Mencari Jawaban

1110 Words
Intan mencoba mengembalikan kesadarannya setelah otaknya koma sepersekian detik akibat kecupan lembut di bibirnya. Sejurus kemudian telepon Arga berdering dan terpaksa melepaskan tautan keduanya. Intan langsung menunduk malu sambil mengusap bibir lembabnya. Sedangkan Arga segera mengusap layar saat melihat nama atasannya memanggil. "Arga, tim forensik sedang meluncur ke sana. Nanti berikan semua barbuk yang kamu temukan." "Siap, Kapt!" Sementara Arga sedang bertelepon, Intan memilih kabur ke lantai dua. Kemudian kakinya tergerak untuk masuk ke kamar utama yang sudah terbuka. "Gilak! Bisa-bisanya kita malah ciuman!" Intan mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri, merasa tiba-tiba menjadi bodoh dan linglung di hadapan Arga seperti korban hipnotis. Gadis berponi itu kini berdiri di depan cermin dan memandangi wajahnya yang sudah bersemu merah, kembali ia meraba bibirnya yang sudah terjamah. Hatinya kini terbagi menjadi dua tim, antara menyesal dan menikmati. Ia bimbang harus ikut tim yang mana. Bagaimana pun ini adalah pengalaman pertamanya berciuman setelah sebelumnya bergandengan tangan dengan seseorang yang sudah membuatnya kasmaran. "Terus habis ini gimana dong? Duh! Pasti jadi aneh deh kalau ketemu." Intan bermonolog di depan cermin. Ia bingung harus berbuat apa, ingin kabur tapi tak bisa. Sekarang ia merasa malu dan canggung. Saat Intan akan berbalik, tak sengaja kakinya tersandung kardus besar yang berserakan di lantai. "Aduh!" pekik Intan. "Intan!" Arga sudah muncul di pintu kamar. "Kamu nggak apa-apa?" Polisi tampan itu segera menghampiri perempuan yang kini sudah ia klaim sebagai kekasihnya. "Oh, ng-nggak apa-apa, Kak." "Yakin? Kaki kamu?" Arga hampir berlutut untuk memeriksa kaki Intan. "Eh-eh, nggak apa-apa!" cegah Intan sambil memegangi lengan kekar Arga. Keduanya kembali bersitatap, tapi Intan segera memutus kontak. Ia tak mau mengulang adegan yang membuat jantungnya meledak-ledak. "Oh ya, Kak, ini di kamar banyak kardus gede. Kayaknya mereka lagi pindahan yah?" Intan mencoba mengalihkan perhatian Arga, dan ternyata berhasil. Polisi tampan itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mata Intan justru tertarik pada sebuah bingkai foto pengantin besar yang terpasang di dinding menghadap ke ranjang. Dalam hati ia menyayangkan jika rumah tangga pasangan pengantin yang tampan dan cantik itu harus berakhir tragis. "Ternyata punya istri cantik nggak ngejamin laki-laki buat setia yah?" guman Intan dengan mata masih menatap foto pengantin sunda di depannya. "Yah, itu lah jeleknya cowok, dia nggak pernah puas dengan apa yang udah dia punya." Arga sudah berdiri di sisi kanan Intan. "Termasuk Kakak juga dong?" tembak Intan. Arga menoleh tak terima. "Sembarangan! Nggak semua cowok kayak gitu Intan, ada kok cowok yang setia, kayak saya." Arga menarik kerah lengannya, jemawa. "Masa?" pancing Intan. "Kamu tanya aja sama anak-anak di kantor saya orangnya gimana? Intan ...." Arga sudah menggenggam tangan gadis yang hampir sama tinggi dengannya. "Sekali saya udah sayang dan cinta sama seseorang, saya akan setia dan jaga komitmen itu sampai mati. Kecuali kalau orang itu sendiri yang minta lepas diri dari saya." Arga memang tak mau memaksakan ikatan cintanya pada seseorang yang sudah jelas tak ingin dipertahankan, seperti Ghea dulu. "Yang penting sekarang, saya udah tahu jawabannya." Arga tersenyum penuh makna mengingat peristiwa bersejarah yang baru saja ia alami bersama Intan. "Jawaban apa?" Intan mengernyit. "Ada deh!" Goda Arga sambil mencubit hidung Intan. Perempuan berponi itu semakin penasaran. Saat akan menanyakan maksud kalimat Arga, tiba-tiba terdengar suara dari lantai satu. "Kayaknya itu tim forensik udah dateng, yuk!" Intan pun hanya bisa pasrah saat Arga kembali menarik tangannya yang sedari tadi sudah dalam genggaman. Mahasiswi itu mulai merasa nyaman dengan perlakuan manis dan ungkapan sayang dari Arga. ***** Usai mengumpulkan barang bukti yang dianggap penting bersama tim forensik, Arga dan Intan kemudian kembali ke kantor untuk laporan. "Kok saya tetep ngerasa si istri yang bunuh suaminya yah?" ucap Intan saat dalam perjalanan ke kantor polres. "Kenapa kamu bisa punya analisa gitu?" tanya Arga penasaran. "Yah, kalau diinget lagi cerita Kapten Fendy tadi rasanya yang punya peluang besar cuma istrinya. Motifnya udah jelas, dia pasti sakit hati sama suaminya yang udah selingkuh berkali-kali. Sekarang wanita mana coba yang bisa terima dan nggak hancur hatinya kalau dikhianati?" duga Intan. "Tapi kan udah jelas yang kasih bingkisan itu temennya, bukan istrinya. Karena alibinya si istri dia lagi di dapur pas temannya dateng nganter kopi sama kue itu." Arga menyanggah pendapat Intan. "Ya bisa aja kan si istri emang udah siapin sianida sejak lama. Terus pas kebetulan ada temennya dateng bawa makanan, nah langsung deh sama istrinya dimasukin lah sianida ke kopi atau brownis-nya. Jadi otomatis yang jadi tersangka adalah temennya." Arga masih menyimak analisa Intan. Bagianya semua kemungkinan masih 50:50 sampai nanti keluar hasil forensik yang bisa menjadi jawaban siapa pelaku sebenarnya. "Terus tadi juga banyak kardus gede gitu di rumahnya. Isinya barang-barang istrinya semua. Kayaknya bener deh istrinya yang ngebunuh dan dia udah siap-siap buat pindah setelah suaminya meninggal." Intan tampak serius, Arga jadi semakin gemas. Rasanya polisi tampan itu jadi ingin mereka adegan di TKP tadi. "Oya, Kak, gimana kalau kita ke toko brownis sama kopinya aja? Kita cari tahu transaksi di sana terutama yang beli jenis kopi dan brownis yang dikasih ke korban. Mereka pasti punya cctv kan? Sapa tahu kita dapet petunjuk di sana." "Wah, ide bagus tuh, Sayang. Oke, kita ke sana." "Hah?! Sayang?" Intan menautkan alisnya, sedangkan Arga tersenyum bahagia. "Iya, Sayang. Kenapa? Kamu nggak suka dipanggil 'sayang'? atau mau dipanggil cinta aja? Atau Baby? Hmm?" Lagi, Arga mengusap kepala Intan, membuat gadis muda itu salah tingkah. Apalagi jika mengingat adegan ciuman pertamanya tadi. "Kamu juga boleh kok panggil saya sayang, jangan kakak mulu, kan kamu bukan adik saya, tapi pacar saya," cengir Arga. Intan semakin melongo, dalam hatinya bertanya sejak kapan dia naik kelas dari junior magang menjadi pacar? Sesampai di coffee shop yang sama dengan logo pada paper bag yang mereka lihat di TKP, keduanya berjalan beriringan. Tak lupa Arga masih setia menggandeng pacar barunya. Kali ini Intan akhirnya menyerah dan pasrah, hatinya tak bisa lagi dibohongi. Kini ia mengakui rasa cinta pada laki-laki tegap di sampingnya yang mulai tumbuh merekah di hatinya. Intan pun berjalan sambil menunduk dan mengulum senyum. Saat keduanya berjalan hendak masuk ke coffe shop tak sengaja Intan menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. "M-maaf, Pak, nggak sengaja," reflek Intan menangkupkan kedua tangan sambil menunduk. Arga pun ikut berhenti dan meminta maaf. Sosok laki-laki yang memakai jaket kulit dan topi hitam itu hanya menanggapi dengan anggukan. Matanya lalu menyipit memperhatikan dua sejoli di hadapannya. "Maafin pacar saya ya, Pak. Dia nggak sengaja. Kami permisi, Pak, mari." Arga kemudian berjalan dan menggandeng Intan kembali sampai masuk ke dalam coffe shop. Sementara laki-laki yang baru saja ditabrak Intan masih setia berdiri dan memindai pasangan muda itu hingga menghilang di balik pintu. Setelah merasa puas dan mendapatkan cukup petunjuk, laki-laki bertopi itu kembali berjalan dengan sedikit pincang, karena satu kakinya pernah terluka akibat tembakan timah panas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD