Genk pembully

1059 Words
Semua tertawa. Cellin hanya diam, sedikit bingung dengan arah pembicaraan. Namun ia ikut tersenyum. Di tengah tawa itu... Dari kejauhan Dion kembali menatap ke arah mereka. Tepatnya... Ke arah Cellin. Tatapannya kali ini berbeda. Lebih dalam dan seolah… tertarik. Namun Cellin tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk menikmati kebersamaan barunya. Tanpa tahu.... Bahwa hari itu…Adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Suasana kantin yang tadi penuh tawa perlahan berubah ketika Cellin, Summi, Mihe, Hyumna, Yunji, dan Yuna sedang asyik makan dan bercanda. Tiba-tiba... Lima sosok yang menjadi pusat perhatian seluruh sekolah datang mendekat. Dion, Rion, Zay, Rafa, Rizal. Tanpa izin, mereka langsung duduk di meja sebelah sangat dekat dengan meja genk Summi. Seketika Summi, Mihe, Hyumna, Yunji, dan Yuna langsung memutar bola mata mereka dengan malas. Mihe meletakkan sendoknya dengan suara pelan, lalu berkata dengan nada dingin, “Bisa nggak sih kalian nggak duduk di sini?” Hyumna ikut menimpali, “Iya, jangan sampai genk kita ribut sama ‘pacar-pacar’ kalian nanti.” Summi menatap mereka tajam. “Pergi sana. Cari tempat lain.” Yunji menyilangkan tangan. “Kalian duduk di sini mau ngapain? Mau deketin siapa?” Yuna langsung menambahkan dengan nada menantang, “Mau deketin eonni kita? Lewatin dulu kita semua.” Dion bersandar santai di kursinya, lalu menjawab dengan cuek, “Terserah gue dong mau duduk di mana.” Rion tersenyum santai. “Iya, kenapa sih kalian sensi banget? Kita nggak ganggu kok.” Zay mengangkat bahu. “Tempat duduk udah penuh semua. Cuma di sini yang kosong.” Rafa menambahkan, “Dan satu lagi, ya… Fira, Fani, Raya, Nira, sama Adel itu bukan pacar kita.” Rizal langsung mengangguk. “Iya. Mereka aja yang suka ngaku-ngaku. Kita aja sebenernya… jijik.” Ucapan itu membuat Summi dan yang lain sedikit terdiam. Namun sebelum suasana semakin panas...Cellin yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Ia meletakkan sendoknya. Lalu berkata dengan tenang, tapi tegas...“Kalian bisa diam nggak?” Semua langsung menoleh ke arahnya. “Berisik,” lanjut Cellin. “Aku lagi makan. Keganggu sama kalian, karena bagi cellin makan itu harus di hormati dan tidak boleh ada pertengkaran .” Suasana mendadak hening. Dion menatap Cellin Lalu.... Ia tersenyum. Senyum smirk yang tipis, Tatapannya berubah.....Seolah tertarik. Rion yang duduk di sampingnya memperhatikan itu. Ia menyeringai kecil. “Wah…” gumamnya pelan. Matanya juga mulai tertuju ke Cellin. Dion langsung melirik adiknya dan.. Menendang kaki Rion di bawah meja. Rion mengernyit. “Apaan sih?” “Jangan macam-macam,” bisik Dion pelan tapi tajam. Rion malah tersenyum mengejek. “Kenapa? Takut saingan?” Dion menatapnya dingin, Ia tahu betul sifat adiknya.....Apa yang Rion inginkan harus dia dapatkan dan itu berbahaya. Tiba-tiba.....Suara teriakan nyaring terdengar dari arah pintu kantin. “Ahhh! Ayang beb!” Semua menoleh.....Lima gadis dengan penampilan mencolok masuk dengan percaya diri Fira, Fani, Raya, Nira, Adel. Adel langsung berkata dengan nada tinggi, “Minggir kalian! Inces mau datang ke pangeran!” Raya menatap sinis ke arah genk Summi. “Iya, minggir. Jangan sok deket sama pacar aku.” Fani langsung berlari ke arah Zay dan bergelayut manja di lengannya. “Ayang Zay…” Nira juga memeluk lengan Rafa. “Iya kan, yang…” Seketika....Summi, Mihe, Hyumna, Yunji, dan Yuna kembali memutar bola mata dengan malas. Cellin yang melihat itu hanya bisa diam dalam hatinya ia bergumam.... Ya Allah… bajunya kok ketat banget…dan itu… kenapa nempel-nempel banget ke cowok? Make up-nya juga… putih banget, nggak sesuai warna kulit… Kayak… gorengan belum digoreng… Ia hampir tertawa, tapi ditahan. Tiba-tiba.....BRAK! Fira menggebrak meja mereka. “Minggir kalian! Kita mau makan di sini!” Mihe langsung berdiri sedikit. “Eh, enak aja. Kita duluan yang duduk di sini.” Hyumna ikut menimpali, “Kalian cari tempat lain aja.” Nira memainkan kukunya dengan angkuh. “Terserah kita dong. Minggir nggak kalian? Berani lawan kita?” Yuna langsung berdiri. “Berani lah. Ngapain takut sama kalian yang mukanya kayak ani-ani.” Adel langsung maju. “Jaga ya mulut kalian! Sini kalau berani!” Fani menyilangkan tangan. “Kalian nggak tahu ya? Papah kita lebih kaya dari kalian.” ia menunjuk ke arah mereka dengan sinis. “Lihat kalian. Warna kuning aja belagu banget.” Ia menunjuk kelompoknya sendiri. “Kita warna merah. Ingat itu.” Yunji tertawa kecil. “Terus aku harus takut gitu?” Raya membalas dengan tajam, “Kalian tuh cuma siswa miskin. Nggak usah sok berani.” Summi yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdiri. Wajahnya berubah. “DIAM!” Suasana langsung hening. Summi menggebrak meja. “Berani-beraninya kalian ngatain teman aku.” Ia menatap mereka satu per satu. “Punya nyali berapa kalian?” Ia tersenyum sinis. “Kalian bangga banget sama warna merah itu?” “Perusahaan bapak kalian ranking berapa, hah?” Seketika.... Wajah Fira, Fani, Nira, Adel, dan Raya langsung pucat. Mereka baru sadar. Di depan mereka... Ada Summi. Anak dari keluarga yang jauh lebih berkuasa. Mereka saling pandang.....Mulai panik. Namun... Keributan belum selesai.....Cellin berdiri. Wajahnya dingin. Aura-nya berubah. “Kalian kalau nggak bisa diam…” Ia mengambil gelas air. “Aku siram satu-satu.” Semua terdiam. Tatapannya tajam. “Kalian berlima itu siapa?” lanjutnya dingin. “Aku nggak kenal.” “Dan bisa nggak, jangan ganggu kita makan?” “Suara kalian itu… kayak speaker rusak.” “Berisik.” “Pergi.” Suaranya tidak keras. Tapi tegas. Menusuk. Membuat semua orang di kantin terdiam. Mihe langsung berbisik ke Hyumna, “Ngeri banget… baru pertama kali aku lihat eonni marah…” Hyumna mengangguk cepat. “Iya… auranya kayak… mafia…” Yunji ikut berbisik, “Aku yakin eonni bukan orang biasa deh…” Ia menyipitkan mata. “Jangan-jangan… bisa bela diri…” Yuna tersenyum tipis. “Kalau bisa… hajar aja mereka.” Sementara itu.... Siswa-siswi lain mulai bersorak kecil. “Udah! Pergi aja!” “Berisik banget sih!” “Ganggu orang makan!” Fira dan yang lain mulai mundur. Wajah mereka kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.....Akhirnya Mereka berlima pergi.....Dengan langkah cepat dan penuh rasa malu....Suasana kantin kembali tenang.....Semua mata kini tertuju pada Cellin. Namun kali ini....Bukan karena penasaran....Melainkan karena kagum. Summi menatap Cellin dengan mata berbinar. “Eonni…” Cellin kembali duduk santai....Seolah tidak terjadi apa-apa. “Ayo lanjut makan,” katanya. Yang lain saling pandang.....Lalu tertawa kecil. “Iya…” jawab mereka. Namun dalam hati...Mereka semua berpikir hal yang sama......Cellin…Bukan orang biasa. dan mungkin... Kehadirannya di sekolah ini…Akan mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD