng, hatinya sudah mantap dan menentukan pilihan. Itu artinya Arga akan memperjuangkannya bahkan rela jika harus berkorban.
"Kamu salah minta saya mundur. Karena saya tetap akan menunggu dan memperjuangkan kamu."
"Tapi, Kak, saya nggak sesempurna bayangan Kakak. Saya sakit, Kak. Keluarga saya juga berantakan. Kakak belum tentu kuat ngadepin saya. Jadi, sebelum semua terlambat, mendingan Kakak cari perempuan lain aja yang lebih baik. Nggak usah nungguin saya."
Intan mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Sebut saja ia sudah menyiksa hatinya sendiri. Jika boleh memilih, tentu Intan akan merasa begitu bahagia bisa berpacaran dengan Arga. Lama ia tak merasakan kasih sayang tulus dari laki-laki kecuali kakek.
Tapi otaknya selalu menyadarkan akan deretan fakta kelam tentang diri dan keluarganya. Sehingga membuat Intan terpaksa menutup diri dari lingkungan sekitar.
Intan pernah merasakan pedihnya di-bully oleh teman sebayanya dan disebut sebagai 'anak pembunuh'. Hingga mengantarkannya masuk ke dalam ruang perawatan yang justru semakin melabelinya dengan sebutan 'orang gila'.
Intan kini tak kuasa menahan bulir bening yang menetes di pipi. Ingatannya kembali memutar potongan adegan pilu yang menimpanya sejak berumur belasan tahun.
Intan remaja harus menyaksikan bagaimana ibunya meregang nyawa dan ayahnya mendadak berubah menjadi monster pembuhuh. Bahkan ia harus merasakan dinginnya air kolam di malam hari saat prosesi ruqyah yang dilakukan oleh seorang ustaz. Hingga akhirnya Intan harus mendapat perawatan medis spesialis kejiwaan sampai sekarang.
Intan masih terisak. Segera Arga menarik perempuan kesayangan ke dalam pelukan. Mata berair Intan membulat saat wajahnya begitu menempel pada d**a bidang berlapis seragam cokelat beraroma Musk.
"Ssh ... jangan sedih lagi, yah. Jangan takut sendiri lagi, kan ada saya. Saya janji akan bikin kamu ngerasain bahagia, Intan."
Arga mengecup pucuk kepala Intan. Air mata Intan langsung berhenti mendadak, seperti jantungnya yang kini terasa meledak-ledak. Bagaimana pun jarak mereka begitu dekat.
Hingga Arga menangkup kedua pipi Intan yang basah. Perlahan jemari polisi itu mengusap lembut pipi berair di depannya. Keduanya terpaku dalam tatapan, bisa Intan rasakan hembusan napas hangat Arga menyapu wajahnya.
Arga semakin maju, hingga kedua hidung mancung itu bertemu. Mata Intan membulat, sedangkan Arga memejam. Detak jantung keduanya sudah saling bertalu.
Intan kini merapatkan bibirnya dan menutup matanya rapat-rapat sambil berdoa semoga ada malaikat penyelamat. Sampai akhirnya suara ketukan kaca mobil menyelamatkan Intan dari ciuman pertamanya.