Erlina menghentakan kakinya pelan seolah tengah menginjak sesuatu.
"Eh, ini apa ya?" Erlina berjongkok untuk mengambil benda tersebut di bawah kakinya membuat mbok Tarim semakin gugup dan ketakutan.
"Apa ini mbok?" tanya Erlina sembari mengangkat benda kecil nan panjang itu ke depan wajah mbok Tarim.
"I..itu, itu termometer non Dhea nyonya, tadi saya mau cek suhu tubuh non Dhea karna kelihatannya non Dhea nangis terus dari tadi, makanya saya ambil termometer buat cek suhu tubuhnya." alibi mbok Tarim.
"Jangan kira aku mudah kau bodohi mbok, aku tahu ini apa. Demi banyak uang kamu rela hianatiku dan menusukku dari belakang. Maka aku juga akan membalasmu nanti."
Erlina tahu itu apa. Itu adalah alat tes kehamilan yang entah punya siapa Erlina tak tahu itu, namun demi balas dendamnya Erlina ingin mengumpulkan semua bukti terdahulu, termasuk tespeck tersebut.
Erlina berusaha menyembunyikan ekspresi kecewanya, ia ingin sekali marah, memaki dan meneriaki pembantunya itu.
Namun, demi balas dendamnya Erlina harus bisa bersabar.
"Kalau begitu aku bawa ke kamar ya mbok buat cek suhu tubuh Dhea."
"E,eh tapi nyonya." mbok Tarim ingin menghentikan Erlina, namun Erlina tetap pada pendiriannya pergi tanpa menoleh lagi seakan tuli dengan panggilan pembantunya.
Erlina hanya ingin berharap ada orang yang berpihak kepadanya di rumah ini, termasuk mbok Tarim, namun apa? pembantu lamanya itu ternyata juga mengkhianatinya.
Memang benar seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"Maafkan saya nyonya, saya hanya tidak ingin anda tahu soal itu." batin mbok Tarim menatap kepergian majikannya dengan sendu.
Dalam kesendiriannya Erlina sangat lemah, ia akan menumpahkan emosinya dalam bentuk tangis. Sekuat apapun ia di hadapan orang lain, namun ia tetap wanita lemah yang tersakiti.
Selama dua tahun menikah dengan Farhan, Erlina telah mengalami kebutaan.
Karna Farhan yang sudah menolongnya dulu membuat Erlina harus menikahi Farhan untuk balas budi dan dengan imbalan yang menjanjikan akan memberikan kekayaan yang cukup untuk Farhan setelah menikah.
Erlina sudah melakukan semua janjinya sesuai yang ia janjikan, namun Farhan malah salah paham jika yang menolong perusahaannya sampai berkembang pesat itu adalah sekretaris dari direktur Armana Group.
Sekretaris direktur Armana Group adalah teman masa SMA Farhan yang juga cinta pertamanya di SMA.
Sehingga Farhan tidak tahu kalau di balik kesuksesannya itu ada campur tangan istrinya. Membuat Farhan terus menindas istrinya yang selalu memarahi pembantunya yang juga istri sirinya.
Erlina menangis dalam diam tanpa bersuara, air matanya terus mengalir di pipi mulusnya.
"Semua orang ternyata tidak bisa di percaya. Justru orang yang aku percayai malah sebaliknya." gumam Erlina pilu.
Ia menatap benda kecil nan panjang itu di tangannya lalu mengepalnya dengan erat sampai urat-urat di kulit tangannya terlihat.
"Selama ini aku telah menyembunyikan identitasku. Apa aku kembali saja ke rumah keluargaku?" mengusap air matanya dengan menengadah ke atas untuk menghambat air matanya yang terus mengalir.
"Ayah, Bunda, Kak Rengga, Kak Reksa, Erin kangen kalian."
Erlina pun mengambil laptopnya lalu mengotak-atik isi laptop untuk melakukan sesuatu. Erlina membuka data-datanya yang telah terkunci dari sekian lamanya agar keluarganya dengan mudah menemukan keberadaannya.
Selama dua tahun ini, Erlina dengan sangaja mengunci data-datanya dengan virus berbahaya agar orang yang berani membobol datanya akan kehilangan dana sebesar 10 miliyar, maka dari itu Erlina tahu, tidak akan ada seorang pun yang ingin membobol datanya kecuali keluarganya. Hanya dengan itu Erlina bisa mendapatkan uang dari mereka tanpa mereka ketahui untuk keperluan hidupnya bersama sang suami.
Erlina juga ingin mengetes suaminya itu dengan berpura-pura lupa ingatan agar ia tahu kalau suaminya itu tulus atau hanya karna harta semata.
Kalau kebutaanya ternyata tidak permanen, itu karna syok dan trauma akibat kecelakaan membuat peredaran darah di saraf otak menuju matanya tersumbat. Namun akibat kebentur itu membuat penglihatannya kembali terang namun tidak sepenuhnya normal.
Erlina yang mempunyai kecerdasan dengan IQ 200 mampu melawan perusahaan manapun yang ingin ia jatuhkan termasuk perusahaan terbesar sekalipun.
Disisi lain, Erwan, kaki tangan Arengga terperanjat kaget saat melihat data seseorang yang ingin ia cari tiba-tiba dapat di temukan dengan mudah membuat Erwan seketika langsung mengambil ponselnya dan menelepon bosnya dengan tangan gemetar akibat keterkejutannya.
"Tuan!" panggilan tersambung tetapi pihak seberang langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Pria itu menghela nafasnya kasar untuk tidak terbawa emosi, namun."Kalau saja kau bukan bosku, mungkin aku akan menenggelamkanmu ke tengah laut agar kau di makan hiu sekalian." maki Erwan, tanpa tahu orang yang di katainya ternyata sudah stay di belakangnya.
"Sebelum aku di makan hiu, maka aku akan memberikan kepalamu terdahulu pada Tigerku." celetuk Arengga.
Mendengar suaranya saja sudah membuat Erwan merinding bulu roma," Mati aku!" seketika tubuhnya menjadi membeku dan bergetar, jantungnya seakan berhenti saat itu juga.
Erwan menoleh kaku ke belakang seraya tersenyum manis tetapi terlihat masam, sedangkan bosnya menatap datar dirinya dengan tatapan yang ingin menelan mangsanya hidup-hidup.
"Tuan, tadi aku hanya_" kalimatnya yang ingin berdalih di potong oleh bosnya.
"Gajimu akan di potong dalam tiga bulan kedepan." ucapnya dengan dingin lalu melewati Erwan yang sudah mati kutu.
"Tuan," melasnya dengan tatapan mengiba.
"Katakan padaku kenapa kau meneleponku!" gertaknya, mulai menuju ke arah mejanya dengan menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja kerjanya.
"Em itu tuan, nona muda__"
"Jangan sampai aku mendengar berita omong kosongmu itu, kalau tidak aku akan langsung membuatmu menjadi umpan Tiger." sebelum Arengga mendengar ucapan sekretarisnya ia terdahulu memberi ancaman yang membuat siapapun yang di ancamnya menjadi takut.
"Boleh tidak sih, aku resign jadi sekretaris? ini membuatku terhimpit takanan batin." batin Erwan yang sudah tidak kuat dan pasrah.
"Tidak tuan, nona muda sudah di temukan." ucap Erwan dengan nada gemetar dan pandangan ke bawah, sesekali menatap netra bosnya dengan pandangan takut.
Tak mau menatap bosnya yang terlihat menyeramkan membuat Erwan terus menatap ke lantai.
"Dimana Erin sekarang?!" ujar Arengga dengan intonasi rendah.
"Nona muda berada di rumah Farhan Arshandi tuan." lanjutnya.
"Farhan Arshandi? bukankah dia itu CEO AKA group yang perusahaannya berada di bawah kendali ayah?" terka Arengga.
"Benar tuan."
"Apa yang dia lakukan dengan adikku selama ini?" ia bertanya dan langkahnya mulai menuju ke arah sekretarisnya.
"Tuan, nona muda adalah istri dari Farhan Arshandi." lapornya dengan cepat, tak ingin bosnya itu menginterupsinya lebih lama.
Arengga berdiri tegak sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berbalik arah menatap keluar jendela yang tengah menampilkan gedung-gedung tinggi dan awan cerah,"Farhan Arshandi, kau akan berurusan denganku sekarang." gumamnya dengan senyuman yang menakutkan.