Aku membalikkan badan. “Jangan menunggu saya, karena percuma. Masalahnya bukan hanya terletak pada menunggu tapi ada hal lain yang hanya saya saja yang tahu. Dan satu hal lagi. Hati tidak akan bisa dipaksakan. Permisi. Assalamu’alaikum.” Kulihat raut wajah Ustaz Hilman tampak kaget dan memucat. Tapi aku tak peduli. Aku segera melangkah menuju ndalem Pakdhe Ilyas. Sampai di sana, suasana sepi sekali. Pasti orang-orang masih ada di SMA. Aku terduduk di sofa ruang keluarga. Mengembuskan napasku, rasanya hari ini sungguh melelahkan. Uluran es teh dari belakang membuatku tersenyum. Pasti Caca, dia paling tahu aku suka sekali minum es teh apalagi jika suasana hati lagi kacau. “Makasih, Ca. Tahu aja kalau aku kehausan.” Aku langsung menerima gelas berisi es teh dan menenggaknya sampai separuh

