Start of the game

1087 Words
Di saat acara akan di mulai, kedua wanita cantik dengan gaun mewah nan elegannya muncul di ujung tangga dengan tangan yang saling mengenggam, semua mata memandang kearahnya dengan sorotan yang hanya berinti pada mereka. "Waahhh! Dua wanita itu sepertinya sangat cantik!" "Lihatlah gaunnya juga sangat indah dan cantik." "Yang aku ketahui itu adalah gaun Efrona yang di buat oleh desainer hebat dari Miranda." "Gaun itu begitu berkelas, harganya pun tidak main-main." "Iya, itu gaun yang seharga 3,5 milliyar. Aku sangat iri melihatnya." Garsak grusuk dari obrolan para tamu membuat seseorang yang ikut hadir disana menjadi kepanasan. Siapa lagi jika bukan Riana yang saat ini sedang di landa api kecemburuan dalam hatinya, saat melihat kedua wanita itu yang dia ketahui adalah Arsita dan Erlina. Seorang Riana yang hanya seorang ART bisa masuk ke pesta mewah tersebut? Simpel saja, karna ia datang bersama majikannya, Farhan yang memang sengaja mengajaknya sebab sang istri tidak bisa menemaninya karna harus mengurus putrinya di rumah. Itu adalah alasan Farhan untuk ia dalihkan kepada temannya. Namun ia tidak tahu yang mana Arsita dan yang mana Erlina, sebab dandanan keduanya begitu mirip apalagi potongan gaunnya yang hampir sama, namun yang berbeda hanya topeng yang di pakainya. Erlina memakai topeng berwarna putih yang di padukan dengan gambaran bunga berwarna silver, serta memiliki bulu indah di sisi kanannya yang terlihat seperti seorang peri. Sedangkan Arsita memakai topeng berwarna emas yang tanpa ukiran namun di penuhi dengan kristal kecil yang terang, juga di hiasi bulu indah di sisi kanannya terlihat seperti putri Maldevis. Arsita tersenyum melihat kedatangan seseorang yang sudah di nantikannya. Melewati wanita yang di bencinya dengan lirikan sinis, begitu pula dengan Erlina yang menatap jijik Riana. Merekapun menghampiri seorang pria dengan senyuman yang menggoda. "Selamat datang kakakku tercinta." sambut Arsita pada seseorang yang telah lama tidak ia jumpai. Seseorang yang merasa terpanggil seketika menoleh ke belakang, namun merasa tidak suka akan kehadiran wanita pengganggu itu yang berupa adik kandungnya sendiri. Dioray hanya melirik sinis pada adiknya, lalu pandangannya bertemu dengan netra coklat milik seseorang yang berada di samping adiknya. Seketika keduanya terpaku tak bergeming saling menatap satu sama lain, sampai Arsita yang mengetahuinya berdehem pelan. Membuat kedua orang itu menjadi gelagapan dan salah tingkah. "Dimana Papa sama Mama?" tanya Dioray pada intinya tanpa mau berbasa-basi, mengalihkan kegugupannya yang sempat salah tingkah. Arsita menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, bersiap untuk menyemprot hama di badan kakaknya itu. "Lo pulang ke negara ini bukannya langsung ke rumah malah nginep di apartemen Lo yang udah lama gak ada penghuninya itu, terus gak peduli dan gak kengen sama orang tua juga adik tersayang Lo ini, hemm?" cerocos Arsita yang tak bisa mengerem mulutnya yang seperti kereta api. "Sudahlah jangan nyerocos mulu, gue mau ketemu Papa sama Mama." ucapnya dengan ketus. "Papa sama Mama masih di atas!" balas Arsita tak kalah ketus. Dioray melewati sisi kiri Arsita dan berhenti tepat di sampingnya lalu mendekatkan bibirnya pada telinga adiknya," Jangan lupa kenalkan dia dengan gue," bisiknya membuat tatapan Arsita membulat penuh dengan mulut menganga lebar. Arsita yang sempat mematung, seketika tersadar pun menoleh ke belakang menatap punggung kakaknya yang telah menjauh," Dasar modus," umpatnya mendesis kesal. Arsita dan Dioray akan berbicara dengan non formal jika hanya berdua. Hal itu membuat Erlina yang mendengar semuanya melipat bibirnya untuk tidak tertawa. "Kamu pasti dengarkan apa yang dia bilang?" tunjuknya tepat di depan wajah Erlina, menyipitkan matanya curiga. Erlina mengangguk kaku sambil tersenyum. Dengan cepat Arsita merubah ekspresinya menjadi cuek," Jangan dengarkan dia, dia emang cowok modus dan caper." *** Acara telah di mulai, sambutan-sambutan serta penyampaian harapan dan juga wejangan kepada audiens telah di lakukan. Kini Arsita mulai naik ke atas proscenium untuk memberi sambutan yang terakhir. Saat Arsita memegang microfon dan ingin mulai bersuara, tiba-tiba semua lampu mati begitu saja, membuat semua orang yang hadir disana menjadi panik seketika. "Selamat malam untuk para tamu yang telah hadir di pesta ini. Saya ingin menyampaikan kepada semua tamu harap untuk tenang dan diam. Pihak keamanan saya saat ini masih menyelidiki atas gangguan yang tidak menyenangkan ini. Mohon maaf atas keteledoran pihak keamanan kami." Arsita berucap demikian namun bibirnya tersungging penuh arti. "3 2 1, start of the game." lirih Arsita menunjukan senyum devilnya. Tiba-tiba sebuah video muncul di belakang Arsita yang masih berdiri dengan microfonnya. Video tersebut menampilkan dua manusia beda jenis yang tengah bergerumul panas di sebuah ruangan yang terbuka, tepatnya di ruang tamu. Para tamu syok dan juga terkejut atas tayangan video tersebut yang memang sangat asli tanpa editan. Apalagi wajah kedua belah pihak sangat terpampang jelas di depan kamera yang sangat menikmati permainan mereka. Bukan hanya itu saja, lalu video kedua muncul setelah video pertama di cut, tayangan video kedua juga sama tetapi dengan wanita yang berbeda dan tempatnya di sebuah ruangan kantor yang Erlina tahu dimana itu. Itu adalah ruangan suaminya di kantornya, dan yang sedang bersamanya adalah sekretaris dari direktur cabang Armana group. "Apa-apaan ini!!" Farhan membuka topengnya, melempar topeng tersebut ke sembarang arah dengan penuh emosi, karna melihat videonya yang terpampang nyata di depan matanya. "B******k! Siapa yang membuat video palsu seperti itu! Ini adalah pencemaran nama baik seseorang." Semua orang berbisik-bisik membicarakannya, bukan hanya itu, bahkan ada yang berbicara kotor secara langsung juga berkata pedas dengan mencemoohnya. Kini semua orang memandang Farhan dengan pandangan rendah, sinis dan jijik. Farhan terlihat putus asa, ia meremas rambutnya kuat lalu menariknya dengan penuh kekesalan. Farhan menarik tangan Riana yang berada di sampingnya yang ingin pergi meninggalkan pesta, namun para bodyguard menghalangi jalannya membentuk lingkaran. "Apa-apaan ini! Biarkan saya pergi!!" Hal itu membuat dua wanita yang berada di balik semua ini tersenyum puas di balik topengnya. "Ini pasti kerjaan Arsita," gumam Erlina. Prok prok prok Tepukan tangan seseorang mengalihkan atensi semua tamu termasuk kedua manusia yang tengah terjebak dalam umpannya. Seorang pria berjalan penuh wibawa dan keangkuhan menghampiri Farhan yang juga heran dengan kedatangan pria tak di kenalnya itu. Tanpa ba-bi-bu pria itu langsung melayangkan bogemannya di pelipis Farhan yang tidak sempat menghindarnya. Semua orang juga terkejut apa yang di lakukan si pria pada CEO AKA group itu. Termasuk dua wanita yang juga tidak percaya dengan adegan di depannya. "Siapa dia? Apa dia bawahanmu?" Erlina bertanya-tanya pada Arsita yang mungkin pria itu adalah suruhannya. Arsita menggeleng, membeo," Aku juga tidak tau di siapa Ar." Erlina berfikir jika pria itu adalah musuh dari suaminya, tetapi Erlina merasa janggal dengan postur tubuhnya yang begitu familiar. Setelah di teliti menggunakan ingatannya, seketika Erlina ternganga, menutup mulutnya tidak percaya, apalagi saat netra coklatnya melihat jam tangan di pergelangan tangan si pria membuat Erlina syok, "Dia___"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD