Arga masih menggenggam tangan mungil Intan. Kali ini ia tak mau menyiakan kesempatan lagi. Jika kencan dalam arti sebenarnya gagal, maka membawa serta Intan ke kantor untuk membantu menyelesaikan misi kasus bisa menjadi sebuah kencan dadakan.
Meski Intan sudah memasang wajah cemberut, tapi ternyata tak membuat niat Arga menjadi surut. Karena polisi tampan itu sudah melajukan mobilnya ke arah kantor polres, tempat kasus baru akan diusut.
"Maaf yah, hari ini kita gagal kencannya. Tapi next saya janji kita jadi jalan, oke?"
Arga mengusap kepala Intan, ia mengira jika Intan cemberut karena gagal berkencan. Padahal Intan kesal karena tak bisa kabur dari perwira polisi di sampingnya.
Arga belajar dari pengalaman kisah cintanya terdahulu bersama Ghea yang merasa Arga tak ada waktu untuk kekasihnya. Maka untuk saat ini sebisa mungkin ia akan selalu ada untuk Intan. Di mana pun dan kapan pun, rasanya Arga ingin selalu bersama gadis berambut panjang yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Sesampai di kantor ternyata semua tim sudah lengkap dan sedang berkumpul di ruang meeting. Kembali Arga menarik tangan Intan untuk ikut masuk ke ruangan meeting.
"Siang, Kapt! Maaf saya terlambat."
Semua menoleh ke Arga dan Intan. Seisi ruangan meeting pun mengulum senyum melihat tangan Arga yang masih menggenggam jemari Intan. Gadis berponi ini semakin merasa risih.
"Hmm, pegangin terus, Ga. Jangan sampai lepas, atau mau diborgol sekalian biar kalian bisa berdua terus?" ejek Alfa. Semua orang tertawa tapi tidak dengan Intan.
Setelah puas tertawa, akhirnya semua orang kembali fokus kepada AKP Fendy dan menyimak penjelasannya.
"Jadi kita baru saja mendapat laporan tentang pembunuhan berencana," AKP mulai membuat bagan di papan.
"Korban adalah seorang laki-laki, usia sekitar 30 tahunan dan dinyatakan meninggal akibat racun sianida yang berasal dari kopi dan brownis yang dia konsumsi sebelum kejadian," terang AKP Fendy.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," guman Intan.
"Menurut pengakuan istrinya, sang suami telah dibunuh oleh perempuan yang sangat terobsesi pada suaminya."
"Dari mana dia tahu pembunuh suaminya adalah perempuan itu?" Arga penasaran, Intan pun ikut menanti jawaban.
"Istrinya bilang, si pelaku memang pernah mencoba menghancurkan rumah tangganya. Dan persis sebelum kejadian, si pelaku menyerahkan goodie bag berisi brownis dan kopi," lanjut Kapten Fendy.
"Masalahnya adalah kita tidak tahu keberadaan perempuan yang dimaksud, kita kehilangan jejak si pelaku. Itu lah kenapa saya kumpulkan kalian di sini."
AKP Fendy kemudian melanjutkan penjelasannya tentang riwayat hubungan pasangan suami istri tersebut. Termasuk masalah rumah tangga yang sempat menerpa mereka hingga sang istri pernah menggugat cerai suaminya yang tertangkap basah berselingkuh lebih dari sekali.
"Arga, Intan! Kalian langsung olah TKP. Cari barang bukti yang bisa mengungkap siapa pelaku sebenarnya."
"Siap, Kapt!" seru Arga bersemangat. Sedangkan Intan masih terkejut karena ternyata dilibatkan dalam misi ini.
"Alfa, Deny! Kamu telusuri di mana perempuan yang diduga pelaku itu sekarang."
"Siap, Kapt!"
Setelah semua mendapat tugas masing-masing, meeting pun dibubarkan.
"Ayo, Ntan," Arga sudah bersiap menggandeng tangan lembut Intan, tapi kini gadis berponi itu berhasil menghindar.
"Bisa nggak, nggak usah pegangan tangan. Saya malu, Kak," ucap Intan lirih.
Arga kemudian tersenyum dan berkata, "kalau gitu aku borgol tangan kamu aja gimana? Hmm?"
"Ish! Kakaak!" Intan terlihat cemberut.
Arga pun tertawa gemas melihat gadis kesayangannya memasang wajah kesal nan menggemaskan.
Semua anggota akhirnya berpencar sesuai tugas masing-masing. Arga dan Intan pun sudah menuju tempat kejadian perkara.
"Kak, menurut Kakak ada yang aneh nggak sih sama kasus ini?" Intan buka suara.
"Aneh gimana?"
"Ya aneh aja gitu, istrinya selalu nyebut nama perempuan lain yang jadi pelakunya. Kayak nyari kambing hitam gitu nggak sih?" Intan menerawang mengingat penjelasan dari AKP Fendy tentang kronologis kejadian.
"Bisa jadi, karena dia juga belum bisa buktiin bahwa kematian suaminya benar karena diracun temen perempuan yang katanya terobsesi sama suaminya."
"Nah, iya! Kok saya curiga sama istrinya yah, Kak? Soalnya infonya juga mereka habis bertengkar hebat dan si istri sempat menggugat cerai. Mungkin nggak sih, kalau istrinya yang ngebunuh suaminya sendiri karena sakit hati dikhianati?"
Intan sudah duduk miring menghadap Arga yang sedang menyetir. Gadis berponi itu mulai tertarik dengan kasus pertama yang sedang ia analisa secara langsung.
Arga pun tersenyum penuh makna sambil terus mencoba konsentrasi saat menyetir. Ia semakin yakin, jika Intan adalah potongan puzzle yang akan melengkapi hatinya.
Polisi tampan itu merasa Intan sudah satu frekuensi dengannya. Dan kali ini ia tak akan bisa membiarkan gadis kesayangannya itu untuk mencoba kabur, meski hanya dari tatapannya.
Keduanya lalu larut dalam diskusi serius mengenai kasus yang sedang diusut bersama. Hingga tak terasa mobil Arga sudah sampai di rumah dua lantai bercat putih dan dihiasi aneka tanaman yang kini sudah dikelilingi garis polisi.
"Siap beraksi Detective Maura Intan Permata?" Arga mengusap kepala Intan lagi.
Kali ini gadis berponi itu sudah menyiapkan hati agar tak mudah luluh dengan perlakuan manis Arga.
"Siap, Kapt!" Intan menirukan gaya Arga, keduanya lalu tertawa.
Hati Arga berbunga dan amat bahagia bisa berdua bersama Intan meski dalam misi tugas, bukan berkencan yang sebenarnya.
"Yuk," kali ini Arga tak mau melepaskan genggamannya pada tangan mungil Intan yang terasa memberontak.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah. Intan dan Arga melihat ruang sekitar. Bisa mereka lihat di meja makan masih tergeletak botol kopi dan kotak brownis.
Intan lalu berjalan mendekati meja, ia begitu penasaran dengan bentuk, aroma maupun rasa sianida yang sering ia dengar sebagai racun pembunuh. Maka tangan Intan reflek akan mengambil botol kopi yang isinya tersisa seperempat.
"Stop!"
Intan terkesiap saat sebuah tangan kekar mencekal lengannya yang sudah terulur akan mengambil botol kopi.
"Jangan sentuh apa pun di TKP tanpa pakai sarung tangan," cegah Arga.
Intan pun mengangguk mengerti. "Maaf, Kak. Saya cuma penasaran kayak gimana bentuknya sianida."
Arga menghela napas dan menggeleng, "kamu mau bernasib sama kayak korban? Hmm?"
Intan menggeleng cepat, tentu saja gadis yang rambutnya dikucir kuda itu belum siap mati konyol karena sianida.
Saat Intan akan berjalan lagi mengitari ruangan, ternyata lengannya masih setia digenggam oleh Arga.
Polisi tampan itu lalu semakin maju, Intan pun berusaha mundur dan kabur. Tapi percuma, karena Arga justru semakin mendekat. Satu tangannya kini sudah menopang pinggang Intan, dan tangan yang tadi mencekal lengan Intan berpindah menyibak poni yang menutupi sebagian mata perempuan itu.
Intan menelan ludah saat melihat jakun Arga yang naik turun di depan matanya. Entah dorongan dari mana, Arga lalu mulai mengikis jarak. Indera penciuman Intan pun mendadak terhipnotis oleh aroma Musk.
Seperti ada yang memberi aba-aba, keduanya lalu kompak menutup mata. Jantung keduanya sudah berdetak tak karuan. Maka dalam hitungan detik dua insan yang sedang saling jatuh cinta itu merasakan benda kenyal dan lembab di bibir mereka.
Mata Intan pun sempat terbelalak tapi akhirnya menutup lagi saat Arga mulai mengecup lembut bibirnya. Dan kini Arga semakin yakin jika Intan sudah memiliki rasa yang sama dengannya dan tanpa perlu menanti sebuah jawaban. Terbukti kini tak ada lagi upaya Intan untuk memberontak atau bahkan kabur dari tempat kejadian perkara ciuman pertama mereka.