“Gak akan ada yang sia-sia kalau kita mau usaha. Buktinya Jamal. Buat apa gelar seabreg kalau hidup masih sering menyusahkan orang tua, lihat aja Mas Jamil,” ucapku sinis. “Mal.” “Kenapa? Jamal salah ngomong?” “Enggak. Kamu benar Mal. Justru karena kami menyadari kesalahan kami terutama Abah. Sejak melihat sikapmu yang menjauhi keluarga, Abah sangat sedih, namun sisi egonya terlalu tinggi. Tapi asal kamu tahu, Abah selalu mencari tahu keadaan kamu lewat teman-teman kamu. Kamu tahu, Abah sangat bangga melihat kesuksesan kamu. Sekaligus merasa bersalah karena pernah melarang kamu kuliah di perikanan. Saat itu Abah pikir kesuksesan hanya bisa diraih dengan gelar dan sekolah yang bagus. Kamu harus tahu, kalau Abah selalu menangis di depan mas dan Umi mengingat sikapnya sama kamu selama ini.

