Pada pagi hari, seorang Arsita Abhimana datang kekediaman Farhan Arshandi dengan wajah cerahnya.
Kedatangan Arsita ternyata memicu kecurigaan bagi Riana yang sudah tahu tentang identitas dari Arsita yang ternyata adalah CEO pusat Armana group. Karena CEO Armana group adalah tipe orang yang sangat sulit di temui, namun Riana tahu hal itu, bahkan rumor mengatakan jika CEO Aramana group adalah seorang wanita berbahaya yang mampu melawan musuhnya dengan kelicikan.
Maka dari itu, Riana yang melihat hal tersebut buru-buru menelpon Farhan yang baru saja berangkat ke kantornya dan kemungkinan sekarang masih di perjalanan. Riana takut jika kedatangan Arsita akan membuat keributan, padahal ia tidak melakukan apapun atau berurusan dengannya, beranggapan jika kedatangannya akan memicu dirinya.
Dengan elegannya menggunakan pakaian modis serba hitam di padukan dengan kacamata hitam dan sepatu heels boots berbahan melfex hitam membuat Arsita seperti seorang wanita penjahat kelas kakap.
Setelah pintu utama terbuka lebar, tanpa memandang siapapun membuat Arsita terlihat angkuh dan arogan saat sedang berjalan memasuki ruangan utama.
Namun satu pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang berdiri di samping kursi ruang tamu dengan pakaian yang kurang bahan membuat Arsita menurunkan kacamatanya sedikit untuk memperjelas penglihatannya tentang apa yang dilihat.
"Siapa?" tanya Arsita pada wanita itu yang ternyata Riana.
"Saya hanya art disini kak," jawab Riana dengan begitu sopan tetapi dalam hatinya mencibir Arsita yang terlihat sombong.
"Kak?," Arsita tersenyum miring meremehkan panggilan itu," Sejak kapan aku menjadi kakakmu?" ejeknya membuat Riana mengertakkan giginya kesal.
Arsita memandang penampilan Riana dari atas ke bawah, lalu pandangannya terhenti pada rok yang sependek anak tk.
"Art, tapi penampilan kok seperti w****a m*****n?" mulut pedasnya tidak bisa Arsita mengeremnya, ia sengaja berucap seperti itu karna ia sangat benci dengan wanita itu yang telah menjadi penghalang rumah tangga sahabatnya.
Riana berusaha mengontrol emosinya untuk tidak membuat keributan terdahulu. Ia akan menunggu kedatangan Farhan kesini barulah ia akan memulai aktingnya.
"Ternyata mulut wanita ini pedas juga ya!" batin Riana mengkepal erat jari-jari tangannya.
Erlina yang sudah berada di ujung tangga sangat puas mendengar ejekan sahabatnya untuk pelakor itu, dengan segera ia menghampiri sahabatnya dengan senyum bahagia.
Masih berpura-pura buta, Erlina berjalan seperti orang buta lalu memberi kode pada Arsita melalu matanya.
Arsita yang begitu peka hanya menganggukkan kepalanya dan merekapun saling melempar senyum.
"Riana, tolong kau buatkan minuman untuk tamu pentingku, lalu antarkan ke ruang tengah," perintahnya ketus pada Riana yang masih terlihat kesal.
"Baik mbk," ucap Riana pelan sambil menundukkan kepalanya.
Erlina pun menggandeng tangan Arsita lalu membawanya menuju ruang tengah.
Setelah kepergian dua wanita bersahabat itu, Riana mulai mengeluarkan unek-uneknya," Akhh...kesel! kesel!! Kalau bukan karna kalian masih berada di atasku, aku akan menghancurkan kalian berdua dan tidak akan membiarkan kalian hidup dengan damai!!" kesal Riana meninju udara lalu menghentakan kedua kakinya dan juga menendang kaki meja sampai bergeser.
***
Setelah berdiskusi tentang acara pesta topeng di kediaman Abhimana, yaitu untuk memeriahkan atas kepulangan anak pertama keluarga Abhimana yang telah kembali ke negara ini lagi, sekaligus acara untuk merayakan kesuksesan putri kedua, yaitu Arsita.
Kenapa harus dengan pesta topeng?
Karna ini adalah rencana tunggal Arsita yang sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk sahabatnya sekaligus surprise spesial untuk kakak tercintanya.
Di sebuah salon ternama milik Erlina, kedua wanita tengah mempercantik tubuhnya dengan berbagai treatment dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Erlina yang telah rapi dengan penampilannya, badannya tak bisa jauh dari cermin besar di hadapannya, ia terus memandang wajahnya yang terlihat berbeda dengan riasan yang natural membuat wajahnya terlihat lebih segar dan cerah tidak pucat seperti sebelum-sebelumnya.
Sedangkan Arsita yang masih menata rambutnya tersenyum menatap sahabatnya yang terlihat bahagia.
"Dari tadi kau senyum-senyum terus, apa yang membuatmu bahagia?"
"Tidak ada. Aku hanya bahagia karna bisa melihat lagi, apalagi melihat wajahku yang semakin cantik." pujinya pada diri sendiri.
"Kamu memang udah cantik dari dulu, Lin. Pada dasarnya suamimu aja yang kurang merawatmu, apalagi setelah kamu sudah memiliki baby. Dia bahkan tidak peduli lagi denganmu." ujar Arsita yang malah membawa-bawa nama suami sahabatnya.
"Sudahlah, mungkin itu adalah balasan bagiku yang salah memilih suami. Tetapi kedepannya aku tidak akan lagi terpikat oleh pria manapun."
"Yakin?" ledek Arsita menggoda.
"Iya, yakin!" ucapnya mantap.
"Kau belum tahu saja, siapa pria yang telah menolongmu dua tahun yang lalu itu. Apalagi dia adalah ayah kandung anakmu, Lina." batin Arsita yang senyum-senyum tanpa sebab, membuat Erlina menatap dirinya heran.
"Oh ya, Ar. Topengku udah kamu siapkan kan?" tanya Erlina yang di balas anggukan mantap.
"Soal itu aman dong, topeng kamu itu berbeda dengan yang lain." Arsita mengangkat jari jempolnya ke udara meyakinkan kalau perintahnya telah beres.
"Bagus itu! buat siapapun tidak dapat mengenaliku."
"Oke tuan putri, anak satu."
"Arsita!" Erlina meneriaki Arsita dengan cemberut, kemudian mereka tertawa bersama di ruangan itu tanpa terdengar siapapun.
***
Pada malam harinya, perayaan pesta topeng telah tiba.
Para tamu undangan telah banyak yang datang. Semua tamu yang di undang adalah golongan dari keluarga kaya, pemilik perusahaan besar dan juga pembisnis hebat yang terkenal, termasuk dari keluarga Wijaya Kusuma yang hadir semuanya.
Arengga dan Areksa yang awalnya tidak ingin menghadiri pesta tersebut, telah mendapat laporan dari sang ayah yang berupa tentang adik perempuannya yang juga hadir di pesta tersebut membuat mereka menjadi semangat empat lima untuk hadir.
Arengga dan Areksa yang telah memakai topeng yang sama berwarna hitam kebiruan yang di padukan dengan ukiran berwarna perak membuat mereka seperti panglima perang yang gagah dan berani.
Pandangan Areksa tidak tinggal diam, ia melirik ke semua wanita yang sedang berkumpul dengan komponinya.
"Yang mana adik kita ya, bang?" Areksa bertanya pada abangnya namun pandanganya masih tertarik pada sekumpulan wanita-wanita disana.
"Kau melirik wanita begitu, itu terlihat seperti pria hidung belang." sindir Arengga membuat Areksa berdecak sebal.
Sebab pesta topeng ini membuat pria setengah matang itu sangat sulit untuk mencari wanita yang ia rindukan.
"Ck, aku hanya mencari adikku. Mungkin saja dia sudah hadir disini dan berada di kumpulan para wanita-wanita itu." ungkapnya membikin Arengga memutar malas bola matanya.
"Apa kau tahu dengan ciri-cirinya yang sekarang? Mungkin saja si manis sudah terlihat gendut atau kurus?" balas Arengga sampai Areksa melototkan matanya tidak percaya.
"Itu tidak mungkin bang, aku tahu kalau si manis tetap menjaga tubuhnya untuk tetap sehat." tukasnya yang malah mendapat jitakan sayang dari abangnya.
"Aduh!" ringisnya karna jitakannya tidak main-main.
"Ya kau cari saja dari wanita-wanita itu dan selidiki satu persatu." semua pertanyaannya membuat Arengga geram dengan tingkahnya.
Padahal sudah hampir berkepala tiga, tetapi sikapnya masih seperti anak-anak jika bersamanya.
"Apa kau kira aku ini penjahat wanita?" desisnya yang tidak terima.
"Kalau begitu kau diam saja. Kita pasti akan menemukannya nanti."