Bab 14. Lembur

1111 Words

Lampu-lampu butik masih menyala ketika Rayna membuka mata. Cahaya putih itu terasa asing di balik kelopak matanya yang berat. Ia butuh beberapa detik untuk sadar bahwa ia tidak sedang di kamar, tidak juga di rumah. Aroma kain baru, kopi yang sudah dingin, dan wangi kayu rak etalase menyambutnya lebih dulu. Rayna mengangkat kepalanya pelan. Lehernya pegal karena tertidur dengan posisi duduk di kursi kerja. Di hadapannya, meja besar penuh sketsa gaun pengantin, gulungan kain, dan tablet yang layarnya sudah mati. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat lima belas dini hari. Rayna mendesah napas halus dan melihat Sandy. Sandy masih tidur di sofa panjang dekat jendela butik. Jasnya terlipat rapi di sandaran, kemeja putihnya sedikit kusut, dasi sudah dilepas. Satu lengannya menutupi mata,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD