Senja turun pelan di halaman rumah mereka. Lampu teras sudah menyala ketika mobil Sandy berhenti di depan pagar. Rayna baru saja tiba lebih dulu, sepatu haknya sudah ia lepaskan sejak di pintu, diganti sandal rumah yang empuk. Ijah menyambutnya dengan senyum khas yang selalu sama sejak enam tahun lalu.
“Bu Rayna capek?” tanya Ijah sambil menerima tas kerja.
“Lumayan, Bi,” jawab Rayna sambil meregangkan bahu. “Hari ini kliennya penuh perasaan semua.”
Mirna muncul dari arah dapur. “Makan malam sudah hampir siap, Bu. Tinggal nunggu Bapak.”
Rayna mengangguk. “Terima kasih, Mirna.”
Ia berjalan masuk ke ruang keluarga, menjatuhkan diri ke sofa. Rumah itu terasa terlalu besar untuk dua orang, tapi entah kenapa tidak pernah terasa kosong. Mungkin karena setiap sudutnya menyimpan kebiasaan, jaket Sandy yang selalu digantung sembarangan, majalah fashion yang Rayna biarkan terbuka di meja, aroma kopi yang hampir selalu tertinggal di udara.
Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali, Rayna menoleh dan melihat suaminya.
“Assalamualaikum,” suara Sandy terdengar ceria.
“Waalaikumsalam,” jawab Rayna spontan, bangkit dari duduknya.
Sandy masuk dengan senyum lebar dan sebuket bunga di tangannya.
Rayna menghela napas kecil, setengah terharu. “Mas, ini hari apa?”
Sandy pura-pura berpikir. “Hari Selasa?”
Rayna menyilangkan tangan. “Terus kenapa bunga?”
Sandy mendekat, menyerahkan buket itu. “Karena kamu hari ini pasti capek. Dan karena aku mau.”
Rayna menerima bunga itu, mencium aromanya. “Kamu ini bikin standar suami orang lain naik.”
“Biar aku kelihatan unggul,” jawab Sandy santai.
Rayna terkekeh. “Sombong.”
Sandy menatap istrinya sejenak, lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan cantik hari ini.”
Rayna mengangkat alis. “Hari lain enggak?”
“Cantik hari lain juga,” jawab Sandy cepat. “Hari ini cuma… lebih bersinar.”
Rayna memalingkan wajah, menyembunyikan senyum.
Mereka makan malam bersama di meja makan yang rapi. Mirna menyajikan sup hangat dan lauk sederhana. Tidak ada pembicaraan berat. Sandy bercerita tentang rapat yang membosankan, Rayna bercerita tentang klien yang ingin gaun tapi budget mahasiswa.
“Kadang aku pengen bilang,” kata Rayna sambil menyendok sup, “kalau mau harga segitu, gaunnya jangan minta perasaan.”
Sandy tertawa. “Perasaan itu mahal, Bu.”
“Makanya,” sahut Rayna.
Setelah makan malam, Sandy berdiri. “Aku mau ajak kamu ke rumah Mama dan Papa.”
Rayna menoleh. “Sekarang?”
“Mereka kangen,” jawab Sandy ringan. “Katanya sudah lama kita nggak nginep.”
Rayna tersenyum. “Ya sudah. Aku ganti baju dulu.”
***
Perjalanan ke rumah orang tua Sandy terasa akrab. Rumah besar dengan halaman luas itu selalu menyambut Rayna tanpa jarak. Maida langsung memeluknya begitu mereka tiba.
Rayna dan Sandy masuk ke rumah, dimana semuanya menyambut, Rayna menganggap ini adalah rumah yang selalu menyambutnya pulang, tidak ada perbedaan di sini, semua menyukainya.
“Kamu makin kurus,” komentar Maida sambil menepuk lengan Rayna.
Rayna tertawa kecil. “Ma, ini kurus karena kerja.”
Anjas menyusul, tersenyum hangat. “Kerja yang bikin bangga.”
Mereka makan malam bersama, kali ini dengan suasana keluarga yang tenang. Sania tidak ada malam itu, masih di luar kota bersama anaknya.
Obrolan mengalir tentang bisnis, tentang butik Rayna, tentang rencana liburan keluarga. Hingga, seperti biasa, satu topik datang dengan cara paling halus.
“Rayna,” kata Maida pelan. “Kamu sehat, kan?”
Rayna mengangguk. “Alhamdulillah, Ma.”
Maida tersenyum, tidak melanjutkan. Anjas mengalihkan pembicaraan dengan cepat, membahas proyek baru Sandy.
Rayna mengerti.
Malam itu, Rayna dan Sandy tidur di kamar lama Sandy. Kamar yang masih menyimpan poster-poster lama dan rak buku yang tidak pernah dipindahkan.
Setelah mandi, Rayna duduk di tepi ranjang. Sandy berdiri di belakangnya, menyisir rambut Rayna perlahan.
“Capek?” tanya Sandy.
“Sedikit, Mas,” jawab Rayna jujur.
Sandy membungkuk, mengecup puncak kepala Rayna. “Terima kasih sudah selalu berusaha.”
Rayna menoleh. “Kita berusaha bareng.”
Sandy tersenyum, lalu mencium bibir Rayna dengan lembut. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut. Hanya penuh rasa memiliki.
Malam itu, Sandy mengambil jatahnya sebagai suami, dan Rayna menerimanya sebagai istri dengan cinta yang masih utuh.
Di dalam gelap, Rayna memeluk Sandy dan berpikir, hidupnya baik-baik saja. Belum sempurna, tapi cukup.
Ia tidak tahu, di balik ketenangan itu, waktu sedang menyusun sesuatu yang kelak akan menguji semua keyakinannya.
“Kamu wangi,” bisik Sandy ketika ia mencium aroma Rayna.
“Mas, jangan gombal,” kekeh Rayna.
“Ahh aku suka wangi istriku, selalu terbayang di ingatan dan penciumanku.” Sandy mencumbu Rayna dan mencium sekitar lehernya, Sandy tersenyum disela cumbuannya.
“Mas,” lirih Rayna.
“Iya, Sayang?”
“Aku … suka,” lirih Rayna.
Sandy tersenyum dan memasukkan juniornya ke dalam Lembah itu dan Rayna hampir berteriak karena milik suaminya semakin besar, seolah bisa merobeknya.
Sandy bergerak pelan, pelan tapi pasti, belum ada desahan, namun Rayna sudah mulai merasakan nikmat menjalar.
Sandy mulai menggoyangkan pinggulnya dan meremas dua gundukan milik istrinya, Sandy seolah tersihir oleh kecantikan bidadari dibawah tindihannya saat ini, selain cantik, Rayna juga pantas dicintai.