Gagal

1277 Words
Suara ketukan kaca mobil merusak momen dua insan yang sedang jatuh cinta. Intan bernapas lega, Arga menahan kesal karena gagal. 'Ck! Resek! Siapa sih ganggu aja!' gerutu Arga dalam hati. Intan memanfaatkan situasi ini untuk meloloskan diri dan beringsut menghadap jendela kiri. Sedangkan Arga berbalik posisi dan membuka jendela kanan dan memasang wajah mode perang. "Bhahaha! Ngapain lo bedua? Diem-diem bae di mobil, bukannya turun! Lagi cipokan lo yah?" "Vangke lo, Bang! Kagak bisa lihat orang lagi bahagia dikit apa!" Arga kesal pada kakaknya. Semeru tertawa puas, Arga semakin terasa panas. Sedangkan Intan masih diam dengan wajah yang sudah pias. "Lagian lo kagak lihat tempat! Lo pikir gue nggak curiga mobil lo nyala tapi diem aja, penumpangnya dari tadi nggak turun-turun pula." Semeru baru saja pulang kerja dan mendapati mobil Arga yang masih menyala terparkir di depan rumah Om Hasan, bukan di rumahnya sendiri. Kakak Arga itu semakin curiga karena samar ia melihat adiknya sedang berpelukan dengan seorang perempuan. Maka Sulung dari tiga bersaudara itu pun sengaja ingin menggagalkan momen romantis adiknya. "Awas lo, yah! Kalau lagi sama Rere gue recokin juga lo, Bang!" Arga masih merasa kesal pada kakaknya. Intan hanya menggeleng dan tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu. "Ehm, Kak, saya masuk dulu yah, nggak enak takut ditungguin om sama tante," ucap Intan. "Oh, oke, bentar saya anter." "Eh, nggak usah, Kak." "Udah, nggak apa, kan tadi pagi saya jemput kamu depan kamar, jadi sekarang saya juga harus anter kamu lagi depan kamar." Intan menganga, Semeru mencebik. Arga kemudian mematikan mesin mobil dan keluar lebih dulu untuk membukakan pintu. "Udah, sono masuk duluan, Bang!" Arga mendorong Semeru agar menjauh. "Ck! Iya deh yang lagi kasmaran. Hati-hati ya, Intan, Arga suka ngantup kayak tawon!" goda Semeru pada perempuan muda yang turun dari mobil adiknya. Intan tersipu malu, Arga menggerutu. Semeru pun menghilang di balik pintu. "Ehm, Kak, sampai sini aja yah, nggak enak kalau ke dalem takut ganggu Tante sama Om lagi istirahat." Intan menahan Arga yang akan ikut masuk ke dalam rumah Om Hasan. "Tapi, kan--" "Kak, please ..." kali ini Intan memohon dengan menangkupkan kedua tangan. Sebenarnya Intan hanya beralasan saja agar Arga tak ikut masuk, karena ia memang sedang mengatur detak jantungnya yang masih tak mau normal kembali sejak Arga hampir saja mencuri ciuman pertamanya dan mereka harus tertangkap basah oleh Semeru. Arga pun menjadi tak tega dan menuruti pinta Intan untuk mengantar hanya di depan pintu. Padahal polisi tampan itu masih ingin menghabiskan waktu berdua. "Ya udah, kalau gitu kamu masuk duluan aja, istirahat yah. Besok aku jemput jam 9, oke?" Arga tersenyum manis. "Hah? Mau kemana?" "Mau jalan-jalan dong, 'kan kamu nggak jadi pulang ke rumah kakek," cengir Arga merasa menang lagi. Kali ini Intan tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Arga. Toh percuma jika ia menolak, perwira polisi itu pasti akan terus membujuknya hingga tak bisa berkutik lagi. "Ya udah, kamu istirahat yah," lagi Arga mengacak rambut Intan. Gadis berponi itu hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian berbalik. "Intan?" panggil Arga saat Intan akan membuka pintu. "Ya?" Intan menoleh. "Kamu jangan sedih lagi yah, ada saya di sini. Good nite, Intan. Saya sayang sama kamu," Arga mengulang pernyataan cintanya. Tak berani menjawab, Intan hanya tersenyum tipis lalu segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Intan kemudian menyandarkan diri pada pintu sambil memegang dadanya yang naik turun dan bergemuruh akibat ditembak berkali-kali oleh polisi tampan. "Duh! Gimana ini jantung nggak mau diem," Intan frustasi. "Loh, Intan baru pulang?" suara Tante Fitri semakin mengagetkannya. "Eh, i-iya tante. Maaf, lupa ngabarin kalau tadi pulangnya diajak Kak Arga makan dulu di luar," Intan kemudian salam takzim pada tantenya. "Oh, kalau sama Arga sih nggak apa-apa mau pulang sampai malem juga. Tante sama Om juga tenang jadinya." Intan malah melongo, bagaimana bisa tante dan omnya malah membiarkan keponakannya pergi berlama-lama dengan lelaki di malam hari? Ia kemudian teringat akan agendanya bersama Arga besok. Tapi saat meminta izin, justru Tante Fitri kembali mendukung Arga. Tak mau terus-terusan diledek dan digoda Tante Fitri, gegas Intan menuju kamar untuk membersihkan diri, salat kemudian bersiap tidur. Usai mandi dan berganti baju, kembali notifikasi pesannya berbunyi. Segera Intan mengusap layar gawai. Hai, Intan, belum tidur, kan? Oh ya, Aku punya pantun buat kamu. Jalan mundur nginjak paku, kamu nggak bisa tidur pasti lagi mikirin aku. Intan akhirnya tertawa membaca pesan Arga. Namun sejurus kemudian tawanya mereda karena nama Arga sudah terpampang dalam layar sedang meminta panggilan vidio. "Astaga! ini orang nggak bisa apa bikin hati aku tenang sebentar. Ck, gimana aku nggak insomnia kalau begini terus tiap malem," keluh Intan. Sebenarnya ia tak keberatan dengan sikap manis Arga, justru ia senangbisa merasakan disayang dan dijaga oleh orang spesial selain keluarganya. Tapi, Intan belum siap efek sampingnya yang membuat hati dan jam tidur jadi berantakan seperti saat ini. "Halo, Intan," sapa Arga saat panggilan video sudah terhubung. Intan bisa melihat Arga sedang merebahkan diri di kasur dengan tangan kirinya menjadi bantalan. Sementara perempuan berambut lurus itu baru saja menaiki kasur dan menyiapkan tempat tidurnya. "Kamu udah mau tidur? Hmm?" tanya Arga saat melihat Intan sedang merapikan bantal dan menarik selimut. "Iya," jawab Intan singkat, berharap Arga mengerti dan akan mengakhiri panggilannya. "Ya udah, kalau gitu saya temenin kamu sampai kamu tertidur, nggak usah dimatiin yah video call-nya. Saya pengin lihat kamu lagi tidur, pasti makin ngegemesin," cengir Arga. Intan kini menepuk jidat, 'Tuhan, gimana ini caranya buat kabur?' jerit Intan dalam hati. ***** Esok paginya, Arga sudah bertamu di rumah Om Hasan. Selain sudah mendapat dukungan Om Hasan dan Tante Fitri, Arga juga sudah mengantongi restu dari ibunya. Kali ini tugasnya adalah membuat Intan percaya padanya dan mau menerima cintanya. "Udah siap, Ntan?" ucap Om Hasan saat melihat keponakannya berjalan mendekat. Intan mengangguk sopan, sedangkan Arga begitu terpesona. Meski Intan hanya mengenakan celana jeans panjang dipadukan T-shirt hitam dilapisi long cardigan warna mocca dengan rambut yang dikucir ekor kuda. "Kak?" Intan heran karena Arga tak berkedip saat melihatnya. "Oh, ya, gimana? Udah siap?" Arga gelagapan. Sungguh Arga begitu gemas pada Intan. Om Hasan mengulum senyum. Intan pun mengangguk. Setelah berpamitan dengan Om Hasan, keduanya lalu berjalan menuju mobil Arga. "Kita mau kemana, Kak?" tanya Intan saat mobil sudah melaju. "Kencan," jawab Arga singkat tanpa menoleh. Intan pun terkejut dengan jawaban Arga, bagaimana mereka bisa berkencan jika status mereka pun belum jelas. Tak lama, mobil hatchback Arga memasuki pelataran sebuah mall. Kini Intan mengerti ke mana arah tujuan Arga membawanya hari ini. "Kita nonton dulu yah, habis itu kita makan, terus kita cari komik Conan terbaru buat kamu," ucap Arga sebelum mematikan mesin mobilnya, Intan pun hanya bisa pasrah. Arga lalu menggandeng tangan Intan selama berjalan dalam mall. Sungguh, Intan merasa risih. Berkali-kali tangannya ingin melepaskan diri, tapi selalu gagal karena kekuatannya tak sebanding. Saat sedang mengantri masuk bioskop, tiba-tiba telepon Arga berdering. Sempat mengernyit membaca nama si penelopon, tapi Arga segera menerima panggilan. "Arga, bisa ke kantor? Ada misi yang harus diselesaikan hari ini," titah AKP Fendy dari ujung telepon. "Siap, Kapt!" Kini Intan paham siapa yang menelepon Arga. "Oke, saya tunggu di kantor sekarang." "Siap, Kapt!" Telepon pun berakhir, kini Arga terlihat kecewa karena kencan pertamanya harus gagal total. "Intan, kayaknya nonton kita gagal deh, saya harus ke kantor dipanggil Kapten Fendy." "Oh, ya nggak apa-apa, Kak. Ada yang lebih penting sekarang, kakak berangkat ke kantor aja. Biar nanti saya pulang pakai ojek." Intan justru senang bisa kabur dari Arga. "Atau kamu ikut aja ya ke kantor?" "Eh, nggak usah, Kak. Saya pulang aja." "Iya, kamu harus ikut, Intan. Siapa tahu kamu bisa bantu kami menyelesaikan misi dengan analisa kamu." Tanpa menunggu persetujuan, Arga kembali menggandeng Intan. Gadis berponi itu hanya bisa cemberut karena usahanya untuk kabur kembali gagal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD