Kagum Dalam Diam-4

2170 Words

“Owh.” Aku malas menanggapi. Jadi aku memilih fokus makan. “Maaf.” Aku mendongak ke arah Abah, menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Maaf untuk semuanya, sebagai anak tunggal Abah tak pernah tahu bagaimana hidup bersama saudara. Abah tak pernah memahami perasaan kalian. Yang abah tahu, abah berusaha menjadikan kalian seperti ... seperti apa yang abah inginkan. Kamu benar, kesuksesan bukan dilihat dari gelar. Abah salah. Padahal mendiang Abah Hisyam mengajarkan bayak hal tentang arti menjadi seorang ayah dan pemimpin. Namun rupanya, doktrin dari simbahnya abah begitu melekat pada diri abah. Maaf, maaf sekali.” Aku memilih tak menanggapi. Selain bingung, untuk apa juga aku mendebat lagi. Toh, semua sudah terjadi. Pernikahanku juga tak mungkin dibatalkan. Dua hari lagi kami akan menuju

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD