bc

Milik Sang Raja Jalanan

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
dark
forced
opposites attract
friends to lovers
badboy
kickass heroine
mafia
drama
mystery
city
like
intro-logo
Blurb

Mobilku mogok di tengah badai saat melarikan diri dari tunanganku yang korup. Di kota terpencil Black Ridge, aku terpaksa melangkah masuk ke sarang Iron Vipers MC—klub motor paling ditakuti di lembah ini.

Jaxson Cross, sang presiden klub yang dingin dan bertato ular, tidak menerima orang asing. Dia menyita tasku yang berisi rahasia mematikan, mengurungku di kamarnya, dan menuntut kepatuhan mutlak sebagai ganti perlindungan.

Saat para pemburu bayaran mulai mengepung perbatasan kota, Jax menyematkan jaket kulitnya ke pundakku di hadapan seluruh anggotanya. Di kota ini, melarikan diri bukan lagi pilihan—aku telah diklaim oleh sang raja jalanan.

chap-preview
Free preview
BAB 1: ASAP DI TENGAH BADAI
Roda depan mobil sedan sewaan itu terperosok ke dalam kubangan lumpur sedalam betis, memuntahkan bunyi decit logam yang memilukan sebelum mesinnya batuk dua kali dan mati total. Aku tidak memutar kunci kontak lagi. Sia-sia. Asap kelabu tipis telah membubung dari sela kap mesin sejak lima belas mil yang lalu, beradu dengan curahan hujan lebat yang menghantam kaca depan tanpa ampun. Di luar sana, kegelapan Black Ridge bukanlah kegelapan kota yang masih menyisakan pendar lampu jalan atau bias reklame toko serba ada. Di sini, kegelapan terasa padat, pekat, dan dingin—seolah bukit pinus di kanan-kiri jalanan sempit ini sengaja menelan siapa pun yang cukup bodoh untuk melintasinya di tengah malam. Napas dingin berembun di depan wajahku. Pemanas kabin mati bersamaan dengan aki. Suhu udara anjlok drastis ke titik mendekati beku, merayap menembus mantel wol tipis yang sama sekali tidak dirancang untuk bertahan hidup di hutan perbatasan. Aku melirik jok penumpang. Tas jinjing kulit hitam itu tergeletak diam. Kenyataannya, benda mati itulah yang membawa bencana ini ke pundakku. Di dalam lapisan kain furingnya yang kurusak dengan silet tiga malam lalu, terselip sebuah flashdisk baja terenkripsi seukuran kelingking. Isinya bukan sekadar deretan angka pembukuan ganda biasa; di sana tersimpan daftar transaksi pencucian uang kartel, nomor rekening samaran di Kepulauan Cayman, serta cap stempel basah yayasan amal milik Vincent Sterling. Vincent. Mengingat namanya saja membuat rasa mual beracun naik ke pangkal tenggorokanku. Tiga hari lalu, aku masih menjadi tunangan pajangannya—boneka perhiasan berbalut gaun sutra yang duduk manis di sampingnya dalam jamuan makan malam para senator, tersenyum patuh saat tangannya melingkari pinggangku dengan cengkeraman posesif yang kerap meninggalkan bekas kebiruan samar di balik kain. Aku mengira ia hanya pria arogan dengan ego setinggi pencakar langit miliknya. Aku tidak pernah menduga bahwa dokumen audit yang tak sengaja kulihat di meja ruang kerjanya adalah vonis mati: Vincent berniat mengambinghitamkanku atas defisit puluhan juta dolar dana gelap begitu penyelidikan federal dimulai. Ia tidak berniat menikahiku. Ia berniat memenjarakanku—atau melenyapkanku begitu semua berkas perkara selesai ditandatangani. Bunyi guntur menggelegar di atas kepala, menyentak lamunanku kembali ke kenyataan beku di dalam kabin mobil. Ponsel pintarku mati suri sejak dua jam lalu; baterainya terkuras habis akibat terus mencari sinyal yang tak pernah ada di lembah ini. Jika aku bertahan di dalam mobil ini sampai fajar, aku akan mati membeku. Atau lebih buruk lagi: dua mobil SUV hitam suruhan Vincent yang kulihat melintasi pom bensin kota sebelumnya akan menemukanku meringkuk seperti tikus terjebak. "Bergerak, Elena," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau dan bergetar. "Bergerak atau mati." Kukalungkan tali tas jinjing itu menyilang di dadaku, memeluknya erat di balik mantel. Membuka pintu mobil membutuhkan dorongan seluruh bahuku karena embusan angin kencang dari luar. Seketika itu juga, air hujan menghujam wajahku seperti jarum-jarum es. Sepatu hak tinggiku langsung terbenam ke dalam lumpur hitam yang lengket. Sialan. Tanpa berpikir dua kali, kulepas kedua sepatu mahal itu, melemparkannya ke semak-semak, dan melanjutkan langkah dengan telapak kaki berbalut stoking tipis yang langsung robek menyentuh kerikil tajam. Rasa sakit menusuk tumitku, namun kepanikan memompa adrenalin yang jauh lebih deras. Aku berjalan tertatih menembus kelokan jalan aspal yang retak-retak selama hampir sepuluh menit sebelum melihat seberkas cahaya temaram di balik deretan pohon pinus tumbang. Sebuah plang besi berkarat tergantung miring di atas tiang kayu lapuk, diterangi lampu neon merah yang berkedip tak beraturan: The Rusty Chain. Bangunan di hadapanku lebih menyerupai gudang penyimpanan kayu tua ketimbang tempat hiburan manusia beradab. Dinding papannya hitam legam dimakan lumut dan cuaca, atap sengnya berderak gaduh diterpa hujan, dan di bawah teras samping yang terlindung dari badai, berjejer rapi tak kurang dari delapan motor besar berkrom gelap dengan stang tinggi yang mengintimidasi. Tidak ada mobil sedan keluarga di sini. Tidak ada lampu selamat datang yang ramah. Hanya ada getaran bas rendah dari musik rock lawas yang merayap keluar menembus celah ventilasi kayu, bercampur dengan tawa kasar pria yang terdengar samar dari dalam. Aku berdiri mematung di undakan tangga teras kayu yang berderit. Naluri pertahanan diriku berteriak agar aku berbalik dan lari kembali ke kegelapan hutan. Tempat ini memancarkan bahaya dari setiap sudutnya. Namun, rasa kebas di jemari kakiku dan hembusan angin beku yang menusuk tulang rusukku tidak memberiku pilihan lain. Di belakangku ada Vincent dengan regu pembunuhnya; di depanku ada sarang orang asing. Kutempelkan telapak tanganku yang gemetar ke daun pintu kayu ek yang berat, lalu mendorongnya masuk. Derit engsel pintu yang berkarat melengking tajam, memotong riuh denting gelas dan tawa di dalam ruangan dalam satu detik yang sunyi senyap. Bau ruangan itu menghantamku seketika: aroma tembakau cerutu murahan, uap bir basi, keringat asam pria, dan bau khas oli mesin panas yang pekat. Udara hangat di dalam bar mendadak terasa begitu menyesakkan. Musik dari pelantang suara di sudut ruangan masih meraung pelan, namun tidak ada lagi yang berbicara. Ada sekitar dua belas orang di sana. Semuanya pria berbadan tegap, mengenakan rompi kulit tebal tanpa lengan dengan tambalan emblem bergambar ular beludak hitam yang melingkari belati perak. Iron Vipers MC. Dua belas pasang mata menoleh serempak, menatapku lurus-lurus. Aku tahu persis bagaimana penampilanku di mata mereka saat ini. Gaun sutra kelabu mahal yang kukenakan di balik mantel compang-camping telah basah kuyup, menempel ketat di kulit tubuhku. Rambut pirang abu-abuku basah menjuntai berantakan menutupi leher, telapak kakiku berlumuran lumpur bercampur bercak darah segar, dan wajahku pucat pasi tanpa riasan. Aku tampak seperti korban tabrak lari yang nyasar ke sarang serigala buas. "Astaga naga," sebuah suara berat bergumam dari arah meja biliar di sebelah kiri. Seorang pria gempal berjanggut lebat merah menyandarkan tongkat biliarnya ke pinggir meja hijau yang kusam. Matanya menyipit, lalu seringai menjijikkan terkembang di wajahnya yang penuh bopeng. Ia mengusap dagunya dengan punggung tangan yang kotor. "Lihat apa yang dihanyutkan air bah ke lantai kita malam ini. Boneka porselen tersesat." Beberapa pria di meja lain tertawa rendah—suara serak yang tidak mengandung keramahan sedikit pun, melainkan antisipasi predator yang melihat mangsa empuk masuk tanpa perlawanan. Kukeraskan rahangku, menolak untuk menundukkan kepala. Ketakutan adalah bau darah bagi orang-orang seperti ini; jika aku memperlihatkannya, mereka akan mengoyakku hidup-hidup. "Mobilku mogok di jalan raya satu mil ke arah selatan," kataku. Suaraku bergetar di suku kata pertama, namun aku segera memaksanya terdengar dingin dan datar. "Aku butuh telepon kabel atau seseorang yang punya bahan bakar cadangan untuk membawaku ke penginapan terdekat. Aku bisa membayar tunai." Keheningan menyambut tawaranku. Pria berjanggut merah tadi terkekeh pelan, melangkah maju dua tapak. Sepatu botnya meninggalkan jejak debu kering di lantai papan. "Membayar, katanya?" Ia menatap mantel basahku, lalu turun ke kakiku yang telanjang. "Nona manis, telepon kabel terakhir di lembah ini tumbang bersama tiang listrik dua tahun lalu. Dan penginapan terdekat jaraknya empat puluh mil melintasi tebing yang sekarang tertutup longsoran lumpur." Ia melangkah semakin dekat. Jarak kami kini hanya tersisa empat langkah. Bau wiski murahan dari napasnya menyengat hidungku, membuat perutku yang kosong bergejolak mual. "Tapi kau beruntung," lanjutnya, jemari tangannya yang gemuk mulai terangkat ke udara, memberi isyarat ke arah lorong belakang bar. "Aku punya trailer hangat di belakang bengkel. Kasur kapukku cukup empuk untuk dua orang. Kau bisa menghangatkan badanmu di sana... sampai badai reda." Ia mengulurkan tangannya, berniat mencengkeram kerah mantelku. "Jangan sentuh aku," desisku tajam, melangkah mundur setengah tapak sambil merapatkan tasku ke d**a. Sebelum pria itu sempat menertawakan penolakanku, sebuah suara benturan kaca yang sangat keras terdengar dari arah sudut tergelap konter bar. KRAK. Gelas wiski berbahan kaca tebal menghantam permukaan kayu bar dengan kekuatan yang cukup untuk membuat cairannya memercik ke udara, namun anehnya kaca itu tidak pecah. Suara itu begitu tajam hingga mematikan seringai pria berjanggut merah dalam sekejap. Dari bangku tinggi di ujung konter yang terhalang bayang-bayang lemari minuman keras, sesosok pria bangkit berdiri. Ruangan itu mendadak terasa menyempit. Pria itu luar biasa jangkung—tingginya pasti lebih dari 190 sentimeter—dengan siluet bahu yang begitu lebar hingga menutupi cahaya lampu kuning di belakangnya. Ia mengenakan kaus hitam ketat tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar dan liat, dipenuhi sulur tato hitam legam yang merayap naik dari punggung tangannya, membelit lehernya yang kokoh, hingga menghilang di bawah rahangnya yang tegas. Di d**a kiri rompi kulitnya, di atas gambar kepala ular beludak, terdapat satu kata sederhana yang dibordir dengan benang putih tebal: PRESIDENT. Langkah kakinya tidak tergesa-gesa. Sol sepatu bot militernya menapak mantap di atas lantai kayu, menghasilkan bunyi ketukan teratur yang menekan d**a. Seluruh pria di ruangan itu—bahkan mereka yang tadi tertawa paling keras—otomatis memundurkan tubuh mereka setengah langkah, memberikan jalan tanpa ada yang berani bersuara. Pria itu berjalan lurus ke arahku, namun tatapan matanya sama sekali tidak melirik ke arah gaunku yang basah atau kakiku yang berdarah. Sepasang mata kelabu dingin setajam mata elang itu terkunci mati pada wajahku. "Mundur, Duke," suara pria itu keluar rendah, parau, dan bergetar berat seperti dengung mesin diesel dalam ruangan tertutup. Pria berjanggut merah yang dipanggil Duke itu menelan ludah, ekspresi wajahnya berubah tegang seketika. "Jax, ayolah. Dia cuma perempuan kota yang tersesat—" Gerakan Jax berikutnya terjadi tanpa peringatan. Itu bukan pukulan amarah orang mabuk yang serampangan; itu adalah gerakan terlatih seorang prajurit tempur yang dingin dan efisien. Tangan kanan Jax menyambar pergelangan tangan Duke secepat kilat, memelintirnya ke arah luar hingga terdengar bunyi gemeletuk sendi yang mengerikan, lalu dengan satu sentakan bahu, ia menghantamkan wajah Duke langsung ke tepi meja kayu ek di samping mereka. BRAK! Darah segar menyembur dari hidung Duke yang patah, menodai permukaan kayu kusam dan tumpukan kartu remi di atas meja. Duke melolong kesakitan, lututnya lemas menyentuh lantai sambil memegangi wajahnya yang remuk. Aku terkesiap, melangkah mundur hingga punggungku membentur daun pintu yang tertutup rapat di belakangku. Jantungku berdentum liar di balik tulang rusuk. Kekerasan di hadapanku begitu mentah, begitu nyata, sangat berbeda dengan kekerasan Vincent yang selalu disamarkan di balik ancaman halus dan pengacara berjas mahal. Jax melepaskan cengkeramannya pada baju Duke dengan satu kibasan jijik, membiarkan anak buahnya itu tersungkur mengerang di lantai papan. Ia bahkan tidak menunduk untuk melihat hasil perbuatannya. "Bawa dia keluar," perintah Jax tanpa menaikkan nada bicaranya sedikit pun. Dua anggota lain yang berdiri di dekat meja biliar bergegas maju tanpa membantah, memapah tubuh Duke yang limbung dan menyeretnya keluar melalui pintu samping menuju bengkel. Pintu itu terbanting menutup, menyisakan keheningan mencekam yang kini berpusat sepenuhnya di antara aku dan pria bertato ular ini. Jax melangkah maju, menutup sisa jarak di antara kami. Ia berhenti tepat satu jengkal di depanku. Begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang pekat—perpaduan tembakau lintingan, kulit samak, aroma logam dingin, dan uap hujan yang menguap dari rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Tubuhnya menjulang tinggi di atasku, menciptakan bayangan gelap yang menenggelamkanku seutuhnya. "Kausangka kau bisa masuk ke sini dan mendikte apa yang kau inginkan dengan uang kotormu, hm?" bisik Jax. Suaranya begitu dekat di depan wajahku hingga hembusan napas hangatnya menyapu keningku yang membeku. Aku menolak mundur lagi karena memang sudah tidak ada ruang tersisa. "Aku tidak bermaksud menghina tempatmu. Aku hanya butuh bantuan." "Bantuan?" Bibir tipis Jax terangkat sedikit, membentuk seringai berbahaya yang tidak mencapai matanya yang kelabu beku. Tangan kanannya yang berkapalan terangkat lambat-lambat. Aku ingin menepisnya, tetapi tatapannya seolah mengikat seluruh saraf motorikku. Ujung ibu jarinya yang kasar mendarat di garis rahangku, menekan kulitku dengan kehangatan membakar yang membuat bulu kudukku meremang serentak. Sentuhannya tidak kasar, namun cengkeraman tersembunyi di baliknya menegaskan bahwa ia bisa meremukkan leherku kapan saja ia mau. "Gadis kota dengan gaun tiga ribu dolar yang robek di bagian paha," gumamnya pelan, matanya meneliti setiap jengkal wajahku dengan ketelitian yang menakutkan. "Kau gemetar bukan cuma karena kedinginan. Pupil matamu melebar. Kau menoleh ke arah pintu setiap kali ada angin berhembus kencang." Ibu jarinya bergeser naik, menyapu tetesan air hujan di bawah kelopak mataku. "Kau tidak tersesat, Putri. Kau sedang melarikan diri dari seseorang yang membuatmu ketakutan setengah mati." Tenggorokanku tercekat. "Itu bukan urusanmu." "Di dalam batas Black Ridge, segala hal yang bernapas dan berdarah adalah urusanku," balasnya dingin. Sebelum aku sempat bereaksi, tatapan mata Jax meluncur turun ke arah tas jinjing yang kupeluk erat di d**a. Naluri kewaspadaannya yang tajam menangkap kegelisahanku saat ia mendekati tas itu. Tanpa aba-aba, jemari besarnya menyambar tali kulit tas jinjingku. "Lepaskan!" sergahku panik, kedua tanganku mencengkeram tas itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh milikku!" Kepanikan murni meledak di kepalaku. Jika tas itu jatuh ke tangannya, jika ia menemukan flashdisk dan paspor palsu dengan tiga nama berbeda di dalamnya, aku kehilangan satu-satunya kartu as yang kumiliki untuk bertahan hidup. Jax tidak menarik tali tas itu dengan kasar. Sebaliknya, ia melangkah maju setengah tapak lagi, menekan tubuh kekarnya langsung ke tubuhku, memaksaku merapat ke daun pintu kayu di belakangku hingga punggungku terasa ngilu. Lengannya yang bertato ular melingkar cepat di pergelangan tanganku, menguncinya ke atas kepala dengan satu gerakan mudah yang tidak memerlukan usaha berarti. Perbedaan kekuatan di antara kami terlalu timpang. Tubuhku terasa kecil dan tak berdaya di bawah bobot tubuhnya yang keras bagai batu karang. "Lepaskan aku, b******k!" teriakku, memberontak sekuat tenaga, mencoba menendang tulang keringnya dengan kakiku yang telanjang. Tendanganku hanya mengenai sepatu bot bajanya tanpa memberi dampak apa pun selain rasa sakit berdenyut di jemari kakiku. Jax bahkan tidak berkedip. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia merenggut tas kulit hitam itu dari dekapanku dengan satu sentakan dingin. "Kunci mobilmu," pintanya datar, mengabaikan makianku. "Tidak ada kunci mobil! Mesinnya sudah meledak!" nafasku terengah-engah, dadaku naik turun beradu langsung dengan d**a bidangnya yang dilapisi kaus hitam tipis. Panas tubuhnya meresap menembus kain basah gaunku, menciptakan sensasi kontras yang membuat kepalaku pusing. Jax menatap lurus ke dalam mataku selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Tidak ada nafsu murahan di matanya seperti yang kulihat pada Duke; yang ada hanyalah kalkulasi dingin seorang penguasa wilayah yang sedang memeriksa barang sitaan. "Dutch," panggil Jax tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun dari wajahku. Seorang pria kurus tinggi berambut pirang cepak yang berdiri di dekat meja kasir segera menegakkan badannya. "Ya, Boss?" "Ambil truk derek bengkel. Tarik rongsokan mobil perempuan ini dari jalan raya sebelum ada patroli luar kota yang melihatnya. Simpan di garasi belakang." "Beres." Dutch mengangguk, lalu bergegas meraih jaket kulitnya dan melangkah keluar menembus badai. Aku menatap Jax dengan kebencian yang berkobar di balik air mata amarahku. "Kau mencuri hartaku. Itu perampokan." "Ini biaya pendaftaran, Putri," bisik Jax tepat di depan bibirku, jarak kami begitu tipis hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. "Kau membawa masalah besar ke depan pintu rumahku. Dan aku tidak pernah membiarkan masalah masuk tanpa jaminan." Jax melepaskan kuncian di pergelangan tanganku secara tiba-tiba, membuat tubuhku merosot setengah jalan sebelum tangannya yang lain menyambar pinggangku, menahanku agar tidak jatuh ke lantai papan yang kotor. Ia membalikkan badanku ke arah tangga kayu curam di sudut ruangan yang menuju ke lantai dua. "Naik ke atas," perintahnya mutlak. "Kamar paling ujung di sebelah kanan. Bersihkan darah di kakimu dan jangan coba-coba melompat dari jendela kalau kau tidak ingin mendarat di atas pagar kawat berduri bengkel." Aku memegangi pergelangan tanganku yang memerah, menatapnya dengan d**a bergemuruh. "Dan tasku?" Jax mengangkat tas jinjing kulit hitam itu setinggi dadanya, seringai dinginnya kembali terlihat di bawah keremangan lampu. "Tas ini tidur denganku malam ini. Besok pagi, pukul enam tepat, kita lihat seberapa pandai lidah manismu bernyanyi saat kau menceritakan siapa pria yang sedang memburumu." Ia melangkah mundur, membiarkanku berdiri sendirian di dekat undakan tangga pertama. "Sekarang naik," suara Jax membelah keheningan ruangan dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Sebelum aku berubah pikiran dan membiarkan anak buahku yang lain menemanimu tidur." Aku menelan semua makian yang tersangkut di ujung lidahku, membalikkan badan, dan mulai menaiki anak tangga kayu yang dingin dengan langkah tertatih-tatih. Di belakangku, aku bisa merasakan tatapan mata kelabu Jaxson Cross membakar punggungku di setiap langkah yang kuambil—menandai, mengurung, dan mengklaimku ke dalam dunianya yang gelap.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook