Sandy memarkir mobilnya agak jauh dari rumah itu. Ia sengaja datang sore menjelang malam, waktu yang aman untuk berbohong. Jaket masih ia kenakan saat mengetuk pintu, seolah benar baru tiba dari perjalanan jauh. Sandy tidak mau membawa Arman bersamanya dulu, karena Arman sedang dicurigai Rayna. Laras membuka pintu dengan wajah yang semula lega, lalu berubah saat melihat ekspresi Sandy. Laras bahagia sekali melihat suaminya pulang. “Kamu kenapa mukanya?” tanya Laras. Sandy langsung masuk tanpa menjawab, pintu ditutup lebih keras dari perlu. “Kamu tahu kenapa aku ke sini?” Sandy menoleh tajam. Laras menyilangkan tangan. “Aku pikir kamu baru pulang dari Bandung.” “Aku ke sini karena kamu keterlaluan,” Sandy meninggikan suara. “Jangan pernah hubungi nomor itu lagi.” Laras tertawa kecil

